Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 28


__ADS_3

"Belum lama aku mengenal Derrio, dia telah pergi ke surga tanpa membawa beban karena Azalea telah memaafkan perbuatannya. Derrio, pria yang membuat bang Adzriel seolah menjadi pendosa. Entahlah, apa diatas sana keduanya akan rukun dan bisa kembali bersahabat atau mungkin mereka saling membuang pandang saat menatap satu sama lain. Apapun itu aku harap mereka bahagia di alam sana." Dalam langkah yang di pijak, Ransi terus mengatakan hal itu, tentang Derrio dan juga abangnya yang sudah berada di sisi sang Pencipta.


Meski selama ini sikap dan perilaku Adzriel sangat kasar terhadap Ransi dan Ara, tak menutup kemungkinan jika perempuan itu sangat merindukan keberadaan abangnya. Begitupun Ara, ia terus menangis sambil memegang foto Adzriel yang memakai seragam sekolah dasar. Sementara pak Krisna bersikap masa bodoh dengan kepergian Adzriel.


Dengan semua yang telah terjadi, Ransi dan Sarrah memutuskan untuk berhenti menjadi PSK dan memulai hidup lebih baik lagi, bekerja di sebuah restoran. Pekerjaan baru itu sangat nyaman bagi Ransi dan juga Sarrah karena keduanya tidak perlu mempamerkan tubuh untuk menarik pelanggan. Memakai celana hitam panjang dengan kemeja putih polos seperti anak magang, itulah baju seragam yang mereka kenakan setiap bekerja.


Ransi dan Sarrah yakin jika Adzriel dan Derrio pasti bahagia melihat perubahan mereka, setidaknya dengan berusaha menjadi lebih baik Ransi maupun Sarrah bisa menjadi adik yang berguna untuk mereka. Ara pun begitu senang karena Ransi sudah tidak lagi menggunakan pakaian mini menunjukan lengkuk tubuhnya yang seksi dan montok.


Bandara (Palembang)..


Rasanya waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah jadwal keberangkatan Azalea ke Malaysia. Kepergian  Adzriel membuat Azalea sangat terpuruk namun ia tetap harus kuat dan bertahan hidup demi cintanya dan perjuangan  Adzriel. Azalea memutuskan untuk mengurus seluruh aset peninggalan orang tuannya  bersama dengan pengacara pribadinya. Ia tidak akan membiarkan bibi dan juga pamannya mengambil ahli semua harta milik ayah dan juga ibunya.


Ransi terkejut saat Azalea memberi sebuah kunci kepadanya, kunci toko bunga yang ada di pusat kota. Toko bunga peninggalan Adzriel yang di berikan kepada Azalea sekarang menjadi milik Ransi. Mengapa bisa? Tentu saja bisa sebab Azalea menyerahkan toko bunga tersebut untuk Ransi karena bagi Azalea, Ransilah yang pantas menerima toko itu. Awalnya perempuan itu menolak keras namun Azalea terus memaksa dan berkata, "Kamu lebih pantas menerimanya Ransi, toko bunga itu di bangun dari hasil jerih payah Adzriel, aku yakin Adzriel akan senang jika kamu yang mengurus toko bunga itu. Cukup liontin perak berbentuk hati yang aku miliki. Aku tidak menginginkan apapun lebih dari itu."


"Ransi, aku pasti akan merindukanmu," ucap Azalea seraya memeluk sahabatnya itu.


"Aku pun begitu," ujarnya dengan membalas pelukan Azalea.


Hanya Ransi yang mengantar Azalea ke bandara. Tio sudah pergi duluan ke Malaysia mempersiapkan kedatangan Azalea sementara Sarrah sedang sakit perut dan terus BAB alhasil Ransi sendirian dengan butiran air mata melihat kepergian Azalea yang entah kapan akan kembali ke Indonesia.


"Sahabat sekaligus kekasih abang ku, haha lucu yah bisa kebetulan seperti itu. Jika saja bang Adzriel masih berada disisi kami pasti Azalea akan menjadi kakak ipar ku dan ending kehidupan mereka akan bahagia dengan buah cinta mereka. Tapi! Ah sudahlah kenyataan hidup sangat berbeda dengan drama romance yang sering ku tonton," gumam Ransi sambil berjalan perlahan.


ia melambaikan tangan ke arah Azalea yang menggeret koper berukuran sedang, Azalea pun ikut melambai sampai keduanya benar-benar sudah tidak bisa saling menatap lagi. "Shit! Kenapa air mata ini lagi-lagi menetes, aku benci dengan tangisan dalam hidupku, yah aku sangat membencinya." Perkataan itu terus terucap di bibir Ransi.


"Sebaiknya aku pulang dan membeli obat untuk Sarrah," ujar Ransi sambil berbalik dan berjalan menuju ke luar.


Namun, tiba-tiba langkahnya berhenti mendadak dengan pandangan tak lepas menatap tangan seseorang yang memakai gelang kayu berwarna coklat. "Tidak! Apa aku sedang bermimpi di bandara. Gelang itu, gelang dengan bentuk dan warna yang sama. Ap..apa yang harus..aku lakukan sekarang." Spontan Ransi memeluk seorang pria yang berdiri membelakanginya. Ransi benar-benar kehilangan akal sehatnya.

__ADS_1


"Bang Zayan," sebutnya sambil memeluk erat tubuh pria tersebut dari belakang.


"Ransi?" ujar pria itu ragu dengan melepas paksa pelukan Ransi.


Saat pandangan keduanya bertemu, Ransi sangat yakin dia adalah pria yang selama ini tak mampu membuat dirinya jatuh cinta lagi.


Ransi menatap dalam dan penuh kerinduan sementara Zayan membuang pandang ke segala arah.


Ransi terus memasati  Zayan penuh selidik, pria yang berada di hadapannya memakai baju koko berwarna putih serta celana hitam di tambah peci yang melingkar di kepalannya.


"Maaf Ran kamu tak seharusnya memelukku."


“Ngg. Maaf bang aku spontan memelukmu."


Pria itu tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya. Jantung, apa kabar jantung Ransi yang bergejolak cepat saat melihat senyuman Zayan.


Ransi mengangguk cepat.


"Aku selalu memakai gelang ini Ran agar suatu hari kamu dapat mengenaliku sebagai bang Zayan mu dan hari yang ku tunggu datang lebih cepat dari dugaan ku," lanjutnya.


Apa yang harus Ransi katakan, ia benar-benar terpaku dengan ketampanan Zayan bagaikan bak pangeran suci yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Zayan," mata Ransi gelagapan saat mendengar seseorang memanggil nama Zayan.


Dua perempuan memakai pakaian syari dengan cadar yang menutupi wajah mereka terkecuali mata. Keduanya berdiri dengan jarak yang tak terlalu dekat dengan Zayan. "Siapa mereka? apa istri bang Zayan? Jika pun ia, aku benar-benar tidak pantas berada diantara mereka." Ransi merasa tak enak hati dengan terus membatin penuh tanya.


Ransi berlari pergi meniggalkan Zayan. Mengapa aku harus berlari? Yah karena hatiku belum siap jika bang Zayan memperkenalkan istrinya kepadaku. Aku tahu cinta yang ku pendam selama ini hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, sejak kecil bang Zayan menganggap ku sebagai adiknya dan selalu bermain bersama. Namun, aku tidak pernah menggangapnya sebagai seorang abang karena aku mencintainya. Mencintai pemilik gelang kayu berwarna coklat. Jika tau endingnya akan semenyakitkan ini, lebih baik seumur hidup aku tidak pernah bertemu bang Zayan.  Konyol, apa yang aku pikirkan. Perempuan hina sepertiku tidak mungkin mendapatkan cinta dari seorang Zayan Hidayatullah pria berakhlak lurus dan terpuji. Ia bahkan melepas paksa pelukanku karena tidak mau bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Semetara aku, tubuh ini sudah kotor dengan banyak pria yang haus akan nafsu. Ransi tak kuasa menahan air mata dan rasa sesak di dalam hatinya.

__ADS_1


Mimpi buruk itu kembali menjadi nyata dan meninggalkan rasa pedih saat Ransi menjalaninya. Harapannya sudah hancur, harapan akan bertemu kembali dengan seseorang yang ia cinta. Ya Ransi memang bertemu lagi dengannya namun bukan pertemuan seperti ini yang ia inginkan.


Berharap jika Zayan akan membalas pelukannya dan mencium mesra kening Ransi. Hahaha! Ingin sekali aku menertawakan diriku yang tak tau malu ini. Bertemu kembali dengannya bagaikan berada di tempat indah dengan terangnya cahaya yang menghiasi hatiku tapi itu terjadi hanya beberapa saat, tempat yang tadinya indah kini berubah menjadi tempat yang menakutkan tanpa ada setitik cahaya. Selalu saja Ransi merasa kecewa dengan kisah asmaranya.


\*\*\*\*\*


Di tepi danau yang sunyi terdapat satu anak lelaki dan  bocah perempuan sedang duduk sambil menghirup udara sejuk yang masuk ke dalam pori-pori tubuh mereka. Terasa damai saat pandangan bocah perempuan itu beralih menatap lelaki yang duduk di sampingnya sambil memejamkan mata.


"Bang, keluargaku akan pindah ke Palembang."


Mendengar perkataan itu, anak lelaki tersebut membuka matanya sambil menatap tak percaya.


"*Kita tidak bisa bertemu lagi," lanjut bocah perempuan itu dengan raut wajah kecewa.


"Meski tubuh kita tak saling menyapa. Namun, percayalah bahwa hati kita akan terus berkomunikasi dari jarak yang jauh*."


"*Apa suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali?"


"Tentu saja, kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda*."


Bocah perempuan berkepang dua itu tersenyum hangat dan berharap bahwa kesempatan tersebut akan datang suatu hari nanti.


"*Pakailah gelang kayu berwarna coklat ini agar aku bisa langsung memelukmu di kemudian hari," ujarnya sambil memakaikan gelang kayu ke tangan sang abang.


"Aku berjanji akan selalu memakai gelang pemberian darimu tanpa pernah berpikir untuk melepasnya*."


*Rintik hujan perlahan turun membuat keduanya beranjak pulang ke rumah. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan dan jika Tuhan memberi bonus, perpisahan itu akan berujung pada pertemuan selanjutnya. Dimana takdir akan merombak  masa depan yang tak bisa terlepas dari masa lalu yang pernah di jalani.

__ADS_1


Hingga saatnya tiba kebahagian itu akan datang dengan sendirinya, melalui proses yang teramat sulit untuk di lalui*.


__ADS_2