Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 11


__ADS_3

Pria berjas hitam  masuk ke dalam mansion dengan langkah terburu-buru, saat berada di dalam ia memanggil-manggil nama istrinya dengan nada lantang.


"Refa! Refa!"


Wanita yang dimaksud pun keluar dari dalam kamar dan menghampiri dirinya.


"Kecilkan suara mu! Ada apa berteriak-teriak memanggil namaku."


Satrio menjambak rambut istrinya dengan emosi yang sedari tadi di tahan.


"Aw! Sakit. Kenapa kau menjambak rambutku," ucap Refa sambil berusaha melepas jambak'kan kuat suaminya.


"Beraninya kau menampar pipi putraku," kata Satrio sambil melepaskan jambak'kanya secara kasar sehingga membuat Refa menjatuhkan air mata.


"Aku tidak bermaksud menampar Rafan."


Satrio membuang nafas kasar.


"Tanganku spontan menampar Rafan karena dia terus membela wanita kotor itu!"


PLAKK..


Satrio melayangkan tamparan keras ke wajah Refa.


"Bagaimana rasanya? Sakit bukan?" Refa menangis sejadi-jadinya di hadapan Satrio.


"Jangan menyakiti putraku, jika kau melakukannya lagi aku akan langsung menceraikan mu," ujar Satrio, lalu berlalu pergi.

__ADS_1


Refa sangat mencintai Satrio dari dulu sampai detik ini, meski selalu dapat perlakuan kasar dan sering melihat Satrio menghabiskan malam dengan wanita lain, Refa tetap menerima semua itu.


Hanya demi Rafan, Satrio mempertahankan pernikahan yang belasan tahun terjalin tanpa adanya cinta dan kasih sayang terhadap Refa, karena sampai detik ini pria itu masih mencintai mantan kekasihnya dulu yang sekarang telah hidup bahagia dengan pria lain.


Saat mengingat kenangan masa lalu yang terjalin antara dirinya dan sang mantan, Satrio marah, kesal dan melampiaskan semuanya kepada Refa. Memukul, menampar, membentak semua itu sering sekali di rasakan Refa. Akan tetapi, Rafan tak pernah mengetahui perlakuan kasar Satrio kepada ibunya yang Refan tahu dari dulu hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis terlihat, hanya itu yang ia tau.


Jika Satrio melampiaskan amarahnya, ia memukuli Refa di dalam kamar dan Rafan tidak pernah mengetahui itu semua, bahakan isak sang ibu tak dapat terdengar oleh Rafan yang selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar.


\*\*\*\*\*


Jam menunjukan pukul dua siang, Refa duduk di cafe menunggu seseorang. Tak lama, datanglah seorang gadis berkemeja lengan pendek dan rok di atas lutut menunjukan jenjang kakinya yang mulus.


"Ada apa anda menyuruhku kesini?" tanya gadis itu sambil mendudukkan bokongnya ke atas kursi.


Refa memandang gadis di depannya dengan tatapan rendah, kemudian ia mengeluarkan amplop putih yang berisi segepok uang, lalu uang tersebut di lemparkannya ke wajah Ransi.


"Jauhi Rafan. Jika uang itu kurang aku akan menambahnya berapapun yang kau mau."


"Goda saja pria lain di luar sana dan berhentilah menggoda putraku!" bentak Refa.


Ransi mengepalkan jari-jarinya menahan emosi.


"Sudah berapa banyak pria yang menyetubuhi dirimu? Yah memang itu pekerjaan wanita kotor seperti mu wajar saja jika kau mendapatkan uang dengan cara hina! Apa penghasilan mu itu masih kurang untuk memenuhi hidupmu. Jika masih kurang, aku bisa memberimu uang ratusan juta bahakan lebih. Namun, kau harus jauhin Rafan dan berhentilah jadi parasit bagi anakku."


BRAKK..


Ransi menggebrak meja dengan tangannya, emosi yang sedari tadi ia tahan kini tak mampu lagi membuat dirinya berdiam diri.

__ADS_1


"Jaga bicara anda. Bukan aku yang menggodanya, tapi anakmu lah yang selama ini mengejar-ngejar cinta ku.


"Sombong sekali kau perempuan rendah!"


"Jika anda meminta ku untuk menjauhi Rafan, aku akan melakukan hal sebaliknya. Membuat Rafan menghamili ku, lalu aku akan meminta pertanggung jawaban kepadanya, selanjutnya aku akan membeberkan aib tersebut ke publik, sehingga orang-orang di luar sana tau betapa bejatnya anak dari seorang dokter  hebat dan ternama. Bagaimana? Apa permainan ini menarik bagimu?" Ransi berkata dengan menatap dalam Refa dan gadis itu berlalu meninggalkan Refa yang terdiam dan berusaha menarik nafas panjang menstabilkan dirinya yang terbalut amarah.


"Baiklah! Aku akan menunjukan permainan yang membuatmu merasa tersiksa." Batin Refa sambil memandang tubuh Ransi yang semakin jauh terlihat.


Wanita itu mengambil kembali amplop berisi uang dan memasukannya ke dalam tas.


Meskipun Ransi memerlukan uang, ia tak sedikit pun  melirik amplop tersebut.


Hinaan yang terlontar dari mulut Refa membuat hatinya sesak dan sulit untuk bernafas. Ransi membiarkan dirinya duduk di bangku taman sambil menangis mengingat perkataan yang begitu merendahkannya.


Mata Ransi yang masih mengeluarkan air mata, tak sengaja memandang lelaki yang ia kenal.


"Bang Adzriel," sebut Ransi pelan saat melihat abangnya berjalan menuju ke motor beat yang terparkir di pinggir taman.


"Sudah dua kali aku melihat Bang Adzriel berada di sekitaran taman. Apa yang ia lakukan di taman ini?" batin Ransi bertanya-tanya sembari menghapus air matanya.


\*\*\*\*\*


Ara berdiri mendongakkan kepala memandang cahaya bintang yang menerangi malam, Furqon pun melakukan hal yang sama di depan teras rumahnya.


"Bukankah bintang-bintang itu sangat indah," kata Furqon tanpa mengalihkan pandangannya, sementara Ara  memandang Furqon dari depan teras rumahnya.


"Kamu menyukainya?" tanya Ara.

__ADS_1


"Yah aku menyukainya. Menyukai gadis berpakaian syari  yang sedang memandang bintang-bintang di atas langit," jawab Furqon seraya tersenyum ke arah Ara.


"Kamu menyukainya atau merasa kasihan? Ku rasa keduanya tak jauh berbeda," batin Ara.


__ADS_2