
Bugh..bughh..
Ransi terus memukuli tubuh Gavin menggunakan bantal di atas kasur.
"Aw! Sakit Ran."
"Beraninya kau membuka baju dan pakaian ku. Dasar lelaki mesum!" Ransi terus saja berteriak-teriak sambil memukuli Gavin.
"Salah sendiri kenapa tubuhmu begitu mengoda"
Bughh.. bughh.
Tanpa ampun Ransi memukuli dan menjambak rambut Gavin membuat lelaki itu merintih kesakitan.
Ting..tong..
"Siapa yang datang, Gav?" tanya Ransi yang langsung berlari mencari kaos di dalam lemari Gavin.
"Arghhhh! Rambutku jadi berantakan," seru Gavin sambil berjalan ke arah pintu apartemennya.
Gavin mengintip seseorang dari luar melalui lubang kecil yang terdapat di tengah pintu.
"******! Kenapa dia datang ke apartemenku," batin Gavin sambil berjalan cepat masuk ke dalam kamar.
Ting..tong..
"Kenapa tidak di buka pintunya."
"Kamu harus sembunyi Ran. Rafan ada di depan."
"Apa?"
"Ya ampun aku harus menyembunyikan mu dimana." Gavin bingung, sangat tidak mungkin jika Rafan melihat Ransi berada di dalam apartemennya.
"Aku akan sembunyi di dalam lemari," ucap Ransi, perempuan berkemeja kebesaran itu masuk ke dalam lemari pakaian.
"Tetaplah disitu sampai Rafan pergi dari sini, pintu lemarinya di buka sedikit jika di tutup rapat kamu tidak bisa bernafas."
Gavin berlari kecil membuka pintu.
Cklek..
"Apa kau tuli? Tidak mendengar suara bel yang sedari tadi berbunyi," oceh Rafan sambil berjalan masuk ke dalam apartemen.
Rafan memasati tubuh Gavin dari atas sampai ke bawah.
"Apa yang kau lihat?" tanya Gavin sinis seraya menutup pintu.
"Kau bertelanjang dada, rambutmu berantakan dan punggungmu ada bekas gigitan. Wah sepertinya semalam kau habis berkeringat Gav dan juga kau telah menganti kode password apartemenmu. Siapa wanita yang bermalam denganmu?" Gavin mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Rafan layaknya seorang detektif yang ingin mendapatkan informasi penting.
"Apaan si. Kenapa kau datang ke apartemenku."
"Ingin main saja, memangnya tidak boleh."
__ADS_1
Rafan mendudukkan bokongnya ke atas sofa, sementara Gavin merapikan rambut mengunakan jari-jari tangannya.
Di dalam kamar Ransi terus saja bergerutu pelan meratapi nasibnya. "Ya ampun sampai berapa lama aku harus mendekam di dalam lemari ini, kenapa juga Rafan harus datang di waktu yang tidak tepat bikin repot aja. Gavin pun sangat **** kenapa harus menyuruh Rafan masuk bisa saja ia beralaskan ingin pergi atau apalah. Mana panas lagi di dalam sini."
Cklekk..
"Rafan? Kenapa dia masuk ke dalam kamar, kalo gini caranya lebih baik aku mati saja di dalam lemari ini." Ransi bear-benar syok melihat Rafan masuk ke dalam kamar.
"Wah..wah..wah tidak biasanya kau membawa wanita ke dalam apartemenmu, Gav"
"Diamlah! Keluar dari kamarku!"
"Ukuran bra'nya lumayan besar, sepertinya kau begitu terpuaskan."
"Sialan! Beraninya Rafan mengambil bra ku di lantai dan memegangnya. Aduhhh! Kenapa aku tidak mengambil bra dan pakaian ku yang berserakan di lantai." Ransi terus bergumam di dalam lemari.
"Keluar dari sini!"
Dari balik pintu lemari yang sedikit terbuka Ransi melihat Gavin mengambil bra berwarna pink dari tangan Rafan.
"Ambilkan aku segelas air, baru aku akan keluar dari kamar ini."
"Keterlaluan! Beraninya kau memerintahku."
"Yasudah kalo tidak mau."
Dengan berjalan ogah-ogahan Gavin mengambil air di dapur untuk tuan Raja Refan.
Saat di sekolah mereka berdua tidak menunjukan ke akraban seperti yang di lihat Ransi saat ini. Memang lelaki sulit sekali untuk di tebak.
"Rafan, kenapa kamu ada disini? Hari ini jadwal keberangkatan kita ke Belanda, tiga hari lagi kita akan tunangan Raf dan kamu malah santai-santai disini."
"Zoya? Sedang apa dia di dalam apartemen Gavin? Yah aku tau pasti dia kesini untuk menyusul Rafan. Tiga hari lagi? Tunangan? Selamat Rafan pada akhirnya Zoya lah perempuan yang akan mendampingi mu," batin Ransi.
"Ehh..ehh apa yang dilakukan Zoya. Benarkah apa yang aku lihat? Zoya naik ke atas tubuh Rafan yang sedang berbaring diatas kasur dan aku melihat keduannya ber..bercumbu yang benar saja haruskah aku melihat adegan seperti itu dari dalam lemari. Sesak? Sepertinya aku merasa sesak bukan karena berada di dalam lemari melainkan melihat Rafan membalas ciuman Zoya di atas kasur. Arghhh!" Ransi nampak frustasi.
"Keluar kalian dari apartemenku! Beraninya berbuat mesum disini!"
Gavin melirik sekilas ke arah lemari tempat Ransi bersembunyi dan tubuhnya menutupi pandangan Ransi.
"Keluarlah!" printah Gavin dengan nada suara tinggi.
Ransi hanya dapat mendengar langkah kaki yang berjalan ke luar kamar dan Gavin pun ikut keluar sambil menutup pintu. Ransi langsung membuka lebar pintu lemari dan terduduk di atas lantai. Tiba-tiba ia merasa sesuatu mengalir deras di pipinya.
"Apa ini? Air mata? Ayolah Ran mengapa kau menangis. Bukankah ini yang kau harapkan, melihat Rafan hidup bahagian bersama wanita lain."
\*\*\*\*\*
Satu bulan telah berlalu, Gavin menyuruh Ransi mengecek hormon kehamilan yang ada pada urin menggunakan test pack dan hasilnya negatif membuat keduanya bernafas lega.
"Negatif Gav, berarti tinggal nunggu dua bulan lagi."
"Iya."
__ADS_1
Selama satu bulan belakangan ini Ransi dan Gavin banyak menghabiskan waktu bersama di dalam apartemen. Seperti layaknya suami istri yang sering berantem, saling mencuri perhatian, terlebih lagi Gavin sangat memanjakan Ransi. Apapun yang diinginkan Ransi dengan cepat Gavin akan memenuhinya.
Sementara Rafan dan Zoya sudah hampir satu bulan berada di Belanda. Yah kemungkinan sudah bertunangan dan menjalani hidup sebagai sepasang kekasih.
Inilah hidup tidak ada yang bisa menebak jalanya. Berharap ke kanan namun takdir akan berbelok ke kiri akan tetapi meskipun dengan arah berbeda kebahagian itu akan tetap menghampiri seiring berjalanya waktu dengan melalui hari-hari di bawah panasnya sinar mentari.
Tinggal bersama Gavin, Ransi tak perlu memikirkan bagaiman mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setiap minggu Gavin mengantarkan sembako, bahan masakan ke rumah Ransi dan memberi sejumlah uang untuk biaya sekolah Ara. Mengenai Adzriel dan pak Krisna, Gavin pun selalu memberi uang dengan jumlah yang banyak kepada keduannya.
Saat datang ke rumah Ransi, Ara selalu bertanya tentang kakaknya kepada Gavin. Lelaki itu selalu menjawab jika Ransi baik-baik saja dan selalu mengumbar senyum saat bekerja. Mendengar hal itu Ara merasa sangat bahagia.
Gavin memberi kehidupan baru untuk Ransi, mungkinkah hati keduannya akan terikat satu sama lain?
Selama satu bulan penuh Ransi tidak keluar dari apartemen dan hari ini Gavin mengizinkannya untuk belanja pakaian di pusat perbelanjaan yang tak berada jauh dari kota. Sementara lelaki itu pergi entah kemana tanpa memberitahu Ransi.
"Masa bodoh lah yang penting Gavin memberiku kartu kreditnya dengan jumlah uang ratusan juta. Meskipun begitu, aku tetap memakai uang seperlunya saja karena aku sudah terbiasa hidup hemat dan tidak berniat untuk menghambur-hamburkan uang Gavin. Aku menerima kartu kredit ini karena Gavin memaksa dan setelah ku pikir ulang tidak salahnya aku menerima kartu kredit yang ia berikan anggap saja sebagai gajiku selama tiga bulan. Bekerja tiga bulan mendapat gaji ratusan juta. Apa aku sedang bermimpi? Tentu saja tidak."
Di sore hari yang cerah Ransi menampakan kaki ke arah taman, dari seberang jalan ia melihat Azalea sedang melayani pembeli. Ransi sangat merindukannya, tapi tidak mungkin jika ia menemui Azalea sekarang karena Ransi pernah menelepon dan memberitahu jika dirinya bekerja di luar kota selama beberapa bulan. Banyak kisah yang ingin Ransi ceritakan. Ransi beruntung dapat mengenal Azalea, seorang perempuan luar biasa yang mampu menjalani takdir kelam di dalam hidupnya. Mengenal Azalea banyak mengajarkan Ransi tentang arti sebuah kehidupan dan penderitaan.
Dari seberang jalan Ransi bisa melihat Azalea tersenyum sambil meraba-raba bunga di atas meja. Penampilan Azalea sangat sederahan, memaki rok di bawah lutut serta sweater panjang di tambah bando yang selalu menghiasi rambutnya. Jika tak memegang tongkat, tak ada yang tahu bahwa perempuan penjual bunga di pinggir taman adalah seorang perempuan buta. Penderitaan Ransi tidak sebanding dengan penderitaan Azalea, begitu hebatnya Azalea tak pernah mengeluh tentang semua derita yang mengusik kehidupannya, sedangkan Ransi selalu saja mengeluh terhadap takdir yang tak berujung kebahagian.
"Hidup sebatang kara, tidak bisa melihat, bagaimana Azalea bisa bertahan sampai sejauh ini? Jika aku yang ada diposisinya, aku lebih baik mati dari pada harus meratapi kesedihan yang tak kunjung berakhir." Lirih Ransi pilu.
"Sayang, kemana saja kamu? Aku sudah lama tidak melihatmu."
"Kurang ajar! Kenapa aku harus bertemu dengan Baron di taman, ya ampun haruskah aku berdiri di tengah jalan sekarang juga dan menabrakkan diri ke mobil fuso sehingga usus ku berhamburan keluar dan darah mengalir membasahi tubuhku, lalu di bawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia. Mungkin itu lebih baik dari pada aku harus meladeni si Baron tralala ini," Ransi membatin dengan perasaan yang mulai tak mengenakan.
"Berhentilah menggangguku!"
"Aku tidak bisa melakukan itu sayang karena aku mencintaimu."
Cuih..
Ransi meludah ke wajah Baron seraya berkata, "Kau mencintaiku atau menginginkan tubuhku."
"Kau tau sendiri jawabannya sayang mengapa kau masih bertanya," balas Baron sambil mengusap kasar hidungnya yang terkena percikan ludah.
"Menjijikan!" Ransi berlari dari hadapan Baron.
Ransi terus berlari tanpa menghiraukan apapun di sekeliling. Begitu bodohnya ia melewati jalan yang sepi, jika Baron berhasil menangkapnya dan melakukan perbuatan mesum meski Ransi berjerit-jerit sekuat tenaga tetap tidak ada yang bisa mendengar suaranya.
Bulu kuduk Ransi merinding melewati pohon-pohon besar yang ada di pinggir jalan. ia sangat berharap jika Baron mengalami patah kaki saat mengejarnya.
"Lebih baik aku menyebrang saja sepertinya di ujung jalan sana ada posko," gumam Ransi sambil terus berlari ke tempat yang dimaksud.
"Aaaaaaa."Ransi memejamkan kedua mata saat sebuah mobil mendekat ke arahnya dengan kecepatan kencang.
"Apa mungkin hari ini adalah akhir hidupku, jika memang iya bisakah aku bertemu Ara untuk mengucapkan selamat tinggal." Ransi mulai berhalusinasi.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Mendengar perkataan tersebut, Ransi membuka mata yang tadinya terpejam, ia melihat mobil berwarna hitam hampir menyentuh tubuhnya. Sedikit lagi menyentuh tubuhnya, jaraknya sangat tipis sekali. Jika Ransi melangkah sedikit saja tubuhnya akan menyentuh mobil hitam tersebut.
"Kenapa bengong! Kamu tau aku sangat cemas mencari mu kemana-mana." Gavin berkata sambil memeluk tubuh Ransi.
__ADS_1
"Aku cemas Ran, aku sangat cemas," lirihnya.
"Ada apa dengan Gavin mengapa dia bersikap selembut ini padaku bahkan jari-jarinya yang menyentuh rambutku terasa sangat halus, tergambar di wajah Gavin bahwa ada kekhawatiran disana, kekhawatiran yang sangat mendalam. Apa Gavin me..me..membenciku? salah maksudnya mencintaiku? Itu sama sekali tidak mungkin." Entah mengapa hati Ransi merasa sesuatu yang berbeda dari diri Gavin saat ini.