
"Astaga, aku hampir tidak mengenalimu, Sarrah." Ransi begitu terkejut saat melihat Sarrah memakai hijab menutupi kepalanya.
"Mulai hari ini aku memutuskan untuk menutup aurat, lagi pula di restoran banyak pegawai yang berjilbab."
"Yah terserah kamu saja."
"Kakak kapan mau berhijrah seperti kak Sarrah." Pertanyaan Ara membuat Ransi bungkam.
Berhijrah? Sempat terlintas di pikiran Ransi untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik, tapi untuk berhijab namapaknya ia tidak mau berkomentar karena Ransi sudah terbiasa menunjukan rambutnya kepada masyarakat umum.
Lain halnya dengan Sarrah, ia banyak mengalami perubahan sejak tinggal di rumah Ransi. Melihat Ara menutup aurat, mengaji dan sering bersholawat membuat hati Sarrah nyaman dan damai tanpa takut akan beban yang harus di jalani, sekarang Sarrah telah berhijab dan tidak mempertontonkan lagi tubuh semoknya.
Sementara Ransi masih berusaha mencari jati dirinya. Apa yang harus ia lakukan, berusaha berubah, ke mana harus melangkah dengan cintanya yang kandas. Apa ia sanggup melangkah lebih jauh lagi?
Ransi berdiri di teras rumah dengan perasaan yang tak karuan. Pertemuannya dengan Zayan membuat ia harus merasakan sakit hati yang sesakit-sakitnya. Mungkin ini adalah hukum karma karena dulu sudah mempermainkan hati pria yang tulus mencintainya. Mempermainkan? Perkataan itu nampaknya tak tepat, sebab Ransi tak pernah berniat untuk menghancurkan hati Rafan maupun Gavin. Bagaimanapun itu, sekarang ia merasa sesak karena seorang yang di cinta telah bahagia bersama wanita lain.
Mata Ransi melotot kaget melihat ke arah teras rumah ustadzah Fatmah, ia mengucel-ucel matanya tak percaya apa yang di lihat. Seorang pria berkulit kuning langsat berdiri dengan tersenyum lembut ke arahnya.
"Bang Zayan," sebut Ransi dalam hati.
Sarrah yang baru datang mengikuti arah pandang Ransi.
"Ciyee kenapa liatin Zayan sampai segitunya."
Spontan Ransi langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Zayan? Mengapa kamu bisa tau pria di rumah ustadzah Fatmah bernama Zayan," tanya Ransi penasaran.
__ADS_1
"Zayan kan sepupunya ustadz Ibrahim yang sekarang di tugaskan di Palembang, selain bekerja sebagai helper gudang Zayan meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak mengaji di pesantren. Aku tau semua itu dari Furqon," jelas Sarrah. Ransi benar-benar tidak mempercayai semua itu.
"Sepupu ustadz Ibrahim? Pemiliki gelang kayu berwarna cokelat ? Apa dunia ini begitu sempit." Ransi terus membatin dalam hatinya dan lebih memilih masuk ke dalam kamar untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia masih tak bisa mempercayai jika Zayan adalah sepupu ustadz Ibrahim.
Kepindahan Ransi beberapa tahun yang lalu dari kota Jambi, membuat ia memberikan gelang kayu berwarna coklat kepada Zayan. Sejak hari itu Ransi tidak pernah lagi mendengar tentang Zayan. Pria yang sudah tidak memiliki orang tua itu dulunya tinggal di sebuah rumah kontrakan seorang diri, mangkanya Ransi tidak tau tentang saudara Zayan yang ada di kota Palembang, wanita itu mengira Zayan adalah pria sebatang kara yang hanya memiliki dirinya.
\*\*\*\*\*
Zayan yang tak banyak bicara membuat Ransi curi pandang saat menatapnya, perempuan itu takut jika Zayan terganggu dengan pandangan Ransi yang masih dalam mencintainya. Hati Ransi lega karena mengetahui bahwa kedua wanita yang bersama Zayan di bandara adalah teman ustadzah Fatmah yang telah berumur 45 tahuan, karena mereka bercadar jadi Ransi tidak tahu umur mereka sudah hampir setengah abad.
Meski hatinya merasa lega namun ia tetap harus kehilangan cintanya sebab sangat tidak mungkin jika Ransi menjadi teman hidup Zayan. Mimpi itu haruskah di paksa menjadi kenyataan. Tetap saja pada akhirnya Ransi tidak bisa bersama dengan orang yang berarti dalam hidupnya, meski pangeran dalam hatinya telah hadir dengan jarak yang begitu dekat.
Sepulang Zayan dari mengajar mengaji di pesantren Ransi selalu memandang pria itu dari kejauhan, Zayan begitu tampan saat melangkah masuk ke dalam rumah. Meski hati Ransi berjerit bahwa ia terus merindukan Zayan, Ransi lebih memilih diam dan tidak ingin menyapanya walau hanya menanyakan kabar. Pastinya ustadz Ibrahim, ustadzah Fatmah dan Furqon telah bercerita sekotor apa dirinya.
Ara dan Sarrah sering datang ke rumah Ustadzah Fatmah untuk mengaji. Ransi sangat berharap ketika mereka pulang ke rumah ada pesan yang Zayan titipkan untuknya, seperti "Sarrah apa kabar Ransi, dia baik-baik saja kan?" atau "Ara, aku ingin mengunjungi rumahmu untuk menemui Ransi karena aku benar-benar merindukannya." Nyatanya itu hanya halusinasi Ransi yang sangat berlebihan.
"Kota ini berada di kamarku, itu berarti milikku? Namun aku ragu meng iya kan dugaan ku. Dari pada mati konyol karena penasaran lebih baik aku buka kotak ini siapa tau ada harta berlimpah dan aset berharga di dalamnya." Ransi membatin sambil membuka kotak tersebut.
"Jilbab?" batinnya heran saat melihat isi kotak.
"Ah pasti milik Sarrah, yah karena beberapa hari ini sering sekali paket datang untuk Sarrah yang berbelanja jilbab serta pakaian panjang secara online." Duga Ransi dengan melangkahkan kaki ke luar kamar sambil membawa jilbab berwarna putih, di dapati Ara dan Sarrah sedang asik menonton TV.
"Sarrah jilbab ini milikmu mengapa ada di kamarku."
"Jilbab?" Sarrah dan Ara saling melempar pandang melihat jilbab yang Ransi pegang.
"Itu milikmu, Ran" ucap Sarrah yang membuat Ransi semakin bingung.
__ADS_1
"Milikku? Aku tidak pernah membeli jilbab."
"Kakak mendapatkan jilbab itu di dalam kotak yang terbungkus kertas coklat, Kan?" ujar Ara sambil terus menatap kakaknya.
"Iya."
"Berarti itu milik kakak, sebab kotak tersebut pemberian dari bang Zayan untuk kakak."
"Apa? Zayan memberiku jilbab? Sementara aku tidak memaki jilbab, apa maksudnya semua ini." Ransi semakin tak mengerti.
"Zayan memberimu jilbab supaya kamu menutup aurat, apa salahnya kalo kamu pakek jilbab pemberian dari Zayan." Sarrah berkata sambil memakaikan jilbab putih ke kepala Ransi dengan paksa, Ransi diam tak berkutik saat Sarrah merapikan jilbab yang sekarang telah sempurna menutupi rambut Ransi.
"Masyallah" terdengar suara seseorang di ambang pintu membuat Sarrah, Ara dan Ransi menoleh.
"Bang Zayan." Ransi syok setengah mati.
"Kalian bertiga adalah bidadari dunia yang ada di kehidupan nyata," kata Zayan lalu berlalu pergi.
"Ku rasa ucapan Zayan hanya tertuju untukmu, Ran." Sarrah membuat pipi sahabatnya itu merona seketika.
"Kak aku harap kakak bisa berhijrah seperti kak Sarrah. Namun, berhijrah'lah semata-mata karena Allah Azza Wajalla. Bukan karena keterpaksaan atau ingin mendapatkan perhatian dari bang Zayan."
Ucapan Ara seolah menampar Ransi.
"Yah Ara benar Ran jika tidak di mulai dari sekarang mau sampai kapan, sampai kamu tak bernyawa lagi dan mendapat siksaan di alam kubur lalu kamu berteriak memohon ampun. Alah itu sudah tidak berguna, jadi berpikirlah untuk mulai berhijrah."
"Ara dan Sarrah benar jika tidak sekarang kapan lagi, jika bukan aku lalu siapa lagi yang dapat mengubah diriku sendiri. Berhijab? Siap atau tidak menutup aurat adalah kewajiban bagi seorang muslim, bukankah aku muslim? Lalu mengapa mengumbar aurat, tapi apa pantas wanita seperti diriku berhijrah ke jalan yang benar. Aku masih harus memikirkan semua itu, jalan yang akan ku tempuh aku harap tak menjadi penyesalan di masa depanku." Ransi berpikir keras di dalam hatinya.
__ADS_1