
Awan berwarna keabuan dengan angin berhembus kencang tak berarah membuat daun-daun kering berguguran. Suara guntur pun ikut menambah kesan horor pada saat ini. Seorang wanita berpakaian syari berdiri di ruang perpustakaan sambil memandang ke arah luar jendela.
"Kak Ara, boleh aku minta tanda tangan kakak di buku ini," pinta seorang siswi sambil menyodorkan buku note berwarna ungu. Ara menoleh ke arahnya sembari tersenyum dan mengambil buku berserta pena dari tangan siswi berkuncir dua tersebut.
"Kak apa benar semua yang kakak tulis di novel berjudul ‘Kepompong kupu-kupu adalah kisah nyata?"
Ara menutup buku note dan memberikannya kepada siswi berparas cantik itu.
"Mainlah ke rumah kakak, akan aku pastikan kamu meyakini bila kisah Ransi Kirania memang benar-benar ada dan nyata," ucap Ara lembut dan berlalu pergi.
Kepergian Zayan yang berperan sebagai abang ipar Ara, membuat wanita itu menjadikan kisah hidup Ransi sebagai inspirasi. Saat Ransi mulai bercerita, Ara menulis di atas kertas sembari menyimak dan mendengar semua yang Ransi ceritakan. Kisah hidup, percintaan, dosa yang pernah dilakukan, sampai kepergian Zayan, semua itu terangkum dalam sebuah novel yang berjudul 'Kepompong Kupu-Kupu'.
Novel best seller dan lagi tren dikalangan anak muda itu, membuat para pembaca seolah berperan di dalam cerita tersebut. Ara menghabiskan waktunya untuk menulis novel yang ia yakini akan diterima oleh kalangan masyarakat. Yah benar sekali novel tersebut banyak menginspirasi orang-orang bahkan membuat Ara menjadi terkenal sebagai penulis yang mengisahkan tentang kehidupan kakak kandungnya sendiri.
Tidak hanya best seller, bahkan novel tersebut akan di filmkan oleh sutradara terkenal. Ara pun sering di undang di acar televisi dan mendatangi sekolah-sekolah maupun universitas sekedar untuk mempromosikan dan menyakinkan pembaca bahwa kakaknya Ransi Kirania memang sudah berhijrah.
\*\*\*\*\*
Bandara..
__ADS_1
Ransi berjalan dengan pandangan kosong sambil menunduk. Tak sengaja kakinya menyentuh koper berukuran sedang.
"Maaf aku tidak sengaja," ucapnya dan tanpa sengaja Ransi menoleh ke arah pemilik koper.
"Rafan?" batin Ransi menyebut nama sesorang yang pernah hadir di masa lalunya.
"Papi, aku ingin es krim," rengek seorang bocah lelaki yang berada di gendongan pria tersebut.
"Tidak! Kita beli coklat terlebih dahulu baru ke kedai es krim," lontar anak perempuan yang di perkirakan berusia 4 tahun, yah kurang lebih seusia dengan Alya.
Ransi kembali menatap wajah Rafan, tanpa ia sadari Rafan menatap dalam ke manik mata wanita yang berdiri di hadapannya dan tak menghiraukan kedua bocah-bocah yang sedang merengek kepadanya.
Ransi lega melihat Rafan sudah bisa melupakan dirinya dan memulai kembali kisah hidup bersama dengan orang yah pastinya dapat mencintai Rafan.
"Maaf sayang apa aku terlalu lama berada di dalam toilet," terdengar seorang wanita hamil yang datang sambil memegangi perutnya.
"jika wanita itu adalah pendamping Rafan, lalu dimana Zoya?" Ransi terus saja memandang wanita yang berdiri tak jauh dari Rafan.
Di dalam cadar Ransi tersenyum dan langsung melangkah pergi dari hadapan Rafan. Dalam hati ia membatin, "Bahagialah Raf, kamu memang harus bahagia bersama dengan istri dan anak-anakmu."
__ADS_1
"Kak Ransi," panggil Furqon.
Ransi menghampiri Furqon yang berdiri di depan minimarket yang terdapat di bandara, ia bersama dengan Gavin.
"Ransi, aku ingin bicara denganmu." Furqon yang mendengar perkataan Gavin memilih menjauh dan memberikan waktu untuk Gavin berbicara dengan kakak iparnya.
"Ran, jaga dirimu baik-baik, aku pergi namun hatiku tetap tinggal disini."
"Gavin," sebut Ransi kalut.
"Biarkan kisah kita tertulis di novel Ara, kisah panjang semasa remaja dengan cinta yang akan tetap melekat di dalam hidupku," ucap Gavin.
"Gavin, kisah yang tertulis di dalam novel Ara endingnya akan berbeda jika pria pemilik gelang itu adalah kamu, aku berharap di kehidupan lain, jika kita di takdirkan untuk bertemu aku ingin kamu yang memiliki gelang itu bersama dengan cinta ku."
"Yah ku harap endingnya akan berubah."
Gavin pergi, ia berangkat ke Amerika untuk membantu ayahnya mengurusi perusahaan disana dan masih tetap bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai pengacara.
Masa lalu yang kelam tak selalu berakhir buruk di masa depan, meski bukan Rafan ataupun Gavin yang Ransi cintai namun keduanya meninggalkan kisah yang sampai detik ini masih dapat di ingat dengan jelas.
__ADS_1
Bertemu kembali dengan Zayan adalah bonus bagiku. Yah dialah masa kecil sekaligus masa depan yang di takdirkan untuk hidup bersamaku meski hanya sesaat tapi mengandung kebahagian yang tiada tara. Bersama Zayan aku bisa tersenyum, bahagia, menangis dan melewati derita tanpa harus merasa khawatir. Karnanya hijrahku lebih sempurna ia mengajarkanku bagaimana menjadi seorang istri yang solehah, membimbingku mengaji, menjadi imam di sepertiga malam. Yah dialah Zayan Hidayatullah milikku, milik Ransi Kirania.
**END**