
"Setangkai bunga mawar."
"Tio? Itukah kamu?"
"Lama tidak berjumpa kamu masih saja mengenali suaraku. Duduklah. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ujar pria tersebut sambil memegang punggung Azalea agar perempuan itu dapat duduk disampingnya.
"Tongkatmu mana?" tanya Tio
"Ku letakan di bawah meja," jawab Azalea dengan pandangan lurus ke depan.
Pria bernama Tio yang duduk di samping Azalea terus memandang tubuh perempuan itu.
"Azalea kamu semakin terlihat kurus."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Azalea bertanya tanpa basa-basi.
Tio menatap semakin dalam.
"Azalea bukan dia pelakunya. Kamu harus percaya padanya."
"Kamu temannya jelas kamu akan membela dia."
"Tidak kah kamu merasa jika sentuhan kasar itu bukan berasal dari tubuhnya. Aku tau kamu pun tidak mempercayai hal itu. Namun, hatimu bingung merasakannya." Perkataan Tio membuat Azalea menjerit histeris sambil menjambak rambut dengan kedua tangannya.
"Jangan teruskan Tio! Aku tidak ingin mendengarnya."
"Azalea," lirih Tio.
"Aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi, terlalu menyakitkan untuk ku, Tio"
Tio menarik tubuh Azalea hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Peristiwa itu terus menghantui pikiranku."
"Tenanglah aku ada disini bersamamu."
Azalea menangis sesegukan dalam pelukan Tio. Bisakah kejadian beberapa tahun yang lalu tidak diungkit lagi, teramat sakit bila Azalea menghidupkan kembali masa dimana seorang pria ******** merenggut kesucian dan membuat kedua matanya tidak dapat melihat dunia.
Jika itu semua hanyalah mimpi, Azalea ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk tersebut. Namun, itu adalah kenyataan yang harus ia terima seumur hidupnya bersama derasnya air mata yang selalu turun saat mengingat peristiwa kelam itu.
"Jika saja ******** itu adalah Tio aku akan lebih ikhlas melepaskan mu, Azalea" batin seseorang yang berdiri di seberang jalan dengan menatap pilu ke arah Azalea yang menangis di dalam dekapan Tio.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
"Gavin, tubuh dan bokongku sudah tidak sakit lagi."
"Lalu."
"Lalu? Apanya yang lalu?" tanya Ransi bingung.
"Jika bokong dan tubuhmu sudah tidak sakit lagi, lalu apa yang akan kamu lakukan."
"Aku ingin pulang."
Gavin yang sedang memberi makan Ikan hias di dalam akuarium besar berbalik menatap ke arah Ransi yang berdiri di belakangnya.
"Aku tidak mengizinkanmu pulang."
"Mengapa harus minta izin denganmu, memangnya kamu suamiku," cecar Ransi.
Gavin meletakan toples yang berisi makanan Ikan di atas meja.
"Jika kamu hamil anakku, aku akan menjadi suamimu," kata Gavin dengan santainya membuat Ransi melototkan kedua mata seolah ingin keluar dari tempatnya saat mendengar Gavin mengucapkan perkataan itu.
"Ngomong apa si, Gav"
"Ap.. apa yang ingin kamu lakukan," ucap Ransi dengan suara gemetaran.
Cupp..
"Sialan! Gavin mengecup lembut bibirku, tanpa merasa bersalah ia mendaratkan bokongnya di atas sofa."
"Gav, aku ingin pulang." Ransi terus merengek.
Gavin tak menghiraukan apa yang Ransi katakan, ia mengambil koran di atas meja lalu membacanya tanpa melirik ke arah Ransi.
"Kita melakukannya tanpa memakai pengaman dan aku memasukan milikku ke dalam rahimmu, bisa saja kamu akan hamil anakku," Ran Perkataan Gavin membuat Ransi berpikir keras.
"Apa yang dikatakan Gavin ada benarnya. Jika aku hamil apa yang harus aku lakukan? Bisa-bisa aku langsung di tendang dari lorong Venus dan di lempari batu oleh para manusia kepo di sana. Membayangkannya saja membuatku sangat takut." Ransi membatin di dalam hatinya.
"Bagaimana jika aku hamil Gav? Aku merasa sangat takut."
Gavin meletakan kembali koran yang dibacanya ke atas meja, lalu memeluk tubuh Ransi, seketika perempuan itu merasakan kenyamanan sesaat seperti saat Rafan memeluk tubuhnya dulu.
__ADS_1
"Aku akan bertanggungjawab Ran. Jika kamu hamil aku akan langsung menikahi mu."
Benarkah itu perkataan yang keluar dari mulut Gavin? Waw sungguh lelaki bermoral.
"Sekarang aku harus bagaimana," rintih Ransi di dalam dekapannya.
"Tinggal'lah di apartemenku selama tiga bulan."
"Maksudmu?"
"Aku akan menunggu hasilnya selama tiga bulan, jika dalam tiga bulan kamu tidak hamil. Aku akan melepaskan mu."
"Bagaimana mungkin aku menetap di apartemen Gavin selama itu, sementara Ara menungguku di rumah dan aku pun harus kembali bekerja ke club malam." Ransi terus membatin sambil berpikir apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Aku tidak bisa menetap disini selama itu. Besok malam aku akan kembali bekerja, aku yang menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluargaku jadi-" belum sempat Ransi melanjutkan perkataan Gavin memotongnya.
"Selama tiga bulan aku akan memenuhi keperluan dan kebutuhan keluargamu serta membiayai sekolah Ara kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, Ran" Gavin melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Ransi.
"Hanya tiga bulan. Aku akan menemui Ara dan mengatakan bahwa kontrakmu di luar kota di perpanjang selama tiga bulan."
"Tapi Ara sendirian di rumah, aku takut jika terjadi apa-apa dengan adikku nantinya, Gav."
"Ara akan baik-baik saja bersama Ustadz Ibrahim dan Ustadzah Fatmah terlebih lagi ada Furqon yang sangat perhatian dengan Ara."
"Apa Ustadzah Fatmah dan Ustadz Ibrahim sudah pulang dari Jambi?"
“Mungkin saja, karena saat aku ke rumahmu ada Ustadzah Fatmah dan Ustadz Ibrahim disana."
"Lalu mengapa kamu bisa tau tentang Furqon?" tanya Ransi penasaran.
"Furqon yang menemaniku ke rumah buk Arin, di sepanjang perjalanan banyak yang ia ceritakan mengenai keluargamu."
"Oh seperti itu."
"Jadi tidak ada alasan lagi untuk kamu mengelak tinggal bersama ku selama tiga bulan."
Si Gavin enar-benar lelaki pemaksa, tapi kalo dipikir-pikir lumayan juga selama tiga bulan aku makan tidur di dalam apartemen mewah ini tanpa harus bekerja dan Gavin juga akan menghidupi keluargaku selama tiga bulan. Wah kapan lagi menjadi ratu di singgasana Gavin. Iblis dalam hati Ransi mulai bersuara.
"Jika selama tiga bulan aku tidak hamil kamu akan melepaskan ku, Kan?" ucap Ransi memastikan.
Gavin diam, ia menundukkan kepala dengan wajah yang sok di sedih-sedihkan.
__ADS_1
"Terserahlah, yang jelas selama tiga bulan ini kau adalah milikku."