
Ransi membawa beberapa minuman beralkohol pesanan beberapa bos besar yang sudah menempa meja bernomor 15. Setelah meletakan pesanan ke atas meja Ransi duduk di samping pria yang sudah berumur sambil membukakan minuman yang tadi di bawanya.
Pria itu dengan santainya menyentuh tubuh Ransi sembari melempar senyum penuh nafsu. Apa yang bisa gadis itu perbuat, ini lah pekerjaan yang ia geluti setiap malam.
"Ayok kita ke kamar atas," ajak pria tersebut.
Club Neptu tempat Ransi bekerja tersedia kamar-kamar dengan fasilitas yang tak jauh mewah dari kamar hotel berbintang, tamu-tamu yang datang pun kebanyakan orang-orang dari kalangan menegah atas. Selain pria-pria yang telah berumur para muda mudi pun berkumpul menjadi satu di dalam ruanga yang diiringi DJ profesional ditambah dengan lampu sorot yang menjadi ciri khas club tersebut.
Ingin sekali Ransi menolak, namun apa daya saat ini ia benar-benar membutuhkan uang. Ransi pun mengikuti pria hidung belang itu masuk ke dalam kamar yang terdapat di lantai atas. Di dalam kamar Ransi duduk di atas kasur memasrahkan apa selanjutnya yang akan terjadi padanya.
"Aku tidak akan menyetubuhi mu. Ini uang kes lima juta, aku hanya akan menyentuh mu," ucap pria tersebut sambil memberi Ransi uang kes yang berjumlah lima juta.
Mendapat uang lima juta? Sangat bodoh jika Ransi menolak tawaran tersebut.
"Bagaimana? Kau setuju?"
"Yah, anda bisa memulainya sekarang."
Pekerjaan hina, memang benar demi mendapatkan uang Ransi akan melalui segala cara meski harga dirinya menjadi taruhan.
Satu jam berlalu,
Pria itu menghentikan aktivitasnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tangan dan membasuh mukannya.
Hal ini sudah sering dilakukannya, menahan rasa sakit itu hal yang biasa bagi Ransi. Hampir setiap hari tangan dan jari-jari manusia ******** itu meraba tubuhnya.
"Terimakasih sudah memuaskanku, nikmatilah uang itu. Aku akan memesanmu lagi jika kembali ke tempat ini."
©©©©©
Di sore hari udara terasa begitu sejuk, membuat Ara berkencan dengan angin yang sesekali menembus kulitnya. Di teras rumah ia berdiri sambil memandang langit yang nampak menyombongkan keindahan.
Hari libur di tanggal merah ia menghabiskan waktu di rumah dan tak ada niat untuk keluar meski hanya berkunjung ke rumah Sasya, gadis yang sebaya dengannya dan tinggal di RT sebelah. Jarak rumah mereka pun cukup jauh, Sasya dan keluargannya tak pernah memandang rendah keluarga Ara dengan tulus Sasya mau berteman dengan Ara.
"Ara, apa kakakmu yang cantik itu ada di rumah?" tanya Baron, pria tua bangka yang menyukai Ransi dari dulu sampai sekarang.
"Untuk apa menanyakan kakaku," jawab Ara ketus.
"Aku sangat merindukannya."
Ara tak merubik perkataan yang amat sangat tidak penting baginya dan lebih memilih masuk ke dalam rumah.
"Ara, bilang sama Ransi aku begitu merindukannya," jerit Baron di depan pintu, lalu ia pergi bersama dua anak buahnya menuju ke peternakan.
Baron atau sering di panggil dengan sebutan juragan Baron adalah orang terkaya di lorong Venus, siapa yang tak mengenal pria kaya tersebut, semua orang pasti tau siapa itu juragan Baron.
__ADS_1
"Siapa yang jerit-jerit di luar rumah?" tanya Ransi yang baru bangun dari tidurnya.
"Selingkuhan kakak," jawab Ara sambil berjalan ke arah dapur.
"Selingkuhanku? Siapa?" Ransi mengikuti langkah adiknya.
"Siapa lagi kalo bukan juragan Baron."
"Najis!" Ransi memasang ekpresi geli mendengar nama Baron di sebut Ara.
"Hehehe," kekeh Ara.
Tok..tok..
Ketukan pintu yang keras terdengar membuat Ara berniat untuk membukannya.
"Biar kakak saja yang buka." Langkah Ara terhenti saaat Ransi mencegahnya.
Ransi berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu, di dapati Adzriel yang langsung masuk ke dalam rumah.
"Mana tiga juta yang aku minta."
Ransi langsung buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mengambil sejumlah uang, Adzriel pun ikut masuk ke dalam kamar adiknya dan mengambil paksa semua uang Ransi yang ada di dalam dompet.
"Jangan di ambil semua, Bang."
"Untuk apa? Untuk membeli barang haram itu lagi, mau sampai kapan abang seperti ini!" jerit Ransi dengan perlahan meneteskan air matanya.
Setelah mengambil semua uang Ransi, Adzriel melempar dompet tersebut ke wajah adiknya.
"Gak usah banyak omong! Fokus saja mencari uang untuk memenuhi kebutuhanku," ucap Adzriel dan berlalu pergi.
Ransi terduduk lemas di pinggir lemari pakaian.
Ara hanya dapat melihat kakaknya dari depan pintu kamar, air mata gadis itu pun ikut terjatuh. Namun, apa yang bisa ia lakuakan, hal ini sudah sering terjadi. Selalu saja Ransi menangis karena prilaku bapak dan juga abangnya.
Ara yang berniat ingin menghabiskan hari libur di rumah kini mengurungkan niatnya, ia pergi keluar untuk mengunjungi rumah Sasya. Di depan teras ia bertemu dengan Furqon yang ingin pulang ke rumah.
"Ara, kamu mau kemana?" tanya Furqon, dengan cepat Ara menghapus air mata yang masih sesekali terjatuh.
"Kali ini apa lagi alasan air matamu terjatuh." Furqon membatin sambil menatap ke arah Ara.
Meski Ara menutupi kesedihannya, Furqon tetap bisa merasa dan melihat tangis yang terisak di dalam hati gadis yang ia sayangi. Sejak dua tahun belakangan ini Furqon telah menaruh hati terhadap tetangganya itu.
Bukan kasihan atau hanya sekedar bersimpati, Furqon sangat tulus menyayangi Ara sebagai seseorang yang spesial di dalam hatinya. Lelaki itupun berniat akan meminang Ara jika sudah lulus sekolah. Ustadz dan ustadzah selaku orang tua Furqon menyetujui semua itu dan mereka berharap Ara mau menerima Furqon suatu hari nanti.
__ADS_1
"Aku ingin ke rumah Sasya," jawab Ara.
"Aku akan menemanimu." Dengan cepat Furqon berjalan ke tempat Ara berdiri sembari tersenyum hangat.
"Apa tidak apa-apa kamu menemaniku."
"Tentu saja tidak apa-apa."
Ara dan Furqon berjalan bersamaan menuju rumah Sasya, saat mereka melewati warung buk Ija tatapan sinis dan cibiran terlintas untuk Ara.
"Masih aja si Furqon mau bergaul sama Ara."
"Pasti Ara mengoda dan mengemis-ngemis untuk meminta perhatian Furqon, seperti Ransi yang menjadi perempuan pengoda."
"Namanya juga bersaudara, pasti gak ada bedanya. Hanya saja Ara bersikap sok alim padahal si sama aja kayak Ransi."
Air mata yang sudah berhenti mengalir, kini terjatuh lagi. Ara berlari meninggalkan Furqon yang terus memanggil-manggil namanya.
"Ara, Ara!"
Lain halnya dengan Ransi, gadis itu kembali membuka pintu saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Rafan?"
Lelaki tersebut langsung memeluk tubuh Ransi.
"Hey apa yang kamu lakuakan? Jika tetangga melihatmu memelukku di depan rumah apa kamu ingin aku di usir dari rumah ini," cecar Ransi.
Rafan langsung melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam rumah.
Ransi menutup pintu, lalu menghampiri Rafan yang sudah terduduk di atas kursi.
Ada raut kegelisahan di wajah Rafan yang dapat Ransi lihat. Jika Rafan sudah berekspresi seperi itu, bisa di pastikan lelaki itu sedang mengalami masalah.
"Ada apa?" tanya Ransi lembut sambil mengelus pelan rambut kekasihnya.
Rafan menatap dalam manik mata Ransi, lalau mengenggam kedua tangan gadis yang ada di hadapnnya.
"Aku mencintaimu dan kamu tau itu, Ran."
"Lalu?"
"Aku takut, nantinya tidak bisa melindungi mu lagi." Rafan benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kekahwatirannya dan terlihat jelas bahwa ia sedang rapuh saat ini.
Ransi tersenyum hangat seraya berkata, "Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir, Raf."
__ADS_1
Rafan kembali memeluk tubuh Ransi dengan begitu erat seolah ingin menghentikan waktu sekarang juga, agar ia mampu mencium tubuh Ransi yang beraroma Vanila.