
Tiga bulan sudah Gavin tinggal satu atap bersama Ransi di dalam apartemen. Menghabiskan waktu bersama, melakukan hal gila, tertawa serta tersenyum hangat, dengannya Gavin mampu melakukan semua itu. Naif bila ia tidak mencintai Ransi, yah Gavin sangat mencintainya. Pertama kali mencium aroma tubuhnya rasa itu sudah bergetar hebat tak terkendali. Mungkinkah hanya hasrat? Rasa suka atau cinta?
Hari-hari yang Gavin lewati saat bersama Ransi membuatnya takut kehilangan sosok Ransi di dalam hidupnya, lelaki itu ingin memiliki Ransi seutuhnya bukan hanya tubuh namun juga hatinya. Sebut Gavin egois karena begitu mencintai Ransi, tapi apa itu salah? Mungkin saja tidak, karena cinta yang Gavin rasa tumbuh dan mengalir secara natural tanpa paksaan.
Namun, jika menyangkut tentang rasa haruskah bisa terlupakan begitu saja? atau lebih memilih mengungkapkan meski sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di dalam kehidupan bisakah setiap orang memilih pasangannya masing-masing, jika bisa lalu bagaimana dengan kisah cinta yang tak bertuan. Tidak, sekeras apapun memberontak tetap tak kan bisa mengubah alur yang telah tertulis.
Cinta yang tubuh tak dapat untuk di kubur begitu saja, meski tanpa percikan air yang membantu prosesnya, cinta itu akan tetap tumbuh seiring detak jarum jam yang berputar.
Jikapun akan ada hati yang patah, tak menutup kemungkinan hati itu akan utuh kembali meski tak sama seperti sedia kala.
Bukankah setiap orang harus menjalankan perannya masing-masing, yah tentu saja. Seperti peran yang harus dimainkan Gavin, lelaki itu menginginkan cintanya selalu hadir menemani setiap langkah yang ia jelajahi. Namun, jika Gavin bertugas sebagai peran utama, lalu siapa yang akan mendampinginya. Mungkinkah Ransi? atau akan ada sosok putri dari negri dongeng yang akan masuk menerobos relung hatinya? yah kedua kemungkinan itu bisa saja terjadi sesuai takdir yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Gavin duduk di koridor rumah sakit dengan perasaan tak karuan, kali ini ia menyuruh Ransi untuk langsung mengecek di rumah sakit. Gavin berharap hasilnya sesuai yang ia inginkan.
"Gavin," panggil Ransi sambil berlari kecil menghampiri Gavin dengan memegang kertas di tangannya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Negatif. Aku benar-benar bernafas lega sekarang."
__ADS_1
"Baiklah ayo kembali ke apartemen."
"Negatif? Mungkinkah hasil tes itu salah. Dua bulan kemarin saat Ransi menggunakan testpack untuk mengecek kehamilannya hasilnya negatif dan aku merasa lega akan hal itu. Namun, tidak untuk kali ini. Aku menginginkan Ransi hamil dan mengandung anak ku. Kenapa hasilnya tidak positif, agar aku bisa menikahi Ransi dan menjadi seorang ayah, hidup bahagia dengan wanita yang ku cintai." Hati Gavin memberontak keras.
Dalam perjalanan menuju apartemen Gavin terus berpikir apa yang akan terjadi setelah ini. Ransi pasti akan pergi meninggalkannya dan ia tidak mau hal itu terjadi.
"Aku pasti akan merindukan apartemen ini nantinya," ucap Ransi yang baru masuk ke dalam apartemen.
"Gav, nanti sore aku pulang jika ada barang ku yang tertinggal disini tolong kamu hantarkan yah."
"Bisakah kamu tetap disini bersamaku, Ran" pinta Gavin terdengar lirih.
"Apa maksudmu?"
"Apapun hasilnya aku akan tetap menikahi mu, Ran."
Ransi melepas paksa pelukan Gavin seraya berkata, "Tidak bisa Gav, aku tidak bisa menikah denganmu."
Gavin sama sekali tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ransi.
"Aku mencintaimu Ran dan aku lelaki pertama yang merenggut kesucian mu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak mencintaimu."
"Aku tidak perduli."
"Gavin!" sebut Ransi keras.
"Kamu mencintai lelaki pemilik gelang kayu berwarna coklat itu kan. Aku akan mendapatkan gelang itu bagaimanapun caranya jika perlu aku akan membangun pabrik gelang kayu yang kamu inginkan!" Gavin ikut berkata dengan nada membentak.
"Bukan maslah gelang kayu berwarna coklat Gav. Namun, ini tentang rasa, hatiku sudah menetap secara permanen kepada pemilik gelang itu dan cinta tidak bisa dipaksakan, kamu harus mengerti itu," tegas Ransi.
"Aku sangat mencintaimu, Ran" ucap Gavin dengan menatap dalam ke arah Ransi.
Perempuan itu menghembus nafas pelan.
"Maaf Gav, aku tidak bisa."
"Baiklah. Beri aku satu malam terakhir bersamamu setelah itu aku akan melepaskan mu."
"Baiklah jika ini yang terakhir aku akan menerimanya."
Sebut Ransi perempuan bodoh karena menolak cinta Gavin yang begitu tulus padanya. Bodoh? Tentu saja tidak.
__ADS_1
Ransi tidak mencintai Gavin, lalu untuk apa memulai sesuatu yang sudah diketahui akhirnya akan seperti apa. Seperti kisah asmara Ransi saat bersama Rafan. Sekuat apapun Ransi berusaha membuka hatinya untuk Rafan, semua itu malah sia-sia dan pada akhirnya hati yang utuh menjadi patah dengan penuh kerapuhan. Ransi tidak ingin mematahkan hati seorang pangeran untuk kedua kalinya.