Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 2


__ADS_3

Minggu pagi yang terasa sejuk membuat warga RT.04 kerja bakti membersihkan wilayah mereka. Tugas pun masing-masing di kerjakan. Ada yang menyapu jalan, memotong rumput, membersihkan selokan, menanam bunga di pinggir jalan, memperbaiki serta memasang lampu jalan dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.


RT.04 terkenal dengan kebersihan dan kerajinan setiap warganya. Berjumlah 89 rumah dengan jarak yang dekat-dekat dari rumah ke rumah. Jadi, jika berbicara sedikit keras pasti tetangga di samping rumah dapat mendengar.


Terdapat pesantren yang di bangun hasil dari patungan warga sekitar, ada juga Madrasah Aliyah dan Masjid yang masih berada di lingkungan RT.04.


Sudah hampir sembilan tahun Ransi dan keluarganya tinggal di lorong Venus RT.04. Rumah yang ia tempati terbilang sederhana dan sebagian masih menggunakan kayu.


Di belakang rumah dengan di temani angin yang bertiup lemah lembut menambah semangat Ara menjemur pakaian.


Gadis berusia 15 tahun itu bertugas membersihkan dan membereskan pekerjaan rumah. Seperti menyapu, mencuci, mengepel, memasak setiap harinya. Sementara Ransi di Minggu pagi masih tertidur pulas hingga Adzan Dzuhur terdengar.


"Ara kakak lu mana? Masih tidur jam segini," cetus bu Susan yang sedang menyapu halaman belakang rumahnya.


"Yah iyalah masih tidur. Ransikan kelelawar, malam nyari mangsa kalo pagi tidur kayak kebo sampe ketemu sore," timpal bu Ani. Ara menundukkan pandangannya.


"Bilangin sama Ransi sekali-kali ikut kerja bakti, jangan cuma ngumpulin iler di dalam kamar," tambah bu Rika.


Ketiga emak-emak itu memang hobi berkumpul dan mengosipin keluarga Ransi dari dulu sampai sekarang.


"Ehh emak-emak rempong. Gak usah capek-capek ngurusin hidup orang lain, urusin tuh dapur kalian udah pada masak belum? Suami amah anak mau makan nasi bukan makan omongan," kata Ransi yang baru datang dan berdiri di depan pintu dengan tangan di lipat di depan dada.


"Wah Ratu dari kayangan udah bangun. Gimana semalem? Dapet tarif berapa?"


Ransi mengepalkan jari menahan emosi mendengar perkataan bu Rika si bulu mata yang cetar membahana bagaikan terkena hantaman petir.


"Astaghfirullah. Apa yang  kalian bicarakan, tak sepantasnya kalian beradu mulut satu sama lain."


"Jangan mulai deh Ustadzah, kalo mau ceramah noh di Masjid,' celetuk Ransi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Lihat sendiri kan Ustadzah, emang tuh anak gak ada sopan santunnya."


Ustadzah membuang nafas pelan terhadap perilaku Ransi yang belum bisa berubah seperti apa yang diinginkannya selama ini.


Ustadzah Fatmah dan Ustadz Ibrahim adalah tetangga sebelah kanan Ransi, keduanya sangat menyayangi Ransi dan menganggap gadis berhidung mancung itu seperti anak kandungnya sendiri begitu juga dengan Ara yang mendapat perhatian lebih dari Ustadzah dan Ustadz tersebut. Sepeninggalan ibu Itin yang merupakan ibu kandung Ransi, Ustadzah Fatma dan Ustadz Ibrahim berperan menjadi orang tua kedua untuk Ara, Ransi dan Adzriel. Namun, hanya Ara yang yang dapat menganggap keduanya sebagai sosok pengganti sang ibu. Sementara Adzriel dan Ransi bersikap masa bodoh dengan perlakuan dan perhatian dari Ustadz dan Ustadzah yang sangat baik hati.


Sering sekali Ustadzah Fatmah memperingatkan Ransi bahwa pekerjaan yang ia jalanin sekarang akan menjerumuskan gadis itu ke dalam jurang yang dalam, Ustadzah  pun tak henti-hentinya menyuruh Ransi mengenakan jilbab untuk menutupi aurat. Akan tetapi, Ransi tak memperdulikan semua itu dan lebih memilih menutup kedua telinganya.


"Kak, kapan kakak akan berhenti dari pekerjaan hina itu," ucap Ara dengan suara lantang.


"Pekerjaan hina? Ara denger kakak baik-baik, dari pekerjaan hina itulah kamu masih bisa bersekolah sampai sekarang. Makan,minum dan kebutuhan lainnya memangnya kamu pikir semua itu turun dari langit begitu saja? Jika kakak gak kerja di tempat itu apa kamu bisa makan? Sekolah? Gak kan. Sehina-hinanya pekerjaan kakak, semua itu bisa memenuhi kebutuhan hidup kita."


Ransi masuk ke dalam kamar sambil menutup keras pintu kamarnya.


Air mata Ara perlahan menetes membasahi pipinya. Hinaan, caci maki selalu ia dengar setiap hari baik bersumber dari tetangga maupun dari teman-teman sebaya. Ara menyayangi Ransi begitupun sebaliknya, Ara juga tau pekerjaan Ransi setiap malamnya. Tapi, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Gadis itu malu, terasa terhina dengan pekerjaan sang kakak yang selalu menjadi trending topik utama di lorong Venus.


Semua warga di RT.04 menjahui dan memusuhi keluarga Ransi hanya Ustadz dan Ustadzah'lah yang selalu membela jika ada orang yang berani menghina dan bergosip tentang Ransi yang bekerja di club malam.


Seorang pria masuk ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan dan memegang sebotol minuman berwarna hijau di tangan.

__ADS_1


"Bapak," lirih Ara seraya membopong tubuh sang bapak yang hampir terjatuh.


Air mata yang belum mengering kini mengalir lagi dengan begitu deras.


"Ma...mana Ran..Ransi" ucap pria itu terbata-bata. Ara terus saja membopong tubuh bapaknya.


Saat melewati kamar Ransi bapak tiga anak itu menggedor-ngedor pintu kamar dengan pandangan yang samar-samar terlihat.


"Pak, sebaiknya bapak istirahat dulu, bapak mabuk berat." Ara kewalahan memegangi tubuh bapaknya seorang diri.


"Ran...Ransiii bapak min..ta uang buat be...beli minum...minumannn!"


Di dalam kamar Ransi menangis terseduh-seduh mendengar bapaknya mabuk dan selalu meminta uang kepada dirinya, bukan pertama kali hal ini terjadi bisa di bilang hampir setiap hari, belum lagi jika Adzriel pulang hal yang sama pasti akan terjadi. Uang, uang dan uang hanya itu yang Krisna dan Adzriel inginkan saat pulang ke rumah tanpa pernah memikirkan Ransi yang lelah mencari uang.


"Sini biar abang bantu," ucap seorang lelaki yang menerobos masuk ke dalam rumah dan membantu Ara membopong tubuh pak Krisna.


"Bang Rafan?"


Yah benar sekali, lelaki tersebut adalah Rafan.


"Terimakasih bang sudah mau membantuku," ucap Ara dengan menatap wajah bapaknya yang telah tertidur di atas sofa.


"Iya sama-sama. Ara apa kamu sudah makan?"


Ara menggelengkan kepalanya tanda belum. Rafan yang mengerti langsung mengeluarkan uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Ara.


"Belilah beberapa makanan."


"Selebihnya simpan saja untuk keperluan sekolah mu dan jika kurang jangan segan-segan bicara pada abang, pasti abang akan bantu."


Ara tersenyum ke arah Rafan dan lelaki itupun membalas senyuman tersebut.


Sering sekali Rafan memberi Ara uang tanpa sepengetahuan Ransi, jika Ransi tau gadis itu akan marah besar kepada adiknya dan juga Rafan.


Ara tak berani menolak pemberian Rafan karen  jika Ara menolak Rafan akan memaksa sampai Ara menyerah dan mengambil uang pemberian darinya.


Ara berjalan ke arah warung bu Ija, sesampainya di warung ia memesan empat nasi bungkus dan beberapa kerupuk. Namun, penjaga warung tak memperdulikan pesanan Ara dan berkata, "Semuanya sudah habis."


"Tapi nasi dan lauknya masih banyak di dalam piring bu, kerupuknya juga masih ada."


"Itu semua pesenan orang," ujar bu Ija acuh.


"Ara kalo mau belanja sebaiknya noh di warung simpang jalan, jangan di lorong ini. Gak ada yang akan ngeladenin lo disini," celetuk salah satu warga RT.04.


Ara langsung berlari dari tempat tersebut dengan menjatuhkan kembali air matanya, di pertengahan jalan menuju ke rumah Ara bertemu dengan Furqon teman satu Madrasah dengannya.


"Ara, kenapa kamu menangis?" tanya lelaki tersebut.


"Aku gak nangis kok", jawab Ara berbohong sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Kali ini habis? Gak di jual atau pesanan orang? Semua itu hanya alasan klasik."


Ara menatap Furqon, lelaki itu seolah mengerti alasan Ara menangis.


"Iya, memang seperti itulah faktanya," ucap Ara lemah.


"Ya udah kalo gitu aku bakal temenin kamu belanja di warung simpang jalan. Bagaimana? Kamu mau?"


Ara nampak berpikir, lalu menganggukkan kepalanya.


Alhasil kedua remaja itu berjalan bersama menuju warung simpang jalan yang cukup jauh dari lorong Venus. Furqon adalah anak Ustadzah Fatmah dan ustadz Ibrahim yang juga sangat baik memperlakukan Ara dan keluarga gadis itu.


Ketampanan Furqon membuat para gadis di RT.04 berusaha mencuri perhatian lelaki keturunan Arab tersebut. Bahkan emak-emak pun saling berlomba menjodohkan anak perempuannya dengan Furqon. Baik Furqon maupun Ustadzah Fatmah hanya tersenyum dengan semua itu dan tak menganggap serius.


Ara dan Furqon keduanya terbilang dekat karena rumah mereka berdampingan, jika ke Madrasah pun selalu pergi dan pulang bersama. Ara juga sering curhat tentang apa yang dirasakannya kepada Furqon begitupun sebaliknya.


Di sepanjang perjalanan menuju ke warung simpang jalan raya Ara dan Furqon saling berbagi cerita, sementara Ransi pergi keluar rumah untuk menenangkan pikirannya dan tak memperdulikan Rafan yang masih berada di dalam rumah.


Di pinggir taman ada botol air mineral yang sudah kosong dan menjadi mainan Ransi sepanjang ia berjalan, gadis itu menendang-nendang botol tersebut  sampai mengenai pelipis seorang wanita yang sedang berdiri di depan jejeran berbagai macam bunga.


"****** kena palak tuh cewek lagi, aduh bisa berabe urusannya," gerutu Ransi sambil melangkahkan kaki menuju ke arah wanita tersebut, sementara wanita berjumpsuit panjang itu mengelus-elus pelipisnya.


"Maaf aku gak sengaja," ujar Ransi dengan nada suara penuh kekhawatiran.


Wanita tersebut diam dan hanya melempar senyum dengan pandangan yang lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Ransi yang berdiri di sampingnya.


"Kamu gak apa-apa, Kan?"


"Aku gak apa-apa kok." Meski wanita itu menjawab pertanyaan Ransi, namun pandangannya tetap lurus ke depan.


"Maaf aku berdiri di samping bukan di depanmu." Ransi berkata sambil melambaikan tangan kanannya ke arah wajah wanita tersebut.


Wanita itu merunduk dan mencari-cari sesuatu di bawah dengan pandangan yang masih lurus ke depan.


"Tongkat?" batin Ransi bingung saat wanita tersebut mengambil tongkat yang tak jauh dari tempat ia berdiri dan tongkat tersebut tertutupi bunga-bunga plastik yang sudah di tata dengan sangat rapi dan indah.


"Namaku Azalea, aku perempuan buta yang setiap hari menjual bunga di pinggir taman ini." Ransi menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia sangat terkejut mendengar perkataan dari wanita itu saat berkata bahwa dirinya 'Perempuan buta'


"Aku Ransi. Maaf Azalea aku beneran gak tau kalo kamu-" belum sempat Ransi melanjutkan perkataannya, Azalea telah memotong.


"Tak apa aku bisa mengerti," ucap Azalea dengan tersenyum manis sambil mengetuk-getuk tongkatnya berjalan ke arah tempat bunga Mawar terpajang, gadis itu mengambil setangkai bunga Mawar lalu di berikannya kepada Ransi.


"Ambilah bunga ini, sebagai tanda perkenalan kita."


Tanpa menolak Ransi langsung mengambil bunga Mawar tersebut dari tangan Azalea.


"Aw." Ransi merintih saat jari telunjuknya tergores duri yang berasal dari bunga Mawar tersebut.


"Terlihat indah. Namun, begitu perih jika duri itu tergores. Yah seperti itulah kehidupan yang harus di jalani setiap manusia di muka bumi ini."

__ADS_1


Ransi menatap dalam ia sungguh tak paham apa maksud dari perkataan Azalea.


"Dengan sendirinya kamu akan mengerti maksud dari perkataan ku." Azalea seolah mampu membaca pemikiran Ransi yang masih terdiam mematung.


__ADS_2