
"Abi," panggil Ransi sambil membawa secangkir teh hangat dan meletakan teh tersebut ke atas meja.
Zayan yang fokus mengutak-atik komputernya menoleh ke arah Ransi.
"Ada apa ummi?" tanya Zayan dengan meninggalkan senyum.
Ransi duduk di pinggir ranjang dengan wajah murung, Zayan yang belum menyelesaikan tugasnya lebih memilih menemani sang istri dan mengabaikan komputernya sambil mengambil posisi duduk di samping Ransi.
"Abi, ummi ikhlas jika abi ingin menikah lagi," ucap Ransi dengan keyakinan di dalam hatinya.
Zayan terdiam dan memandang wajah Ransi dengan kekecewaan yang tersirat disana.
Ransi memegang tangan Zayan, ia merasa pilihan tersebut adalah yang terbaik untuk rumah tangganya.
"Hidup bersama ummi tak membuat abi bahagia, maka menikahlah dengan perempuan yang bisa memberi abi keturunan."
Tes..tes..
Zayan menjatuhkan air matanya tepat di hadapan Ransi.
"Mengapa abi menangis?" tanya Ransi sambil menyapu air mata Zayan.
"Hanya ummi yang abi cintai. Meski ummi memaksa, abi tidak akan pernah menikah lagi. Kebahagiaan abi hanya bersama ummi, jadi tolong jangan meminta abi melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa abi lakukan," ujar Zayan.
Ransi bersandar di dada bidang milik Zayan lalu mencium kedua pipi suaminya.
"Terimakasih abi, sampai detik ini abi masih mempertahankan rumah tangga kita meski tau ummi-"
Cup..
Zayan mengecup lembut bibir Ransi lalu berkata, "Berterimaksaihlah kepada sang Pencipta karena telah mentakdirkan kita untuk bersatu."
Meski tau Ransi tidak bisa memberi Zayan keturunan, pria itu tetap bertahan disisi istrinya tanpa berniat untuk melangkah pergi. Ransi tidak mau Zayan menanggung deritanya di masa lalu dan setelah semalaman berpikir wanita itu ingin Zayan menikah lagi. Namun, Zayan menolaknya dengan perkataan yang membuat Ransi semakin membenci dirinya sendiri.
"Jika tau akan seperti ini, lebih baik aku tidak kembali bertemu Zayan. Menikahi ku adalah pilihan yang salah dan menerima pinangannya merupakan keegoisan yang ku sesali. Kenapa aku bisa berbicara seperti itu? Sebab Zayan pria berhati baik di muka bumi ini yang tak ada duanya apalagi tiga." Ransi membatin di dalam hatinya.
\*\*\*\*\*
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh."
Tok..tok..
Ara mengetuk pintu sambil mengucap salam.
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh . Ara, Furqon." Ransi di kagetkan dengan kehadiran sang adik yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
"Kenapa tidak bilang kalo mau kesini," ucap Ransi sambil mencium pipi Ara melepas rasa rindu.
"Kami sengaja ingin memberi kakak kejutan," kata Furqon.
"Hahaha. Kakak sangat terkejut. Oh iya, Alya mana?"
"Alya di Jambi bersama ummi dan abi, sengaja tidak di bawa karena kami hanya sebentar pulang ke Palembang," ucap Ara sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Zayan memberi tahu Ara tentang apa yang menimpa Ransi, tanpa menunggu waktu lama Ara langsung memesan tiket ke Palembang untuk menemui kakaknya. Betapa rapuhnya Ara melihat Ransi seolah tegar menjalani cobaan yang begitu berat.
"Kakak harus kuat dan jangan berpikir untuk menyerah, bang Zayan akan selalu menemani kakak." Kata Ara sambil memeluk dan
Mengelus-elus punggung Ransi.
__ADS_1
Cadar yang di kenakan Ransi menjadi basah karena tetesan air matanya.
"Tak peduli apapun yang terjadi, kakak akan terus menjadi wanita yang kuat."
Furqon tersenyum mendengar perkataan Ransi. sebagai adik ipar Furqon ikut mencemaskan keadaan Ransi, mereka telah memiliki Alya sebagai putri hasil buah cinta keduannya, sementara Ransi dan Zayan belum di karunia seorang anak sampai detik ini.
"Mbak Ransi, mbak Ransi." jerit seorang pria memanggil nama Ransi.
"Pak Reza? Ada apa bapak teriak-teriak memanggil namaku?"
"Anuh itu-"
"Kenapa pak? Apa terjadi sesuatu dengan Zayan?"
Pak Reza adalah teman dekat Zayan di lingkungan kerja. Raut wajah pak Reza yang pucat di tambah keringat mengucur di pelipisnya membuat Ransi waswas takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Pak Zayan di kantor polisi, Mbak."
"Mengapa bang Zayan bisa di kantor polisi pak, bukankah ini masih jam kerja." Ara ikut ambil bicara.
"Itu mbak, pak Zayan di tuduh memperkosa seorang wanita dan sekarang di bawa ke kantor polisi," jelas pak Reza dengan begitu tegang.
Ransi memundurkan langkah, kedua kakinya lemas membuat ia terduduk sambil mencengkram erat di bagian diafragma.
"Ara, kamu tenangkan kak Ransi biar aku yang ke kantor polisi menemui bang Zayan." Furqon berlari keluar rumah bersama pak Reza. Sementara Ara mencoba menenangkan Ransi yang terduduk lemas mendengar kabar buruk yang menimpa suaminya.
"Memperkosa seorang wanita. Apa aku harus mempercayai itu semua," batin Ransi pilu.
\*\*\*\*\*
"Bang apa yang sebenarnya terjadi? Abang tidak melakukannya, Kan?" Sudah puluhan pertanyaan terlontar dari mulut Furqon namun Zayan memilih untuk bungkam dengan menundukkan kepalanya.
"Bang! Jika abang tak memberi keterangan, abang akan di pidana karena kasus pemerkosaan. Jawab aku bang!' Furqon meninggikan nada suaranya berharap Zayan akan bicara, tapi pria itu tetap diam dan bergelut pada pemikirannya.
"Selamat siang saya pengacara yang akan membantu pak Zayan dalam kasus ini," terdengar suara seorang yang memakai sepatu pantofel mengambil duduk diantara keduanya.
"Pak lakukan apapun, saya percaya jika bang Zayan tidak melakukan hal sekeji itu dan ini adalah fitnah."
"Sebelum masuk ke dalam inti kasus ini saya akan meminta keterangan kepada pak Zayan, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menuntaskan kasus ini," ucap pak pengacara.
"Terimakasih banyak, Pak."
"Maaf saya harus berbicara empat mata dengan pak Zayan, mohon anda untuk menunggu di luar selagi saya meminta keterangan dari beliau."
"Baiklah pak saya serahkan kasus ini kepada bapak."
Furqon keluar memberikan waktu untuk pak pengacara menanyai Zayan mengenai kasus pemerkosaan yang dituduhkan. Di depan ruangan Furqon mondar-mandir dengan perasaan cemas, ia takut jika Zayan tak akan memberi keterangan yang sebenarnya, jika itu terjadi Zayan benar-benar akan menjadi tersangka dan di hukum karena khsus pemerkosaan.
"Dimana..dimana Zayan." Air mata yang mengalir dari rumah terus menetes sampai ke polsek. Tubuh Ransi lemah, matanya berkunang-kunang dengan muka yang begitu pucat mendatangi polsek bersama Ara.
"Tenanglah kak. Bang Zayan sedang di interogasi oleh pengacara." Furqon membantu Ara membopong tubuh Ransi yang sangat lemas berjalan.
"Maaf, apa istri dari pak Zayan ada disini?" tanya pengacara yang baru keluar dari ruang interogasi.
"Istrinya ada disini pak, ada apa?" Ara balik bertanya.
"Pak Zayan ingin menemui istrinya, ia tidak akan memberi pernyataan sebelum berbicara dengan istrinya," jelas pak pengacara.
__ADS_1
"Aku akan menemuinya," ucap Ransi dengan menundukkan pandangannya, lalau berjalan masuk ke dalam ruang interogasi.
"Suara itu bercampur dengan isakan, aku mendengarnya kembali. Mungkinkah dia?" pengacara berkulit putih itu membatin dalam hatinya sambil berjalan menyusul ke dalam ruang interogasi.
Di dalam Ransi duduk berhadapan dengan Zayan jarak keduanya terpisah oleh meja panjang yang terdapat di tengah-tengah mereka, sementara pak pengacara berdiri di belakang Ransi.
"Aroma ini, aku menciumnya lagi." Pengacara berjas hitam itu memejamkan kedua matanya sambil menghirup aroma tubuh wanita bercadar yang duduk tak terlalu jauh dari tempat ia berdiri.
"Abi apa yang sebenarnya terjadi? Jangan membuat ummi takut."
Tangan Ransi yang berada di atas meja di pegang Zayan dengan lembut.
"Ummi percaya kepada abi, Kan? Meskipun orang lain berkata iya, percayalah abi tidak mungkin melakukannya." Zayan berkata sambil menatap manik mata istrinya yang terlihat begitu rapuh.
Ransi menganggukkan kepalannya tanda bahwa sepenuhnya ia sangat percaya jika Zayan tidak pernah melakukan perbuatan hina itu.
"Abi jangan takut. Ummi akan mengeluarkan abi dari tempat ini."
"Abi tidak takut berada disini yang abi takutkan jika kepercayaan ummi terhadap abi akan berkurang dengan adanya kasus ini."
Ransi ikut memegang tangan Zayan, memberikan kekuatan kepada suaminya.
"Ummi bisa pergi sekarang, abi akan memberi keterangan kepada pak pengacara."
Rasanya Ransi tidak ingin meninggalkan Zayan meski hanya sedetik. Namun, meskipun terpaksa Ransi melangkahkan kakinya keluar dengan menghapus sisa-sisa air matanya.
Zayan memberi keterangan kepada pengacara secara detail dan jelas, hatinya lega sudah bertemu dan melihat Ransi secara langsung. Zayan tidak takut jika ia akan di penjara, yang ia takutkan bila Ransi tidak lagi mempercayainya sebagai seorang imam.
Ransi mengambil duduk sendiri di taman kecil yang berada di belakang polsek, ia mencoba menenangkan pikirannya dan menghilangkan rasa cemas yang terus di rasakan.
"Ransi?" panggil pak pengacara ragu.
Wanita yang disebut namanya pun menoleh.
"Gavin," spontan Ransi menyebut nama itu saat melihat pria bertubuh tinggi datang menghampiri dirinya.
"Baru saja kamu menyebut namaku? Ternyata benar kamu adalah Ransi."
"Sedangan apa kamu disini, Gav?" Tanya Ransi sambil membuang pandang ke segala arah.
"Begitu sedihnya kamu sampai tidak tau jika aku adalah pengacara yang akan membantu Zayan dalam kasus ini."
Ransi kaget mendengar perkataan Gavin.
"Pengacara?"
"Kenapa kaget seperti itu, apa pria seperti ku tidak pantas menjadi pengacara tampan," gurau Gavin.
"Bukan seperti itu," sangkal Ransi cepat.
"Kamu sudah menikah Ran . Ku harap kamu bahagia bersama Zayan, dia pria yang baik dan sangat mencintaimu. Sebelum kamu menemuinya, Zayan tidak berkata apapun sampai kamu datang barulah ia menceritakan kejadian yang sebenarnya."
"Aku sangat bahagia memilikinya dari dulu sampai detik ini."
“Apa dia pria pemilik gelang kayu berwarna coklat itu?" tebak Gavin dengan perasaan teriris.
"Iya. Aku sudah menemukan apa yang selama ini aku nanti, aku berharap jika kamu juga bahagia bersama wanita pilihanmu.' Ransi pergi berlalu meninggalkan Gavin.
"Kamu benar Ran, aku akan bahagia bersama dengan pilihanku. Namun, jika aku memilihmu sebagai wanita ku, kau bisa apa." Gavin membatin dalam hatinya.
__ADS_1
Gavin sungguh tidak menyangka jika Ransi adalah istri dari kliennya dalam kasus ini. Gavin memang bertemu dengan Furqon di ruang interogasi namun ia tidak mengenali Furqon sebab sudah delapan tahun berlalu, baik Furqon maupun Gavin mengalami banyak perubahan yang membuat mereka menjadi orang asing satu sama lain. Begitupun dengan Ara yang tak mengenali Gavin, padahal dulunya mereka sering bertemu.