
Dari arah depan seorang yang mengendarai motor dengan kecepatan kencang menabrak mobil sedan berwarna putih sehingga membuat mobil tersebut penyok dan pengendara yang ada di dalam mobil langsung banting stir hingga menabrak pohon besar di pinggir jalan sementara pengendara motor terjatuh.
Semua orang membanjiri tempat kejadian dan mengeluarkan lelaki yang ada di dalam mobil sudah tak sadarkan diri. Melihat semua yang terjadi pengendara motor yang terguling di aspal kini bangkit mengambil helmnya dan langsung berjalan cepat menuju motornya yang tergeletak di pinggir jalan. Hanya kakinya saja yang terasa sakit sementara tubuhnya sama sekali tidak apa-apa. Helm serta jaket tebal dan celana jeans yang ia kenakan berhasil melindungi tubuhnya dari hantaman aspal. Pria itu kabur sambil membawa kecepatan penuh dengan mengendarai motor beatnya yang penyok di bagian depan dan kaca spion yang sudah pecah memecah.
\*\*\*\*\*
"Sudah lama kamu tidak menemaniku jualan. Apa terjadi sesuatu?"
"Hubungan ku dengan Rafan sudah berakhir."
"Kenapa bisa? Bukankah kalian saling mencintai," kata Azalea sambil meletakan beberapa buket bunga di atas meja kecil.
"Aku tidak mencintai Rafan, pria yang ku cinta adalah pemilik gelang kayu berwarna coklat yang entah berada dimana sekarang."
Ransi sering menceritakan tentang hubungannya dengan Rafan. Meskipun belum pernah bertemu dengan Rafan, Azalea bisa menebak seperti apa sosok Rafan yang bisa menerima Ransi apa adanya.
"Kamu telah memilih jalan mu sendiri Ran dan kamu harus siap menerima konsekuensinya."
"Yah kamu benar Azalea."
Ransi duduk sambil menghirup udara di taman, hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Azalea berjualan di taman seperti yang biasa mereka lakukan.
"Kak cepetan pulang ada masalah di rumah." Dengan nafas yang terengah-engah seorang lelaki berlari menghampiri Ransi.
"Ada apa Furqon? Apa yang terjadi?" tanya Ransi bingung.
"Bang Adzriel membuat masalah, sebaiknya kakak pulang sekarang kasihan Ara."
"Astaga! Kali ini apa lagi," gerutu Ransi kesal.
__ADS_1
"Ada apa Ran?"
"Azalea aku akan kembali, aku harus pulang sekarang," ucap Ransi yang langsung meninggalkan Azalea. Furqon pun mengikuti Ransi dari belakang dengan nafas yang masih tak beraturan.
"Ran tunggu." Azalea mencari-cari tongkatnya berniat untuk menyusul Ransi.
"Mbak satu buket bunga mawar nya."
Azalea mengurungkan niatnya saat mendengar seseorang ingin membeli sebuket bunga mawar, ia meraba-raba meja kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri untuk mengambil sebuket bunga mawar.
"Adzriel? Siapa itu Adzriel bagi Ransi?" Azalea membatin sambil meraba bunga.
Memang Ransi sering bercerita mengenai keluarganya kepada Azalea. Namun Ransi tidak pernah menyebut nama abangnya. Maka dari itu Azalea tidak mengetahui siapa pria bernama Adzriel dalam kehidupan sahabatnya itu.
\*\*\*\*\*
Sesampainya di rumah Ransi melihat benyak tetangga yang mengepung teras rumah dan di dalam Ara menangis sesegukan di atas sofa.
"Ada apa ini?" tanya Ransi yang langsung menghampiri Ara.
"Malah nanya ada apa? Kau tau Ransi abang mu yang berandalan itu menabrak Seno hingga putraku terbaring lemah di rumah sakit. Bukan cuma itu mobil sedan yang di kendarai Seno mengalami rusak parah dan Adzriel kabur begitu saja setelah menabrak anakku!" sembur buk Arin sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ransi.
Ransi terdiam sambil memijit pelan pelipis tanda pusing, entah harus bagaiman menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Adzriel pun tak menunjukan batang hidung untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Kau harus bertanggungjawab dengan semua ini, aku sebagai ibunya Seno meminta uang damai 18 juta untuk biaya pengobatan dan perbaikan mobil, jika kau tidak bisa membayar uang damai aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum biar Adzriel di penjara seumur hidupnya!"
Roh Ransi seakan-akan ingin keluar dari tubuhnya sekarang juga. 18 juta? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
"18 juta bagaimana mungkin buk Arin meminta uang sebanyak itu. Sementara Seno hanya mengalami memar di dahinya organ tubuhnya yang lain tidak apa-apa dan megenai mobil, ku rasa hanya bagian kaca depannya yang sedikit pecah serta penyok di bagian depan. Jika ibu meminta uang 18 juta itu sama saja pemerasan." Furqon yang tadinya diam kini angkat bicara dan baru kali ini Ransi melihat Furqon sampai segitunya.
__ADS_1
Saat berlari menuju rumah Furqon bercerita mengenai kejadian yang sebenarnya karena ia berada di TKP pada saat itu dan Furqon ikut membawa Seno ke rumah sakit, makanya dia tau bahwa luka yang di derita Seno tidaklah parah.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur, Furqon!" Mendengar bentakan buk Arin Furqon berlari ke luar rumah.
Sementara Ara terus menangis ketakutan sambil memeluk tubuh Ransi.
"Aku beri waktu tiga hari untuk mendapatkan uang 18 juta jika lewat dari waktu yang telah ku tentukan dan kau tidak bisa mendapatkan uang itu, aku tidak main-main Ransi, abang mu akan terkurung di penjara sampai ia membusuk di dalam sana!" lontar buk Arin dan berlalu pergi.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menghadapi nenek sihir itu. 18 juta? Aku memerlukan waktu satu bulan untuk mendapatkan uang segitu, itupun harus lembur dari sore sampai ayam berkokok melayani para pria hidung belang di dalam club. Tiga hari? Haruskah aku memelihara tuyul untuk mendapatkan uang 18 juta dalam waktu tiga hari. Astaga! Ingin sekali aku membunuh bang Adzriel atas masalah yang ditimbulkannya kali ini." Rasni membatin kesal.
"Kak aku ada simpanan uang tiga juta, kakak bisa memakainya dulu," ucap Furqon dengan memberikan sejumlah uang.
"Tapi Furqon-"
"Tak apa kak, pakailah uang itu dan kakak bisa mencari atau meminjam sisanya dari tetangga."
"Mencari? Mau mencari kemana uang 15 juta? Furqon benar-benar sudah kehilangan akal. Meminjam? Sangat mustahil jika tetangga di lorong ini akan meminjamkan ku uang sebanyak itu, lagi pula jika aku meminjam uang bagaimana aku bisa mengembalikannya sementara uang hasil kerjaku digunakan untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Ara." Untuk kedua kalinya Ransi membatin.
"Terimakasih, secepatnya kakak akan mengembalikan uang mu."
"Tidak perlu dikembalikan kak, aku ikhlas membantu kakak."
Ransi tersenyum ke arah Furqon dan mencium pucuk kepala Ara yang masih memeluk tubuhnya diiringi air mata.
"Sebaiknya kamu istirahat Ara jangan pikirkan apapun, biar kakak yang akan menyelesaikan masalah ini. Tetaplah di rumah," ucap Ransi.
"Kakak mau kemana?" tanya Ara di sela tangisnya.
"Entahlah. Namun, kakak pastikan akan dapatkan uang 15 juta dalam waktu tiga hari."
__ADS_1