Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 13


__ADS_3

Tetesan hujan mulai membasahi bumi, hembusan udara pun berubah menjadi dingin di tambah angin yang bertiup cukup kencang. Azalea  berjalan menuju ke rumah. Namun, ia tak merasa bila bajunya basah akibat hujan yang mulai deras, sementara rasa dingin itu semakin menjadi membasuh tubuhnya.


Azalea menghentikan langkah, ia menjulurkan tangan kirinya ke depan agar terkena tiap tetesan hujan yang turun, yah tangannya mulai basah. Namun,  tubuhnya tak sedikit pun terkena air hujan. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, karena seorang pria memayungi Azalea di sepanjang perjalanan, sementara tubuh pria itu basah kuyup karena hujan yang semakin deras, tangan kanannya yang sedari tadi memayungi Azalea kini mulai gemetaran.


"Apa kamu tidak lelah melakukan hal yang sama di setiap turunnya hujan."


"Mengapa aku harus lelah melindungi orang yang ku cinta."


"Ku mohon berhentilah sampai disini," ucap Azalea yang terdengar pilu.


"Azalea."


"Aku tidak mau mendengarnya!" teriak gadis itu di sela derasnya hujan.


Azalea menjatuhkan tongkat dan menutup kedua telinga dengan tanganya.


"Pergilah!"


Pria itu diam mematung di hadapan Azalea, lalu ia melepaskan payung yang sedari tadi di pegang, di peluknya tubuh Azalea yang mulai basah.


"Jangan membuat ku bingung dengan perasaan ini," lirih Azalea sembari memukul pelan dada bidang pria yang memeluknya.


"Kamu adalah bungaku dan selamanya akan tetap seperti itu."


Azalea meraba-raba Mata, hidung, bibir, dan pipi pria berkemeja putih tersebut. Pria itu memegang tangan Azalea yang berhenti di pipinya.


Tak perduli apa yang pernah terjadi di masa lalu, Azalea tetap mencintai pria yang selalu menerobos masuk ke dalam hidupnya. Kebencian yang ada di benaknya dengan mudah dapat dikalahkan oleh besarnya cinta yang ia rasakan.


Terasa sesak ketika masa lalu itu menari-nari di dalam pikirannya. Saat dimana tangan pria hina itu meraba-raba seluruh tubuhnya, lidah yang membasahi leher dan hentakan keras sampai merobek selaput darahnya. Belum puas dengan semua itu, kedua mata Azalea pun dibuat buta oleh manusia kotor pemilik liontin perak berbentuk hati.


\*\*\*\*\*


Ransi melangkahkan kaki kembali ke meja nomor 14, dari kejauhan gadis itu melihat Rafan duduk bersama seorang pria sambil sesekali melempar tawa, "Pasti itu papa Rafan," batin Ransi.


Ransi terus memasati pria tersebut. Gadis itu berjalan beberapa langkah untuk melihat dengan jelas pria yang duduk di dekat Rafan. Seketika matanya melotot sembari menutup mulut dengan telapak tangan.


"Apa yang harus ku lakukan? Tidak mungkin aku menemui Rafan dan pria itu." Ransi terus membatin di dalam hatinya sambil berlarian keluar resto. Tanpa di sadari Air matanya perlahan terjatuh ditambah hujan yang turun dengan deras membasahi seluruh tubuh Ransi.


"Tidak! Mengapa harus pria itu!" teriak Ransi di tengah derasnya hujan yang tak kunjung reda.


Ransi tidak peduli jika Rafan menunggu dan mencarinya sebab tadinya ia hanya meminta izin ke toilet. Akan tetapi, saat melihat seorang pria yang duduk bersama Rafan di resto,  hatinya seperti teriris menjadi beberapa bagian yang terasa begitu menyayat hingga ke bagian yang paling dalam.

__ADS_1


Jika Rafan tau yang sebenarnya apa ia masih bisa mencintaiku? Mungkinkah dirinya masih ingin melanjutkan hubungan ini, atau bisa saja Rafan akan membenciku seumur hidupnya. Membenciku? Yah ku rasa itu pilihan yang tepat bagi Rafan untuk membenci perempuan kotor seperti diriku. Jerit Ransi dalam hatinya.


Entah kemana langkah akan membawa Ransi pergi, yang jelas air matanya terus mengalir bercampur dengan derasnya hujan yang membasahi bumi. Tubuhnya mulai gemetaran merasakan udara yang begitu dingin. Bahkan untuk berucap pun bibir seolah terkunci.


Kepala Ransi mulai terasa pusing membuatnya pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup, di dalam rumah ia tidak melihat Ara, mungkin saja Ara sedang bermain ke rumah sahabatnya Sasya. Namun, tanpa sengaja Ransi melihat pintu kamarnya terbuka lebar, seperti ada seseorang di dalam sana. Benar saja, pak Krisna sedang mengobrak-abrik kamar Ransi membuat seisi kamar seperti kapal meledak.


"Pak, apa yang bapak lakukan di kamar ku?" tanya Ransi.


"Apa lagi kalo bukan mencari uang."


"Semua uang ku sudah diambil bang Adzriel sampai tak tersisa, aku tidak memiliki uang lagi, Pak."


Saat Ransi mengatakan tak memiliki uang pak Krisna langsung menarik paksa tangannya dan menghempaskan tubuh Ransi ke atas kasur sambil menjambak kuat rambut anak gadisnya yang terurai panjang.


"Aw! Sakit, Pak" rintih Ransi.


"Aku membutuhkan uang, jika kau tak memberikannya aku akan menyiksa dan membunuhmu!" bentak pak Krisna.


"Aku ti...dak ber..bo...hong," ucap Ransi terbata-bata. Pak Krisna semakin menguatkan jambakkannya.


"Lepaskan kalung mu!" perintah bapak perut buncit itu saat ia memandang liontin perak yang melingkar di leher Ransi.


"Ti...tidak ini liontin pemberian temanku."


Entah cobaan apalagi ini selalu saja takdir yang tak aku inginkan mempermainkan hidupku. Semua uang yang aku punya sudah  di rampas oleh bang Adzriel, liontin perak pemberian Azalea tidak lagi melingkar di leherku. Selanjutnya apa lagi yang akan mereka ambil dariku, haruskah penderitaan ini terus aku rasakan tanpa pernah mencicipi kebahagian walau hanya semenit saja.


Drtt..drt..


Getaran yang bersumber dari ponsel, membuat Ransi menggeser tombol hijau di layar hp.


"Kamu diman Ran, aku dan papa dari tadi nunggu kamu di resto."


Sebisa mungkin Ransi berusaha tak membuat Rafan mendengar tangisnya dan berusaha tenang.


"Tiba-tiba kepalaku pusing Raf dan aku langsung pulang ke rumah."


"Apa sekarang masih terasa sakit?"


"Tidak lagi, kamu tak perlu khawatir. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu, bisakah kamu datang ke rumah ku?"


"Baiklah aku akan ke rumahmu. Tunggulah aku di rumah."

__ADS_1


"Yah baiklah." Ransi menutup telpon, lalu mengambil pakaian yang berserakan di lantai dan menyusunnya. Setelah itu ia membereskan kamar yang sangat berantakan.


Saat ini pikirannya benar-benar kacau dan bingung harus bagaimana melalui semua cobaan yang bertubi-tubi menerpa.


Hujan yang sudah mereda membuat Ransi duduk termenung di depan teras rumah dangan pandangan kosong.


Tin..tin..


"Mobil siapa itu?" batin Ransi bertanya-tanya saat melihat mobil kinclong terparkir di depan rumahnya. Seseorang dari dalam membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah Ransi.


Melihat Rafan yang duduk di kursi pengemudi, Ransi langsung menghampirinya dan masuk ke dalam mobil.


"Tumben bawa mobil, motormu mana?" tanya Ransi heran.


"Motorku masih di resto, papa menyuruh ku memakai mobilnya karena hujan tadi masih deras," jawab Rafan sambil menatap ke arah Ransi.


"Kenapa tidak memberitahuku jika kepala mu pusing. Aku bisa mengantarmu pulang dan membawamu ke rumah sakit."


"Ada apa, Ran?" Rafan menggenggam tangan Ransi berusaha untuk membuat gadis itu tanang.


"Pria yang bersamamu di resto tadi papamu kan, Raf?"


"Iya, dia adalah papaku. Kenapa memangnya?"


Ingin sekali Ransi terjun dari ketinggian agar tewas di tempat saat mendengar Rafan berkata, "Iya, dia adalah papaku."


Ransi menundukkan kepala dan berusaha mengatakan fakta yang pastinya akan menyakiti hati kecil Rafan. Oh Rafan aku sungguh tak menyukai fakta ini. Tapi, inilah kenyataan yang harus aku ungkapkan, aku tak mau jika kamu tau kenyataan ini dari orang lain, itu akan membuatmu tambah merasakan luka mendalam.


"Pria yang bersamamu tadi pernah menyentuh tubuhku di club Neptu."


Rafan melepaskan genggamannya.


"Apa?"


"Aku tidak tau jika pria itu adalah papamu, Raf" Ransi terisak, ia melihat raut wajah Rafan yang tergambar begitu rapuh.


"Jikapun harus membenciku, aku pantas menerimanya."


"Keluar dari mobilku!"


"Raf."

__ADS_1


"KELUAR!" untuk pertama kalinya Rafan membentak Ransi, bentakan kerapuhan yang sebenarnya tak ingin ia lontarkan.


Meskipun Ransi mengucapkan kata maaf, itu tetap tak bisa merubah segalanya. Apapun keputusan Rafan Ransi harus bisa menerimanya.


__ADS_2