
Dua bulan kemudian..
Dua bulan lamanya Ransi tak mendengar kabar Gavin, si CEO muda yang tampan. Satu persatu orang yang masuk ke dalam hidupnya kini pergi tanpa jejak. Sebelumnya Rafan dan sekarang Gavin, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan yang menyelipkan kisah saat dimana hari-hari itu di taburi dengan penuh kenangan.
Meski sudah menerima ijazah, Ransi masih belum ingin mencari pekerjaan lain. Di club Neptu ia bisa hidup dan bertahan. Entah bagaimana akhir kisahnya, yang jelas Ransi akan mencoba bertahan meski badai terus menerpa.
Pak Krisna tidak berubah masih saja mabuk dan berjudi di luar sana. Namun, tidak untuk Adzriel, ia sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak menuntut Ransi memberi uang seperti dulu. Adzriel sekarang giat bekerja dan berusaha mencari pendonor mata untuk Azalea, di samping itu Adzriel terus mencari-cari keberadaan Derrio di bantu Tio sahabat yang selalu ada untuknya.
Azalea pun sudah mengetahui jika Ransi merupakan adik dari pria pemilik liontin perak berbentuk hati. Ransi, Ara dan Adzriel sering mengunjungi rumah sederhana Azalea, disana mereka menghabiskan waktu bersama bahkan Furqon juga sering ikut dan membawa rantang makanan masakan ustadzah Fatmah yang rasanya sangat enak.
"Derrio harus bisa ditemukan supaya kesalahpahaman ini dapat terselesaikan dan hati Azalea tidak ragu akan cinta bang Azdzriel. Siang hari aku tidak bekerja, ku luangkan waktu membantu bang Adzriel mencari Derrio. Sampai detik ini hasilnya nihil, tidak ada yang tau kabar dan keberadaan Derrio. Rumah, tempat tongkrongan, semua sudah kami jelajahi tapi hasilnya kosong tak ada sedikitpun jejak keberadaan Derrio.
*Mengenai pekerjaanku, bang Adzriel menyuruhku untuk berhenti dan memulai kehidupan baru. Ustadzah Fatmah dan ustadz Ibrahim pun tak henti-hentinya menyuruhku menggunakan hijab untuk menutupi aurat yang selalu ku pertontonkan. Tapi, hati ini belum tergerak untuk melakukan itu semua.
Sangat sulit bagiku untuk merubah diri dan keluar dari dunia yang keras, yah mungkin aku merasa sudah terbiasa menjalani semua ini dan butuh waktu lama untuk bisa mengubah semuanya. Orang-orang hanya bisa memandang ku dari sebelah mata tanpa pernah berpikir bagaimana aku menjalani hidup yang gelap ini. Sehari saja mereka menjadi diriku, aku pastikan mereka akan menyerah dan lebih memilih mengakhiri hidup. Maka dari itu, tidak semudah itu merubah sesuatu yang sudah biasa dilakukan, jika pun dengan paksaan, itu tak kan baik nantinya. Sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan tak akan bisa bertahan lama*.
Bagaimana dengan kisah asmaraku? Aku masih menunggu dan menantinya, seseorang pemilik gelang kayu berwarna coklat. Sampai kapanpun cinta ini tak kan goyah, meski lelah aku akan setia dengan hati dan rasa yang sama seperti saat bersamanya. Sedang apa dia? Apakah dia sudah bahagia bersama wanita lain? Yah itu mungkin saja. Aku tak mengapa bila dirinya telah memiliki wanita lain sebagai pengantin diriku dan aku tidak akan berharap banyak untuk bisa menghabiskan waktu panjang bersamanya.
Aku hanya mampu berharap bisa melihat dirinya kembali meksi dalam anggan-anggan atau sekedar menjadi pemeran tambahan di dalam mimpi malamku. Namun, apa hatiku akan sanggup bila melihat dia bahagia bersama wanita lain. Nampaknya tidak, pastinya hati ini akan memberontak." Di sepanjang perjalanan Ransi membatin dan sesekali bergerutu meratapi nasibnya.
Malam yang terang Ransi berdiri di ujung jalan, malam ini ia memilih untuk tidak bekerja dan menghabiskan malam di pusat kota yang sangat ramai. Malam minggu biasanya Rafan mengajaknya kabur kesini tapi sekarang Ransi sendiri menyaksikan canda tawa yang tergambar dari orang-orang yang berlalu lalang. Menyakitkan, begitu menyakitkan bila mengingat kenangan dulu. Meski ia tidak mencintai Rafan dan Gavin, namun mereka pernah singgah dan menggambar sebuah kisah bercampur dengan kenangan yang tak mampu untuk di lupakan.
Pantaskah kedua lelaki itu mencintaiku? Tidak. Mereka tidak pantas mencintai perempuan sepertiku. Kebaikan dan ketulusan mereka tidak bisa terbalaskan oleh ku. Aku berharap dimanapun mereka berada, keduannya bisa menemukan sosok wanita yang mencintai mereka dengan tulus. Para super hero ku kini telah menghilang bersama kostum mereka, kelak kostum kebaikan itulah yang akan membuatku mengingat dan mengenali mereka suatu hari nanti. Ransi mulai bersikap tegar belakangan ini.
Langkah kaki terus ia tapakan menjauh dari kerumunan banyak orang, entah kaki akan membawanya kemana. "Bapak" sebut Ransi pelan saat melihat pria berkaos keabuan sedang berbicara dengan tiga orang pria dan salah satu pria tersebut adalah Baron. "Mengapa bapak bisa bersama Baron? Apa bapak membuat masalah dengan aki-aki gila itu? Hatiku merasa tidak enak dan gelisah," Ransi berlari kecil menghampiri bapaknya. Rasa gelisah tergambar sekali di raut wajah Ransi takutnya sang bapak akan membuat masalah dengan Baron.
"Bapak, sedang apa disini?"
"Oh sayangku, kau begitu seksi malam ini," ujar Baron yang menyelidik tubuh Ransi dari atas samapai ke bawah dengan tatapan mesum.
Ransi yang memakai rok mini dengan kemeja pendek membuat Baron menjilat bibir bawahnya menggunakan lidah.
"Habiskan malam ini dengan juragan, Baron" ucap pak Krisna.
__ADS_1
"Maksud bapak?" Ransi tidak mengerti apa yang pria itu katakan.
"Juragan Baron memberi bapak uang dua juta untuk bermalam denganmu, kau jangan memberontak dan turuti semua keinginan juragan Baron."
"Apa aku sedang bermimpi buruk sekarang, bagaimana bisa seorang ayah berbicara seperti itu kepada anaknya sendiri. Itu sama saja bapak menjual ku kepada pria tua bangka ini," batin Ransi.
"Tapi pak-"
Pak Krisna pergi berlalu dan Baron menarik tangan Ransi masuk ke dalam mobil.
"Berapapun uang yang bapak inginkan aku masih bisa berusaha mencarinya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku sangat takut dengan tatapan penuh hasrat Baron sambil mengelus-elus punggungku di dalam mobil." Ransi sangat takut dan berharap bahwa kematian akan lebih cepat menghampiri dirinya.
\*\*\*\*\*
Azalea duduk di teras rumah bersama Adzriel yang sedang memandang dirinya. Tak banyak yang mereka katakan, hanya menanya kabar dan saling termenung dalam pemikiran masing-masing.
"Azalea," panggil Adzriel, perempuan itupun menoleh ke sumber suara dengan menatap lurus.
"Bukan aku pelakunya."
"Kamu percaya padaku, Kan?"
"Aku tidak yakin."
"Bagaimana dengan hatimu? Apakah hatimu juga tidak yakin dengan cintaku kepadamu."
Azalea masih tertunduk diam tak berucap, membuat Adzriel berdiri.
"Aku bisa mengerti jika kamu masih mengira pria itu adalah aku, namun jika perasaanmu mulai ragu terhadapku, aku akan melepaskan mu Azalea, karena mungkin seiring berjalannya waktu bukan aku yang menjadi prioritas mu seperti dulu, seperti saat dimana kenangan itu ada dan begitu nyata ku rasa." Adzriel melangkahkan kakinya.
"Tentang rasaku, aku tidak pernah ragu mencintaimu, Adzriel." Azalea memegang pergelangan tangan Adzriel dengan pandangan lurus, membuat Adzriel menghentikan langkahnya.
"Aku percaya itu bukan kamu, tapi liontin itu meragukan hatiku seolah berkata bahwa itu adalah dirimu. Kamu pelakunya, kamu yang merenggut kesucian ku, kamu yang membuatku buta, aku-" tumpah sudah tangis Azalea sehingga membuatnya sulit untuk melanjutkan perkataan.
__ADS_1
Adzriel memeluk tubuh kurus Azalea yang menangis memabashi kaos putihnya.
"Maafkan aku Adzriel. Aku berharap pria itu adalah kamu. Tapi mengapa harus orang lain yang menyentuh tubuhku. Aku berbohong padamu, dari awal aku tau itu bukan dirimu, tapi aku takut kamu akan meninggalkanku karena diri ini sudah ternoda dan kotor untuk-"
"Diamlah. Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya."
Adzriel mempererat pelukannya, Azalea pun membalas pelukan pria yang mencium halus rambutnya yang terurai.
"Aku mencintaimu Azalea, sangat mencintaimu."
"Meski aku buta dan kotor kamu mash tetap mencintaiku, Adzriel?"
Adzriel melepaskan pelukannya dan menghapus butiran-butiran air mata Azalea yang masih menetes.
"Bukan matanya, hidungnya, ataupun paras cantik yang dimiliki. Aku mencintai Azalea ku, seorang perempuan yang begitu berarti lebih dari segalanya."
Tangan Azalea meraba-raba wajah Adzriel hingga ke dada bidang pria itu. Adzriel pun ikut memegang dadanya membuat penyatuan tangan mereka menjadi hangat.
"Tetaplah berada disini di dalam hatiku, kamu bunga ku Azalea, bunga dalam hidupku yang memberi aroma cinta dan hari-hari penuh warna dalam mimpi panjang ku yang berubah menjadi nyata."
Azalea menyenderkan tubuhnya ke dada bidang milik Adzriel.
"Aku akan pergi ke satu tempat."
"Jangan! Jangan pergi kemana pun tetaplah bersamaku," pinta Azalea memohon.
"Tenanglah Azalea, aku pergi untuk mencari pria itu. Biarkan aku pergi, minggu ke tiga di bulan Agustus aku akan menemui mu di bangku besi yang berada di bawah pohon cemara. Aku akan datang menemui mu."
Azalea diam ia merasa sesuatu yang berbeda dari perkataan Adzriel. Sesuatu yang tidak pernah ia inginkan.
"Kamu bisa berjanji untuk itu, Adzriel."
"Yah aku berjanji."
__ADS_1
Ada perasaan lega di dalam hati Azalea, ia yakin dengan janji Adzriel karena Adzriel tidak pernah berkata bohong dan selalu menepati janjinya.