
Semakin malam club semakin ramai di padati pengunjung yang ingin memuaskan hasrat mereka. Lelaki bergigi Kelinci yang memiliki wajah tampan seperti boyband asal Korea masuk ke dalam club dan disambut dengan tiga SPG rokok yang memang bertugas disana. "Sebungkus rokok dan satu korek elektrik," ujarnya sambil mengeluarkan uang. Lalu ia masuk dan berjalan menuju bar mini memesan minuman. Kharismatik yang ia pancarkan membuat wanita-wanita menatap dengan lirikan menggoda ke arahnya.
"Segelas alkohol," ucap lelaki tersebut ke Bartender sambil duduk di atas kursi. Bartender pun menyediakan minuman yang di pesan.
Sambil meneguk minumannya, mata lelaki itu tak lepas memandang gadis yang duduk bersama beberapa pria dengan saling melempar senyum dan membuka sebotol Anggur merah. Mata lelaki itu semakin dalam memandang saat salah satu pria mengandeng tangan gadis tersebut membawanya ke lantai dua.
Lelaki itu pun mengikuti ke mana pria tersebut membawa gadis yang tak asing baginya. Ternyata keduanya masuk ke dalam toilet. Di dalam sana pria berkaos polos hitam menyenderkan tubuh gadis yang di bawanya ke sudut dinding. Berkatalah ia, "Beri aku waktu dua puluh menit, aku akan membayar mu. Bagaimana?"
Gadis itu pun mengangguk menerima tawaran pria tersebut.
Pria yang sedari tadi menatap lekat bibir gadis be'rok mini itu kini mendekatkan wajahnya dan mencium bibir gadis itu dengan penuh hasrat. Di menit selanjutnya keduanya masuk ke salah satu pintu di dalam toilet.
Beberapa menit kemudian keluarlah pria tersebut dari toilet, tak berapa lama kemudian Ransi pun keluar sambil merapikan rok nya yang tak beraturan.
"Gavin?" Sebut Ransi saat melihat Gavin berdiri di samping pintu toilet sambil menyenderkan salah satu kakinya ke dinding sementara tangan kanannya memegang sebungkus rokok dan korek elektrik yang tadi di belinya sebelum masuk ke dalam club.
Gavin sekilas menoleh ke arah Ransi lalu kembali menatap ke arah depan.
"Sedang apa kamu disini? Menghabiskan malam dengan kekasihmu?" tanya Ransi kepo.
Gavin diam dan mengabaikan gadis yang berdiri disampingnya.
"Menyebalkan. Selalu saja bersikap dingin," gerutu Ransi pelan namun masih bisa terdengar oleh Gavin.
"Boleh aku meminta sebatang rokok dan meminjam korek elektrik mu."
Tanpa menoleh Gavin memberikan sebungkus rokok dan korek elektrik kepada Ransi.
"Ambillah semuanya dan segera pergi dari hadapanku!" usir Gavin.
Ransi membuang nafas pelan dan berkata, "Yah, yah baiklah terimakasih untuk rokok dan koreknya." Lalu Ransi melangkahkan kaki menjauh dari Gavin.
Gavin memandang punggung Ransi yang berjalan menuju tangga darurat.
"Apa yang ingin Ransi lakukan di dalam sana?" batin Gavin bertanya dan melangkahkan kakinya menyusul Ransi.
Ransi membuka pintu besi, lalu disambut dengan banyaknya anak tangga, tangga tersebut digunakan untuk keadaan darurat.
Gadis itu duduk di tangga ke sepuluh, kemudian ia menghidupkan rokok menggunakan korek dan menghembuskan asap dari mulutnya.
Gavin dengan sangat pelan menuruni anak tangga dan di tangga nomor lima Gavin duduk sambil terus memandang punggung Ransi dari belakang. Tak lama kemudian, Ransi mematikan dan membuang rokok yang baru saja dihisapnya ke sembarang arah.
Gadis itu menenggelamkan wajahnya di lutut dan menangis sejadi-jadinya. Ingin sekali Gavin memeluk tubuh Ransi untuk menenangkan namun itu mustahil untuk di lakukan.
"Aku tidak menginginkan ini semua! Perempuan hina, yah itulah diriku," lontar Ransi di sela tangisnya. Gavin hanya dapat melihat dan mendengar isak Ransi.
"Ran, kamu begitu hebat menyembunyikan kesedihanmu. Meski menolak kamu tetap menjalankan takdir hidupmu." Gavin membatin dan melangkahkan kakinya keluar dari tempat tersebut.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Pagi yang damai membuat Azalea duduk manis sambil menunggu pelanggan datang untuk membeli bunganya. Tangannya meraba-raba buket bunga yang tersusun rapi di dalam kotak berwarna putih. Sesekali ia menghirup aroma bunga yang menembus hidungnya.
"Azalea," panggil seseorang. Mendengar suara yang tak asing baginya, Azalea berdiri sambil meraba-raba sekeliling mencari tongkat.
"Untuk apa lagi kamu menemui ku."
"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini."
"Apa untungnya bagiku. Apa dengan kamu menjelaskan semuanya mata ku bisa kembali melihat? Tubuh ku pun sudah ternoda sejak malam kelam yang membuat hidupku hancur."
Pria tersebut menatap Azalea pilu.
"Maafkan aku."
"Pergilah! Jangan datang dan menyebut namaku lagi karena itu sangat memuakkan."
"Harus berapa kali aku katakan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah beranjak pergi dari hidupmu dan aku akan selalu menyebut nama wanita yang sangat berarti di dalam hidup ku," ucap pria itu, lalu berlalu pergi.
"Jika bukan kau yang menghancurkan hidupku, lalu siapa? Sedangkan lelaki pemilik liontin itu adalah dirimu." Azalea membatin, ia terduduk di bawah sambil memegangi tongkatnya dan perlahan tetesan itu kembali jatuh membasahi pipinya.
\*\*\*\*\*
Ransi berjalan untuk menemui Azalea di taman, langkahnya terhenti saat melihat Adzriel berdiri menghalangi jalannya.
"Aku butuh uang!"
Apa yang bisa Ransi perbuat selain mengeluarkan dompet dari dalam tas dan Adzriel langsung merampas dompet tersebut, lalu mengambil semua uang milik Ransi.
"Masa bodoh! Aku membutuhkan uang ini!" bentak Adzriel sambil mendorong tubuh adiknya dan berlalu pergi.
"Arghhhh! Selalu saja seperti ini." Ransi terduduk dan berteriak frustasi.
Uang yang seharusnya digunakan untuk biaya sekolah Ara dan membeli kebutuhan rumah habis tak tersisa di rampas Adzriel.
"Ya ampun bisa-bisa dompet imut ini terdapat sarang laba-laba jika tidak ada uang sepersen pun di dalamnya," gumam Ransi sambil memasukan kembali dompetnya ke dalam tas.
"Ikutlah dengan ku," ujar seorang lelaki sambil mengulurkan tangannya ke arah Ransi yang masih terduduk frustasi.
Spontan gadis itu mendongakkan kepala.
"Rafan," sebut Ransi sambil menerima uluran tangan Rafan.
Rafan yang tak sengaja melihat Ransi dan Adzriel beradu argumen, menghentikan motornya di seberang jalan. Dorongan kasar Adzriel pun dapat terlihat jelas di mata Rafan, ingin sekali lelaki itu mencabik tubuh Adzriel karena telah membuat tuan putrinya terjatuh. Mengingat Adzriel adalah saudara kandung Ransi, Rafan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Adzriel takut-takut jika Adzriel lebih berbuat kasar kepada Ransi nantinya.
Entah kemana Rafan akan membawa pergi Ransi menggunakan motor ninja hijau yang ia dapat dari hadiah ulang tahun yang ke 15, Satrio lah yang memberikan hadiah tersebut untuk anak tunggalnya.
Ransi memeluk erat tubuh Rafan dengan menyenderkan kepalanya di punggung lelaki itu. Tanpa sadar air matanya mengalir turun mengingat kejadian tadi, dimana Adzriel bersikap kasar kepadanya meski ini bukan yang pertama kali namun saat Adzriel berbuat kasar kepadanya dan juga Ara, hati Ransi begitu terluka.
Sampai di sebuah resto, Rafan memarkirkan motornya dan mengandeng tangan Ransi masuk ke dalam menuju meja nomor 14 yang telah di pesan sejam sebelumnya.
__ADS_1
"Raf, kenapa kamu mengajakku ke resto?" Tanya Ransi yang telah duduk di atas kursi.
"Hari ini aku akan mengenalkan mu kepada seseorang," jawab Rafan dengan tersenyum lembut.
"Siapa?"
"Papa ku."
Ransi benar-benar malas jika ia harus mendengar hinaan dan beradu mulut hari ini. Seperti sebelumnya, ia perang dialog dengan mama Rafan di cafe. Bertemu dengan keluarga Rafan, gadis itu berpikir pasti ia akan dihina dan dicaci maki.
Rafan yang melihat Ransi gelisah di kursinya, seolah bisa menebak apa yang dirasakan gadis itu.
"Tenanglah Ran. Papa berbeda dengan mama, ia tak mungkin menghinamu karena aku yakin papa setuju dengan hubungan kita."
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu, Raf?"
"Karena aku sudah menceritakan semuanya kepada papa. Tentang keluarga, pekerjaan dan juga dirimu."
"Bagaiman tanggapan papamu?"
Ransi terus bertanya seperti detektif.
"Papa tersenyum dan berkata, Teruslah perjuangkan cintamu."
Ada perasaan lega di hati Ransi mendengar perkataan Rafan.
"Ran, kamu mau makan dan minuman apa?"
"Um terserah. Kamu pesen aja, aku kebelet Raf mau ke toilet dulu."
"Hah kebelet nikah? Mau langsung aku lamar sekarang," canda Rafan dengan nada menggoda.
"Rafan, jangan berani-berani menggodaku," kesal Ransi sambil berdiri dan beranjak dari tempat duduknya sementara Rafan tertawa pelan.
Rasa takut itu perlahan menghilang dari benak Rafan, ia berharap suatu saat nanti Refa bisa menerima Ransi apa adanya seperti Satrio yang tidak mempermasalahkan pekerjaan Ransi dan mendukung sepenuhnya hubungan diantara keduanya.
Sepuluh menit berlalu, seorang yang di tunggu Rafan akhirnya datang juga.
"Raf sudah berapa lama kamu menuggu kedatangan, Papa?"
"Kira-kira dua hari aku menunggu papa disini," gurau Rafan.
"Apa bokong mu tidak lumutan menunggu selama itu disini," balas Satrio.
"Tentu saja tidak karena aku menunggu papa bersama dengan tuan putriku," ucap Rafan dengan penuh semangat.
"Papa jadi penasaran siapa tuan putri yang membuat anakku bisa mencintainya."
"Papa akan terpesona saat melihatnya nanti."
__ADS_1
"Yah semoga saja."
Sebelumnya Rafan sudah menceritakan semua tentang Ransi kepada Satrio, maka dari itu Satrio sangat penasaran secantik apa gadis yang di gila-gilaan oleh putranya.