Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 15


__ADS_3

“Azalea."


"Iya"


"Aku tidak memanggilmu, aku menyebut bunga Azalea berwarna putih di tanganku."


Azalea tertawa kecil dengan tersipu malu.


"Azalea milikku mengandung makna yang sama seperti bunga Azalea pada umumnya. Yaitu kelembutan dan keanggunan yang mengisyaratkan untuk merawat diri sendiri lebih tepatnya mandiri dalam melakukan segala hal. Kembang bunga Azalea mudah jatuh saat disentuh atau tertiup angin, sama halnya seperti kisah cinta yang bisa berakhir kandas atau rapuh."


Azalea menyimak perkataan yang keluar dari mulut pria yang berada di sampingnya.


"Adzriel," panggilnya dengan menoleh ke arah samping. Tangan Azalea meraba-raba wajah pria yang duduk di sampingnya.


Adzriel meletakan bunga yang tadi di pegangannya.


"Azalea, jika suatu hari nanti kamu diberi kesempatan untuk kembali melihat, siapa orang pertama yang ingin kamu tatap?"


Rabaan Azalea berhenti di bibir manis pria tersebut.


"Pertama kali yang ingin aku tatap adalah pria yang sangat ku cintai."


"Apakah itu aku?"


"Tentu saja itu kamu, Adzriel Karisna."


"Ah tembakkan ku ternyata benar."

__ADS_1


\*\*\*\*\*


Berkat mamanya Rafan, Adzriel masuk penjara dan berkat Rafan, Adzriel bebas dari hukuman yang tak pernah ia lakukan. Hari demi hari masalah yang Ransi hadapin semakin sulit dan begitu rumit. Mendengar penjelasan Rafan hatinya hancur berkeping-keping. Seharusnya Ransi'lah yang bertanggung jawab untuk hubungan mereka, lalu mengapa Refa melibatkan keluarganya? Benar-benar tingkah bocah yang tak sesuai umur.


Ransi diam, duduk sambil menatap ke arah Rafan, hampir dua puluh menit Rafan tak berbicara sedikit pun, mulut Ransi sampai pegal berucap dan bertanya namun tak ada jawaban, Rafan duduk sambil menunduk ke bawah dengan mengetuk meja menggunakan jarinya.


"Raf, ku rasa kamu butuh waktu sendiri untuk saat ini."


5 menit berlalu, masih tak ada kata yang terucap dari mulut Rafan. Nampaknya kesabaran Ransi memang benar-benar diuji.


"Baiklah. Lebih baik aku pergi, Raf" kata Ransi sambil bangkit dari kursi. Namun, saat gadis itu ingin melangkah tangannya ditarik oleh Rafan.


"Duduklah." Perintah Rafan membuat Ransi kembali duduk dan terus menatap ke arahnya dengan tatapan serius.


"Hubungan kita berakhir sampai disini saja Ran, aku tak ingin melanjutkannya lagi."


Plak..plak..plak..plak..


"Mengapa baru sekarang hubungan ini harus di akhiri? Kenapa tidak dari dulu saja Raf kamu mengatakan hal semenyakitkan ini."


"Maafkan aku, Ran" lirih Rafan yang tak berani menatap ke arah Ransi.


"Sudah puas bermain-main dengan ku? Atau kamu menerima Zoya. Apapun itu sepertinya sekarang aku harus sadar diri Raf, bahwa memang pangeran sepertimu tidak pantas menjalin hubungan dengan perempuan hina sepertiku."


Ransi sudah tidak kuat lagi menahan butiran bening yang ingin terjatuh, setelah mengatakan perkataan itu Ransi langsung berlari keluar dari cafe. Ransi berharap Rafan akan mencegahnya untuk pergi namun Rafan bahkan tak menatap ke arah Ransi.


Berakhir? Lalu bagaimana dengan hubungan yang terjalin dua tahun ini. Kandas begitu saja tanpa sebab dan alasan yang tepat. Yah baiklah memang perempuan seperti diriku hanya berperan sebagai wanita penggoda, bukan seperti perempuan lain di luar sana yang selalu menjadi peran utama di dalam kehidupan mereka. Ransi terus bergumam sepanjang ia berjalan.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


Rafan pulang ke mansionnya dengan membawa hati yang telah patah. Keputusan yang ia ambil bukan karena ia telah berhenti mencintai Ransi. Refa lah yang menjadi dalang atas kandasnya hubungan Rafan dan Ransi.


Demi melindungi Ransi dan keluarga gadis itu, Rafan merelakan hatinya hancur sehancur-hancurnya. Semua pengorbanan dan perjuangannya selama ini harus berakhir secepat kilat tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Dari mana kamu, Raf?"


Rafan menoleh ke sumber suara dengan tatapan membunuh.


"Hubungan ku dengan Ransi sudah berakhir. Mama dan Zoya bisa mengadakan pesta untuk merayakan penderitaan ku," ucap Rafan sambil menaiki anak tangga dengan langkah cepat.


Zoya dan Refa saling melempar senyum penuh kemenangan mendengar berita yang begitu membahagiakan bagi keduanya.


Di dalam kamar Rafan duduk di samping lemari kaca dengan mengusap kasar rambutnya. Rasa sesak itu terasa sangat dahsyat hingga ia menangis sejadi-jadinya. Di menit selanjutnya Rafan menenggelamkan wajahnya di lutut dan membiarkan isaknya semakin terdengar keras.


"Maka dari itu. Meskipun aku terluka, aku tidak akan pernah menutupi luka tersebut, aku akan berusaha menjadi diriku sendiri. Walau kerapuhan sangat tergambar jelas di raut wajahku." yah itu memang benar, begitu rapuhnya Rafan saat ini.


Cklek..


Seorang membuka pintu kamar Rafan dan melihat dengan jelas kerapuhan yang dirasakan sepupunya itu.


"Vin, ada apa dengan Rafan?" tanya Zoya yang berniat ingin masuk ke dalam kamar calon tunangannya tersebut. Namun, seseorang menahannya.


"Pergilah! Beri Rafan waktu untuk sendiri dan menenangkan pikirannya."


"Apa Rafan menangis?"

__ADS_1


"Isakanya pun dapat kau dengar, lalu mengapa kau menanyakannya lagi bukankah itu sangat jelas bahwa Rafan saat ini begitu rapuh akibat ulah mu dan tante Refa."


Zoya memundurkan langkahnya, ia benar-benar tidak menyangka jika Rafan akan menangis hanya demi seorang Ransi, perempuan kotor yang bahkan tak mempunyai arah hidup untuk di jalani.


__ADS_2