Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 26


__ADS_3

Sudah dua minggu Ransi tinggal di rumah sederhana milik Sarrah, Ara tak mencemaskannya karena Ransi sudah memberi kabar bahwa ia  harus bekerja di luar kota selama beberapa minggu. Bohong, lagi-lagi Ransi membohongi Ara seperti sebelumnya. Seperti saat ia tinggal beberapa bulan di apartemen Gavin.


Seketika Ransi mengingat kenangan dulu saat bersama Rafan dan Gavin. Kebaikan, ketulusan, perjuangan mereka Ransi tidak pantas mendapatkan semua itu, kisah yang dulu pernah tertulis berharap akan berakhir bahagia tanpa ada penyesalan dan air mata. Ransi sudah tidak lagi bekerja di club Neptu dan sekarang ia bekerja bersama Sarrah, menjadi PSK. Bukannya mendapat pekerjaan yang lebih baik malah masuk ke dalam jurang dengan sendirinya. Sarrah memang benar-benar teman yang buruk, ia mengajak Ransi ke jalan yang sesat. Yah tapi apa boleh buat hidup Ransi memang sudah hancur, lalu apa lagi yang mau disesali.


Tok..tok..


"Siapa yang mengendur pintu sepagi ini, dasar orang gila bertamu tak tepat waktu," gerutu Ransi sambil berjalan membuka pintu.


Cklekk..


Ransi menutup mulut dengan kedua tangan saat melihat..melihat..


"Ransi? sedang apa kamu disini?"


"Ba..bagaimana bisa Azalea dan bang Tio disini?" tanya Ransi terbata-bata.


"Ransi? apa ada Ransi disini, Tio."


"Ada siapa, Ran?" tanya Sarrah yang ikut terkejut melihat dua orang berdiri di depan pintu.


"Bang Tio, kak Azalea? Kenapa kalian bisa tau aku dan-"


"Nampaknya hanya aku manusia bodoh yang tak tahu apa-apa," ujar Ransi pelan.


"Derrio!" panggil Tio lantang saat melihat Rio menarik-narik kursi roda yang ia duduki.


"Derrio? Rio? Apa? Jadi Rio adalah pria yang menjadi incaran bang Adzriel sejak peristiwa itu terjadi dan bodohnya aku tidak mengetahui hal itu, malah dengan polosnya tinggal satu atap dengan pria yang membuat hidup abang ku menjadi hancur karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Helo, jika saja aku tau Rio adalah Derrio bukan hanya kakinya yang lumpuh aku akan mematahkan kedua tangannya juga dan jika diizinkan  ku buat matanya buta seperti apa yang pernah ia lakukan terhadap Azalea." Saat ini hati dan pikiran Ransi seolah terbakar api yang membara.


\*\*\*\*\*


Tio yang tadinya terbalut emosi, seketika merasa pilu saat melihat Derrio duduk di kursi roda. Azalea tidak bisa melihat namu ia bisa mendengar semua penjelasan Sarrah tentang apa yang telah menimpa abangnya. Baik Azalea maupun Tio keduanya tidak menyangka bahwa Derrio di vonis lumpuh secara permanen.


Pada malam sehabis menyetubuhi Azalea, Derrio berlari ke jalan raya dari arah berlawanan sebuah truk melaju dengan kecepatan penuh dan menabrak dirinya, membuat Derrio koma selama dua tahun dan setelah ia sadar kedua kakinya sudah tidak bisa di gerakan.


Derrio begitu menyesali perbuatannya, ia membayar seseorang untuk mencari informasi tentang Azalea, alangkah terkejutnya pria itu saat mendengar bahwa gadis yang telah ia nodai mengalami kebutaan akibat dorongan kerasnya pada malam itu.


Selama ini Derrio hidup dengan rasa penyesalan yang terus menghantui dirinya, ia bahkan jarang berbicara dan menghabiskan hari memandang ke arah langit berharap Azalea ada diantara burung yang bertebaran di atas sana. "Maaf, maafkan aku." Selalu saja Derrio mengucapkan perkataan itu setiap hari dengan rasa sesak yang ia rasakan.

__ADS_1


"Kamu ingin mengatakan sesuatu, Derrio." Azalea berdiri di depan Derrio dengan memegang tongkatnya.


Air mata Derrio tumpah melihat Azalea yang tida bisa melihat dirinya meski Azalea berdiri di depannya.


"Maaf Azalea aku bersalah..aku-" Derrio memeluk pergelangan tangan Azalea dengan menumpahkan tangisnya.


"Ak..aku pelakunya..aku yang memfitnah Adzriel."


"Kenapa kamu melakukannya Derrio, kenapa harus aku!" jerit Azalea dengan deraian air mata.


Tio, Sarrah dan Ransi yang berada disitu hanya bisa melihat Derrio dan Azalea saling menumpah tangis.


"Aku mencintaimu, mengapa kamu lebih memilih Adzriel daripada aku..aku mencintaimu..Azalea..aku..mencintaimu."


"Hentikan! Kamu tau sedari dulu aku hanya mencintai Adzriel, tapi kamu tetap memaksakan cintamu Derrio! Aku membenci dirimu Derrio aku me..membenci dirimu." Azalea terduduk tepat di hadapan Derrio.


"Maafkan aku selama ini aku hidup di dalam penyesalan meski aku tak pantas di maafkan setidaknya aku ingin kamu tau jika aku masih mencintaimu sampai detik ini."


"Berhentilah menyebut kata cinta, aku muak mendengarnya." Azalea berusaha berdiri dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya pergi dari hadapan Derrio. Sebelum pergi ia berkata, "Kau tak perlu hidup dalam penyesalan karena aku sudah memaafkanmu, meski apapun yang terjadi Adzriel tetap setia bersamaku dan cintanya akan melekat di dalam hatiku selamanya."


Azalea kembali melanjutkan langkahnya di bantu Tio yang menunjuk arah mengerakkan tongkat Azalea.


Beberapa hari lalu Adzriel berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan Derrio yang tinggal di sebuah rumah sederhana dan hari ini Tio mengajak Azalea menemui Derrio karena suruhan Adzriel.


\*\*\*\*\*


Minggu ketiga di bulan Agustus, Azalea duduk di bangku besi menunggu kedatangan Adzriel. Hampir empat jam ia menunggu namun pria yang ditunggu tak kunjung datang. Seketika Azalea merasa gelisah, sebab ini pertama kalinya Adzriel tak menepati janji. Dimana dia? Sedang apa? Kenapa belum datang? Azalea terus bertanya di dalam hatinya.


"Tio?"


"Azalea, kedua matamu akan kembali melihat."


"Apa maksudmu? Kenapa kamu bisa ada disini?"


"Itu tidaklah penting, sekarang ikut aku ke rumah sakit." Tio menarik tangan Azalea membawa perempuan itu ke rumah sakit yang tak jauh dari pusat kota.


Di rumah sakit ada Sarrah dan Ransi yang ikut menunggu disana, seseorang mendonorkan matanya untuk Azalea dan mukjizat benar-benar datang, setelah melakukan pemeriksaan donor mata itu sangat cocok untuk Azalea.

__ADS_1


Tiga hari setelah itu, dokter mengoperasi kedua mata Azalea. Selama beberapa jam berada di ruang operasi, akhirnya dokter keluar dengan membawa kabar gembira bahwa operasi Azalea berjalan lancar dan 100% bisa melihat kembali. Meski itu adalah kabar baik namun tetap saja air mata mengalir membasahi pipi Ransi dan Sarrah.


"Jangan buka perban mataku, Dok," cegah Azalea saat dokter ingin membuka perban yang menutupi kedua matanya.


"Ada apa Azalea? Ini sudah waktunya perban mu di buka,  kamu tidak perlu takut semuanya berjalan lancar dan akan baik-baik saja."


"Tidak dok, sebelum Adzriel datang aku tidak akan membuka perban ini karena aku ingin Adzriel orang yang pertama kali ku lihat saat perban ini dibuka."


Dokter memandang Ransi dan Sarrah secara bergantian.


"Meski Adzriel bukan pertama kali yang kamu lihat, namun cintamu milik Adzriel. Bukalah perban mu, Adzriel pasti bahagia dengan keadaanmu sekarang," ucap Tio yang duduk di pinggir bed.


Azalea berpikir bahwa yang dikatakan Tio ada benarnya, dengan sangat terpaksa ia mau membuka perban. Dokter pun membuka perban di mata Azalea.


"Azalea buka matamu perahan-lahan." suruh dokter, Azalea membuka pelan kedua matanya.


Samar-samar ia melihat langit-langit ruangan, lalu "Tio" satu nama yang terucap saat Azalea kembali melihat.


"Kamu bisa melihat ku sekarang?"


"Tidak berubah, kamu masih semanis dulu, Tio." Ucap Azalea, Tio terkekeh pelan.


"Kalian siapa?" tanya Azalea saat pandanganya melihat ke arah Ransi dan Sarrah.


"Perempuan yang memakai jaket jeans itu Ransi dan yang disampingnya Sarrah, adik Derrio."


"Sarrah kecil yang ku kenal dulu, kini sudah tumbuh dewasa dan Ransi, sahabat yang selalu menemaniku berjualan bunga di taman. Kemarilah aku ingin memeluk kalian."


Ransi dan Sarrah menghampiri Azalea, ketiganya saling berpelukan satu sama lain, sementara Tio merasa di acuhkan.


"Kenapa kalian menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Azalea bingung sebab Ransi dan Sarrah menangis sesegukan di pelukannya.


"Ti..tidak," ucap Sarrah yang langsung melepaskan pelukan dan berlalu pergi, Ransi yang tak kuat menahan air matanya ikut berlari keluar menyusul Sarrah.


"Tio, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu harus menjelaskan semuanya kepadaku."


Meski sudah kembali melihat, Azalea tak berhenti meneteskan air matanya saat mendengar bahwa Derrio sudah meninggal karena bunuh diri. Pertemuan Derrio dan Azalea belum lama ini sangat membuat pria yang duduk di kursi roda itu frustasi dan memilih mengakhirinya hidupnya dengan cara meminum racun sehingga membuatnya tewas di tempat. Sarrah benar-benar terpukul dengan kematian sang abang, sekarang ia hidup dengan kesendirian dan sebatang kara tanpa ada satupun keluarga disampingnya.

__ADS_1


Sarrah terus menangis meratapi kepergian Derrio yang belum ia relakan sampai detik ini, sempat ingin bunuh diri namun Ransi mencegah perbuatannya dan memberi kekuatan untuk temannya itu. Ransi yang tak ingin melihat Sarrah merasa sendiri memutuskan untuk mengajak Sarrah tinggal di rumahnya. Awalnya Sarrah menolak namun setelah di pikir, kini hidupnya sendiri dan hanya Ransi teman yang ia punya, akhirnya Sarrah menerima tawaran Ransi untuk menetap dan tinggal di lorong Venus.


__ADS_2