Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 30


__ADS_3

Jam menunjukan pukul sembilan pagi, Ransi masih bergelut dengan mimpi indahnya dan meninggalkan peta yang tergambar di bantal bersumber dari ilernya. Sementara Ara dan Sarrah telah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang istimewa.


"Ransi bangun!" teriak Sarrah sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ransi.


"Huam. apaan si ganggu aja, biasanya juga aku bangun jam 11 di hari libur," ucap Ransi sambil menguap.


"Kita harus pergi kesuatu tempat, buruan mandi dan bersiap-siap semuanya sudah menunggu." Sarrah menarik paksa tangan Ransi menuju kamar mandi.


Dengan langkah ogah-ogahan Ransi berkata, "Sepagi ini mau pergi kemana? Maksud ucapan mu apa? Aku gak paham."


"Mandilah! Aku akan menjelaskannya nanti." Sarrah mendorong tubuh Ransi masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.


Ara yang baru pulang dari butik langsung masuk ke dalam kamar, di susul Sarrah yang ikut masuk ke dalam. Di hari yang sangat penting keduanya mempersiapkan semua yang Ransi butuhkan. Mulai dari pakaian, make up, dan henna.


"Kak apa bisa henna ini berwarna cerah dalam waktu beberapa menit?" tanya Ara dengan memegang henna yang berlogo Halal.


"Tentu saja bisa, sebab kakak membeli henna ini secara online import dari India, dalam waktu beberapa menit akan menghasilkan hasil yang maksimal. Jandi kamu jangan sedih jangan khawatir," urai Sarrah antusias.


"Hehehe. Terbaiklah kak Sarrah."


"Jelas dong Sarrah gitu loh."


"Kalian pikir kamar ini tempat perkumpulan ap..siapa yang mau nikah? Kenapa ada kebaya pengantin di kamar ku?" Ransi bingung ketika masuk ke dalam kamar di sambut dengan baju pengantin yang terletak di atas ranjangnya bersama dengan songket.


"Ngomong mulu," ujar Sarrah sambil menduduk paksa Ransi.


"Apa-apaan si Rah, kenapa aku di paksa duduk di kursi rias."


"Eh,ehh apa lagi ini, kenapa masangi kakak henna," lanjut Ransi syok saat Ara memasangkan henna di kakinya sementara Sarrah memasangkan henna di kedua tangan Ransi.


"Kak jangan banyak gerak nanti hasilnya gak sama," cetus Ara.


Ransi semkin tak mengerti apa yang dilakukan Sarrah dan juga Ara pada dirinya saat ini.


"Ran, hari ini Zayan akan menghalalkan mu."


Duarrrrrr..


Mungkinkah seseorang telah menaruh bom di lorong Venus.

__ADS_1


"Sebentar lagi kakak akan di pinang oleh bang Zayan."


Duarrrrrrr..


Untuk kedua kalinya ledakan itu seolah mengebom tubuh Ransi.


"Menghalalkan? Meminang? Zayan?" Ransi semakin tidak paham.


"Ustadzah Fatmah, ustadz Ibrahim, Furqon, penghulu serta para saksi sudah menunggu di Masjid Nur Venus kita harus bergegas kesana. Aku berharap kamu bisa bahagia bersama cintamu Ran, sekarang kamu banyak mengalami perubahan, tentunya semakin banyak cobaan yang akan menerpa dirimu saat kata hijrah itu terteguh di dalam hati." Sarrah memeluk tubuh Ransi dengan meneteskan air mata, Ara pun memeluk sang kakak dengan eratnya.


Memang benar Ransi sudah banyak mengalami perubahan sangat banyak. Ia bekerja di restoran dengan menutup auratnya, memaki jilbab serta pakaian yang panjang. Semua karena Zayan? Tentu saja bukan, sudah sering terlintas di pikiran Ransi untuk berhijrah dan mengubah dirinya namun ia tak tau kapan pastinya dan belakangan ini Ransi sudah berhasil memantapkan hati untuk lebih dekat mengenal sang Pencipta.


Malam itu Ransi menangis tersedu-sedu di hadapan ustadzah Fatmah menceritakan dosanya di masa lalu, dosa yang sampai detik ini masih membayang di dalam ingatannya.


"Fa biayyi alai rabbikuma tukazziban. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" saat mendengar ustadzah Fatmah melantunkan ayat tersebut beserta artinya, Ransi semakin menangis. Baginya dosa yang ia perbuat tak bisa termaafkan dan di ampunin. Ustadzah Fatmah memeluk tubuh Ransi memeberi tempat untuk tangisnya pecah.


"Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah, lakukan semua itu atas keinginan dan keikhlasan hatimu Ransi. Insha'allah, kamu akan menemukan kebahagiaan yang seutuhnya."


\*\*\*\*\*


Ransi masuk ke dalam masjid bersama Sarrah dan Ara. Terlihat ustadzah Fatmah, ustadz Ibrahim, Furqon dan beberapa orang lainnya duduk sambil menghadap ke arah penghulu.


Ransi duduk di samping Zayan yang memakai jas hitam dengan peci di kepalannya. Nyata atau tidak rasanya ia ingin memberhentikan waktu sekarang juga dan menatap Zayan dengan waktu yang lama.


"Sebentar, Pak" cegah Ransi.


Zayan menatap ke arahnya dengan mengerutkan satu alis tanda bingung mengapa Ransi menunda ijab kabul yang akan di ucapkannya.


"Bang Zayan, aku ingin bicara denganmu bisa kita keluar sebentar."


Zayan mengangguk dan berdiri, sementara yang lain memberi keduanya waktu untuk bicara.


Bagaimana mungkin Ransi melanjutkan pernikahan itu, ia perempuan hina dan kotor yang selalu bermimpi memliki cinta dan sekarang mimpi itu menjelamah menjadi nyata. "Aku tidak bisa meneruskan mimpi itu karena perempuan sepertiku tidak pantas bersanding dengan pria lurus seperti bang Zayan," batin Ransi.


"Bang Zayan, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini." Terlihat sekali raut wajah  Zayan kecewa dengan perkataan Ransi.


"Apa alasanmu, Ran?"


Pertanyaan yang seharusnya tak keluar dari mulut Zayan, apa alasanmu pertanyaan bodoh macam apa itu.

__ADS_1


"Karena aku tidak pantas menjadi pendamping hidupmu, Bang" dan jawaban macam apa yang keluar dari mulut Ransi.


"Lalu menurutmu siapa yang pantas menjadi teman masa tuaku?"


Ransi menatap Zayan dengan pandangan yang sulit di pahami.


"Aku memang mencintaimu Bang, tapi aku sadar bahwa abang tidak pernah menaruh hati kepadaku."


"Sebelum kamu memakaikan gelang kayu berwarna coklat ke tanganku, Zayan Hidayatullah sudah mencintaimu," ungkap Zayan.


"Bagaimana bisa abang mencintai anak berusia 7 tahun?" Yah pada saat itu Ransi duduk di kelas tiga SD sementara Zayan sudah berumur 15 tahun.


"Itulah cinta. Sulit di tebak, mengalir dengan sendirinya, tak bisa di ungkapkan dengan perkataan. Selama ini aku tidak mencarimu Ran karena aku sibuk membenah diri menjadi imam yang kelak bisa menuntun istriku selangkah lebih dekat menuju pintu surga."


Air mata Ransi perlahan menetes mendengar perkataan Zayan yang begitu dalam.


"Aku kotor bang dan tidak pantas menjadi istrimu."


"Jika kamu kotor aku akan membersihkan mu dengan akhlak yang baik."


"Aku hina."


"Jika kamu merasa hina, aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya bertaubat ke jalan Allah Subhanahu Wa Taala."


Apa yang harus Ransi lakukan selain menangis tersedu-sedu di hadapan seorang yang ia cinta.


"Bibirku sering di rasakan oleh pri-pria di luar sana."


"Aku akan membimbing mu membaca Al-Quran, agar bibirmu melupakan rasa itu dan terhanyut ke dalam surah-surah yang terkandung di dalam Al-Quran."


"Tubuhku sudah tak ada artinya, tubuh ini sering di raba dan dijelajahi banyak pria."


"Tutuplah aurat mu lebih dalam agar kamu merasa aman dan nyaman untuk berhijrah."


"Dengan semua itu apa bang Zayan masih bisa menjadikanku sebagai seorang istri.


"Tentu saja. Aku mencintaimu karena Allah Subhanahu Wa Taala. Tubuh kotor, hina, apapun itu aku tidak perduli karena aku percaya bahwa kamu di tadirkan menjadi bidadari dalam hidupku. Mengenai masa lalumu, tak sedikitpun membuatku berpikir bahwa kamu perempuan hina, yah kamu tetaplah Ransi dan selamanya akan tetap seperti itu," uraian kata yang di lontarkan Zayan membuat Ransi tertegun.


Ransi semakin dalam menatap Zayan. "Ia manusia atau..atau.. entahlah aku tak mampu lagi berucap. Pria seperti bang Zayan sangat langkah di dunia ini," Serunya dalam hati.

__ADS_1


"Tapi apa secepat ini kita menikah?" tanya Ransi untuk meyakinkan.


"Hal baik tidak boleh di tunda apalagi menyangkut pernikahan. Sudahlah jangan memikirkan apapun selain pernikahan kita hari ini. Berhentilah menangis, untuk sekarang aku tidak bisa menggunakan tanganku menghapus air matamu namun kamu boleh melanjutkan tangis mu saat para saksi berkata Sah karena dengan begitu kita sudah menjadi pasangan halal dan aku akan menghapus air matamu sebersih mungkin hingga tangis itu tak lagi terlihat membasahi pipimu," jawaban Zayan membuat Ransi bahagia, ingin sekali perempuan berkebaya itu menari-nari di sepanjang lorong Venus meluapkan kebahagiaan yang tertanam di dalam hatinya.


__ADS_2