Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 27


__ADS_3

"Ran, persahabatan mereka di namai dengan sebutan 3A+D."


"Maksudmu?"


"3A+D yaitu Adzrial, Artio, Azalea dan Derrio. Persahabatan yang terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sampai saat cinta segitiga itu menerobos dan merusak persahabatan mereka hingga peristiwa keji itu terjadi."


Ransi mendaratkan bokongnya di kursi teras di ikuti Sarrah yang mengambil duduk disampingnya.


"Aku minta maaf atas nama bang Derrio karena telah membuat bang Adzriel tersiksa selama ini dengan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan."


"Ran," panggil Sarrah sambil meraih telapak tangan Ransi.


"Semua telah terjadi dan tak ada yang perlu di sesalkan. Aku yakin Bang Adzriel dan Derrio sudah tenang di alam sana."


Sarrah memeluk tubuh Ransi, kesedihan yang mereka alami tak pernah mampu menghapus air mata yang terus mengalir. Semua yang datang pasti akan pergi, begitupun sebaliknya.


"Kapan kamu akan memberikan kotak berwarna putih itu kepada kak Azalea?"


"Secepatnya aku akan memberikan kotak ini kepadanya." Ransi memegang kotak berukuran sedang yang terbalut pinta merah, kotak tersebut nantinya akan diberikan kepada Azalea.


\*\*\*\*\*


Beberapa hari sudah berlalu, Azalea dengan setia duduk  di bangku besi menunggu kedatangan Adzriel. Jika pria itu datang pastinya Azalea akan memaki, marah dan bersikap acuh karena kali ini Adzriel tidak bisa menepati janjinya.


"Kapan kamu akan datang menemui ku, Adzriel." Azalea terus membatin perkataan itu dan berharap Adzriel berdiri sambil memandang wajahnya seperti dulu saat masa-masa bersama terlukis di dalam hidup mereka.


Sekarang Azalea sudah dapat  melihat, namun hatinya masih tetap buta karena belum menatap mata seorang yang ia cintai. Burung yang berkicau, langit cerah serta kupu-kupu yang bertebaran, Azalea bisa melihat semua itu sekarang, tapi tetap saja dirinya merasa kosong tanpa adanya Adzriel.

__ADS_1


"Sudah lama menunggu disini?"


Terdengar suara seseorang yang pastinya bukan Adzriel.


"Ransi?" Yah benar suara itu bersumber dari mulut Ransi.


"Azalea, kamu ingin bertemu dengan bang Adzriel."


"Yah tentu saja, aku sudah lama menunggunya."


"Ikut aku, kita akan menemuinya hari ini."


Ransi mengajak Azalea ke suatu tempat, raut wajah Ransi begitu rapuh dan pilu. Bukankah ia harusnya senang akan bertemu dengan abangnya, tapi Azalea tidak melihat kebahagian di raut wajah sahabatnya itu.


"Dimana sebenarnya Adzriel? Kenapa Ransi membawaku ke tempat asing yang menakutkan," batin Azalea kalut.


Langkah Ransi terhenti tepat di sebuah kuburan dengan nisan yang bertuliskan nama Adzriel Karisna Bin Krisna


"Disinilah tempat tinggal bang Adzriel, di pemakaman dan di dunia yang berbeda."


Azalea masih belum bisa mengerti tentang semua yang terjadi, Ransi memberikan sebuah kotak putih berukuran sedang.


"Kotak itu pemberian bang Adzriel sebelum ia pergi ke surga."


Azalea terduduk lemas di samping nisan bertuliskan nama Adzriel, pikirannya melayang dengan detak jantung tak beraturan.


Di bukanya kotak berwarna putih, terdapat liontin perak berbentuk hati, sebuah kunci dan sepucuk surat dengan tinta berwarna hitam.

__ADS_1


Untuk bunga ku Azalea,


Apa kabar cintaku? Sudah makan? Bagaimana hari-harimu? Selalu saja pertanyaan itu terlintas dalam benakku saat memikirkan mu. Azalea saat kamu membuka dan membaca surat ini pastinya kamu sudah dapat melihat betapa indahnya dunia. Aku sangat senang kamu dapat melihat kembali dan bisa memulai hidup tanpa beban yang menghantui mu.


Jangan mencari ku, jangan memikirkan ku, aku sudah bahagia disini. Maaf Azalea aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemui mu di taman, aku pria jahat, aku mengecewakanmu. Namun, aku memang sengaja membuatmu menunggu karena aku ingin kamu selalu merasa bahwa aku masih hidup di suatu tempat sehingga kamu tidak cemas dengan keadaanku.


Saat aku mengatakan akan menemui mu di  bulan ketiga Agustus, aku tau aku tidak bisa melakukannya.


Azalea selama ini aku menabung untuk membiayai operasi mu, meski uangnya ku dapat secara paksa dari Ransi. Setiap pulang ke rumah aku menemui Ransi dan memaksanya  untuk mencari uang hanya demi keegoisanku. Aku berpikir hidup adikku itu jauh lebih sempurna darimu, makanya aku terus memaksa Ransi untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Tapi percayalah Azalea ku lakukan semua itu hanya untukmu, untuk semua biaya operasi mu dan aku akan menganti uang Ransi suatu saat nanti, entah kapan aku pun tak bisa memastikannya.


Pagi itu aku sengaja menabrakan motor yang ku kendarai ke sebuah pohon besar pinggir jurang, peristiwa itu membuat kepala dan dan tubuhku berlumuran darah, aku lemah Azalea. Namun, tangan ini tetap ingin memegang pena untuk menulis sepucuk surat yang akan kamu baca nantinya. Keadaanku sangat parah dan luka-luka goresan ranting tercatat permanen merusak tubuh serta wajahku. Aku bicara kepada dokter agar mendonorkan kedua mataku untukmu, dokter melarang keras sebab aku masih hidup meski tubuhku sudah mati rasa. Terlebih lagi jika aku tetap memaksa operasi tidak akan berjalan lancar karena nyawaku menjadi taruhannya. Hari-hari saat aku berada di rumah sakit dokter tak tega melihat keterpurukan ku dan meng iyakan keinginanku untuk menjadi pendonor mu.


Betapa bahagianya aku saat itu, walaupun aku harus kehilangan nyawa itu tak mengapa asalkan kamu bisa melihat kembali dan dapat mengejar impianmu yang sempat tertunda yaitu menjalankan kembali perusahaan peninggalan orangtuamu.


Azalea, sekarang kamu sudah bisa melihat, maka makanlah yang teratur aku tidak bisa lagi menyiapkan kotak bekal untukmu. Jika turun hujan berpayunglah, tubuhmu tidak boleh basah kamu pasti akan demam. Azalea kamu tak perlu lagi menjual bunga di pinggir taman karena aku telah membuatkan mu toko bunga yang terdapat di pusat kota, toko itu ku serahkan untuk mu, toko yang ku bangun dari hasil aku bekerja sebagai ojek online. Di toko itu banyak bunga-bunga berwarna-warni yang kamu sukai.


Apa kamu senang? Tentu saja kamu harus senang. Azalea apa kamu menangis? Ku mohon jangan membuat mataku meneteskan air mata, jagalah dan lihatlah dunia ini dengan kedua mataku maka aku akan bahagia di sisi sang Pencipta. Sudah ku putuskan untuk mendonorkan mataku kepadamu agar kamu bisa menatap batu nisanku.


Aku lega kamu bisa bertemu dengan Derrio dan tau siapa pria yang hadir di dalam masa lalu mu. Namun, jangan membencinya, Derrio melakukan semua itu karena ia mencintaimu bahkan aku dengar sebelum Derrio bunuh diri ia mendaftarkan dirinya menjadi pendonor mu, akan tetapi matanya tidak cocok dan hanya mataku yang bisa menjadi pendonor untukmu.


Aku pendonor tampan, imut dan mengemaskan, jadi tersenyumlah dengan mataku. Hahaha. Apa kamu tertawa dengan lelucon garing ku. Harus, kamu harus tertawa dan tersenyum demi aku, demi cintamu.


Jangan sering mengunjungi makam ku, kamu harus bisa melupakanku, kamu harus hidup seratus tahun lagi dengan cintaku. Jika kamu merindukan Adzriel Karisna, pegang liontin berbentuk hati dan sebut namaku pastinya aku akan hadir di dekatmu.


Biar cinta ini akan ku bawa dan kisah yang tertulis berakhir dengan membawa sejuta kenangan terindah yang telah tertulis di buku takdir kita dan buku takdir itu suatu saat akan ku buka, mengingat masa-masa saat kita melepas tawa, senyum dan terjatuhnya buliran air mata.


Aku berharap kamu bisa mendapatkan pangeran penganti diriku, sosok pangeran yang mengajakmu menjelajah dunia dengan kudanya, pangeran yang bisa membuat hidupmu berwarna. Ku lepaskan kamu bahagia dengan pria lain Azalea. Namun, ingatlah bahwa aku akan mencintaimu meski kita sudah berada di alam yang berbeda.

__ADS_1


Adzriel Karisna.


"Tidak Adzriel, bangunlah! Aku tidak membutuhkan matamu yang aku butuhkan kau hadir disisiku menjalani hidup denganmu. Kau tega melakukan ini kepadaku, tak seharusnya kau meninggalkanku seperti ini. Apa kau pikir aku akan bahagia dengan matamu, tidak aku tidak bahagia sedikit pun, untuk apa aku bisa melihat lagi tapi kau tidak ada di dekatku. Arghh! Adzriel apa yang harus ku lakukan tanpamu. Ambilah mata ini biarkan aku buta, jika aku buta kau akan menuntun ku berjalan dan selalu ada disisiku. Maka ambilah! Ambilah kembali mata ini! Adzriel..aku mencintaimu..aku membutuhkanmu..tak bisakah kau menepati janjimu untuk datang menemui ku. Kembalilah! Ku mohon kembalilah Adzriel!" Isak Azalea membuat Ransi ikut menangis tersedu-sedu.


__ADS_2