
Cahaya mentari menembus jendela memantulkan sinar ke wajah Gavin, perlahan ia membuka mata dan melihat Ransi masih tertidur pulas dengan selimut yang membalut tubuhnya.
Lelaki tampan tanpa pemanis buatan itu masih belum bisa mempercayai jika semalam kesucian Ransi di rengut olehnya. Belum lagi Rafan, apa dia sebodoh itu tidak mau menyentuh tubuh Ransi. Apa yang dilakukan Rafan selama dua tahun ini, hanya berpacaran biasa? Oh yang benar saja.
Meski Gavin sering bermalam dengan perempuan di luar sana. Namun, Ransi lah gadis pertama yang ia rengut kesuciannya.
Bahkan ijazah pun belum keluar, masa iya aku langsung buka tenda setelah lulus. Jika Ransi mengandung anakku, apa yang akan dilakukannya. Menerima atau malah membenci diriku. Gavin benar-benar bingung harus berbuat apa.
Perlahan Gavin melangkah keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan, sementara Ransi masih tertidur pulas.
Pikiran Gavin saat ini benar-benar kacau. "Arghhh!" Gavin menjambak rambutnya frustasi memikirkan nasib Ransi selanjutnya.
"Aaahhhh" terdengar jeritan seorang perempuan dari dalam kamar, Gavin langsung berlari kecil ke kamar dan mendapati Ransi sedang duduk di atas kasur dengan masih terbalut selimut.
"Ada apa Ran?" tanyanya sambil mendaratkan bokong di pinggir kasur.
"Tubuh dan bokongku sakit Gav, jika aku bergerak sedikit saja rasanya sangat sakit," isak Ransi, spontan Gavin langsung memeluk tubuh Ransi memberi ketenangan.
"Tenanglah Ran." Gavin mencium kening Ransi dengan menatap dalam kearahnya.
"Bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan seperti ini."
"Tetaplah di apartemenku sampai tubuh dan bokongmu tidak sakit lagi."
"Tapi Ara pasti akan mencari ku," ucap Ransi, Gavin berpikir sejenak.
__ADS_1
"Aku akan datang ke rumahmu dan bilang jika kamu ada pekerjaan di luar kota selama beberapa hari."
"Yah sudah, mau bagaimana lagi bokong dan tubuhku benar-benar terasa sakit," ujar Ransi pasrah.
Gavin kembali memeluk Ransi dan perempuan itu pun membalas pelukan tersebut dengan melingkarkan tangannya ke leher Gavin.
"Gav, punggungmu merah akibat cakaran ku. Apa terasa sakit?" tanya Ransi sambil mengelus beberapa luka yang ada di punggung Gavin.
Lelaki itu benar-benar terbuai dengan sentuhan Ransi.
"Aku tidak apa-apa jangan khawatirkan punggungku," kata Gavin seraya melepaskan pelukan.
“Tetaplah disini. Aku akan ke rumahmu,"lanjut Gavin.
"Tunggu Gav."
"Gav tubuhku kan masih sakit. Jadi tolong hantarkan uang 18 juta ke rumah buk Arin karena hari ini waktu terakhir aku harus menyerahkan uang damai itu kepada buk Arin," pinta Ransi, Gavin mengerutkan dahi tanda bingung.
"18 juta?"
"Dasar bodoh. Uang perjanjian kita kan 15 juta dan 3 jutanya kamu minta dengan Ara bilang padanya aku menaruh uang di bawah bantal. Total jumlah uangnya 18 juta, kamu bisa hantarkan ke rumah buk Arin. Ku mohon, Gav" sembur Ransi dengan memasang ekspresi imut.
"Yah ampun apa aku sedang terhipnotis dengan parasnya saat ini. Sadarlah Gav," batin Gavin.
"Yah-yah baiklah. Tidak usah berekspresi seperti itu, menjijikan sekali," ujar Gavin berlalu pergi.
__ADS_1
"Kamu bisa minta Ara untuk menemanimu ke rumah buk Arin, Gav" jerit Ransi.
"Iya-iyaa."
\\*
"Aduh Gavin lama banget, perutku lapar sekali mau bergerak dan melangkah rasanya sakit, bila ku paksa berjalan akan bertambah nyeri nantinya. Harus berapa lama lagi aku menunggu Gavin pulang." Ransi terus bergerutu kesal.
Cklek..
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan seorang lelaki masuk sambil membawa beberapa kantong di tangannya.
"Lama sekali! Habis dari rumahku atau mudik si, Gav"
"Hehehe. Sorry Ran aku tadi mampir dulu ke minimarket membeli keperluanmu."
"Bokongku sakit Gav, bagaimana aku bisa memakai celana," kata Ransi dengan wajah pucat.
"Aku tau bokong mu sakit jadi aku belikan beberapa rok untuk kau kenakan. Ada juga pakaian dalam dan keperluan lainnya."
"Kamu tidak malu membeli pakaian dalam perempuan?" tanya Ransi yang sangat penasaran dengan jawaban Gavin.
__ADS_1
"Jika aku malu tidak mungkin aku beli. Cepatlah pakai, setelah itu aku akan menggendong mu duduk di ruang tv, selagi kamu menonton aku akan membereskan kamar ini."
Saat bersama Gavin mengapa aku merasa seperti menjalin status suami istri dengannya. Gara-gara uang 15 juta aku terperangkap di dalam apartemen Gavin dan entah sampai kapan bisa bebas dari sini. Semoga saja rasa sakit di tubuh dan bokongku akan sembuh besok, aku tidak boleh berlama-lama disini sebab aku harus kembali menjalankan kewajiban ku untuk mencari uang, takutnya bapak dan bang Adzriel pulang ke rumah dan mengetahui aku tidak ada di rumah bisa-bisa mereka akan memukuli Ara. Kalo sampai hal itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Ingin sekali Ransi pulang sekarang juga. Namun, dengan kondisinya saat ini sangat tidak mungkin jika Ransi pulang ke rumah