
Dua bulan sudah Ransi tinggal bersama Gavin di dalam apartemen. ia sangat merindukan Ara dan Azalea, apa kabar mereka? ku harap mereka selalu dalam keadaan baik-baik saja. Harap Ransi di setiap hembusan nafasnya.
Mata Ransi terpelongo kaget melihat sebuah liontin perak ada di dalam tumpukan kaos milik Gavin. Liontin yang tidak asing baginya. Ransi memegang liontin tersebut dan benar saja liontin berbentuk hati itu adalah liontin yang Azalea berikan kepadanya. Banyak tanya dalam benak Ransi kenapa liontin perak itu ada di dalam lemari Gavin? Bukankah pak Karisna telah mengambil liontin itu dari lehernya.
Hap..
Ransi merasa ada yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Gavin?" Sebutnya dalam hati saat lelaki itu melepaskan pelukannya dan menatap Ransi penuh tanya.
"Kamu menyukai liontin itu?"
"Ah. Apa ini liontinmu?"
"Yah, itu milikku."
"Miliknya? Sejak kapan? Mengapa bisa? Ya ampun otakku benar-benar dipenuhi banyak pertanyaan." Ransi benar-benar tak habis pikir bagaimana liontin miliknya bisa menjadi milik lelaki yang berdiri di depannya.
"Dimana kamu membeli liontin perak ini, Gav?" tanya Ransi.
"Sebegitu penasarannya kamu terhadap liontin itu."
"Jawab saja pertanyaan ku."
"Aku melihat seorang bapak berperut buncit di pinggir jalan sambil memainkan liontin perak itu, saat melihat liontin itu aku begitu tertarik sampai-sampai aku turun dari mobil dan menghampirinya. Yah bisa di bilang aku sangat beruntung saat itu karena bapak perut buncit itu mau menjualnya kepadaku seharga dua juta. Aku langsung membelinya," penjelasan Gavin membuat Ransi membuka sedikit mulutnya.
"Bapak-bapak perut buncit itu pasti bernama Krisna."
"Liontin ini milikku, bapak perut buncit yang kamu maksud adalah bapakku."
"Apa? Jadi bapak paru bayah itu bapak Mu, Ran? "
"Em."
Meski sering berkunjung ke rumah Ransi untuk menemui Ara dan mengantarkan sembako, Gavin tidak pernah bertemu dengan pak Krisna maupun Adzriel. Jikapun Gavin memberi uang kepada keduanya Gavin menitipkan uang tersebut kepada Ara untuk diberikan kepada pak Krisna dan juga Adzriel.
Ransi membatin sambil memasati liontin yang di pegangnya, "Ku pikir aku tidak bisa melihat liontin ini lagi sepanjang hayat, tapi hari ini aku melihat dan memegangnya kembali. Begitu merasa bersalahnya diriku, bagaimana tidak liontin pemberian dari Azalea dirampas dan dijual bapak. Bagaimana aku menjelaskan kepada Azalea jika suatu saat ia bertanya tentang liontin ini."
"Ambilah liontin itu, bukankah itu milikmu."
"Yah ini memang liontinku, tapi bapak'kan sudah menjualnya kepadamu Gav, bagaimana bisa aku memiliknya kembali."
"Aku memberikannya untukmu, yah sebagai hadiah karena kamu masih bertahan di sisiku selama dua bulan terakhir ini," ucap Gavin seraya tersenyum tipis.
"Oh sweet banget, Gavin memang tiada duanya."
"Baiklah dengan senang hati aku akan menerimanya."
Ransi begitu senang mendapatkan liontinnya kembali sampai meloncat-loncat girang, Gavin yang melihat tingkah bocah Ransi melepas tawa. Selama perempuan itu mengenal Gavin, ini pertama kalinya ia melihat Gavin tertawa lepas.
"Gav, kamu mau berangkat kemana pake acara koper-koperan segala." Mata Ransi tak sengaja melihat dua koper besi yang ada di atas kasur.
"Koper itu berisi uang," balas Gavin datar.
Ingin sekali Ransi menampar pipinya, ketika Gavin berakat bahawa ke dua koper besi itu berisi uang.
"Sebanyak itu? Buat apa, Gav?" tanya Ransi penasaraan.
"Gaji pegawai. Apa kamu tidak tau CEO baru perusahaan Dwipura."
"Siapa? Ja..jangan bilang-"
"CEO baru di perusahaan Dwipura adalah aku, Gavin Arlonpura."
"Sepertinya jantungku sudah berlari keluar dari tempatnya. Jadi, CEO muda yang menjadi trending topik di media sosial perusahaan Dwipura adalah Gavin. Ku mohon Gav, jangan tamak akan dunia. Udah tampan kaya raya dan aku mendengar bahwa Gavin adalah CEO seakan-akan dunia ini di bawah kendali Gavin," perempuan itu membatin sambil terus memandangi wajah Gavin.
__ADS_1
Siapa yang tidak tau tentang kekayaan perusahaan Dwipura di negara +62 ini, bukan hanya di Indonesia, perusahaan Dwipura juga sangat terkenal di negara ASEAN. Perusahaan yang bergerak di bidang pupuk ternama, minyak serta batu bara ini menjadi perusahaan nomor dua terkaya di ASEAN dengan penghasilan yang tak dapat terhitung setiap bulannya, pegawainya pun di gaji dengan nominal yang tinggi serta mendapat fasilitas, tunjangan, biaya kesehatan, uang belanja dan lain-lainnya.
"Kenapa bengong? Ayo kita ke bank," ajak Gavin sambil membawa dua koper dan berjalan ke luar kamar. Ransi mengikutinya dari belakang.
Di sepanjang perjalanan menuju bank Ransi bergelut pada lamunannya sementara Gavin fokus menyetir.
"Bang Adzriel?" batin Ransi saat melihat Adzriel keluar dari bank.
Semetara Gavin memberhentikan mobilnya di parkiran.
"Gav, aku ada urusan sebentar. Kamu bisa masuk duluan ke dalam aku akan menyusul."
Ransi langsung berlari mengejar Adzriel dan tak menghiraukan jeritan Gavin yang terus memanggil namanya.
"Apa lagi masalah yang akan di ciptakan oleh bang Adzriel. Mengapa ia bisa keluar dari bank? Apa mungkin bang Adzriel meminjam uang di bank? Atau mengadaikan sertifikat rumah? Tak lama lagi aku akan menetap di rumah sakit jiwa karena ulah abang ku sendiri." Dalam hati Ransi terus bergerutu mengenai abangnya.
"Sial! Kemana perginya bang Adzriel cepet banget ngilangnya. Bagaimanapun caranya aku harus tau apa yang dilakukan bank Adzriel saat ini, jangan sampai ia membuatku harus menjual ginjal karena masalah yang ditimbulkannya."
\*\*\*\*\*
Ransi meninggalkan Gavin yang masih berada di bank, sebelum semua tanya yang ada di benaknya terjawab, Ransi akan berusaha mencari Adzriel. Kali ini ia tidak akan membiarkan Adzriel membuat masalah lagi, sudah cukup semua beban yang di tanggungnya untuk masalah yang Adzriel buat. Ransi ingin bernafas sejenak dan keluar dari zona masalah yang selalu menimpa dirinya.
"Yah, aku tau siapa orang yang bisa menjawab tanyaku ini." Seketika terlintas dalam pikiran Ransi untuk menemui seseorang.
"Bang Tio," panggilnya kepada pria yang duduk di atas motor milik Adzriel, yah Ransi sangat mengenal motor milik abangnya karena ada stiker bunga Azalea di depan motor tersebut.
"Ransi? sedang apa disini?" tanya pria tersebut.
"Bisa kita bicara sebentar bang, banyak yang ingin ku tanyakan tentang bang Adzriel."
"Baiklah. Kita bicara di cafe seberang jalan saja."
Hari ini Ransi akan menguras semua informasi tentang Adzriel. Mulai dari pekerjaan, apa yang dilakukan Adzriel, tinggal dimana pria itu selama ini. Yah Ransi rasa Tio'lah orang yang tepat untuk menjawab tanya di dalam hatinya.
"Kenapa abang bisa berada di bank? Aku tadi juga melihat bang Adzriel keluar dari bank. Kali ini masalah apa lagi yang ia perbuat."
"Bang," panggil Ransi pelan.
"Maaf Ran, sebaiknya kamu tanyakan sendiri saja kepada Adzriel."
"Mustahil jika dia mau menjawabnya. Ku mohon bang, tolong ceritakan semua tentang kehidupan bang Adzriel selama ini. Apa bang Adzriel masih sering menghisap barang haram itu."
"Tidak Ran, Adzriel sudah terlepas dari obat-obatan itu sejak tiga tahun belakangan ini."
"Artinya bang Adzriel sudah tidak lagi mengonsumsi narkoba. Jika benar, lalu uang yang selama ini aku kasih digunakannya untuk apa? Main perempuan? Mungkinkah itu."
"Ran semua uang yang kamu kasih selama ini Adzriel tabung di bank."
"Bang Adzriel menabung? Yang benar saja, apa dia menabung untuk berlibur ke luar negri," ucap Ransi asal.
"Ia menabung untuk membiayai operasi Azalea. Seorang perempuan buta yang berjualan bunga di pinggir taman."
"Az....Azalea." Ransi terkejut setengah mati mendengar Tio menyebut nama Azalea dan berkata tentang seorang perempuan buta yang berjualan bunga di pinggir taman.
"Kamu mengenal, Azalea?"
"Tentu saja aku mengenalnya."
"Azalea adalah kekasih Adzriel. Lima tahun yang lalu seorang pria memperkosa dan membuat kedua mata Azalea buta, karena liontin perak berbentuk hati Azalea menyangka jika yang melakukan hal bejat itu adalah Adzriel namun kenyataannya bukan. Adzriel memang pemilik liontin itu akan tetapi bukan dia pelakunya," jelas Tio dengan menatap ke arah Ransi.
"Maksud bang Tio liontin ini." Ransi mengeluarkan liontin dari saku celananya.
Saat melihat liontin perak yang di pegang Ransi Tio nampak begitu terkejut.
"Kenapa liontin ini bisa-"
__ADS_1
"Azalea yang memberikannya kepadaku, ia tidak mau lagi mengingat kejadian kelam yang merombak kehidupannya."
"Liontin itu dulunya milik ibu Azalea yang diberikan kepada Adzriel. Buk Lily sangat menyetujui hubungan keduannya sampai-sampai menyerahkan liontin itu kepada Adzriel, berharap jika Adzriel'lah yang nantinya akan menjadi pasangan hidup untuk Azalea."
"Kenapa liontin ini ada pada pria yang menodai Azalea pada malam itu?" tanya Ransi heran.
"Pria bejat itu mengambil paksa liontin perak dari Adzriel. Apa yang bisa Adzriel perbuat saat mengetahui keadaan Azalea yang begitu terpuruk saat itu, ia terlambat menolong gadis yang sangat ia cintai, terlebih lagi Azalea sudah terlanjur membenci Adzriel karena liontin perak itu," jawab Tio dengan penjelasan, membuat Ransi mengerti tentang semua yang telah terjadi.
"Bang, kita harus menjelaskan semua kebenaran ini kepada Azalea."
"Tidak semudah itu Ran. Kecuali jika Derrio berani mengakui semua kesalahannya di hadapan Azalea."
"Derrio?"
"Derrio lah pria bejat yang telah menodai Azalea, sejak SMP Derrio menyukai Azalea namun Adzriel'lah yang dipilih Azalea untuk menjadi kekasihnya. Mengetahui hal itu Derrio marah dan dendam kepada Azalea."
"Pantas saja aku sering melihat bang Adzriel di sekitaran taman, jadi selama ini bang Adzriel masih setia menemani Azalea dari kejauhan," gumam Ransi pelan sambil menundukkan pandangan.
"Dimana Derrio, kita harus menemukannya bang dan membuat dia mengakui semua perbuatanya."
"Setelah peristiwa itu Derrio menghilang, terakhir mendengar kabarnya la ada di Singapura menjalankan bisnis ayahnya."
"Kurang ajar! Menjalankan bisnis? Memang tidak punya hati, bisa-bisanya Derrio menjalankan bisnis dan hidup bahagia di luar sana sementara Azalea dan bang Adzriel menderita karena perbuatnya." Rasanya Ransi benar-benar terbalut amarah saat ini.
"Jadi uang yang selama ini bang Adzriel minta kepadaku di tabungnya di bank untuk biaya operasi, Azalea?"
"Iya Ran dan uangnya sudah hampir mencukupi untuk biaya operasi, tinggal mencari pendonor saja. Dari motor yang kamu belikan untuknya, Adzriel bekerja sebagai ojek online uang yang ia dapat dari hasil mengojek digunakan untuk biaya kehidupan Azalea."
"Biaya hidup Azalea?"
Tio kembali memandang ke luar seraya berkata, "Setiap harinya Adzriel selalu menaruh bekal makanan dan kebutuhan lain di teras rumah Azalea. Namun Azalea tidak mengetahui semua itu, yang ia tahu bahwa ada posko yang membantunya karena Adzriel memang menyuruh seseorang mengaku-ngaku sebagai anggota posko yang berjanji akan membantu kebutuhan Azalea dari uang sumbangan masyarakat. Tanpa ragu, Azalea mempercayai itu semua. Kamu tau kan Ran, pengahasilan Azalea dari menjual bunga tidak seberapa."
Air mata Ransi perlahan terjatuh mendengar semua penjelasan Tio. Selama ini Ransi mengira Adzriel masih mengonsumsi narkoba dan berjudi menghabiskan uang yang ia berikan. Namun, semua yang Adzriel lakukan semata-mata hanya untuk menghidupi seorang perempuan yang begitu berarti di dalam hidupnya.
Adzriel rapuh, sementara Ransi selalu menyumpah di dalam hati. Ransi tau ini bukan keinginan Adzriel, tapi baik dirinya maupun Adzriel tak mempunyai pilihan lain selain menjalani takdir yang tak dapat untuk di ubah.
Memukul, membentak, emosi, marah, semua yang Adzriel perbuat hanya untuk menutupi rasa sakit yang tak tertahan untuk di rasakan. Ransi dan Ara hanyalah pelampiasan kekesalan Adzriel, dalam benaknya ia tak inging melakukan hal itu.
\*\*\*\*\*
Ransi sengaja datang ke taman untuk menemui Adzriel, dari seberang jalan ia melihat sang abang sedang berdiri tak jauh dari tempat Azalea berjualan bunga, selang beberapa menit Adzriel pergi menjauh dari Azalea.
"Bang Adzriel, aku ingin bicara denganmu."
Langkah Adzriel terhenti saat Ransi menghalngi jalannya.
"Mana uang, aku membutuhkan uang!"
Ransi mengambil sesuatu dari dompet yang dipegangnya.
"Kali ini aku tidak memberimu uang bang, aku akan memberimu sesuatu yang sangat berharga."
Ransi mengambil tangan Adzriel lalu memberikan sebuah liontin perak.
Adzriel begitu kaget melihat apa yang ada di tangannya.
"Li..liontin ini."
Melihat liontin itu Adzriel merasa senang, marah, kesal semua rasa itu bercampur aduk. Ransi mengajak Adzriel duduk di bangku taman untuk menjelaskan bagaimana liontin itu bisa ada pada dirinya.
"Abang sangat mencintai Azalea, bahkan sampai detik ini."
Adzriel menjatuhkan butiran air mata kerapuhan.
"Pantaskah aku mencintainya. Aku bahkan tidak bisa menolong kekasihku sendiri pada malam itu. Azalea pasti sangat takut, hancur dan terpuruk sementara aku..aku-"
__ADS_1
Ransi memeluk tubuh abangnya memberikan ketenangan untuk Adzriel.
"Ak..aku mencintainya....be..begitu..mencintainya," isak Adzriel di dalam dekapan Ransi.