Kepincut Senior Dingin

Kepincut Senior Dingin
Celaka


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Hari ini mereka akan membantu warga untuk membersihkan rumah yang terkena longsor.


Intan membantu menyapu juga mengepel lantai. Intan menyeka keringatnya lelah. Akhirnya selesai. Intan mendudukkan dirinya agak jauh dari keramaian. Intan meluruskan kaki nya juga memijat lengannya pelan.


Seseorang datang menyerahkan sebotol air mineral padanya. Intan menerimanya, meminumnya dengan rakus. Ia sangat haus.


"Apa kamu capek? kalo capek mending duluan pergi ke tenda, terus istirahat." Dirganta ikut mendudukkan dirinya di samping Intan.


"Gak papa kok. Aku masih kuat, gak enak nanti kalo temen-temen yang lain kerja akunya malah istirahat. Kan gak adil buat yang lain." Intan tersenyum menatap Dirganta. Semakin lama hubungan keduanya semakin dekat. Dirganta bahkan sekarang selalu perhatian padanya.


"Ya udah kalo gitu. Aku bantu warga yang lain dulu. Kalo masih capek disini aja dulu, tapi jangan pergi jauh."


Intan hanya mengangguk sebagai jawaban. Dirganta sudah bergabung dengan yang lainnya. Saat Intan sedang asyik memperhatikan Dirganta, terdengar suara minta tolong.


Intan menajamkan pendengarannya.


"tolong!! tolong saya, to...long." Intan segera mencari sumber suara yang ia dengar.


Arah suara itu berasal dari sebuah turunan yang cukup curam. Intan melihat kebawah. Berusaha mencari sumber suara. Matanya melebar, ada seseorang dibawah yang sebagian tubuhnya tertimbun tanah juga dahan pohon yang lumayan besar.


"To..lo..ng sa..ya, saya udah gak kuat." Intan ingin pergi memanggil bantuan, namun jaraknya lumayan jauh. Akan memakan cukup waktu agar bisa meminta tolong.


Intan memberanikan dirinya untuk turun. Intan memegang segala sesuatu yang bisa jadi pegangannya agar ia tidak terjatuh kebawah.


"Gimana cara angkat dahan besar ini?" Intan berpikir keras. Tidak ada pilihan, ia harus menggunakan kedua tangannya.


Intan berusaha sekuat tenaga mendorong dahan itu, dan berhasil. Intan menyingkirkan tanah yang masih menimbun wanita itu. Intan kemudian menarik wanita itu keluar.


Intan merangkul wanita muda itu. Wanita yang ia selamatkan kehilangan kesadaran, membuat Intan panik bukan main. Intan segera membawa wanita itu untuk naik. Namun sulit karena medan yang terjal.


Tinggal sedikit lagi, mereka akan sampai di atas. Namun saat dua langkah lagi. Kaki Intan tergelincir, menyebabkan dirinya jatuh bersama wanita muda di rangkulannya. Intan berguling-guling kebawah. Kepalanya terbentur sesuatu, Intan memegang kepalanya. "Basah?" Intan melihat tangannya dan sudah ada darah di sana. Pasti karena benturan itu.


Intan melihat wanita muda itu, syukurlah jika wanita itu jatuh tidak terlalu jauh. Malah ia yang sedikit jauh juga berada diujung. Jika ia terguling lagi maka dipastikan ia akan jatuh kebawah sana. Bahkan mungkin bisa mati.

__ADS_1


Intan kembali berusaha naik. Kepalanya mulai pusing. Intan kembali merangkul wanita itu membawanya naik. Saat mereka berdua telah naik, pandangan Intan tiba-tiba menjadi kabur. Kakinya juga mulai lemas. Intan berteriak meminta tolong. Ia berharap seseorang dapat mendengarnya.


Intan meletakkan wanita mudah itu di tanah, ia memegang kepalanya yang semakin sakit. Ia juga merasakan jika sekelilingnya berputar-putar. Sebelum ia kehilangan kesadaran, dirinya mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya...


Dirganta melihat kearah tempat Intan duduk, namun tak melihat gadis itu di sana. Dirganta bahkan sudah bertanya pada yang lainnya apakah mereka melihat Intan atau tidak, namun tidak ada yang melihat.


Dirganta mencari-cari keberadaan Intan, namun hasilnya nihil. Dirganta mengajak dua orang warga untuk membantunya mencari Intan. ketiganya sibuk mencari. Perasaan Dirganta sudah tidak menentu. Ia panik juga takut terjadi sesuatu pada Intan.


Dirganta seperti mendengar suara meminta tolong.


"Saya kayak dengar suara minta tolong pak. Mending kita cari ke sana dulu pak."


Kedua warga itu mengangguk. Semakin dekat Dirganta semakin mendengar suara itu. Ia mengenali suara meminta tolong itu. Suara itu milik Intan.


Dirganta segera berlari. Saat semakin dekat, Dirganta dapat melihat Intan yang memegang kepalanya, Dirganta membulatkan matanya. Intan tiba-tiba saja terjatuh pingsan.


"INTAN.....!!!!!!!!" Dirganta semakin mempercepat langkahnya. Dirganta mengambil kepala Intan. menepuknya pelan, Dirganta dapat melihat sebuah luka yang masih mengeluarkan darah pada dahi Intan.


"Dok ada seseorang pingsan di sana." salah satu menunjuk kearah wanita muda itu.


"Kalian bantu dia. Saya yang akan gendong pacar saya." Dirganta tanpa sadar mengatakan itu. Dirganta menggendong Intan pergi dari sana, ia harus segera membawa Intan agar diobati.


"DOKTER CEPAT TOLONG PACAR SAYA!!!" Dirganta berteriak meminta bantuan. Dokter Gina yang kebetulan berada di sana berjalan cepat menuju kearah Dirganta.


Dirganta membaringkan Intan pada brankar yang tersedia di tenda.


"Kenapa Intan bisa seperti ini?" Dokter Gina ikutan panik melihat Intan yang pingsan dengan kepala yang berdarah.


"Kayaknya Intan nyelamatin korban yang tertimbun. Ketika saya pergi cari dia, ada seseorang yang juga pingsan tidak jauh dari dia." Setelah mengatakan itu datanglah dua orang warga dengan membawa wanita pingsan yang dikatakan Dirganta.


Tenaga media yang lain datang untuk memeriksa juga mengobati wanita muda itu.


Kepala Intan dijahit kemudian diperban, tinggal menunggu Intan sadar. Sepertinya benturan itu lumayan keras mengakibatkan lukanya agak dalam. Dirganta masih setia duduk di samping brankar Intan.


Dirganta memperhatikan wajah pucat didepannya. Dirganta tanpa sadar juga menggenggam tangan itu erat. Ia sangat takut tadi.

__ADS_1


Dokter Gina yang melihat itu semua tersenyum. Sepertinya Dirganta menyukai Intan. Akhirnya sahabatnya itu akan segera menikah. Ia sudah lama menyuruh Dirganta agar mencari calon istri. Namun sahabatnya itu akan selalu mencari alasan.


Dokter Gina pergi memberi ruang pada keduanya.


Intan mengerjabkan matanya. Ia memegang kepalanya yang sakit. Sudah diperban?? Intan hendak bangkit namun seseorang segera menahannya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu masih sakit sebaiknya istirahat aja dulu."


Apa Intan tidak salah lihat? Dimata Dirganta ia lihat ada kekhawatiran? Ini pasti efek samping dari kepalanya yang terbentur. Tidak mungkin Dirganta khawatir padanya.


"Aku baik-baik aja kok. Cuma ke bentur dikit."


"Ke bentur dikit? Apa kamu tau kalo lukanya dalam? Bagaimana jika kamu jatuh kebawah sana. Seharusnya kmu meminta bantuan, jangan bertindak sendiri." Dirganta sudah terlanjut kesal, bagaimana jika mereka tidak tau jika Intan menghilang dan malah tidak mencarinya? Entah apa yang akan terjadi sekarang.


"Iya maaf. Intan ngaku salah, lain kalo Intan gak bakal gitu lagi kok." Intan menundukkan kepalanya nya takut.


Dirganta menghela nafasnya. Melihat Intan yang pingsan dengan kepala yang berdarah membuatnya takut, ia takut terjadi sesuatu kepada Intan. Tunggu!! Apa ia baru saja mengkhawatirkan gadis didepannya? Apa ia sudah mulai menyukai Intan? Dirganta menggelengkan kepalanya, tidak!! Ia hanya khawatir karena Intan salah satu tanggung jawabnya. Kedua orang tua Intan juga menitipkan Intan padanya. Hanya itu, Benarkan hanya itu?


Dokter Gina tiba-tiba datang.


"Intan kamu udah sadar? Saya khawatir tadi liat kamu di gendongan Dirganta dalam keadaan pingsan, bahkan kepala kamu juga luka. Untung gak bahaya. Lain kali hati-hati ya." Dokter Gina menatap Intan dengan sayang. Ia sudah menganggap Intan sebagai adiknya.


"Jadi dokter yang udah bawa saya dari sana? Makasih ya dok. Saya berhutang budi sama dokter." Intan tersenyum tulus. Ia tidak menyangka jika Dirganta yang akan menolongnya.


"Saya cuma menjalankan tanggung jawab saya. Sekarang saya pamit pergi dulu. Kamu juga keliatan udah baik-baik aja." Dirganta pergi dari meninggalkan kedua wanita itu.


"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu. Apa kamu tau gimana Dirganta tadi? Dia gendong kamu, dia teriak manggil bantuan. Dan tau gak apa yang Dirganta teriakin? dia teriak gini." Dokter Gina berdiri, meniru bagaimana reka adegan Dirganta yang membawa Intan. DOKTER CEPAT TOLONG PACAR SAYA. Dirganta teriak gitu Intan."


Intan terkejut tentu saja. Apa benar yang dikatakan dokter Gina jika Dirganta mengatakan bahwa dia pacar Dirganta? Apa Dirganta baru saja berkata jika mereka pacaran???


"Apa dokter Gina gak bohong? Gak mungkin dokter Dirganta ngomong gitu." Intan mencoba membantah perkataan dokter Gina.


"Saya gak bohong, Kalo kamu gak percaya. Kamu bisa tanya sama semua tenaga medis yang ada disini." Dokter Gina duduk didekat Intan. "Saya mohon sama kamu. Tolong buat Dirganta seperti dulu. Dulu dia orangnya ceria banget. Tapi setelah orang yang dia sukai meninggal dia jadi pendiam, dingin, bahkan gak mau dekat sama perempuan lain. Saya takut Dirganta bakal gitu selamanya."


Dokter Gina menggenggam tangan Intan.

__ADS_1


"Baru tadi saya lihat Dirganta se khawatir itu. Ia bahkan tidak berfikir bagaimana pikiran orang lain ketika melihat dia seperti tadi. Dirganta juga nungguin kamu sampe kamu sadar. Intinya, saya mohon jangan pernah tinggalin Dirganta. Sekarang saya pergi dulu. Kamu istirahat aja disini."


Intan memperhatikan dokter Gina sampai tak terlihat lagi. Ia jadi memikirkan perkataan dokter Gina barusan. Ia mencintai Dirganta dengan tulus. Jika benar Dirganta menyukainya, Intan tidak perlu khawatir jika dirinya dan Dirganta akan berpisah. Intan tidak akan pernah meninggalkan Dirganta. Intan akan selalu bersama Dirganta baik suka maupun duka...


__ADS_2