
Hampa... Ya, setidaknya itu yang kurasakan kini ketika usia penikahan kami memasuki tahun kelima.
Namaku Anita Kumalasari. Aku dipanggil Anita. Usiaku sekarang adalah 29 tahun. Aku seorang ibu rumah tangga. Aku tinggal di sebuah kota kecil di salah satu Provinsi Kepulauan di Indonesia, negaraku tercinta. Ya, kalian tahu? Pulau tempat tinggalku terkenal akan pariwisatanya. Banyak pantai - pantai yang indah di sini. Pantai dengan pasir yang putih.
Aku hidup dalam keluarga yang sederhana setelah ayahku meninggal dunia karena terkena serangan jantung saat sedang bekerja, ketika itu aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Ketiga kakakku masih di bangku perkuliahan dan adikku masih kelas empat sekolah dasar. Serta ibuku yang akhirnya menjadi janda. Almarhum ayahku adalah seorang kepala bagian dan termasuk karyawan yang berprestasi di kantornya. Aku tahu itu karena saat proses pemakaman, seseorang perwakilan dari perusahaannya membacakan prestasi - prestasi yang didapatkan almarhum semenjak bekerja di perusahaan itu. Sejak saat itu, ibu kami berjuang sendiri untuk menyekolahkan kami hingga lulus S1. Aku tahu jatuh bangun ibuku, karena akulah anak yang tinggal dengannya sedangkan kakak - kakakku kuliah di luar pulau.
Aku memiliki suami yang entahlah akupun tak yakin apakah dia benar mencintaiku atau ada keterpaksaan saat menikah denganku. Aku mengenalnya ditahun 2010. Lebih tepatnya ditahun itu kami baru mulai dekat. Dari awalnya cuma iseng saja aku menyapanya lewat media sosialku. Dia Angga. Dia bekerja sebagai staff administrasi di kampus tempat aku kuliah. Iseng saja waktu itu aku menyapanya saat membuka medsosku. Aku lihat dia sedang online.
" Malam, Pak! " ketikku.
" Ya, malam juga...", balasnya
" Lagi ngapain Pak? Kok sudah malam begini belum tidur"? ketikku sok akrab. Padahal di kampus aku tak pernah berani menyapanya. Tapi kok aku bisa berteman ya di medsos?? Oh iya waktu itu aku yang mengajukan pertemanan ke dia karena pikirku mungkin suatu saat akan bermanfaat, misalnya aku bisa menanyakan informasi perkuliahan.
__ADS_1
" Main Game Online...", jawabnya singkat jelas dan padat.
" Ooohhh...", balasku.
Angga Permana adalah salah satu staff di kampusku. Tampangnya ya biasalah ya.. Nggak ganteng - ganteng amat lah.. Minimal tuh tampang ga bikin malu - maluin lah kalau diajak jalan - jalan atau kondangan. Tapi aku emang suka cowok yang smart dibandingkan ganteng sih.
Dan entah apa yang membuatku berani ketika itu. Ku tulis lagi di kolom chat medsos ku.
" Pak, Bapak pacaran ya sama Kak Rita?" Selidikku. Rita adalah kakak tingkatku di kampus. Orangnya pintar dan super duper cantik, menurutku... Lama aku mengunggu balasannya.
" Ya ampun Pak.. Seantero fakultas ini udah pada tahu semua loh Pak..", balasku.
" Yaaahh.. Itu gosip saja, Nit... Lagian, kalau memang benar aku pacaran sama Rita, kenapa emangnya?" tanya Angga yang membuatku bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
" Nggak apa - apa sih Pak, cuma pengen tanya saja.. Ya udah kalo gitu, sudah dulu ya Pak... saya sudah mengantuk", ketikku karena memang sudah jam sebelas malam. Lalu ku matikan laptopku.
Mulai saat itu aku dan Angga sering chatting di melalui medsos kami. Dan akhirnya bertukar nomor handphone. Aku tetap saja tidak berani menyapanya saat di kampus. Anggapun terlihat cuek denganku. Namun kami sering ber-whatsapp-an. Apa saja bisa dijadikan bahan obrolan dengannya.
Hingga suatu saat dia mengajakku kopi darat. Tentu saja sahabat - sahabatku di kampus tak kuberitahu. Karena aku tipe orang yang tidak suka curhat mengenai kehidupanku kepada orang lain, termasuk sahabat - sababatku sendiri.
Si Bapak Angga ini terlihat berbeda dengan yang biasa aku lihat di kampus. Di kampus dia sosok yang angkuh dan pendiam. Aku sampai terpana melihatnya bercerita dengan gaya yang nyerocos seperti ibu - ibu komplek.
" Heeyy..!! Kok lihat aku kayak gitu?!! Nanti naksir loohh...", katanya terkekeh.
"Ha.. ha..ha... enggak Kak.. Aku Takjub aja lihat Kakak kok beda banget sama waktu di kampus.. Kakak nih namanya 'bermuka dua' yaa...", olokku sambil tertawa. Ya.., aku mengubah nama panggilan ku kepadanya dari 'Bapak' menjadi 'Kakak' atas permintaan Angga sendiri. Katanya jangan panggil bapak donk, emang aku setua itu. Palingan umur kita cuma beda beberapa tahun saja.
...***************...
__ADS_1
Lanjut nggak ya....??