Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 14


__ADS_3

Mendengar kenyataan pahit itu pastinya Rafan akan membenci Ransi. Tak pernah terbayang oleh gadis itu jika tubuhnya dapat disentuh oleh ayah dari kekasihnya sendiri. Rendah, hina, kotor sebutan itu memang seharusnya terlontar dari mulut Rafan.


Ransi duduk di bangku taman untuk menenangkan pikiran. Sinar mentari yang silau membuat matanya tak begitu jelas melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk. Samar-samar terlihat, seseorang memaki topi skate dengan melempar senyum ke arah Ransi.


"Rafan?" sebut Ransi tak percaya.


Saat Ransi menyebutkan namanya, Rafan mengambil duduk di samping gadis yang membuatnya harus mengambil pilihan yang begitu sulit. Entah memilih bertahan atau meninggalkan.


"Demi langit dan bulan, benarkah lelaki yang duduk di samping ku ini adalah Rafan?" Ransi masih tak dapat percaya jika Rafan berada di dekatnya.


"Ran," panggil Rafan pelan. Tatapan Ransi tak lepas menatap manik mata lelaki yang duduk disampingnya.


Rafan menarik tubuh Ransi semakin mendekat kearahnya.


Cup..


Kecupan lembut itu menyentuh kening Ransi. Astaga aku harus bagaiman. Rafan bertingkah seolah tak menggambarkan kekecewaan di raut wajahnya. Membuat Ransi syok setengah mati.


Setelah memberi kecupan di kening, Rafan menatap bibir Ransi dan mengecupnya dengan penuh hasrat, Ransi pun membalas ciuman tersebut. Di menit selanjutnya Rafan melepaskan ciuman dan Ransi langsung menghirup oksigen yang benar-benar sangat ia butuhkan.


"Aku mencintaimu," bisik Rafan tepat di telinga Ransi.


Ini bukan pertama kalinya Rafan mengucapakan perkataan itu. Namun, entah mengapa kali ini hati Ransi berdetak kencang saat mendengar bisikannya.


"Raf, kamu tidak marah padaku."


"Untuk apa aku marah padamu."


"Aku dan papamu pernah-"


Belum sempat Ransi melanjutkan perkataan, Rafan mengarahkan jari telunjuknya ke bibir gadis itu.


"Bukankah itu memang pekerjaanmu, suka tidak suka aku harus bisa menerimanya."


Masih adakah pangeran berhati malaikat di kehidupan nyata? Tentu saja masih ada, pangeran itu adalah Rafan. Meski ia tahu semua kebenaran, Rafan tetap saja menerima Ransi apa adanya.


"Raf."


"Aku mencintai Ransi  Kirania, bukan tubuh ataupun kesempurnaannya. Jadi apapun yang terjadi aku akan tetap bertahan untuk cinta ini, Ran."


Entah mengapa tetesan bening itu mengalir, perempuan sehina Ransi akan kan bersanding dengan pangeran bak negri dongeng.


Drtt....drtt..

__ADS_1


"Sebentar Raf ada telpon masuk,' ucap Ransi sambil mengambil hp di saku celana.


“Maaf, apa benar ini dengan mbak Ransi."


"Siapa yang menelpon menggunakan nomor tidak dikenal, suaranya pun sangat asing bagiku," batin Ransi heran.


"Iya benar."


"Mohon mbak segera datang ke kantor polisi."


"Apa kantor polisi."


"Ada apa, Ran?" tanya Rafan yang ikut terkejut saat Ransi menyebut Kantor polisi.


"Saudara mbak yang bernama Adzriel sedang di tahan sekarang, karena kasus pencurian."


Tuhan bisakah sebentar saja aku beristirahat dari cobaan hidup ini. Apa lagi masalah yang di timbulkan bang Adzriel sekarang. Kantor polisi? Mencuri? Bagaimana bisa.


Tut..tut..


Ransi mematikan sabungan telpon dan bergegas menuju ke kantor polisi.


"Ran mengapa wajahmu begitu pucat," kata Rafan sambil menarik tangan kekasihnya.


"Baiklah. Ayo kita kesana."


Di sepanjang perjalanan Ransi  merasa keganjalan dan berpikir keras mengenai Adzriel. Meskipun  Adzriel berandalan dan sering menghisap barang haram, tapi untuk mencuri sepertinya itu mustahil karena semua kebutuhannya selalu terpenuhi oleh Ransi meski harga diri menjadi taruhan.


Setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya Ransi dan Rafan sampai di kanor polisi. Keduanya masuk ke dalam dan melihat Adzriel duduk di balik jeruji besi. Ransi  menghampiri Adzriel , lelaki itu  menatap adiknya dengan tatapan sendu.


"Aku tidak mencuri." Tiga kata yang keluar dari mulut Adzriel membuat Ransi semakin yakin bahwa ada kesalahpahaman yang terjadi. Sejak kecil Adzriel tidak pernah berbohong dan selalu berkata dengan penuh kejujuran.


"Pak, kenapa abang ku bisa ditahan. "


"Adzriel akan menjadi tahanan sementara dan jika ia terbukti bersalah kami akan pindahkan dia ke lapas yang berada di pusat kota. Pagi tadi ada laporan mengenai kasus pencurian seorang dokter di rumah sakit umum," jelas salah satu polisi yang berjaga di dekat sel.


Mendengar penjelasan tersebut Ransi menangis sejadi-jadinya dan tak memperdulikan tatapan orang sekitar.


Rafan mencoba menenangkan Ransi yang tak hentinya menangis meratapi nasib abangnya, terpenjara di jeruji besi.


"Pak Ardi," panggilnya kepada salah satu pria berjas navy.


"Tuan Rafan? Sedang apa disini?"

__ADS_1


"Ada sedikit urusan. Bapak sendiri, apa yang bapak laukan disini?"


"Nyonya Refa kecurian barang berharganya di rumah sakit pagi tadi, Tuan."


Pak Ardi adalah pengacara pribadi keluarga Rafan, ia terkejut melihat pak Ardi ada di kantor polisi.


"Siapa pelakunya?" tanya Rafan.


"Lelaki yang ada di dalam sel itu, Tuan" ucap pak Ardi sambil menunjuk ke arah Adzriel.


"Raf  pasti ada kesalahpahaman. Bang Adzriel tidak mungkin mencuri barang berharga milik mamamu." Ransi yang sedari tadi mendengar pembicaraan Rafan dan pak Ardi kini angkat bicara.


"Shit!Tunggulah disini. Aku akan menyelesaikan semuanya."


Rafan berlari keluar  kantor polisi, ia mengendarai motornya menuju ke mansion. Rafan bisa menebak pasti semua ini adalah ulah dari mamanya yang sengaja ingin menjebak Adzriel.


"Mama! Mama!" jerit Rafan saat ia telah berada di dalam mansion.


"Ada apa Rafan?"


"Apa lagi ini, Ma! Beraninya mama menuduh abang Ransi sebagai pencuri!" ucap Rafan dengan nada tinggi.


"Lagi-lagi kamu berani membentak mama demi membela keluarga perempuan hina itu."


"HENTIKAN!  Cabut tuntutan mama dan bebaskan Adzriel."


"Itu hal yang mudah. Namun, ada syaratnya."


"Ma!"


"Putuskan hubunganmu dengan Ransi dan jangan berani-berani untuk menemuinya lagi. Jika kamu setuju mama akan menarik tuntutan mama."


Rafan menjambak rambutnya frustasi.


"Baiklah! Lakukan apapun dan bebaskan Adzriel sekarang juga!"


Refa tersenyum penuh kemenangan, berpikir kenapa tidak dari dulu saja ia melakukan rencana itu. Saat melihat Adzriel berjalan di koridor rumah sakit, Refa dengan sengaja menabrakkan dirinya ke arah Adzriel dan tanpa sepengetahuan Adzriel wanita itu menaruh hp dan juga cincin emasnya ke dalam saku celana Adzriel yang longgar.


Bukankah Refa membenci Ransi?  Tentunya ia pasti tau anggota dari keluarga perempuan yang dibencinya. Mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, adik, bapak dan juga abang Ransi. semua tentang Ransi, Refa sangat mengetahui secara detail.


"Pak Ardi tarik laporan ku dan bebaskan pemuda itu."


"Baik nyonya."

__ADS_1


__ADS_2