Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 9


__ADS_3

Satu minggu kemudian..


Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional berlangsung, menyikapi hal itu Ransi bernafas lega karena ia tak perlu lagi mendengarkan hinaan dan caci maki dari siswa siswi SMA Galaxy. Saat berada di sekolah, sebisa mungkin Ransi menutup telinga dan tidak memperdulikan perkataan-perkataan yang menyayat hatinya. Meski mencopa menghindar, tetap saja ucapan setiap murid yang membicarakan dirinya terdengar jelas di indra pendengaran. Dalam hati kecil Ransi, ia menangis dan berusaha untuk bertahan sampai ujian nasional berakhir.


Ting..tong..


Suara bel berbunyi keras menandakan waktu mengerjakan soal di mata pelajaran terakhir sudah selesai. Ransi beranjak dari tempat duduk  mengumpulkan lembaran soal dan jawaban ujian nasioan yang bermata pelajaran kimia, lalu ia langsung keluar kelas dengan berlari kecil. Koridor sekolah yang belum di penuhin murid membuat langkah Ransi semakin cepat karena jika siswa maupun siswi melihat dirinya sudah di pastikan mereka akan bergosip ria membicarakan pekerjaan Ransi di club Neptu.


Ransi berlari keluar gerbang sekolah menuju ke halte. Rafan tak bisa mengantar Ransi pulang karena harus menuruti permintaan sang mama apalagi kalo bukan permintaan agar anaknya itu lebih dekat dengan Zoya.


"Aaaaa,"jerit Ransi saat mobil berwarna hitam yang baru keluar dari parkiran sekolah menyerempet dirinya hingga tubuh gadis itu tersungkur ke pinggir jalan.


"Aw," rintih Ransi sambil mengusap pelan lutut mulusnya yang sedikit terluka.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang keluar dari dalam mobil tersebut.


"Aku tidak ap... Gavin?" saat Ransi mendongakkan wajah ia menatap lelaki yang berjongkok di hadapannya.


"Naiklah! Aku akan mengobati luka mu," printah Gavin sambil membuka pintu mobil.


Ransi diam tak berkutik tatapannya tak lepas menatap wajah Gavin yang begitu tampan. Bahkan Rafan kalah tampan dengan lelaki berwarna bibir pink alami itu.


Gavin membalas tatapan Ransi yang masih terduduk di pinggir jalan, lalu lelaki itu mengendong tubuh Ransi dan mendudukkan gadis itu ke dalam mobil.


"Aku akan membawa mu ke rumah sakit," ucap Gavin yang sudah berada di dalam mobil bersama Ransi.


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa, hanya lutut sebelah kanan ku saja yang sedikit terluka," kata Ransi sambil memandang ke luar jendela.


Motor ninja berwarna hijau melintas di samping mobil Gavin. Zoya memeluk erat tubuh Rafan di atas motor, sementara Rafan terfokus mengendarai motor. Sebelumnya Rafan sudah meminta izin kepada Ransi untuk mengantar Zoya pulang karena paksaan sang mama, Ransi yang mengerti mengizinkan kekasihnya itu mengantar pulang Zoya.


Gavin ikut melihat ke arah pandang Ransi.


"Bagaiman hati mu? Terasa sakit?" tanyanya.


"Ah apa yang kamu katakan. Lutut ku yang terluka mengapa kamu menanyakan hati ku."


"Mustahil kamu tak merasa cemburu melihat Rafan di peluk erat oleh perempuan lain, kecuali jika kamu tidak memiliki rasa terhadapnya," ucap Gavin acuh.


Tidak memiliki rasa? Mungkin Gavin benar, melihat Rafan di peluk Zoya hati Ransi biasa-biasa saja tak sedikit pun ia merasa cemburu. Siapa yang bisa mengerti tentang perasaan Ransi? bahkan Ransi sendiri pun tak dapat memahami hatinya jika sudah menyangkut kisah asmara.


"Apa terasa perih?" tanya Gavin sambil mengobati luka di lutut Ransi dengan menggunakan obat merah.


Ransi tak menjawab, untuk saat ini ia hanya bisa memandang Gavin yang dengan lembut menempelkan plester luka ke lututnya.


Setelah plester luka terpasang dengan rapi, Gavin membalas tatapan Ransi dengan menarik nafasnya. Lelaki itu seolah terbuai dengan aroma wangi tubuh Ransi.

__ADS_1


Dengan penuh hasrat, tanpa sadar wajah Gavin semakin mendekati wajah Ransi, begitu dekatnya sampai gadis itu pun dapat merasakan hembusa nafas Gavin yang beraroma mint.


"Gavin, ap..apa yang ingin ka..kamu lakukan," perkataan Ransi membuat Gavin memundurkan tubuhnya kembali ke posisi semula.


"Maaf. Aku hampir kelepasan," ucap Gavin dengan memandang lurus ke depan.


“Apa kamu bisa mengantar ku pulang?"


"Sebutkan alamat mu aku akan mengantar mu pulang."


Ransi menyebutkan secara detail alamat rumahnya, Gavin pun memutar arah dan langsung mengendarai mobilnya menuju alamat yang dimaksud. 20 menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil Gavin berhenti di depan rumah Ransi.


Para tetangga kepo bertebaran keluar rumah melihat mobil yang terparkir di halaman rumah Ransi. Dari dalam mobil Ransi dapat melihat para tetangganya berkumpul dan ia bisa menebak bahwa mereka pasti sedang bergosip tentang dirinya.


"Terimakasih telah mengantar ku pulang. Tidak usah mampir, langsung pulang saja," ucap Ransi blakblakan.


"Bagaimana dengan lutut mu?"


"Tak perlu khawatir lutut ku baik-baik saja."


"Aku sama sekali tidak khawatir, aku hanya bertanya."


Ransi memandang Gavin datar, lalu gadis itu turun dari mobil.


"Kemarin diantar pria bermotor besar sekarang diantar menggunakan mobil, jangan-jangan besok akan ada pesawat yang parkir di depan rumah Ransi,' celetuk bu Ani tetangga sebelah kiri Ransi.


Ransi tak memperdulikan perkataan para tetangganya, ia lebih memilih masuk ke dalam rumah ketimbang harus berdebat dengan manusia-manusia kepo sejagat raya.


"Sayang, bagaimana kabar mu hari ini? Aku sangat merindukan mu." Langkah Ransi terhenti ketika mendengar perkataan tersebut, ia membalikkan tubuhnya.


"Apa mau mu Baron. Kenapa kau selalu mengganggu hidupku."


"Kau bertanya mau ku apa sayang? Aku sangat ingin dan mau menikahi dirimu."


"Menjijikan!"


"Ransi terima aja tawaran juragan Baron yang berniat untuk menikahi mu."


"Jika kau menjadi istri juragan Baron semua kebutuhan mu akan terpenuhi dan kau tidak perlu berkerja di club Neptu lagi." Timpal bu Susan.


Juragan Baron tersenyum penuh hasrat melihat tubuh Ransi yang tambah seksi, ingin sekali pria berusia 47 tahun itu segera menikahi Ransi.


"Kau ingin menjadikan ku istri ke tujuh? Yah benar saja Baron. Enam istri yang berkumpul di rumah mu itu apa masih kurang banyak atau jangan-jangan kau ingin membentuk girlband. Jika itu benar aku akan mendaftar," cetus Ransi sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu.


Baron tersenyum iblis seraya membatin, "Jika aku berhasil mendapatkan tubuh mu, kau tak akan bisa terlepas dari jerat ku."

__ADS_1


\*\*\*\*\*


"Sedang apa kau di rumah ku!"


"Tentu saja bertemu dengan calon tunangan ku."


"Hentikan omong kosong mu."


"Rafan, pertunangan kita tinggal beberapa minggu lagi. Kau tak bisa mengacuhkan ku seperti ini," ucap Zoya.


"Arghh!!" Rafan menjambak rambutnya frustrasi.


"Nampaknya kau masih menjalin hubungan dengan perempuan kotor itu," tebak Zoya.


"Tutup mulut mu dan jangan pernah mengusik urusan pribadi ku." Rafan menatap Zoya dengan tatapan membunuh.


"Aku akan terus mengganggunya sampai kau menyerah dan jatuh ke dalam pelukan ku." Perkataan Zoya membuat emosi Rafan memburu.


"Belum puas kau mempermalukan Ransi di sekolah! jika kau berani menyentuh dan menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam," ujar Rafan sambil mencengkram kemeja yang di kenakan Zoya, membuat gadis itu sulit untuk bernafas.


Zoya menangis saat Rafan semakin mengeratkan cengkeramannya dengan menatap penuh kebencian.


"Rafan apa yang kamu lakukan!" jerit Refa yang baru pulang dan  mendapati Rafan sedang  mencengkram kemeja Zoya.


Mendengar jeritan sang mama, Rafan melepas cengkeramannya dan mendorong tubuh Zoya hingga terjatuh di atas sofa.


PLAK..


Refa menampar pipi putranya.


"Beraninya kau menyakiti Zoya!" bentaknya.


"Aku bisa melakukan lebih dari itu jika dia berani menyentuh, Ransi."


PLAKK..


Kali ini pipi sebelah kiri Rafan yang memerah. Refa benar-benar terbalut emosi. Tanpa sadar tangannya menampar pipi putranya sebanyak dua kali, setelah melayangkan tamparan, tangan kanan  Refa gemetaran dengan menatap sendu ke arah Rafan.


Sejak kecil Rafan selalu di manjakan oleh kedu orang tuanya. Semua keinginan dan kemauan Rafan selalu terpenuhi. Ingin mainan, liburan ke luar negeri, membeli sepeda baru, mengkoleksi robot, tanpa menolak kedua orang tuannya menuruti semua yang Rafan inginkan.


Baik Refa maupun Satrio, keduanya tidak pernah membentak dan menyakiti Rafan. Namun, semua itu berubah saat Rafan mulai mengenal dan menjalin hubungan dengan Ransi. Refa sering memarahi dan membentak putrannya itu. Terlebih lagi ketika Rafan lebih membela Ransi dari pada  ibu kandungnya sendiri.


Meski sering membentak dan memarahi Rafan, Refa tetap menyayangi anak semata wayangnya dan tidak pernah terlintas di pikirannya untuk menampar pipi sang anak. Namun, tidak untuk hari ini. Secara spontan tangan kanan  Refa melayangkan tamparan sebanyak dua kali di pipi kanan dan kiri Rafan.


"Rafan maaf kan mama," rintihnya.

__ADS_1


Rafan menatap Refa dengan tatapan pilu, lalu lelaki itu berlalu pergi ke luar rumah menaiki motor ninjanya.


__ADS_2