
Ransi berjalan ke arah gerbang sekolah, tiba-tiba seorang lelaki menarik tangannya menuju ke tempat parkir.
"Rafan?" sebutnya. Secara spontan lelaki itu langsung memeluk tubuh Ransi.
"Maaf, aku telah berbohong."
"Apa yang kamu lakukan. Jangan bodoh Raf, ini masih di lingkungan sekolah. jika pak kepsek lihat bisa-bisa kita berdua langsung dinikahin," omel Ransi sambil berusaha melepaskan pelukan Rafan.
"Hahaha" Rafan tertawa seraya melepas pelukannya.
"Aku memang menginginkan hal itu terjadi. Menikah dengan perempuan yang ku cinta, yaitu kamu Ran."
"Berhentilah menggodaku."
Rafan mengacak pelan rambut Ransi dengan tatapan sendu.
"Ada apa Raf? Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku." Ransi yang bisa menebak raut wajah kekasihnya itu langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Apapun yang terjadi aku akan mempertahankan hubungan kita."
"Siapa perempuan yang tadi bersamamu?" tanya Ransi sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena sentuhan tangan Rafan.
"Zoya. Murid pindahan dari Jakarta."
"Hubungannya dengan mu apa?" ingin sekali Rafan tak menjawab pertanyaan Ransi yang membuatnya bingung harus berkata apa.
"Raf, semua baik-baik saja?"
"Bulan depan Zoya akan di tunangkan dengan ku," kata Rafan. Tergambar jelas di raut wajahnya bahwa ia merasa lemah untuk saat ini.
"Pertunangan mu? Bulan depan?" Ransi seolah tak percaya.
Rafan menggenggam kedua tangan Ransi seraya berkata, "Aku tidak akan melepaskan mu Ran, percayalah bahwa cinta ku hanya untuk mu."
Saat ini Ransi benar-benar tak bisa berpikir, mendengar Rafan akan bertunangan bulan depan entah mengapa rasanya ia ingin tidur pulas untuk selama-lamanya.
"Jadi perempuan itu adalah Ransi yang sering di ceritakan tante Refa. Perempuan kotor yang selalu menggoda para pria di club malam, sungguh tak tau malu." Zoya membatin dari dalam mobilnya, sedari tadi ia memperhatikan dan menguping pembicaraan Rafan dan Ransi yang berdiri tepat di sebelah mobilnya.
Tanpa menunggu waktu lama, gadis keturunan Belanda itu langsung mengambil handphone dan menelepon seseorang.
"Halo tante, sepertinya Rafan masih berhubungan sama perempuan ****** itu."
"Apa? Ini semua tidak bisa dibiarkan, tante akan bicara dengan Rafan mengenai hal ini."
"Pokoknya apapun yang terjadi Rafan harus bertunangan dengan ku."
"Kamu tenang saja Zoya. Mengenai Rafan, tante yang akan mengurusnya dan membuang parasit itu jauh-jauh dari kehidupan Rafan."
Zoya pun tersenyum penuh kemenangan dan menutup telponnya.
Sementara Rafan mengantar Ransi pulang dengan menaiki motor ninja berwarna hijau, di sepanjang perjalanan, Ransi dengan eratnya memeluk tubuh Rafan seolah tak ingin melepaskan kekasihnya itu.
Drtt..drtt..
Getaran yang bersumber dari ponsel Rafan, membuat lelaki itu menghentikan motornya di pinggir taman.
"Ada apa?" tanya Ransi bingung sebab Rafan berhenti mendadak.
Rafan pun membuka helmnya dan berkata, "Handphone ku bergetar."
"Yasudah angkat dulu saja siapa tau penting," ucap Ransi sambil melepaskan pelukannya dan turun dari motor.
"Sebentar yah Ran aku angkat telpon dulu," ujar Rafan sambil mengambil ponselnya yang berada di saku celana.
"Mama?"batin Rafan saat melihat nama di layar panggilan ponselnya.
"Halo ma ada apa?"
__ADS_1
"Pulang sekarang juga!"
"Aku akan pulang setelah urusan ku selesai."
"Urusan apa maksudmu Rafan? Urusan dengan perempuan ****** itu, kau ingin mama melukai perempuan itu atau pulang sekarang juga!"
Tut..tut..
Telpon pun terputus. Ransi melepaskan helm yang dikenakannya dan memberikan helm tersebut kepada Rafan.
"Pulanglah. Mamamu pasti sedang menunggu di rumah," kata Ransi seolah tau siapa yang baru saja menelpon Rafan.
"Tapi Ran, aku harus mengantarmu pulang."
"Aku bisa berjalan kaki, dari taman ke rumahku kan tak begitu jauh."
"Tapi, Ran- "belum sempat Rafan melanjutkan perkataannya Ransi langsung memotong.
"Jika kamu terus memaksa aku akan marah padamu," ancam Ransi.
"Yah baiklah aku akan pulang. Kamu hati-hati di jalan, jika sudah sampai langsung hubungi aku."
"Siap kapten," ucap Ransi dengan tersenyum hangat, Rafan pun membalas senyuman tersebut dan langsung menjalankan motornya pergi berlalu.
Saat berada di taman sayang rasanya kalo Ransi pulang begitu saja tanpa menemui Azalea. Entah mengapa Ransi begitu senang dan menyukai Azalea, seorang perempuan yang baru di kenalnya belum lama ini.
Ransi berjalan berniat untuk menghampiri Azalea yang berjualan bunga di pinggir taman, akan tetapi langkahnya terhenti mendadak saat melihat Adzriel berjalan ke arahnya.
"Aku perlu uang tiga juta, kau pasti punya, Kan."
"Apa-apaan abang ini, untuk apa uang sebanyak itu?"
"Gak usah banyak tanya. Aku akan pulang ke rumah besok sore dan uang itu harus sudah ada. Jika tidak ada, aku akan menyiksamu dan juga Ara sampai babak belur," kata Adzriel sambil menjambak rambut Ransi dan mendorong tubuh adiknya hingga tersungkur.
"Jika kau dan Ara tidak ingin ku siksa, sediakan uang yang ku minta. Mengerti!" bentak Adzriel, lalu pria itu berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan adiknya yang terduduk di atas rumput.
"Ransi apa itu kamu?" tanya Azalea yang baru datang sambil menggeser-geser tongkatnya.
"Mau kemana? Apa kamu tidak menjual bunga hari ini?"
"Tidak. Aku ada urusan jadi tidak berjualan hari ini."
"Oh begitu yah."
"Kamu mau berkunjung ke rumah ku," tawar Azalea dengan memandang lurus ke depan.
"Boleh, jika kamu mengizinkan."
"Baiklah, ayo ikut aku."
Jarak dari taman ke rumah Azalea cukup jauh dan harus melewati kebun yang sepi untuk dilalui, dengan terus mengetuk-getukkan tongkatnya Azalea berjalan beriringan dengan Ransi. Selang beberapa waktu sampailah mereka di sebuah rumah kecil yang cukup jauh dari permukiman warga. Wangi berbagai macam bunga-bunga yang segar menembus indra penciuman Ransi, di depan rumah Ransi telah disambut dengan beraneka bunga baik di dalam pot maupun yang tumbuh di atas tanah.
"Azalea, rumahmu benar-benar tersudut. Kamu tinggal dengan siapa disini?'
"Aku tinggal sendiri."
"Apa? Kamu tinggal sendiri di rumah yang terpencil ini." Ransi kaget setengah mati.
"Mari masuk, aku akan membuatkan mu teh hangat," ajak Azalea sambil membuka pintu, lalu gadis itu menggeser-geser tongkatnya menuju ke arah dapur.
Ransi masuk dan melihat-lihat ke dalam. Meskipun rumah Azalea terbilang kecil dan sederhana namun saat berada di dalam Ransi seolah berada di sebuah tempat asing yang begitu damai dan penuh ketenangan.
Semua barang yang berada di dalam rumah berwarna putih begitu pun seluruh cat tembok. Ada kursi , meja kayu yang juga terbalut warna putih ditambah satu pot mawar merah sebagai pemanis yang terpajang di atas nakas.
Selain bunga Mawar, di atas nakas terdapat juga kalung liontin berbetuk hati, Ransi memegang liontin tersebut.
"Sedang apa?" tanya Azalea sambil membawa segelas teh hangat.
__ADS_1
Ransi terkejut, tak sengaja ia menjatuhkan kalung liontin yang tadi di pegangannya.
"Maaf aku tak sengaja menjatuhkannya," ucap Ransi sambil mengambil liontin yang jatuh ke bawah.
"Indah bukan."
"Maksudmu?" Ransi nampak bingung.
"Liontin yang kamu pegang itu," kata Azalea sambil duduk di atas kursi rotan.
"Ah. Iya liontin perak ini sangat indah."
"Jika kamu suka, ambillah."
"Kamu memberikannya kepadaku?"
"Liontin itu adalah kenangan di masa dulu dan sekarang aku ingin melupakan semuanya. Maka aku berikan liontin itu kepadamu."
"Tak apa jika aku memilikinya? Apa kamu tak ingin mengingat kembali kenangan dulu?"
"Jika aku ingin mengingatnya untuk apa aku berikan kepadamu," cetus Azalea dengan memandang tembok.
"Benar juga. Hehehe."Ransi berkata diiringi kekehan kecil seraya mengambil duduk di samping Azalea.
Tetesan hujan perlahan turun membuat keduanya larut ke dalam obrolan dan sesekali diiringi tawa.
Baik Azalea maupun Ransi keduanya tak memiliki teman untuk diajak berbagi cerita. Takdirlah yang mempertemukan mereka berdua, hingga akhirnya mereka dapat berbagi dan menceritakan peran mereka satu sama lain.
\\\*
"Sudah berapa kali mama katakan, jangan berhubungan lagi sama perempuan parasit itu!" bentak Refa yang berperan sebagai ibu kandung Rafan.
"Harus berapa kali aku katakan agar mama bisa mengerti bahwa hanya Ransi gadis yang ku cinta," bantah Rafan.
"Apa kau ingin melihat gadis mu itu menderita."
"Berhentilah mengancam ku dengan alasan yang sama."
Refa benar-benar sedang terbalut emosi.
"Jauhi perempuan kotor itu!"
"Anakmu ini mencintai perempuan kotor itu. Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskannya," ucap Rafan sambil berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Rafan menghempas tubuhnya ke atas kasur dan memandang langit-langit kamar.
Sejak kelas satu SMA hubungan antara dirinya dan Ransi telah berjalan, semuanya mereka lalui bersama. Senang, sedih, bahagia itulah hari-hari yang dilalui Rafan saat bersama Ransi.
Kenangan yang terukir begitu banyak sampai dirinya tak mampu mengingat satu persatu kenangan tersebut. Rafan mencintai Ransi apa adanya dan tak memperdulikan tentang pekerjaan maupun kelakuan Ransi di luar sana. Bagi Rafan, Ransi segalanya di dalam hidup. Bahkan lelaki berumur 18 tahun itu rela membantah mamanya demi mempertahankan hubungan antar dirinya dan Ransi.
Cklek..
Terdengar suara pintu yang terbuka, Rafan langsung menoleh ke arah pintu.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini kepada mama mu sendiri. Demi membela perempuan hina itu, kau membuat tante Refa sedih."
"Kau terlalu berisik. Tutup pintu kamarku lalu pergilah dari rumah ini!" perintah Rafan sambil berjalan menuju tempat Zoya berdiri.
"Kau milik ku dan selamanya akan tetap seperti itu," ujar Zoya dengan menatap dalam.
"Sejak kapan milik orang lain telah menjadi milikmu? Apa kau sedang berhalusinasi saat ini," balas Rafan dengan membalas tatapan Zoya dengan tatapan membunuh.
"Apa aku harus memberitahu semua murid SMA Galaxy tentang pekerjaan hina perempuan itu."
__ADS_1
Dengan amarah memuncak Rafan mencengkeram kerah seragam Zoya. Seraya berkata, "Jangan melampaui batasan mu. Zoya Vaulla." Rafan pun dengan kasar melepas cengkeramannya dan mendorong Zoya ke luar kamar lalu menutup pintu dengan keras.
"Ransi, kau yang harus membayar perlakuan Rafan terhadapku," batin Zoya yang masih berdiri di depan pintu kamar Rafan.