Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 1


__ADS_3

Jambi ,  (2010)


Di tepi danau yang sunyi terdapat satu anak lelaki dan  bocah perempuan sedang duduk sambil menghirup udara sejuk yang masuk ke dalam pori-pori tubuh mereka. Terasa damai saat pandangan bocah perempuan itu beralih menatap lelaki yang duduk di sampingnya sambil memejamkan mata.


"Bang, keluargaku akan pindah ke Palembang."


Mendengar perkataan itu, anak lelaki tersebut membuka matanya sambil menatap tak percaya.


"Kita tidak bisa bertemu lagi," lanjut bocah perempuan itu dengan raut wajah kecewa.


"Meski tubuh kita tak saling menyapa. Namun, percayalah bahwa hati kita akan terus berkomunikasi dari jarak yang jauh."


"Apa suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali?"


"Tentu saja, kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda."


Bocah perempuan berkepang dua itu tersenyum hangat dan berharap bahwa kesempatan tersebut akan datang suatu hari nanti.


"Pakailah gelang kayu berwarna cokelat ini agar aku bisa langsung memelukmu di kemudian hari," ujarnya sambil memakaikan gelang kayu ke tangan sang abang.


"Aku berjanji akan selalu memakai gelang pemberian darimu tanpa pernah berpikir untuk melepasnya."


Rintik hujan perlahan turun membuat keduanya beranjak pulang. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan dan jika Tuhan memberi bonus, perpisahan itu akan berujung pada pertemuan selanjutnya. Dimana takdir akan merombak  masa depan yang tak bisa terlepas dari masa lalu yang pernah di jalani.


Hingga saatnya tiba kebahagian itu akan datang dengan sendirinya, melalui proses yang teramat sulit untuk di lalui.


 


\\\*


 


Palembang, (2019)


Ransi berdiri di depan cermin sambil mengamati tubuhnya. Dress pendek  yang ketat di kenakan setiap malam saat berkerja. Demi memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah adiknya, gadis yang hampir menginjak usia 18 tahun itu rela bekerja di club malam untuk mendapatkan rupiah. Kecantikan yang ia miliki digunakan untuk menggoda para pria hidung belang di luar sana. Siapa yang tak menyukai dirinya? Gadis yang teramat cantik berkulit putih pucat dengan jenjang kaki panjang yang kurus.


Namun, bagaimana dengan fakta  ke hidupnya? Kepergian sang ibu lima tahun lalu membuat luka itu terus terasa, dunia seolah ambruk seketika. Ibu adalah sosok malaikat bagi Ransi, akan tetapi malaikat hidupnya telah pergi untuk selama-lamanya.


Sang ayah yang pengangguran, pemalas dan pemabuk berat membuat Ransi menjadi tulang punggung keluarga. Serta ditambah adik perempuan yang bersekolah di Madrasah Aliyah (disingkat MA) setiap bulannya memerlukan uang untuk bayaran dan keperluan sekolah lainnya. Belum lagi Adzriel, anak pertama yang tak mempunyai rasa tanggung jawab kepada keluarga, setiap pulang ke rumah selalu meminta uang kepada Ransi, jika gadis itu tak memberi sang abang akan membanting atau merusak barang-barang yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


"Kak, ada bang Rafan di depan," ucap Ara dari depan pintu kamar kakaknya.


"Iya, Kakak akan keluar."


Ransi mengambil tas berukuran sedang tak lupa ia menaruh Hp dan dompet di dalam tas bercorak polkadot tersebut, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah menghampiri lelaki yang telah menunggunya.


Meskipun setiap malam mengantar Ransi bekerja, saat melihat Ransi memakai pakaian mini, Rafan selalu menghembus nafas kasar dengan memasang ekspresi tidak suka.


"Ara, kunci pintu dan jangan tidur kemalaman. Kakak pergi dulu," jerit Ransi.


"Iya," balas Ara sambil menutup keras pintu rumah lalu menguncinya.


"Ayok kita pergi. Aku udah hampir telat nih," ujar Ransi sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.


Rafan diam, ia membuka jaket tebal berwarna coklat yang di pakaiannya. Perlahan lelaki itu memakaikan jaket tersebut ke tubuh gadis yang ia cintai.


"Kamu hanya memakai kaos Raf. Gak bagus terkena angin malam, nanti bisa-bisa kamu sakit."


"Sakitan mana, melihat orang yang di cintai memakai pakaian yang kurang bahan di malam hari dan mempertontonkan lekuk tubuhnya di hadapan para lelaki lain."


Selalu saja perkataan itu terucap di bibir tipis Rafan membuat Ransi bosan mendengarnya.


Mempunyai pacar yang kaya raya tak membuat Ransi manja kepada kekasihnya itu. Ransi bukan wanita yang suka membeli atau menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak berguna. Ransi hanyalah seorang gadis mandiri yang tak pernah bergantung kepada orang lain.


Rafan selalu saja menyuruh Ransi berhenti dari pekerjaannya, jika Ransi mau berhenti dari pekerjaannya Rafan berjanji akan memenuhi semua keperluan dan kebutuhan keluarga kekasihnya itu. Namun, secara tegas Ransi menolak dan berkata, "Jika aku berhenti dari pekerjaan ini, bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku. Kamu Raf yang akan memenuhi semuanya? Mau sampai kapan? Seumur hidup? Atau sampai kamu tidak lagi mencintaiku? Ayolah Rafan, aku bisa menghasilkan uang sendiri dari kerja kerasku. Meski pekerjaanku terlihat rendah, tapi dengan seperti itu aku bisa menghidupi keluargaku sampai detik ini.'


Apa yang bisa diperbuat lelaki itu, jika perkataan Ransi adalah penegasan untuk hidupnya sendiri. Mau tak mau Rafan menerima keputusan Ransi yang masih ingin terus bekerja di club malam dengan pakaian yang ketat.


Cinta, yah karena cintalah Rafan bisa bersabar menghadapi kekasihnya dan menerima keputusan apapun yang telah ditetapkan Ransi. Ia memilih untuk bungkam dari pada nanti cintanya akan pergi berlabuh kepada lelaki lain.


"Rafan, kenapa berhenti disini? Ya ampun udah jam berapa nih aku bisa telat beneran," cecar Ransi.


Rafan memarkirkan motor ninjanya di taman pusat kota yang sangat ramai.


"Ini kan malam minggu. Sekali-kali kasih aku waktu buat berdua dengan kamu, jangan kerja mulu. Tiap hari kerja juga gak kaya-kaya, masih gini-gini aja kan," celoteh Rafan sambil membuka helmnya. Ransi hanya bisa mengomel dalam hati dengan terus menatap ke arah lelaki yang berdiri di depannya.


Rafan membuka ikatan helm Ransi dan meletakan helm berwarna pink tersebut ke atas motornya. Rambut panjang Ransi terurai dengan sangat indah membuat siapa saja yang melihat pasti akan terpesona.


"Jangan kelewat cantik dong. Nanti banyak mata yang terpanah melihatmu."

__ADS_1


"Apaan sih Raf  receh deh gombalan kamu."


"Siapa juga yang ngegombal, aku bicara sesuai fakta."


"Yah mau bagaimana lagi, itukan resiko kamu kenapa mau pacaran sama cewek secantik aku," canda Ransi dengan tersenyum tipis dan melangkah ke arah taman.


"Perkataanmu memang benar Ran. Maka dari itu aku harus ekstra bersabar jika berjalan berdua denganmu," batin Rafan sambil menyusul langkah kekasihnya.


Malam minggu adalah malam muda-mudi untuk berkencan,berkumpul atau sekedar menikmati suasana malam dengan gemerlap lampu taman yang begitu menawan.


Terdapat beragam aktraksi, orang-orang yang berdagang, perkumpulan komunitas, anak-anak band dan masih banyak lagi lainnya. Semuanya dapat di lihat saat malam minggu di taman pusat kota, sangat cocok untuk berjalan-jalan dan menghirup angin malam dengan di temani musik serta lampu jalan yang berwarna-warni.


Ransi dan Rafan duduk di bangku besi yang terdapat di pinggir jalan. Ransi nampak begitu senang, biasanya di jam segini ia sibuk melayani orang-orang di dalam club. Bosan? Tentu saja gadis itu merasa bosan. Tapi, tidak untuk malam ini. Rafan berhasil membuat ratu di dalam hatinya tersenyum hangat.


"Apa kamu senang berada di tempat ini?" tanya Rafan.


"Yah tentu saja aku senang. Disini aku merasa damai, melihat orang-orang berlalu lalang sambil mengumbar senyum. Meski aku tau di dalam hati mereka menyimpan luka yang tak dapat diketahui orang lain." Jawab Ransi.


"Maksudmu?"


"Raf, coba deh kamu lihat pria yang duduk di pojok sana," ucap Ransi sambil menunjuk ke arah pria tersebut.


"Memangnya kenapa?"


"Dia dulu mantan bos ku yang sudah bangkrut dan sekarang bekerja sebagai supir online."


"Liat ke sebelah kiri, ada gadis berambut sebahu yang sangat manis. Gadis itu berusaha mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya. Namun, sampai sekarang ia belum mendapatkan pekerjaan,” lanjut Ransi.


"Jangan bilang kalo gadis itu pernah curhat ke kamu."


"Bukan seperti itu. Dua hari yang lalu dia datang ke club untuk melamar pekerjaan dan sedikit banyak ia bercerita kepadaku, mangkanya aku tau."


"Lalu apa pentingnya bagiku dengan kehidupan mereka," kata Rafan acuh.


"Raf, aku hanya ingin kamu tau bahwa apa yang kamu liat belum tentu sesuai dengan yang kamu pikirkan. Pria dan gadis itu, meski mereka di landa cobaan yang menerpa tak ada yang tau apa yang mereka rasakan saat ini karena mereka menutupi semuanya dengan senyuman dan seolah beban itu terasa ringan. Seperti apa yang aku rasakan sekarang," ujar Ransi pilu.


Rafan menggenggam tangan Ransi seraya berkata, "Semua manusia dapat menutupi luka dengan sempurna. Namun, mereka lupa bahwa luka yang tertutup masih terus melekat dan membekas. Sampai saatnya tiba, dimana luka itu akan menambah rasa sakit yang tak dapat untuk disembuhkan."


"Kamu benar, Raf." Ucap Ransi sambil menatap manik mata Rafan.

__ADS_1


"Maka dari itu. Meskipun aku terluka, aku tidak akan pernah menutupi luka tersebut, aku akan berusaha menjadi diriku sendiri. Walau kerapuhan sangat tergambar jelas di raut wajahku."


__ADS_2