Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 35


__ADS_3

Ara berlarian menemui Ransi yang masih berada di rumah sakit. Ara membawa salinan berkas kepolisian yang sebenarnya. Di dalam dokumen tersebut Zayan dinyatakan tidak bersalah. Ransi yang mengetahui semua itu langsung berlari menuju lapas tempat Zayan di tahan. Namun, mata Ransi tak sengaja melihat seorang pria terbaring di atas bangsal dengan dokter dan beberapa perawat yang mendorong-dorong bangsal tersebut menuju ruangan UGD.


"Abi!" jerit Ransi yang menerobos masuk ke dalam ruangan.


Sementara Ara dan Gavin menunggu di luar.


"Bang Gavin, ada apa dengan bang Zayan? Kenapa bang Zayan bisa di bawa ke UGD." Ara tak kalah cemas dan langsung menanyakan hal tersebut kepada Gavin yang berdiri di depan ruang UGD.


Gavin sering mengunjungi Ransi di rumah sakit membuat Ara kembali mengenali pria itu sebagai masa lalu kakaknya.


"Pak Zayan tiba-tiba pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit."


"Bang Gavin sudah tau yang sebenarnya, Kan?"


“Yah saya sudah tau jika pak Zayan dinyatakan tidak bersalah, seorang polwan yang memberi tau saya."


“Terimakasih bang, ini semua berkat abang."


"Maksudmu?"


"Jangan menutupinya. Sebelum menemui kak Ransi aku bertemu dengan suster yang di suap Baron untuk memfitnah bang Zayan dan suster itu mengakui semuanya bahwa bang Gavin'lah yang membuat dirinya berani untuk mengungkap semua kebenaran ini, suster itu juga bercerita bahwa abang tak sengaja mendengar perbincangan dirinya dengan wakil kepala polisi. Mereka di bayar dengan harga tinggi untuk memfitnah dan menjerat bang Zayan di jalur hukum." Ara menguraikan apa yang ia ketahui.


“Um. Seperti itu."

__ADS_1


"Dari dulu sampai sekarang abang masih saja peduli kepada kak Ransi. apa abang masih mencintainya?" tanya Ara. Spontan Gavin melototkan kedua matanya.


"Dari mana kamu tau jika aku pernah mencintai Ransi?" pertanyaan Ara di jawab dengan sebuah pertanyaan oleh Gavin.


"Kak Ransi yang memberitahuku tentang kedekatan kalian di masa lalu, sampai-sampai ia menceritakan jika kalian pernah tinggal satu atap selama tiga bulan di apartemen."


“Aishhh! Ransi benar-benar tidak bisa di percaya," batin Gavin.


"Sudahlah itu masa lalu. Memang benar aku pernah mencintainya, bukan hanya pernah tapi sampai detik ini pun rasa itu masih sama dan tidak pernah berubah meski aku terus mencobanya," ungkap Gavin.


Ara tertegun mendengar perkataan Gavin, ia pikir Ransi hanyalah sebuah kenangan bagi Gavin tapi ia salah Gavin tetap menjadikan Ransi sebagai peran utama di dalam kehidupannya.


\*\*\*\*\*


Selama ini Zayan dengan sempurna menutupi penyakit yang bersarang di tubuhnya. Sejak lima tahun yang lalu Zayan di vonis mengidap penyakit kanker lambung. Ransi sama sekali tidak mengetahui hal itu. Selama hidup bersama, Ransi melihat Zayan baik-baik saja, ceria saat bersamanya, dan berprilaku manja kepadanya layaknya seorang suami yang sehat.


Beberapa hari terkurung di dalam penjara Zayan terus merintih kesakitan di dalam hatinya, bahakan saat tangan-tangan kekar memukul tubuhnya dia berusaha untuk tetap kuat dan bernafas demi Ransi, istri yang sedang menunggunya di rumah.


"Abi bangun! Ku mohon bangunlah!"


Secepat kilat Zayan pergi meninggalkan Ransi untuk selama-lamanya.


"Jangan, jangan bawa Zayan pergi, ia masih hidup. Jangan sentuh suami ku!' Ransi berteriak-teriak tidak mengizinkan suster membawa jenazah Zayan ke kamar mayat.

__ADS_1


Sesak sangat sesak, Ransi pingsan tak sadarkan diri. Kondisi yang masih lemah ditambah dengan kepergian Zayan membuat ia benar-benar terguncang.


Beberapa suster membawa Ransi kembali ke ruang rawat, sementara Ara dan Gavin mengurus jenazah Zayan. Sama halnya dengan Ransi, baik Ara maupun Gavin juga meneteskan air mata.


\*\*\*\*\*\*


Cobaan apa lagi ini, aku lelah sangat lelah. Hukuman? Penjara? Kanker lambung? Kepergian Zayan? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua cobaan itu datang bersamaan menerobos ke dalam kehidupanku.


Jika ini semua hanyalah mimpi ku mohon siapa saja tampar wajahku agar aku terbangun dari mimpi buruk ini. Akan tetapi, aku melihat sendiri tubuh Zayan terbujur kaku di atas bed dengan mata tertutup serta muka yang lebam. Kemana senyum Zayan yang ia tunjukan hanya untukku, candanya apa akan hilang begitu saja, tawanya saat mengodaku tak bisa lagi terdengar. Sakit, ia terluka setiap harinya tapi aku sebagai istri tak sedikit pun mengetahui kepedihan yang Zayan rasakan. Saat ia merintih menahan rasa sakit, aku malah meragukan dirinya. Yah memang benar, awalnya aku sempat ragu dan mengira Zayan memang pelaku yang sebenarnya. Semua bukti dan saksi mengarah kepadannya.


Jutaan pria di muka bumi, mengapa harus Zayan yang mengalami semua ini. Penyakit, fitnah kejam, pukulan yang melukai wajahnya, haruskah Zayan melalui itu semua. Sedikitpun ia tak pernah mengeluh tentang takdir hidupnya.


Sebisanya Zayan menyembunyikan obat berdosisi tinggi, hasil lap, dan rasa sakit yang ia tahan.


Jika saja aku tau Zayan akan pergi lebih dulu dari ku, pastinya pada saat terakhir mendengar suaranya aku akan berkata seribu kali bahwa, "Aku sangat mencintainya."


Selama ini Zayan harus menanggung hukuman karena perbuatan ku di masa lalu, yah mungkin sekaranglah saatnya Zayan bahagia di atas sana. Ransi memberontak dan berkata sambil meratapi foto Zayan.


Inilah takdir yang harus ia jalani, suka tidak suka Ransi harus menerimanya dengan lapang dada. Zayan sudah pergi, pergi dan tak akan kembali. Lalu bagiamana dengan Ransi? Apa dia akan sendiri? Tidak, ada Allah Azza Wajalla, serta yang lainnya.


Ransi mengikhlaskan Zayan bahagia di surga, Allah Azza Wajalla tak mau menambah derita dan beban hidup Zayan, maka dari itu sang Pencipta mengambil Zayan dari Ransi, dengan seperti itu tak ada rasa sakit yang akan dirasakan oleh Zayan.


Sederas apapun air mata mengalir, tetap tak membuat Zayan kembali. Aku hanya bisa berdoa dan melanjutkan kembali hidupku. Ada atau tidaknya Zayan di hidupku, tetap tak merubah cinta ini kepadanya. Akan ku bawa jutaan rasa cinta yang bersarang di hatiku menemuinya di Jannah Allah Azza Wajalla.

__ADS_1


__ADS_2