Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Masalah


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


"Hari udah sore ni. Balik aja yuk." Dirganta menatap Intan yang masih asyik melihat-lihat danau didepan mereka.


"Iya ayok. Tapi janji ya, lain kali ngajak aku kesini lagi." Intan memberikan jari kelingkingnya, Dirganta pun menautkan jari kelingking keduanya, berjanji.


Intan dan Dirganta pun pulang kembali ke apartment Dirganta.


"Mau makan apa? Biar aku masakin." Intan menunggu jawaban Dirganta.


"Terserah, aku mau ke atas dulu ngerjain pekerjaan."


Intan pun mulai memasak. Ia sedari kecil memang suka membantu ibunya memasak. Itu lah mengapa sekarang ia menjadi jago memasak.


Intan bersenandung kecil. Memasukkan beragam jenis bahan juga perasa kedalam masakannya.


Satu setengah jam berlalu. Intan pun melepaskan apron nya dan pergi keatas melihat Dirganta.


Intan mengetuk pintu kamar didepannya.


"Dir, makanan nya udah siap. Ayo turun." Intan melihat Dirganta yang sedang fokus pada laptopnya. Dirganta memang selalu sibuk, mungkin karena jabatannya di rumah sakit juga tinggi, sehingga ia memiliki banyak tugas.


"Iya, duluan aja. Bentar lagi aku nyusul." Dirganta kembali fokus pada pekerjaannya. Tadi malam ia sangat lelah, jadi tidak sempat untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Intan hanya mengangguk. Ia pun turun kebawah menuju ruang makan. Namun karena Dirganta akan lama, ia pun berniat untuk mengelilingi apartment itu.


Intan melihat foto-foto Dirganta ketika masih kecil. Sangat menggemaskan, pasti jika mereka memiliki anak, akan sama menggemaskan dengan Dirganta. Intan terkekeh dengan pemikirannya.


Intan melihat sebuah disudut yang berada didekat tangga. Intan pun berjalan ke sana, membuka pintu didepannya. Syukur pintu itu tidak dikunci. Intan pun masuk kedalam, menyalakan lampu.


Intan terkejut. Ternyata ini adalah sebuah ruangan dengan banyak lukisan didalamnya. Di lukisan itu terlihat seorang perempuan cantik sedang tersenyum lebar. Intan mengusap lukisan yang paling besar di sana.


Pasti ini perempuan yang dikatakan dokter Gina. Ternyata Dirganta masih menyimpan perasaan pada perempuan itu. Hati Intan sakit, tapi ia bisa apa? Mereka juga tidak punya hubungan sedekat itu.


Intan melihat dengan teliti lukisan itu, ternyata dibawah gambar perempuan itu tertulis sesuatu, Intan pun menyipitkan matanya. Di sana tertulis "Kamu akan selalu menjadi sosok yang paling aku cintai. Tidak akan ada yang bisa menggantimu. Bahkan jika ada yang bisa menggantikan mu, ia hanya akan menjadi bayangan dalam hidupku."

__ADS_1


Intan menutup mulutnya tidak percaya. Apa Dirganta memang se cinta itu pada mantan kekasihnya? Dirganta bahkan menganggap orang yang dekat dengannya sebagai bayangan. Apa dirinya juga dianggap seperti itu?


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Dirganta tiba-tiba berdiri dibelakangnya membuat Intan terkejut bukan main. Jantungnya berdetak kencang, Intan pun memberanikan dirinya membalik tubuhnya menghadap Dirganta.


"Aku gak sengaja liat pintu ini, Jadi aku penasaran terus masuk kesini." Intan menundukkan kepalanya takut. Dirganta terlihat sangat marah.


"Kamu gak punya hak untuk masuk ke sembarang ruangan di apartment saya. Kamu udah lancang banget." Dirganta menarik tangan Intan dengan kuat.


"Aw sakit, bisa pelan dikit gak?" Dirganta menggenggam tangan nya dengan kencang, Rasanya sangat sakit. Besok pasti akan membiru.


Dirganta membawanya keruang makan. Dirganta memberhentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya pada tangan Intan.


Intan pun memegang tangannya yang sakit. Bekas genggaman Dirganta bahkan terlihat ditangan putihnya.


"Kamu pikir kamu siapa sampai berani masuk kedalam ruangan itu??" Dirganta menunjuk-nunjuk wajah Intan.


"Kamu bukan siapa-siapa bagi saya. Apa karena selama ini saya baik sama kamu jadi kamu merasa kamu berharga untuk saya? Saya gak pernah anggap kamu sebagai perempuan yang spesial dalam hidup saya, saya cuma kasihan sama kamu."


Intan mendengar semua pengakuan itu sakit hati. Hatinya sangat sakit, Ia berpikir jika Dirganta sudah mau menerimanya.


"Apa kamu lupa? Saya dan kamu cuma pacaran pura-pura didepan orang tua saya. Dan didepan umum kita hanya orang asing."


"Tapi kamu gak pernah perlakukan aku kayak orang asing. Orang lain bahkan berpikir kalo kamu juga suka sama aku. Kenapa? Apa kamu masih cinta sama mantan kekasih kamu yang udah meninggal itu?" Intan tanpa sadar mengatakan itu. Ia sudah sangat sakit hati.


Dirganta mendengar itu pun bertambah marah.


"PLAK.."


Dirganta tanpa sadar menamparnya. Dirganta lupa diri.


Intan yang mendapat tamparan itu pun hanya tertawa sinis. Intan memegang pipinya yang mungkin sudah memerah, Dirganta menamparnya cukup kuat.


"Dokter bilang saya bukan siapa-siapa, Tapi dokter dengan lancang malah nampar saya. Apa saya salah dengan mengatakan itu? Saya bahkan selalu bersikap baik supaya dokter mau membalas perasaan saya. Tapi semuanya sia-sia." Intan menatap Dirganta dengan benci.

__ADS_1


"Mantan dokter udah meninggal. Dia gak akan pernah bisa kembali ke sisi dokter lagi. Saya tau itu berat buat dokter, tapi dokter gak bisa jadikan orang hanya bayangan yang selalu berada disisi dokter. Kalo dokter tetap gini, dokter cuma bisa jadi seorang pecundang."


Dirganta mendorong semua makanan yang atas meja yang sudah disiapkan oleh Intan. Pecahan kaca berhamburan. Kaki Intan juga terkena pecahan itu. Intan tidak merasakan apapun.


"Saya minta maaf kalo saya udah lancang masuk kedalam ruangan itu. Saya juga minta maaf kalo udah bilang hal menyakitkan itu sama dokter. Saya cuma mau dokter sadar, kalo ada seseorang yang sangat berharap bisa bersama sama dokter. Tapi ternyata dokter gak pernah anggap saya."


Intan menyeka air matanya yang tak mau berhenti.


"Saya juga udah susah payah masak semua itu. Tapi dokter dengan tidak berperasaan malah membuang semua makanan itu. Dokter tenang aja, mulai sekarang saya gak akan pernah muncul didepan dokter lagi. Saya akan menjauh dari kehidupan dokter, dan untuk kedua orang tua dokter. Ini saat nya mengatakan jika kita sudah putus. Permisi."


Intan mengambil kopernya yang tertinggal kemaren, Ia pun pergi meninggalkan apartment Dirganta. Sampai di mobil Intan pun tidak kuasa menahan air matanya. Intan memukul pelan dadanya. Mengapa sangat sakit? Apa ia yang terlalu berharap pada Dirganta?


Intan pun melihat balkon apartment Dirganta untuk terakhir kalinya. Intan lalu melajukan mobilnya pulang kerumahnya.


Sampai di rumah, Intan segera masuk ke kamarnya. Dalam perjalanan tadi ibunya mengirim pesan jika kedua orang tua ada keperluan mendadak keluar kota. Jadi mereka berdua tidak akan pulang. Setidaknya Intan tidak harus membuat alasan kenapa kedua orangtuanya kenapa ia menangis.


Intan mengambil kotak p3k, mengobati kakinya yang terkena pecahan kaca. Setelah selesai Intan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Apa ia setidak menarik itu dimata Dirganta? Intan sudah melakukan segala cara agar Dirganta mulai menerima perasaannya, tapi ternyata itu semua sia-sia. Dirganta tidak akan pernah membalas cintanya.


Intan memeluk dirinya sendiri. Menumpahkan segala kesedihannya.


Sementara Dirganta masih terduduk diruang makannya. Dirganta memejamkan matanya sejenak. Dirganta melihat tangannya yang sudah berani menampar Intan. Dirganta tidak sadar saat melakukan itu.


Dirganta melihat kebawah. Makanan yang dimasak Intan berserakan dilantai. Dirganta dapat melihat kekecewaan di wajah gadis itu. Dirganta tak berniat mengatakan itu semua. Ia hanya emosi tadi, Intan mengatakan sesuatu tentang mantan kekasih yang ia cintai sampai sekarang, itulah mengapa emosinya meluap.


Ia memang belum bisa melupakan mantan kekasihnya, tapi bukan berarti ia tidak ingin membuka hatinya untuk orang lain. Dirganta benar-benar menyesal. Dirganta menarik rambutnya dengan keras. Kenapa ia sangat bodoh?


Dirganta berjalan kearah kamarnya. Dirganta melihat dirinya di cermin. Namun dirinya yang berada dicermin malah berubah menjadi sosok itu.


"Sayang, kau tidak bersalah. Kau sudah melakukan hal yang benar dengan membuat perempuan itu sadar akan posisinya." ucap gadis didalam cermin sambil tersenyum.


"Tidak. kau sudah meninggal. Ia sudah sangat baik padaku, aku tidak bisa melakukan hal ini padanya." Dirganta menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku memang sudah tiada, tapi cintaku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau juga masih mencintaiku kan?"wajah didepannya tersenyum.


Dirganta mengepalkan tangannya kemudian memukul cermin didepannya sampai hancur. Dirganta luruh kebawah.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Aku tidak tau siapa yang harus ku pilih. Ku mohon kau harus mengerti diriku. Kau harus bersabar."


keduanya menghadapi malam dengan dua perasaan berbeda. Sang gadis dengan perasaan sakit hati dan sang pemuda dengan penyesalan nya...


__ADS_2