Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 16


__ADS_3

“Hubungan kita berakhir samapi disini saja Ran, aku tak ingin melanjutkannya lagi."


Perkataan itu seolah mengikuti setiap hembusan nafas Ransi. Namun, Ransi merasakan hal yang sama seperti dua tahun yang lalu, rasa yang biasa-biasa saja saat bersama Rafan. Akan tetapi Ransi merasa kesunyian ketika Rafan tak lagi melukis kisah cinta di dalam hari-hari yang ia lalui.


"Mungkinkah aku mencintainya? Tentunya tidak, karena cintaku hanya untuk seorang pria pemilik gelang kayu berwarna coklat. Jika saja Rafan pemilik gelang tersebut, pastinya hati ini akan bergetar hebat saat aku bersamanya." Ransi terus membatin di dalam hati.


Ransi melangkahkan kaki berjalan ke arah bangku taman tempat biasa ia menghirup udara segar untuk menenangkan pikiran. Di bangku panjang berwarna putih Ransi melihat seseorang duduk sambil mendongakkan kepalanya melihat langit.


"Gavin?" sebut gadis itu heran mengapa Gavin bisa ada di taman.


Terdengar Ransi menyebut namanya, Gavin menoleh dengan melepas senyum. Ransi yang masih bingung kenapa Gavin bisa duduk di bangku taman mengambil duduk disampingnya.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu duduk di bangku taman," ucap Ransi dan lagi-lagi Gavin memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang ke arah tubuh gadis yang  duduk tak jauh darinya.


"Aku menyukai aroma vanila tubuhmu," balas Gavin dengan kembali menatap ke arah langit.


"Ngg."


"Hubunganmu dengan Rafan benar-benar sudah berakhir?" pertanyaan Gavin membuat Ransi menatap bingung.


"Bagaimana kamu bisa tau tentang hubunganku dengannya."


"Aku melihatnya begitu rapuh di dalam kamar. Rafan menangis, isaknya pun sangat jelas terdengar."


"Melihatnya? Kamar? Maksudmu?" pertanyaan bertubi-tubi yang Ransi lontarkan membuat Gavin menatap dalam.


"Aku dan Rafan adalah saudara sepupu."


“Apa aku manusia bodoh yang baru tahu hal sepenting ini. Baik Rafan maupun Gavin terlihat biasa-biasa saja saat berada di sekolah benar-benar tidak menggambarkan bahwa mereka saudara sepupu. Bahakan Rafan yang tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari ku kini memilih bungkam tentang siapa Gavin sebenarnya." Batin Ransi tanpa beralih menatap Gavin.


"Ran, apa kamu mencintai Rafan? "


Aku bingung harus menjawab apa. Namun, diantara aku dan Rafan sekarang hanya berstatus sebagai mantan kekasih, jadi tidak ada salahnya jika aku jujur kepada Gavin tentang apa yang aku rasakan. Lagi pula Rafan tak ada disini, ia tidak bisa mendengar apa yang aku katakan tentang kejujuran hati ini. Ransi tak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang ia rasakan sekarang mengenai perasaannya terhadap Rafan.


"Kamu mencintainya?"


"Tidak," jawab Ransi dengan menundukkan pandangan.


"Jawaban macam apa itu? Jika tidak, apa yang kau rasa selama menjalin hubungan dengan Rafan."


"Aku mencintai pria pemilik gelang kayu berwarna coklat. Aku tidak pernah mencintai Rafan. Namun, aku berusaha untuk memantapkan hati ini agar suatu saat bisa mencintainya. Akan tetapi, rasa ini tetap tidak bisa berbohong, aku-" perkataan Ransi tiba-tiba terhenti saat melihat seorang lelaki berdiri di sampingnya dengan memakai jaket berwarna coklat tua.


"Rafan."


Bagaimana mungkin kehadiran Rafan tak ia rasakan. Bagaimana Ransi menjelaskan semua ini kepadanya. Terlihat sekali raut wajah Rafan di penuhi amarah dan  kekecewaan saat ia menatap manik mata Ransi.


"Raf, dengarkan penjelasan ku."


"Apa artinya dua tahun ini Ran jika kau tidak mencintai ku."


"Sejak kapan kamu ada disini, Raf?" tanya Gavin terkejut dengan keberadaan Rafan.


Rafan tak menjawab pertanyaan sepupunya itu, ia terus saja menatap ke arah Ransi dengan tatapan sendu.


"RANSI!" Rafan menyebut nama Ransi dengan nada membentak.


"Maafkan aku Raf semua yang kamu dengar memang benar bahwa aku tidak pernah mencintaimu."


Rafan membuang nafas kasar dengan mata yang telah memerah.


"Selama ini aku selalu ada untukmu Ran, aku sangat mencintaimu, ku terima semua kekurangan yang ada pada dirimu tanpa pernah mempermasalahkan pekerjaan hina mu itu! Aku berani membantah perkataan mama demi membela dirimu. Kamu melakukan hubungan dengan papaku, aku masih bisa menerima mu sebagai kekasihku. Aku mencintaimu apa adanya."

__ADS_1


"Raf."


"Dua tahun ini apa semuanya masih belum cukup, Ran."


"Rafan maafkan aku," Ransi menangis dihadapan mantan kekasihnya itu, membuat Rafan tersenyum hampa.


"Kamu balas cinta tulus ku ini dengan rasa sakit yang akan terus membekas."


Ransi menangis sejadi-jadinya di hadapan Rafan dan juga Gavin. Bukan ini yang gadis itu inginkan, tak ada sedikit pun niat Ransi untuk menyakiti pangeran seperti Rafan.


"Tatap aku Ran," pinta Rafan, Ransi berdiri menatap dalam matanya.


“Katakan jika kau mencintaiku. Meskipun kau mengucapkan kebohongan aku akan tetap menerimanya Ran. Ku mohon katakanlah!" pinta Rafan memohon.


"Maaf Raf aku tidak bisa mengatakannya karena aku tidak mencintaimu, sebisa mungkin aku mencoba namun hasilnya tetap sama Raf, aku tak bisa menyakitimu lebih jauh lagi. Maafkan aku."


"Meskipun dengan kebohongan kau tetap tidak bisa melakukannya."


Rafan perlahan memundurkan langkahnya.


"Terimakasih Ran untuk rasa sakit ini aku akan selalu mengenangnya. Keputusan ku mengakhiri hubungan kita adalah keputusan yang tepat dan ku harap aku bisa menerima kerapuhan ini tanpa adanya penyesalan."


"Rafan," lirih Ransi memanggil namanya saat Rafan pergi menjauh.


Ransi terduduk di atas rerumputan rindang dengan terus menjatuhkan air mata seraya membatin. "Mengapa aku bisa sekejam ini pada Rafan. Tidak bisakah aku memantapkan hati ini kembali, tapi jika hasilnya tetap sama itu akan membuat Rafan bertambah sakit nantinya. Yah inilah jalan yang harus ku hadapi, jalan tanpa ada sosok pangeran seperti Rafan. Tentunya Rafan akan membenciku sangat membenciku."


"Kamu harus kuat Ran. Hatimu berkata kejujuran dan air mata akan terus mengiringi langkah panjang mu," ucap Gavin sambil menepuk pelan bahu Ransi.


Untuk saat ini Ransi tidak ingin berpikir apa maksud perkataan Gavin yang membuatnya tak mengerti. "Namun 'Air mata akan terus mengiringi langkahmu aku tau itu Gav, air mata akan terus mengusik kehidupanku bahkan sebelum aku mengenal dirimu," ucap Ransi dengan menatap Gavin.


 


\*


 


Canda, tawa, senyum, tatapan, sifatnya yang manja dan polos, aku merindukan semua itu Raf. Semua tentang mu dan kenangan saat kita bersama. Meski harus berkata bohong tetap saja bibir ini tak bisa berucap saat kau menyuruhku untuk bilang Aku Mencintaimu


Cinta Ransi dia adalah seorang pria pemilik gelang kayu berwarna coklat dan sampai kapanpun gadis itu akan tetap menunggu pria itu menjemputnya seperti bagaimana janjinya dulu.


Ransi berjalan di bawah terangnya rembulan malam dengan mengenakan dress mini, tatapan para manusia-manusia yang berlalu lalang membuatnya sangat risih. Tapi, sekarang ia harus terbiasa untuk itu semua, sebab tidak adak lagi sosok Rafan yang mengantar jemput dan rela memberikan jaket yang ia pakai untuk menutupi tubuh Ransi seperti malam-malam yang telah berlalu.


"Sayang kau sangat menggodaku malam ini. Mari aku antar ke club Neptu."


"Brengsek! Suara pria yang sangat ku benci mengapa bisa terdengar di indra pendengaran ku." Ransi menggerutu pelan.


"Ayolah sayang."


"Sumpah demi apapun aku sangat membenci Baron. Pria itu berhasil menghentikan langkahku dan membuat ku menoleh ke arah mobilnya."


Ransi tidak memperdulikan ucapan Baron dan lebih memilih melanjutkan langkahnya ke club Neptu. Namun, untuk kedua kalinya langkah gadis itu terhenti saat mobil Baron berhenti mengadang jalannya.


"Kurang ajar! Apa yang pria tua ini inginkan. Oh peri dari kayangan jemput aku saat ini juga agar terbebas dari juragan gila seperti Baron," batin Ransi yang sudah mulai kesal.


"Sayang jangan terus menghindar. Aku sangat mencintaimu, jika kau mau menikah dengan ku semua kebutuhan dan keperluan keluarga mu akan aku tanggung."


"Hentikan Baron. Aku ingin bekerja!" ucap Ransi dengan nada membentak.


"Jika nanti aku menjadi suami mu kau tidak perlu bekerja sayang, cukup layani aku dan tugasmu memberikan goyangan setiap malam di atas ranjang. Bagaimana?" Baron berkata sambil menyentuh pelan dagu Ransi.


"Dasar pria tua bangka tidak waras!" lontar Ransi keras, lalu ia berlari ke jalan raya dengan terus bersumpah serapah di dalam hatinya.

__ADS_1


 


\*


 


"Furqon, jika kamu mempunyai kakak seperti kak Ransi apa kamu akan membencinya?" tanya Ara yang duduk di bangku teras.


"Jika kak Ransi kakak kandungku, aku akan sangat bersyukur karena Allah Azza Wajalla memberikanku seorang kakak berhati malaikat seperti kak Ransi." jawab Furqon sambil berdiri menatap langit di teras rumahnya.


"Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Kak Ransi adalah perempuan yang luar biasa dan sangat bertanggung jawab untuk kelurganya. Mungkin jika aku di posisinya aku tidak mampu sekuat dan setegar dirinya dalam menjalani cobaan hidup."


Ara tertunduk diam.


"Memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai mu sekolah, ia tidak kenal lelah untuk melakukan itu semua meski aku tau hatinya ingin menjerit kencang bahwa dirinya tak setegar yang terlihat."


"Kamu tau Furqon, aku menyayangi kak Ransi namun aku juga membencinya," ujar Ara pilu.


"Apa alasanmu membenci kak Ransi? Apa karena pekerjaannya?"


"Ngg."


"Jika itu alasannya mengapa sampai sekarang kamu masih tetap sekolah? Bukankah kamu membenci kak Ransi, kakak yang mempertaruhkan harga dirinya demi melihat adiknya berhasil dikemudian hari."


Perkataan Furqon seperti tamparan dahsyat dalam benak Ara. Gadis itu menjatuhkan air mata, tak seharusnya ia membenci kakaknya sendiri hanya karena bekerja di club malam dan selalu mendengarkan bisikan tetangga sekitar yang teramat tidak penting.


"Terima kasih Furqon, perkataan mu membuat ku sadar bahwa seharusnya aku memberi dukungan untuk kak Ransi bukan malah membencinya."


Furqon tersenyum ke arah Ara yang masih tertunduk.


"Meski pekerjaannya hina. Akan tetapi kak Ransi yang memberiku warna kehidupan, tanpa dia mungkin aku tidak bisa bertahan mengingat perlakuan bapak dan bang Adzriel yang selalu kasar." Lanjut Ara.


"Ara setelah kita lulus nanti aku akan langsung melamar mu."


Spontan Ara memandang bingung ke arah Furqon. Gadis itu berpikir apa yang di ucapkan Furqon barusan adalah halusinasi yang benar-benar membuatnya tak tau ingin berkata apa. Belum lama membahas Ransi, mengapa Furqon bisa berkata seperti itu. Yah namanya juga anak muda sulit untuk dipahami masa labilnya.


"Ngomong apa sih? Gak jelas banget."


"Hehehe," kekeh Furqon pelan.


"Emangnya kamu gak mau nikah sama aku, Ra?"


"Yah maulah, mau banget malahan." Reflek Ara menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ciye yang mau," goda Furqon membuat Ara tersipu malu.


"Apaan sih Furqon."


"Masuk sana udah larut. Aku bakal ngawasin kamu dari dalam rumah sampai kak Ransi pulang," suruh Furqon.


"Buat apa ngawasin aku, lebih baik kamu juga tidur besok kan mau sekolah."


Selalu saja setiap malamnya Furqon melakukan hal itu, menjaga Ara dari balik tembok rumahnya. Di sekolah Furqon tak henti-hentinya menguap karena sangat mengantuk akibat mengawasi Ara sampai ayam berkokok dengan nyaringnya. Furqon melakukan semua itu semata-mata untuk melindungi Ara dari kekejaman pak Karisna dan juga Adzriel yang bisa saja memukuli Ara jika pulang larut malam. Jika sampai itu terjadi Furqon akan menjadi pahlawan untuk gadis yang ia cintai.


"Udah masuk sana. Ayo buruan."


"Iya-iya," ujar Ara sambil melangkah masuk.


"Terlelaplah bidadari ku, aku akan menjagamu dari kejauhan," batin Furqon dengan menatap pintu rumah Ara yang telah terkunci rapat.

__ADS_1


__ADS_2