Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 31


__ADS_3

Kuala Lumpur, Malaysia..


Udara yang sejuk dengan daun-daun kering berjatuhan tertiup angin, membuat Sarrah berdiri sambil sesekali memejamkan kedua mata merasakan hembusan angin yang bertiup sepoy-sepoy. Di sela lamunannya Sarrah bergumam pelan sambil tersenyum hangat.


"Semua berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku bertemu Ransi. Hahaha. Teman sekaligus keluarga bagiku, sekarang Ransi telah menikah dan berubah menjadi wanita anggun dan sholehah bahkan ia sudah mengenakan cadar untuk mentupi seluruh wajah terkecuali mata. Masyallah, dahulu aku dan dia selalu mempertontonkan aurat kepada semua orang namun sekarang hanya matalah yang dapat di lihat orang saat memandangku dan Ransi. Yah seiring berjalannya waktu aku pun lebih memperdalam agama dan telah memakai cadar. Begitu bahagianya aku saat ini, perubahan yang benar-benar merombak seluruh kehidupanku."


Menikah dengan Tio adalah impian Sarrah sejak kecil. Benar saja impian itu kini hadir di dalam kehidupan nyata yang tak pernah ia duga sebelumnya. Sarrah pikir selama ini Tio mencintai atau menyukai Azalea namun dugaan itu salah, selama ini Tio menaruh hati kepadanya namun enggan untuk mengungkapkan karena pria manis itu masih kesal dengan Derrio.


Sebulan setelah pernikahan Ransi dengan Zayan, Tio melamar Sarrah di hadapan keluarga kecilnya yaitu Ara, Ransi dan Zayan. Sarrah menerima pinangannya tanpa ragu, sebab memang dialah pria yang selalu bersarang di pikiran perempuan itu.


Persahabatan anatara 3A+D membuat Tio sering datang ke rumah Sarrah. Derrio, Azalea, Tio, dan Adzriel sering menghabiskan waktu bersama. Saat Tio tertawa, tersenyum dan berbicara yah semua tingkahnya selalu Sarrah perhatikan dari balik guci berukuran besar yang terletak di ruang tamu. Sarrah menyukainya, menyukai semua yang ada pada dirinya. Diantara yang lain Tio lebih dewasa , bersikap bijaksana dan selalu bisa menyelesaikan masalah.


Setelah keduanya menikah Tio mengajak Sarrah untuk pindah ke Kuala Lumpur membantu Azalea membuka cabang perusahaan disana. Semua aset perusahaan serta mansion yang dulunya di ambil ahli oleh paman dan bibi Azalea kini telah ia dapatkan kembali. Menjadi wanita karir yang lembut dan cantik, siapa yang tak terpesona saat melihat Azalea, semua pria yang melihatnya tentu akan tertarik dengan penampilannya sekarang. Namun, dinding pertahannya tetap kuat karena cintanya hanya untuk Adzriel.


Sekarang Sarrah menetap di Kuala Lumpur, hanya berkomunikasi lewat hp ia bisa tau kabar Ransi dan suaminya. Sarrah dan Ransi telah bersama orang yang mereka cintai dan Sarrah  berharap tak ada lagi tangis derita yang tertulis di buku takdir kehidupan mereka.


\*\*\*\*\*


8 tahun kemudian


"Abi temani ummi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Ummi sakit?" Zayan mengelus rambut Ransi dengan rasa khawatir.


"Tidak abi, ummi baik-baik saja."


"Lalu kenapa ingin ke rumah sakit?" tanya Zayan bingung.


Ransi menundukkan kepalanya seraya berkata, "Ummi ingin memeriksa rahim ummi. Takut terjadi sesuatu, sebab sudah delapan tahun usia pernikahan kita tapi ummi belum juga hamil."


Zayan memeluk tubuh Ransi dan mengelus punggung wanita itu.


"Kekahwatiran macam apa itu ummi, jika kita belum di karuniai seorang anak artinya Allah Azza Wajalla belum mempercayai kita untuk menjadi orang tua," tegas Zayan.


Zayan memandang wajah sang istri sangat dalam, ada bulir yang terjatuh setetes demi setetes membasahi pipi Ransi.


Ransi cepat-cepat menghapus air mata dan memeluk erat tubuh suaminya itu.


Ransi dan Zayan hanya hidup berdua di rumah sederhana sepeninggalan pak Krisna. Bapak Ransi telah meninggal dunia karena terjatuh di pinggir jalan akibat kebanyakan meminum alkohol, kepalanya terbentur aspal sehingga membuat pak Krisna tewas di tepat. Sementara Ara sudah di persunting oleh Furqon dan mereka tinggal di Jambi bersama ustadzah Fatmah dan ustadz Ibrahim yang ikut pindah kesana. Kepindahan sang adik di kota lain membuat Ransi selalu merasa kesepian. Toko bunga yang berada di pusat kota, yah disitulah Ransi menghabiskan hari-harinya saat Zayan tak ada di rumah.


Mulut-mulut heboh tetangga dari dulu sampai Ransi telah berubah sepenuhnya masih saja menggibahi wanita berumur 26 tahun itu. Tatapan sinis pun tak lepas dari mata yang memandang saat Ransi keluar rumah.


"Sekali pendosa selamanya akan menjadi pendosa."

__ADS_1


"Bisa-bisanya Zayan memilih wanita hina seperti Ransi untuk dijadikan istri."


"Udah lama menikah tapi belum punya anak, jangan-jangan Ransi-"


"Banyak wanita di lorong Venus yang berakhlak baik, kenapa harus memilih Ransi si wanita kotor yang menutupi dosa-dosanya dengan memakai pakaian syari. Dasar munafik!"


"Zayan yang malang, mendapat istri seperti Ransi yang sering bergonta-ganti pria untuk menjamah tubuhnya. Idiih menjijikan!"


Semua lontaran pedas itu selalu terdengar di telinga Ransi, hatinya memberontak dan berjerit kencang seraya membatin, "Aku sudah berhijrah." Tapi tetap saja kesalahan serta takdir di masa lalu tak bisa di lupakan begitu saja.


Sepulang dari pasar Ransi selalu menangis dengan celotehan para tetangga yang terus membuat hatinya sakit dengan komentar yang menusuk ke dalam relung hati. Zayan yang melihat istrinya menangis, memeluk tubuh Ransi, lalu mencium kening sang istri dan menghapus pelan air mata yang terus mengalir. "Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan, tetaplah kuat dan jadilah dirimu sendiri. Meski mereka belum bisa menerima perubahaan ummi namun percayalah Allah Azza Wajalla sudah menerima hijrah ummi. Kedua tangan abi akan selalu menutpi telinga ummi jika orang lain melontarkan perkataan menyakitkan yang membuat ummi terpuruk." Perkataan itu selalu diucapkan Zayan sambil menutup kedua telinga Ransi dengan telapak tangannya.


Di hari berikutnya, Ransi dan Zayan pergi untuk konsultasi ke rumah sakit. Dokter menyarankan jika rahim Ransi harus di periksa mengingat pekerjaan Ransi dulu mungkin saja rahimnya mengalami kerusakan atau luka.


Zayan dan Ransi duduk berhadapan dengan dokter Silvia, dokter paruh baya tersebut membuka hasil pemerikasaan Ransi dan menjelaskan hasil tersebut. Sebenarnya dokter Silvia tak sampai hati membacakan selembaran kertas yang isinya sangat memperihatinkan. Namun, apapun hasilnya ia harus tetap menyampaikannya.


"Maaf pak, buk saya harus mengatakan ini. Buk Ransi di vonis tidak bisa mengandung karena rahimnya rusak dan tidak ada harapan untuk bisa hamil."


Ransi menutup mulut dengan telapak tangannya, ia sangat syok dengan air mata yang tumpah. Zayan yang melihat kerapuhan Ransi, langsung memeluk tubuh sang istri memberikan ketenangan.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Apanya yang tidak apa-apa! Ummi tidak bisa hamil dan abi bilang semua akan baik-baik saja, apa abi tidak mengerti apa yang ummi rasakan saat ini." Ransi berlari pergi meninggalkan Zayan, perasannya sangat hancur mendengar kenyataan pahit yang lagi-lagi tergores dalam hidupnya.


Terjabar dalam hasil pemeriksaan bahwa rusaknya rahim Ransi karena pernah ada sesuatu yang masuk secara paksa sehingga membuat rahimnya menjadi terluka dan tidak bisa sembuh. Puntung rokok yang dulu pernah Baron masukan ke bagian sensitif Ransi, kemungkinan membuat rahim Ransi terluka. Sebab sejak hari dimana Baron melakukan hal keji itu Ransi harus mendapatkan perawatan karena area sensitifnya mengeluarkan darah segar.


__ADS_2