Kepompong Kupu-Kupu

Kepompong Kupu-Kupu
Bab 33


__ADS_3

Hasil sidang sudah di putuskan, Zayan ditetapkan bersalah dan menerima hukuman 12 tahun penjara atas kasus pemerkosaan serta kasus penganiayan seorang wanita di belakang lapangan lorong Venus. Saksi pun di hadiri dalam sidang dan memberi kesaksian tentang apa yang di lihatnya.


Hari dimana sidang itu di selenggarakan, Ransi tidak ada disana. Ia memilih untuk berdiam diri di rumah sampai hakim memutuskan semuanya. Ransi duduk di ruang tamu dengan rasa takut, meski ia percaya Zayan tidak mungkin melakukan perbuatan bejat yang membuat seorang wanita sampai depresi dan harus mendapatkan perawatan.



*PLAK*..



"Perempuan kotor selamanya akan tetap menjadi perempuan kotor! Bahkan suamimu yang alim itu mengikuti perbuatan kotor mu! Teganya dia membuat putriku sampai harus mendapatakan perawatan karena depresi."



Tamparan keras yang di layangkan ibunda Sasya membuat Ransi memegangi pipi sebelah kanannya.



"Duabelas tahun tidaklah cukup untuk menebus semuanya, Zayan harus di hukum mati atas apa yang telah ia perbuat," rontak buk Ainda.



"Apa? Duabelas tahun."



Ransi menggenggam jari\-jarinya, cairan bening yang di tahannya sedari tadi kini tumpah membanjiri pipi mulusnya.



"Neraka memang tempat yang pantas untuk kau dan juga suamimu yang hina itu. Katanya sudah berhijrah , tapi tetap saja tidak ada yang berubah dari dirimu perempuan HINA!" bu Ainda menekan kata hina diakhir kalimat sambil memukuli tubuh Ransi.



"Arghh tidak. Zayan tidak mungkin di hukum duabelas tahun, dia tidak bersalah." Ransi lemas, rasa sesak itu kembali terasa. Ia tak perduli jika buk Ainda memukuli tubuhnya terus\-menerus.



\*\*\*\*\*



Ransi dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Awalnya ia tidak percaya dengan apa yang di katakan buk Ainda. Namun, setelah Gavin mengatakan keputusan hakim, Ransi langsung tak sadarkan diri. Wajhnya pucat, bibir kering dang tubuh yang sangat lemas sampai berjalan pun ia harus di bantu oleh orang lain.


__ADS_1


Ara menangis melihat abang iparnya mendekam di penjara sementara kakak kandungnya mendapat perawatan di rumah sakit, kedatangan Ara ke Palembang hanya beberapa hari namun dengan adanya peristiwa yang menimpa sang kakak, Ara harus lebih lama berada di Palembang, sementara Furqon pulang ke Jambi mengurus dan menjaga Alya karena ummi dan abi'nya harus berangkat ke luar kota untuk berdakwah.



"Ran, sebaiknya kamu makan jika tidak kondisimu akan semakin parah," ucap Gavin sambil meletakan bubur dan segelas air putih ke atas meja.



Ransi memandang lurus ke depan.



"Kamu tidak boleh menyakiti dirimu sendiri, Zayan akan semakin sedih jika tau kondisimu saat ini," lanjut Gavin dan mengambil duduk di atas kursi.



"Jika hakim sudah memutuskan, itu artinya Zayan bersalah?"



Gavin terdiam saat Ransi menanyakan hal itu.



"Ku rasa ada yang terlewat dari penyelidikan kasus ini."




Gavin memandang ke arah Ransi seraya berkata, "Apa kamu meragukan suamimu sendiri, Ran?"



"Sebisanya aku percaya. Namun, hati ini berkata lain."



\*\*\*\*\*



Ara berjalan dengan langkah terburu\-buru, ia mencari kamar tempat Sasya di rawat. Demi keadilan abang iparnya, Ara rela mendapatkan hinaan dari keluarga Sasya karena ia meminta izin untuk menemui temannya itu di rumah sakit. Awalnya buk Ainda selaku orang tua Sasya menolak bahkan berani menampar Ara. Namun, saat Ara berkata, "Meski bang Zayan sudah di tetapkan sebagai tersangka, aku yakin dia tidak pernah melakukan perbuatan kotor itu. Namun, jika Sasya memberi kesaksian dan berkata jujur tentang semua yang terjadi pada siang itu dan bang Zayan memang terbukti brsalah, aku pastikan kak Ransi akan ikhlas mengizinkan bang Zayan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sasya." Mendengar Ara begitu yakin dengan ucapannya, buk Ainda memberi izin Ara menemui Sasya yang masih berada di rumah sakit.


__ADS_1


*Cklek*



Ara membuka pintu bertuliskan Melati 2, ia melihat Sasya sedang berdiri sambil menatap ke luar jendela dengan pemikiran kosong bahkan Sasya tidak menyadari jika Ara berdiri di sampingnya.



"Sasya," panggil Ara lembut membuat perempuan berkuncir kuda itu menoleh ke sumber suara.



Sejak SMP Sasya dan Ara berteman akrab. Jadi sedikit banyak Ara bisa mengerti bahasa isyarat yang selalu di peragakan Sasya.



Setelah kejadia pada siang itu, Sasya belum memberi keterangan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Dokter pisikolog meminta polisi untuk memberi waktu sampai Sasya benar\-benar pulih dan sehat kembali.



Ara memandang sendu wajah temannya itu, ia sangat perihatin dengan kondisi Sasya yang mengalami luka memar di area wajah serta tubuhnya.



Sasya menangis melihat Ara di sampingnya, tergambar sekali jika Sasya mengalami ketakutan yang mendalam.



"Sasya bukan bang Zayan pelakunya, Kan?"



Air mata Sasya semkin mengalir deras, seolah memberi tahu bahwa dirinya begitu hancur saat mendengar nama Zayan disebut.



Sasya terduduk sambil menjambak\-jambak rambutnya serta membenturkan kepala ke dinding.



"Sasya apa yang kau lakukan. Dokter, dokter" Ara mencoba menenangkan Sasya dan terus menjerit\-jerit memanggil dokter.



Dokter pun masuk bersama beberapa suster, melihat kondisi Sasya yang seperti itu dokter langsung menyuntikan obat bius ke tubuh Sasya. Di menit selanjutnya Sasya tertidur akibat pengaruh obat bius.

__ADS_1



"*Hari ini tidak berhasil, tapi aku percaya di lain hari kamu akan memberi kesaksian yang sebenarnya, Sasya*." Ara membatin sambil melihat ke arah Sasya yang tidur dengan tangan di infus.


__ADS_2