Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Curiga?


__ADS_3

Intan menatap dirinya di cermin. Intan memutar-mutar tubuhnya mencoba pakaian baru yang ia beli kemarin.


"Cantik banget si aku." Intan sangat puas dengan pakaian yang ia kenakan. Ia memang tidak salah pilih.


Intan mengambil tasnya juga jas dokter nya dan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.


Di ruangan itu terlihat mama juga papanya duduk tersenyum padanya.


"Pagi ma. Pagi pa."


"Pagi sayang..." ucap kedua orang tuanya serentak.


Keluarga itu pun memakan sarapan mereka. Setelah selesai Intan pun pamit untuk pergi. Intan memanggil taksi untuk menjadi kendaraan nya pergi ke rumah sakit.


Pagi tadi Dirganta mengiriminya pesan dengan mengatakan jika ia tidak bisa menjemput Intan karena ada pekerjaan mendadak di rumah sakit. Intan pun memakluminya. Tidak mungkin ia membahayakan nyawa orang lain demi mengantarnya. Ia tidak sejahat itu.


Intan membayar taksi nya dan segera berjalan cepat memasuki rumah sakit.


Intan membuka lokernya. Mengambil apa yang ia butuhkan dan meletakkan apa yang tidak dibutuhkan.


Ponsel nya bergetar, Intan mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan dari Dirganta. Intan membuka pesan itu. Senyum lebar terbit di bibirnya. Dirganta mengatakan kalimat semangat juga mengiriminya stiker bergambar cinta.


Intan membalas pesan itu dengan mengirim pesan semangat. Namun tak mengirimkan stiker yang sama.


Intan menyimpan ponselnya kembali dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


*****


Dirganta keluar dari ruangan operasi. Dirganta lalu menuju ruangannya untuk beristirahat sejenak. Dirganta mengambil ponselnya melihat apakah Intan sudah membalas pesannya atau bukan.


Dan ternyata sudah ada balasan namun hanya kalimat semangat tidak stiker cinta seperti yang ia kirimkan. Dirganta sedikit sedih dengan tanggapan Intan.


Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka menampilkan seorang wanita yang sepertinya pernah berjumpa tapi ia tidak ingat siapa.

__ADS_1


"Maaf dok saya masuk gitu aja. Saya udah cari-cari ruangan dokter tapi gak ketemu, syukur aja ada perawat yang nunjukin letaknya tadi."


Dirganta mengerutkan keningnya. Apa wanita didepannya ini tidak punya sopan santun? Wanita itu malah langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Bahkan wanita itu langsung mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruangan itu.


"Maaf tapi kamu siapa ya? Saya gak ingat kalo saya ada janji temu dengan orang lain."


Wanita menampilkan raut wajah sedih.


"Dokter gak inget saya? Saya Ima dok. Wanita yang dulu dokter selametin. Saya udah hubungin dokter kok kemaren kalo saya bakalan dateng." ucap wanita itu dengan raut wajah menjijikkan menurut Dirganta.


"Iya saya ingat. Tapi maaf. Saya sangat sibuk sekarang, jadi saya gak bisa kalo untuk ngobrol atau yang lainnya. Jadi saya minta maaf harus mengatakan ini. Bisa biarkan saya beristirahat dulu?" Dirganta berucap dengan pelan. Tak ingin membuat wanita itu tersinggung dengan perkataannya.


Ima sedikit terkejut dengan tanggapan Dirganta akan kehadirannya. Ima pun mencoba tersenyum walaupun dalam hatinya sedang memaki Dirganta.


"Maaf dok udah ganggu waktu istirahat dokter. Saya permisi dulu." Ima langsung keluar dari ruangan itu. Ima berjalan dengan menghentakkan kakinya. Kenapa Dirganta malah mengusirnya. Ia sudah susah payah untuk datang. Namun respon laki-laki itu malah tidak terduga.


Perawat-perawat yang melihat Ima keluar dari ruangan Dirganta pun tertawa pelan.


"Lihat deh. Emang dia pikir dokter Dirganta bakalan luluh dengan dandanan menor juga baju tidak ada bahannya."


Ima yang mendengar perkataan-perkataan para perawat itu pun bertambah kesal. Bisa-bisa nya ia dibandingkan dengan si Intan itu. Intan itu pasti tidak secantik dirinya. Ima akan mencari tau siapa Intan itu.


Ima pun meninggalkan rumah sakit dengan kekesalan tiang tiada tara. Dirganta mengusirnya, ia digosipkan aneh-aneh. Sangat sial.


Dirganta memejamkan matanya saat wanita bernama Ima itu telah meninggalkan ruangannya. Ia tidak nyaman jika harus berdua dengan seorang wanita kecuali wanita itu pasiennya.


Dirganta merenggangkan ototnya. Tiba-tiba kepalanya sakit. Dirganta berjalan menuju kesebuah rak buku. Dirganta menggeser salah satu buku dan tiba-tiba rak buku itu terbelah dua menampilkan sebuah ruangan dengan kasur besar ditengah ruangan itu.


Dirganta memang menyiapkan sebuah ruangan untuknya beristirahat di ruangannya. Kadang kala ia bahkan tidak pulang karena terlalu lelah.


Di ruangan itu terdapat kasur besar. Sebuah lemari juga terdapat kamar mandi didalamnya.


Dirganta membaringkan rubuhnya sejenak. Namun matanya malah terpejam dan ia pun tertidur di sana.

__ADS_1


Intan melihat jam dipergelangan tangannya. Hari sudah siang tapi Dirganta belum menghubungi atau mengiriminya pesan.


"Apa operasi nya berlangsung lama ya?" pikir Intan dalam hati.


Intan memakan makan siangnya. Intan menekan nomor telepon Dirganta dan menghubungi laki-laki itu tapi Dirganta tidak mengangkatnya. Intan bertambah penasaran. Intan juga mengirim pesan pada Dirganta namun pesan itu juga tidak dibalas.


"Apa terjadi sesuatu ya?" Intan pun akhirnya menghubungi dokter Gina. Dering pertama belum diangkat namun saat dering ke empat panggilan itu diangkat.


"Halo dokter Gina. Selamat siang." ucap Intan memulai pembicaraan.


"Halo Intan. Tumben kamu hubungin saya? Kenapa? Cari Dirganta ya.."


Intan sedikit tersipu. Ia jadi malu. Niatnya tercium sangat cepat.


"Hehehe. Iya dok. Saya dari tadi hubungin Dirganta tapi Dirganta gak angkat sama sekali. Saya bahkan udah ngirim pesan tapi gak dibales."


"Mungkin dia di ruangannya tidur. Biasanya kalo dia abis operasi dia bakalan istirahat sebentar. Oh ya tapi tadi aku liat ada wanita masuk kedalam ruangannya. Gak tau si ngapain." ucap Gina mencoba memanasi Intan.


"Wanita? Wanita siapa dok? Mungkin pasiennya kali, atau mau konsultasi jangan berpikir buruk dulu dokter Gina sayang.."


"Tapi dia pake makeup menor banget. Pakaiannya juga terbuka trus ketat. Masa pasien kayak gitu. Kalo mau konsultasi juga pasti pakaiannya gak gitu."


Intan tidak tau harus memberi reaksi seperti apa. Benar yang dikatakan dokter Gina, tidak mungkin pasien atau sebagainya. Tidak mungkinkan Dirganta berselingkuh darinya. Tunggu selingkuh? Ayolah Intan. Kau sendiri yang mengatakan jika kau menolak perasaannya untuk saat ini.


Intan meremas dadanya. Sedikit sesak saat memikirkan kemungkinan yang ada.


"Halo Intan. Haloo.."


Ucapan dokter Gina membuat lamunan Intan buyar.


"Eh maaf dok. Saya gak denger dokter bilang apa." ucap Intan memberi alasan.


"Gini aja deh. Kalo pekerjaan kamu udah selesai mending dateng kesini buat mastiin. Mungkin wanita itu juga mau goda Dirganta."

__ADS_1


"Iya bener juga dok. Nanti saya dateng aja deh. Kalo gitu terima kasih dokter Gina."


Intan menutup panggilan itu. Intan harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa memastikan kecurigaannya..


__ADS_2