
Satu minggu telah berlalu Ransi masih dalam tahap pemulihan. Tubuhnya masih sakit dan tak dapat berjalan sendiri selama beberapa hari akibat sentuhan kasar Baron. Ia termenung dan menghabiskan waktu di dalam kamar dengan air mata yang terus menetes sampai membuat kedua matanya bengkak.
Sehari setelah kejadian itu, Ara membawa kakaknya ke rumah sakit karena Ransi tak dapat berjalan, sering muntah, dan jika makanan masuk ke dalam perutnya Ransi pasti akan berjerit kesakitan. Ara benar-benar sangat terpukul dengan kondisi yang menimpa kakaknya.
Ransi semakin rapuh saat dokter berkata jika rahimnya mengalami luka serius dan memerlukan waktu cukup lama untuk sembuh, meski sudah agak mengering darah pun tidak lagi keluar, tetap saja rasa sakit itu terus menyiksanya.
Satu minggu Ransi tidak bekerja. Bagaimana mungkin dia bekerja dengan kondisi seperti itu? Uang di dompet mulai menipis terlebih lagi Ransi harus sering kontrol ke rumah sakit dan memerlukan biaya yang cukup banyak menguras dompetnya.
Ransi terpukul, ia marah, rapuh, lemah saat ini. Mengingat bapak kandungnya sendiri tega menjualnya dengan pria gila ditambah permainan kasar Baron yang membuat rahimnya terluka. Sakit, begitu sakit sampai-sampai ia tak mampu berjerit karena tenaga dan kekuatannya sudah hilang.
Rasa perih dan terluka terus menghantui ke dalam ingatannya. Malam hari Ransi sering berjerit-jerit frustasi sambil menjambak rambutnya. Ustadzah Fatmah lah yang menenangkan dan memeluk Ransi saat dirinya benar-benar frustasi, pelukan ustadzah Fatmah yang hangat membuat Ransi merasakan kembali kehadiran sang ibu yang telah meninggal lima tahun lalu.
"Enak-enakan tidur di kamar! bukannya kerja cari duit!! Dasar anak sialan. Cepet pergi kerja sekarang!"
"Lepaskan pak, kak Ransi masih sakit dan belum bisa kerja." Ara menangis sesegukan melihat bapaknya menjambak rambut Ransi dan menyeretnya ke luar kamar.
"Kalo dia gak kerja gimana bapak bisa main judi dan beli minuman. Kamu gak usah ikut campur!" bentak pak Krisna sambil mendorong tubuh Ara hingga tubuh gadis itu terbentur ke dinding.
Ransi yang melihat adiknya merintih kesakitan, sebisa mungkin berdiri dan menatap bapaknya dengan tatapan membunuh.
"Jangan sakitin Ara. Aku akan melakukan apapun yang bapak inginkan tapi jangan sentuh adikku!" bentak Ransi sambil masuk ke dalam kamar dengan menutup keras pintu.
"Ransi cari uang yang banyak. Jika kamu pulang tidak membawa uang aku akan menyiksa Ara dan juga dirimu sampai babak belur. Dengar tidak!" pak Krisna berkata sambil mengedor-ngedor pintu kamar Ransi.
\*\*\*\*\*
Malam ini Ransi kembali bekerja di club, meski susah berjalan Ransi tetap memaksa kakinya untuk melangkah. Melihat kondisi Ransi yang belum membaik atasan mengizinkan dirinya untuk duduk di bar mini sampai keadaannya benar-benar sembuh. Tuan Khan memang sangat baik, ia termasuk atasan yang sangat di segani dan sering membantu para pegawainnya jika mengalami kesusahan. Alhasil Ransi hanya duduk-duduk cantik di bar mini dan tidak melakukan apapun.
Sebisa mungkin perempuan itu melawan rasa perih di tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Baron?" sebut Ransi spontan saat melihat pria yang sudah membuatnya susah berjalan dan sekarang berdiri menghalangi langkah kakinya.
"Ingin sekali aku memutilasi tubuhnya saat ini juga," ujar Ransi pelan.
"Apa tubuhmu masih sakit, sayang."
__ADS_1
"Memuakkan! Menjauhlah dari kehidupanku."
Aku ingin bermalam denganmu lagi sayang." Baron berbisik di telinga Ransi.
"Kau membuatku menjadi seperti ini dengan mudahnya kau ingin bermalam denganku lagi. Jangan terlalu berhalusinasi Baron!"
Ransi sudah tidak tahan lagi harus meladeni Baron.
"Terkutuklah kau Baron."
Setelah mengatakan hal itu Ransi langsung lari dari hadapan Baron, lari sebisa dan semampunya ke luar dari club. Sepatu tinggi yang terpasang cantik di kaki, ia lepaskan agar lebih bebas berlari. Ketika Ransi menoleh ke belakang Baron mengejarnya bersama dengan dua pesuruh. Langkah Ransi semakin cepat dan rasa perih itu terasa hebat karena ia terlalu memaksa untuk berlari.
"Aw." Ransi terjatuh karena kakinya tersandung kayu.
"Ransi kau tidak bisa lari dariku."
"Suara itu, aku sangat membenci suara barito itu."
Lagi-lagi Ransi hanya bisa pasrah saat Baron menyentuh tubuhnya.
Tubuh Baron terhempas tak sadarkan diri saat seseorang memukul kepalanya menggunakan kayu dari belakang.
"Ayo kita harus lari dari sini jangan sampai pesuruh Baron melihat kita."
Seseorang menarik dan mengajak Ransi berlari dari tempat itu. Dia seorang perempuan berambut sebahu menolong Ransi dari jeratan Baron.
"Sakit..ahh..aku tidak bisa berlari lagi sebaiknya kamu pergi saja biar kedua pesuruh Baron menangkapku. "
Melihat Ransi yang di banjiri keringat dan berusaha menahan rasa sakit, perempuan itu memaksa Ransi naik ke atas punggungnya.
"Naiklah!" perintahnya.
Ransi yang sudah merasa tidak kuat lagi langsung naik ke atas punggung perempuan yang menolongnya. Lalu ia membatin, "Dua tahun aku berpacaran dengan Rafan, tapi lelaki itu tidak pernah menggendongku seperti ini. Tiga bulan satu atap bersama Gavin, menggendongku? Yang benar saja, dia bahkan selalu bersikap dingin. Tapi sekarang, seseorang perempuan asing mengendong tubuhku dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Apa aku sedang bermimpi? Tidak, ini nyata. Dia adalah dewi penolong."
"Namaku Sarrah."
__ADS_1
"Aku Ransi. Apa kamu tidak lelah mendukungku seperti ini."
"Hahaha. Lelah? Tentu saja tidak."
"Maaf, apa pekerjaanmu?" tanya Ransi penasaran sebab Sarrah memakai pakaian pendek di malam hari.
"Aku sorang PSK," jawab Sarrah.
"PSK?"
Aku mengenal Baron karena ia sering datang ke tempatku bekerja bersama dengan kedua pesuruhnya," terang Sarrah.
"Untuk sementara waktu tinggal'lah di rumahku, yah walaupun kecil tapi tetap bisa melindungi dari trik matahari dan hujan," kata Sarrah sambil membuka pintu rumah dan menurunkan Ransi dari dukungannya.
Cklek..
Saat Ransi masuk ke dalam rumah pandangannya tak lepas melihat seseorang pria yang sedang duduk di kursi roda sambil memandang ke arah luar jendela.
"Pria yang duduk di kursi roda itu bernama Rio, dia adalah abangku."
"Ehh, iya" perkataan Sarrah membuat Ransi terkejut.
"Mari masuk ke kamarku. Ajak Sarrah, Ransi pun ikut masuk ke dalam kamar."
"Sarrah, aku baru mengenalnya namun ia begitu baik dan sangat perduli padaku, sampai-sampai membuatkanmu susu hangat di tengah malam. Banyak kisah dan pelajaran yang dapat ku petik darinya. Sempat berpikir bahwa aku satu-satunya manusia yang menjalani cobaan yang sangat berat untuk dilalui. Tapi Sarrah berhasil mengubah pikiranku itu, bahwa cobaan dan takdir yang ia jalanin lebih berat dari goresan takdirku."
Ransi berpikir bahwa ia benar-benar beruntung dapat mengenal Sarrah.
Keduanya menghabiskan malam dengan berbagi cerita mulai dari A sampai ke Z. Menjadi PSK bukanlah kemauan Sarrah, demi untuk membiayai pengobatan sang abang dan keperluan lainnya Sarrah terjun ke dunia yang begitu keras untuk dilalui. Kisahnya hampir sama dengan kisah Ransi, menyakitkan jika memilih pilihan yang seharusnya tidak dipilih.
Sarrah bercerita tentang hidupnya kepada Ransi, bercerita bahwa ia merupakan anak dari pasangan Sania dan Riko yang memiliki perusahaan kelapa sawit di berbagai kota. Lima tahun yang lalu ayah Sarrah mengalami kebangkrutan. Tuan Riko yang dililit banyak hutang, tanpa berpikir panjang ia menembakan pistol ke kepala istrinya sendiri dan setelah itu ia menembak dirinya di depan Rio dan juga Sarrah. Bangkrut dan kematian orang tua? Tak sampai disitu cobaan terus datang bertubi-tubi apalagi saat mendengar sang abang mengalami kecelakaan dan di vonis lumpuh secara permanen.
Sepanjang hidup, Rio harus duduk di kursi roda tanpa pernah bisa kembali berjalan dan berlari. Rio pun harus rutin minum obat setiap harinya untuk menenangkan diri karena depresi terhadap masa lalu yang kelam.
Ransi memandang Rio dari kejauhan, pria itu duduk di atas kursi roda dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Tak begitu terdengar jelas tapi Ransi yakin Rio mengucapkan kata "Maaf, maafkan aku." Disela tangisnya. "Apa maksud perkataan dari pria itu. Aku merasa Rio menangis bukan karena kematian orang tua ataupun kecelakaan yang menimpa dirinya. Namun, ada hal lain yang membuat Rio merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada seseorang. Yah entahlah aku tidak tau apa pikiranku ini benar atau tidak, aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan Sarrah dan juga Rio." Batin Ransi yang terus menatap Rio dengan tatapan yang sulit di pahami.
__ADS_1