
Ransi membawa beberapa buku di tangan sebelah kirinya, lagi-lagi ia terlambat datang ke sekolah, seperti biasa senyuman maut Ransi membuat pak Ujang terpesona dan membukakan pintu gerbang. Gadis itu berlarian menuju ke dalam kelas sambil memakai dasi.
BRUK..
Ransi terjatuh untuk kedua kalinya di tempat yang sama dengan orang yang sama, Ransi tak sengaja menabrak tubuh siswa baru yang satu kelas dengannya.
"Maaf aku gak sengaja," ucap Ransi sambil mengambil satu persatu buku yang berserakan di bawah. Lelaki itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya ke arah tubuh Ransi.
"Vanila. Tubuhmu beraroma Vanila," ujar lelaki tersebut lalu bangkit berdiri meninggalkan Ransi yang masih terduduk sambil merapikan buku-buku di tangannya.
Seorang lelaki yang baru datang mengulurkan tangan ke arah Ransi, gadis berbodi s-line itu menerima uluran tangan tersebut.
"Sedekat apa?" tanya Rafan.
"Hah? Maksudmu?"
"Sedekat apa dengan Gavin, lelaki yang kamu tabrak tadi."
"Oh, namanya Gavin. Aku tak mengenalnya hanya saja kecerobohan ku membuatnya terlihat dekat."
"Masuklah ke kelas mu. Sepulang sekolah tunggu aku di parkiran." Rafan pergi berlalu dengan raut wajah kesal.
"Ada apa dengan Rafan sepertinya dia begitu kesal." Ransi membatin sambil berjalan menuju kelas.
Saat Ransi masuk ke dalam kelas, ia disambut dengan tatapan sinis dari teman sekelasnya kecuali Gavin yang membungkukkan tubuh dan menidurkan kepala di atas meja sambil mendengarkan musik menggunakan handset.
Ransi tak menghiraukan tatapan sinis yang tertuju pada dirinya. Ia berjalan untuk duduk di bangkunya, di dapati tulisan-tulisan kotor yang terukir di bangku maupun meja Ransi.
"Apa-apaan! Siapa yang berani mencoret-coret bangku dan meja ini!" ucap Ransi dengan nada suara tinggi.
"Kita semua yang nulis, memangnya kenapa?" balas seorang siswi yang berdiri dengan tangan dilipat di depan dada.
__ADS_1
"Perempuan kotor! Semua murid udah tau kali jadi gak usah ditutup-tutupi lagi"
Ingin sekali Ransi menampar mulut Zoya yang berani menghina dirinya di depan banyak murid. Namun, apa yang di katakan Zoya adalah kebenaran. Apa yang bisa gadis itu perbuat selain menerima hinaan dan tatap jijik dari teman-teman sekelasnya, bukan hanya teman sekelas murid dari kelas lain pun ikut menonton drama tersebut di depan pintu.
"Gak nyangka yah seorang Ransi siswi beasiswa adalah perempuan kotor yang bekerja di club malam."
"Bisa-bisanya sekolah elit ini nerima siswi rendahan kayak dia."
"Memalukan!"
"Bekerja di club Neptu? Yang benar saja apa dia sudah kehilangan akal."
"Pasti tiap malam nemenin om-om."
"Tubuh itu dijaga bukan di jual!"
Semua hinaan itu terus terdengar di telinga Ransi, ia hanya bisa menundukkan kepala dan tanpa sadar mengeluarkan cairan bening yang membasahi pipinya.
Gavin memang memakai handset namun ia sama sekali tidak mendengarkan lagu, melihat gadis beraroma tubuh Vanila terus mendapat serangan mulut dari para murid membuat dirinya muak, secara kasar Gavin melepaskan handsetnya lalu berjalan ke tempat Ransi berdiri.
"Rafan," lirih Ransi.
Rafan? Mengapa bukan Gavin? Lelaki itu kalah cepat dengan langkah kaki Rafan yang lebih dulu melindungi Ransi.
"Rafan apa yang kau lakukan!" jerit Zoya, ia tak terima calon tunangannya menyentuh wanita lain.
"Diam kau! Beraninya kau membuat Ransi malu dengan mengungkapkan pekerjaannya."
"Apa aku melakukan kesalahan? Memang itu faktanya."
"Lakukan apa yang bisa kau lakukan dengan seperti itu aku akan tambah membencimu," ucap Rafan dan menarik tangan Ransi membawa gadis itu keluar kelas.
__ADS_1
Zoya mengepalkan jari tak terima dengan perkataan Rafan, sementara Gavin kembali duduk dengan memandang Zoya dengan pandangan yang sulit di pahami.
\*\*\*\*\*
Rafan bingung bagaimana caranya menenangkan Ransi yang menangis di dalam pelukannya, baju seragam Rafan basah karena tangisan sang pacar. Tangis Ransi saat ini benar-benar menyayat hatinya, ia memberikan waktu untuk Ransi mengeluarkan air mata, meluapkan apa yang sedang gadis itu rasakan sekarang.
Jika bisa memilih tentunya Ransi tak ingin bekerja di tempat terkutuk itu. Namun, apa yang bisa di perbuatanya selain pasrah dengan takdir yang telah tertulis di dalam kehidupan.
Selama ini ia dan Rafan berusaha menutupi semua, dengan mudahnya Zoya membuat hidup Ransi semakin sulit untuk di lalui.
Selama beberapa hari ini Zoya menyuruh seseorang untuk mencari informasi lebih detail tentang keseharian yang dilakukan Ransi. Kabar baik pun ia terima. Mengetahui Ransi bekerja di club Neptu dan selalu menghabiskan malam bersama dengan berbagai macam pria, membuat Zoya sangat bahagia. Bahkan Refa pun sudah mengetahui bagaimana keseharian Ransi, seorang gadis yang sangat di cintai putranya.
Refa tahu jika Ransi bekerja di club malam, tapi ibu satu anak itu tak mengetahui bahwa club tempat Ransi bekerja adalah club Neptu. Club malam yang sangat terkenal dengan kemegahan, kemewahan, dari kalangan tamu menegah ke atas. Selain menerima gaji pegawai pun di haruskan menggoda pria-pria yang ada di sana. Berpakaian pendek yang ketat dan begitu tipis, selain itu juga pegawai perempuan harus meneguk minuman keras sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari mulut mereka.
Semua itu dilakukan Ransi dengan keterpaksaan. Menggoda, merokok, bahakan minum beberapa gelas alkohol menjadi rutinitas Ransi saat bekerja di malam hari. Bagaiman dengan Rafan? Apa lelaki itu mengetahui semua yang dilakukan Ransi di dalam club Neptu? Tentu saja dia tau. Tapi itu tak mengapa bagi Rafan, ia menerima Ransi apa adanya tanpa pernah mencoba berpaling kepada perempuan lain. Cintanya begitu besar dan sangat tulus terhadap Ransi. Selama dua tahun rasa itu terus melekat di dalam hati Rafan semakin ia mencoba menjauh semakin dalam ia merasakannya.
\*\*\*\*\*
"Hampir satu bulan kau tidak menginjakan kakimu di rumah ini. Apa yang kau lakukan di luar sana."
"Berhentilah bertanya, kau pasti sudah tau jawaban dari pertanyaanmu."
"Kali ini wanita kotor mana yang kau tidurin!" bentak wanita berumur 39 tahun dengan menahan sesak di dadanya.
"Jangan mengusik urusanku! Bukakan kau dokter? Jadi urusin saja pasien-pasien mu yang ada di rumah sakit."
"Kau bahkan tidak tau apa yang terjadi pada Rafan."
"Memangnya ada apa dengan putraku?" tanya pria bergaya rambut Under Cut. Terdapat bagian tipis di pinggir hingga belakang dan bagian atas tebal itulah model rambut yang sering disebut Under Cut.
"Rafan sudah berani melawan ku demi membela perempuan hina yang sangat dicintainya."
__ADS_1
Mendengar perkataan Refa, Satrio tertawa kecil.
"Kau bahkan tak mengerti perasaan anakmu sendiri. Apa bedanya kau dengan perempuan hina itu," ucap Satrio dan melangkah pergi. Sementara Refa terduduk lemas dengan air mata yang terurus mengalir akibat perkataan suaminya.