Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 10


__ADS_3

Azalea melangkahkan kaki melewati jalan sepi sambil menggeser-geser tongkat yang setia menemani setiap langkahnya. Bagaimana bisa ia tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana yang terpencil. Yah mau tak mau Azalea harus bisa bertahan dan hidup mandiri seorang diri sambil menjual bunga di taman setiap harinya.


Enam tahun yang lalu kedua orang tua Azalea mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya, kecelakaan itu membuat Azalea menjadi anak yatim piatu dengan bergelimang harta peninggalan dari orang tuanya. Ayah Azalea seorang CEO  suatu perusahan yang memiliki banyak cabang di berbagai kota sementara ibu Azalea merupakan dosen di salah satu Universitas kota Palembang.


Di umur yang masih sangat muda, pengacara pribadi keluarga Azalea belum berani membiarkan gadis itu mengelola sendiri perusahaan peninggalan sang ayah. Alhasil pak pengacara menjadikan bibi dan paman Azalea sebagai orang tua asuh dan mempercayakan semua aset-aset, tabungan, arsip perusahaan, dokumen-dokumen penting kepada keduanya.


Di depan pengacara perlakuan bibi dan pamannya begitu manis dan sangat baik, akan tetapi jika pengacara Azalea tidak ada gadis itu akan disiksa dan di kurung dalam kamar oleh bibi dan juga pamannya.


Perlakuan kasar terus Azalea rasakan selama satu tahun. Sampai saat peristiwa keji itu menimpa Azalea yang merenggut kesuciannya serta membuat kedua mata gadis itu tak bisa lagi melihat dunia, bibi dan pamannya mengusir Azalea dan membuat skenario jika Azalea telah meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Lalu pengacara pun melimpahkan semua harta milik Azalea kepada paman dan bibinya yang jahat dan kejam.


Satu-satunya tempat yang bisa membuat Azalea bisa merasa lebih tenang yaitu di rumah kayu yang di penuhi banyak berbagai macam bunga yang mengelilingi rumah tersebut.


Sejak kecil Azalea sangat menyukai bunga begitupun dengan ayahnya. Rumah kayu yang di bangun di tengah hutan tersebut sengaja di buat kedua orang tua Azalea untuk menanam bunga-bunga di sekitaran tempat tersebut. Mereka memilih tempat itu karena merasa sangat cocok dan begitu nyaman saat berada di sana.


Setiap hari Minggu Azalea dan kedua orangtuanya tak pernah absen berkunjung ke tempat itu, tempat yang sangat indah dan sejuk dengan kicauan burung-burung yang menambah suasana menjadi damai.


Azalea mempercepat langkahnya saat mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan di belakangnya. Langkah itu semakin terdengar dekat membuat Azalea berhenti seketika.


"Jangan mengikuti ku!" ucap Azalea dengan nada membentak.


"Bukan aku pelakunya," lirih seorang yang sayup-sayup terdengar.


"Ku mohon menjauh lah dari hidup ku!" Azalea terisak, pria yang berdiri di hadapannya mencoba menyentuh tangan Azalea. Merasa ada yang menyentuh tangannya, secara spontan Azalea menepis tangan tersebut sehingga membuat tongkat yang di pegangannya terjatuh.


Pria itu berusaha mengambil tongkat yang terjatuh cukup jauh dari tempat Azalea berdiri.


"Jangan membantu ku. Aku bisa menemukan tongkat ku sendiri." Perkataan Azalea membuat pria ber-hoodie itu mengurungkan niatnya untuk mengambil tongkat.


Air mata Azalea jatuh membasahi pipinya, sambil berjongkok ia meraba-raba tanah untuk mencari tongkat. Di menit selanjutnya Azalea berhasil mendapatkan tongkatnya, lalu ia berdiri. Tak bisa melihat kerapuhan yang Azalea rasakan pria yang sedari tadi berdiri menatap Azalea kini memberanikan diri menarik paksa tangan perempuan ber-dress bawah lutut itu hingga terjatuh ke dalam pelukannya.


Azalea menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan seorang pria yang dulu sangat ia cintai. Azalea merasa ada buliran yang menetes membasahi rambutnya. Yah pria itu pun menangis sambil memeluk erat tubuh Azalea.


\*\*\*\*\*


Sore telah berganti malam, seperti biasa Ransi bersiap-siap untuk bekerja. Memakai dress ketat dan menguraikan rambutnya yang panjang bergelombang. Ransi duduk di depan meja rias sambil menyentuh bibirnya dengan gincu berwarna merah merona, blush on pun ikut bermain di kedua pipinya.


Setiap malam saat ingin pergi kerja, Ransi menghias dirinya di depan cermin berukuran sedang. Melihat tubuh yang elok rupawan tak membuatnya begitu senang, sebab tubuh itu nantinya akan di sentuh dan teraba oleh pria-pria yang akan memesannya. Kecantikan bak dewi dari kayangan menjadikannya ternomor satu di club Neptu dan mendapatkan kepercayaan penuh menggoda bos-bos kalangan menengah ke atas.


Kulitnya yang putih pucat dengan bentuk tubuh ideal, jika di lihat dari samping nampak begitu indah. Bagian dada dan bokongnya berisi, sedangkan perut dan pinggang ramping. Bentuk tubuh ini sering di sebut body s-line.


Rafan duduk di ruang tamu menunggu kekasihnya selesai berdandan, selang beberapa menit Ransi membuka pintu kamar dan langsung mengajak Rafan untuk mengantarnya bekerja, akan tetapi lelaki itu diam tak berkutik dengan raut wajah yang masih terbalut emosi. Ransi bisa membaca mimik muka Rafan, jika sudah seperti itu pasti ada masalah yang di sembunyikan Rafan.


Ransi duduk dan mengelus pelan rambut Rafan yang bergaya Pompadour belah samping dengan begitu mesra.


"Ada apa, Raf?"


"Tidak ada."


"Kamu tidak bisa membohongi ku."

__ADS_1


"Ran, malam ini tidak usah bekerja aku ingin menginap di rumah mu." Perkataan Rafan membuat Ransi memandang bingung.


"Ngomong apa sih Raf? Kamu sedang halu."


Rafan menatap Ransi sendu, membuat gadis itu terdiam.


"Ribut lagi dengan mama mu."tebak Ransi.


Rafan menganggukkan kepala.


"Yasudah kalo begitu menginap saja di hotel jangan di rumah ku."


"Memangnya kenapa?"


"Pake nanya lagi. Jika kamu menginap di rumahku tetangga pasti akan bergosip ria dengan penuh semangat membicarakan aku," omel Ransi.


"Kita kan tidak berbuat mesum, lagi pula ada Ara. Tetangga mu tidak bisa melabrak kita."


"Yah tapi-"


"Ku mohon, Ran."


Meihat tatapan sendu Rafan, Ransi merasa kasihan dan berpikir bahwa masalah yang di hadapi Rafan pasti berkaitan dengan dirinya.


"Baiklah kamu boleh menginap di rumah ini. Tapi, dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?"


Persyaratan yang di ucapkan Ransi membuat Rafan tertawa.


"Hahahaha.."


Kecilkan suara mu tetangga bisa mendengarnya. Ransi berkata sambil mencubit pelan lengan Rafan.


"Tenang saja aku akan berpikir yang tidak-tidak. Hahahaha." canda Rafan dengan tertawa geli.


Ara yang berada di dapur berjalan ke ruang tamu ketika mendengar ada suara lelaki yang tertawa.


"Kakak belum pergi kerja?" tanyanya.


"Malam ini Ransi tidak bekerja karena bang Rafan akan menginap di rumah kalian." Pertanyaan yang di lontarkan Ara untuk kakaknya di jawab penuh semangat oleh Rafan.


"Menginap di rumah ini?"


"Iya."


"Bisa-bisa jadi fitnah, Bang."


"Selagi tidak melakukan hal yang iya-iya, abang rasa tak kan ada masalah. Benar kan," Ran ujar Rafan sambil menyenggol bahu Ransi.

__ADS_1


"Eh.. iya," kata Ransi gelagapan karena sedari tadi ia melamun memikirkan bagaimana bisa Rafan tidur di rumahnya yang kecil.


"Yasudah kalo seperti itu." Ara kembali ke dapur menyusun piring yang baru di cucinya.


Ransi beranjak masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


"Rafan, mau kemana kamu?" tanya Ransi saat melihat Rafan mengikutinya dari belakang.


"Aku mau tidur," jawab lelaki itu polos.


“Mengapa mengikuti ku kalo mau tidur."


“Yah kita tidur berdua di kamar." ingin sekali Ransi menendang junior Rafan saat mendengar ucapan tersebut.


"Apa kamu sudah kehilangan akal."


"Kak bagaimana kalo kita tidur bertiga di ruang tamu," Ara yang sudah menyelesaikan tugasnya memberi saran.


Ransi berpikir dan meng iya kan saran sang adik.


Malam sudah semakin larut alhasil ketiganya tertidur di ruang tamu bergeletak dengan beralaskan anyaman tiker. Rafan tidur di sudut dinding sementara Ara tidur di tengah antara Rafan dan Ransi dengan jarak yang jauh.


Rafan merasa kedinginan karena tidur di lantai yang hanya beralaskan tiker serta kipas angin yang berputar kencang. Lelaki itu membuka matanya tak bisa tidur sesekali nyamuk menggigiti kulitnya. Rafan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ransi, meski berjarak jauh namun Rafan tetap bisa melihat jelas tuan putrinya yang terlelap begitu manis.


Ransi memberi dunia yang indah untuk  Rafan, dunia yang belum pernah ia jelajahi sebelumya. Tak pernah terbayangkan olehnya bisa tidur bersama dengan keluarga Ransi. hati Rafan berdetak kencang, cintanya tumbuh semakin besar. Bibir Ransi yang seksi serta mata indah  yang tertutup rapat tak lepas dari pandangan Rafan.


Tiga jam berlalu, Rafan pun kembali memejamkan matanya dan mulai menjelajah ke ambang mimpi.


"*Dia bukan jodohmu mu," ucap seorang kakek-kakek berjubah putih.


"Jika dia bukan jodoh ku, mengapa takdir mempertemukan kami*.”


"Takdir hanya singgah dan menjadikannya sebagai kisah hidup yang harus kau jalanin. Namun, takdir itu akan kembali ke tempat yang seharusnya."


"Tak bisakah aku merubah takdir itu."


"Jika kau merubahnya, kisah ini akan berbeda." Setelah mengucapkan perkataan itu, kakek berjubah putih itu menghilang.


Rafan terbangun dan mengucel-ucel matanya.


"Huft. Syukurlah hanya mimpi." Ia membatin sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 pagi.


Pagi-pagi sekali Ara sudah pergi ke sekolah, sementara Ransi berada di dapur menyiapkan sarapan untuk Rafan.


Hap..


Rafan memeluk erat tubuh Ransi dari belakang, gadis itu mendongakkan kepalanya menatap Rafan. Keduanya bertatapan satu sama lain.


Cup..

__ADS_1


Rafan mencium lembut pipi Ransi mengisyaratkan bahwa ia sangat mencintai gadis yang ada dihadapannya.


__ADS_2