Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 34


__ADS_3

Meski belum sepenuhnya sehat Ransi memberanikan diri untuk menemui Zayan, bersama Gavin ia pergi ke lapas terbesar di kota Palembang. Sejak hari dimana ia menemui Zayan di ruang interogasi, sejak itulah terakhir kali Ransi bertemu dengan suaminya dan sekarang ia bertekad untuk melihat keadaan Zayan.


Sejak dulu sampai sekarang Gavin selalu mengulurkan tangannya untuk membantu Ransi tanpa pernah mengharapkan balasan, mungkin karena cintailah takdir mempertemukan Gavin kembali dengan kenangan masa lalunya, kenangan yang dulu pernah singgah lalu pergi menetap bersama hati yang lain.


Sudah bertahun-tahun lamanya, hati Gavin masa sama seperti dulu. Mencintai Ransi dengan setulus dan segenap jiwanya. Namun, melihat Ransi telah bersama dengan Zayan, Gavin merasa lega karena itu tandanya bahwa perempuan yang ia cintai telah bertemu kembali dengan pangeran pemilik gelang kayu berwarna coklat.


Walaupun seperti itu Gavin masih merasa khawatir, sebab Ransi yang dulunya terlihat ceria kini menjadi wanita penuh kerapuhan sepanjang hari dengan kondisi bagaikan mayat hidup. Apa yang bisa ia perbuat sekarang, melihat Ransi terpuruk meratapi takdir yang membuat suaminya harus mendekam di penjara selama 12 tahun dan mendengar jika rahim Ransi mengalami kerusakan membuat Gavin menangis di dalam hatinya.


Perubahan Ransi yang sangat drastis membuat Gavin bangga, Ransi yang dulu ia kenal bukanlah Ransi yang sekarang. Sesorang wanita berpakaian syari dengan cadar menutupi wajah yah wanita itulah yang membuat Gavin selalu bermimpi setiap malamnya, mimpi yang sama di saat ia tinggal satu atap dengan Ransi seperti dulu.


"Ummi baik-baik saja," tanya Zayan diiringi senyum manisnya.


Pipi Ransi di banjiri air mata melihat wajah Zayan babak belur dengan alis yang terbelah.


"Ummi jangan menangis, Abi tidak apa-apa."


Di dalam penjara Zayan di pukuli oleh beberapa orang yang satu sel dengannya, sebab jika napi yang terjerat khsus pelecahan, pencabulan, pemerkosaan, dan lain sebagainya akan mendapat siksaan di dalam sel karena bagi napi senior jika narapidana junior tersandung kasus pelecahan wanita akan di hajar sampai babak belur.


Mereka bisa menerima kasus pencurian, pembunuhan, begal, tapi tidak dengan pelecahan kepada seorang perempuan, manusia yang melakukan perbuatan hina seperti itu tak pantas di sebut manusia, sebutan manusia terlalu elit bagi pria yang tega melampiaskan hasratnya kepada kaum perempuan yang tidak berdaya. Entahlah apa sebutan untuk pria seperti itu bahkan sampah yang berbau busuk pun lebih baik dari pria kotor yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap seorang perempuan.


Ransi berlari pergi tanpa mengucapkan sepatah kata membuat mata Zayan berlinangan air mata kepedihan.


"Pak Gavin, jika terjadi sesuatu kepadaku. Tolong jaga Ransi tetaplah berada disisinya, ia tidak bisa hidup sendiri, Pak" pinta Zayan memohon.


"Apa maksud pak Zayan?"


"Kemarin Ara mengunjungi ku dan menceritakan kisah pak Gavin bersama Ransi di masa lalu."


"A..apa?"


"Aku bersyukur takdir mempertemukan kalian kembali, dengan seperti itu saya bisa menjalani sisa hidup di dalam sel ini tanpa harus khawatir terhadap Ransi."


"Hanya pak Zayan yang di cintai Ransi, aku hanya kenangan masa lalu yang tak pernah berbayang di dalam hatinya."

__ADS_1


Zayan tersenyum mendengar perkataan Gavin, ia tau betapa Ransi begitu mencintainya begitupun dengan dirinya.


Wajah Zayan berubah pucat, ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat, pandangannya pun samar-samar terlihat.


Brukk..


Zayan terjatuh dan tak sadarkan diri di hadapan Gavin. "Pak Zayan.”


\*\*\*\*\*


Ara kembali datang ke rumah sakit tempat Sasya di rawat, kali ini ia tak datang sendiri. Seorang dokter psikolog, serta beberapa orang dari kepolisian pun ikut menemui Sasya.


"Sasya," panggil Ara yang duduk di pinggir bed sambil memegangi tangan Sasya.


"Apa bang Zayan memang menyentuh tubuhmu?"


Sasya menatap ke arah Ara, pertanyaan Ara membuat dirinya harus mengingat kejadian hina yang mengotori tubuhnya.


Sasya menggunakan gerakan bibir, bahasa tubuh, termasuk ekspresi wajah, dan pandangan mata untuk berkomunikasi dengan Ara.


"Kamu siap memberi kesaksian?" tanya Ara meyakinkan.


Sasya mengangguk kuat.


"Bagiamana, Dok?" tanya Ara kepada dokter psikolog.


"Bapak bisa menghidupkan kamera dan mencatat semua yang diartikan nona Ara, saya akan terus mengawasi kondisi Sasya jika pikirannya terganggu kalian tidak boleh melanjutkan interogasi ini."


"Baik dok, kami mengerti."


Kamera pun di nyalakan tak lupa seorang polwan memegang buku dan juga pena untuk mencatat semua keterangan Sasya.


Sasya mengerakan jari dan mulutnya juga ikut berinteraksi meski tidak begitu jelas namun Ara mengerti apa yang di isyaratkan Sasya. Selain Ara dokter psikolog juga mengerti gerak tubuh Sasya dan dapat menyimpulkan jika Zayan tidak bersalah.

__ADS_1


Sasya merupakan anak semata wayang dari pasanga bu Ainda dan bapak Samsul. Sejak lahir Sasya tidak bisa bicara, jika ingin berkomunikasi dengannya harus menggunkan bahasa tubuh.


Siang itu, Zayan berniat memberi kejutan, ia membeli bunga mawar untuk di berikan kepada sang istri. Agar kejutannya berjalan sesuai yang diinginkan, Zayan tidak melawati jalan besar ia memilih untuk mentas melewati belakang lapangan yang jika siang hari memang sangat sepi di lewati warga. Zayan berjalan dengan membawa bunga mawar di tangannya sembari tersenyum melihat bunga yang di pegang.


Langkah Zayan tiba-tiba terhenti saat melihat ada kaki yang muncul dari tumpukan daun-daun pisang. Rasa penasaran yang menyelimuti hati membuat Zayan melangkah untuk menghampiri tumpukan daun pisang yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


"Astaghfirullah Al Adzim" . Zayan mengucap saat membuka daun pisang yang tadinya menutupi wajah seorang wanita.


"Sasya?" sebut Zayan tak percaya.


Zayan mendekatkan wajahnya ke telinga sebelah kanan Sasya dengan tangan memegang urat nadi Sasya.


"Sasya maafkan aku menyentuhmu yang bukan muhrim ku, aku melakukannya untuk memastikan  apa kamu masih bernafas atau tidak," bisik Zayan tepat di telinga Sasya.


"Tolong! Tolong! Ada pemerkosaan di belakang lapangan," jerit seorang warga yang melihat Zayan memegang dan mendekatkan wajahnya ke arah tubuh Sasya.


"Tidak pak dengarkan dulu, saya tidak-"


Warga Venus berhamburan ke tempat TKP. Buk Susan membuka semua tumpukan daun pisang membuat semua warga yang melihat syok setengah mati. Sementara pandangan Zayan merunduk ke bawah dan tak berani menoleh ke arah Sasya.


Sasya tergeletak dengan wajah yang dipenuhi luka memar akibat pukulan serta darah mengalir di pahanya dengan hanya memakai celana dan bra.


"Sasya siapa pelaku sebenarnya?"


"Pria terkaya di lorong Venus," terdengar suara yang bersumber dari seorang suster yang baru datang.


"Apa maksud suster?" tanya Ara bingung.


Suster tersebut berlutut memohon ampun di lantai sambil menangis tersedu-sedu.


"Juragan Baron pelaku yang sebenarnya, dia membayar ku dan wakil kepala polisi untuk memalsukan hasil pemeriksaan yang sebenarnya. Mulai dari ******, darah dan juga sidik jari, semua itu bukan milik pak Zayan melainkan milik juragan Baron."


Ara kaget ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, pernyataan suster bertubuh ramping itu membuatnya tak percaya mengapa Baron sampai setega itu memfitnah abang iparnya.

__ADS_1


__ADS_2