
Hari berganti.. 1 bulan berlalu..
Terpaksa Anita menerima dipoligami oleh suaminya. Meski nyatanya Angga berlaku tidak adil kepadanya. Ya.., suaminya lebih sering menemui istri kedua daripada dirinya. Alasannya karena Rita sedang hamil, jadi butuh perhatian lebih banyak.
Akibatnya, Anita menjadi lebih sering melamun.
Sekarang ia sedang duduk sendirian di taman kantornya.
"ehm..!!"
Suara itu membuyarkan lamunannya. Seketika ia menoleh ke belakang.
"Eh, Pak Yoga.."
"Melamun saja kamu." Kata Yoga sambil mendudukkan badannya di samping Anita.
"Nggak kok, Pak.. Saya lagi menikmati suasana di sini saja." kata Anita berbohong.
"Saya lihat kamu sekarang lebih banyak melamun. Kamu sadar tidak kinerjamu itu menurun." Kata Yoga.
"Maaf, Pak.. Kedepannya saya akan memperbaiki kinerja saya, Pak..." jawab Anita sambil menunduk.
Keduanya kini menatap ke arah yang sama. Danau kecil di hadapan mereka serta pohon - pohon si sekitarnya rindang membuat sejuk suasana meski matahari begitu terik siang itu.
"Kamu sedang ada masalah?" tanya Yoga.
"Tidak, Pak.."
"Jangan panggil Pak jika sedang di luar kantor." Kata Yoga pelan.
"Maaf, Pak.. Saya tidak enak. Bapak adalah atasan saya. Saya adalah karyawan Bapak." Kata Anita.
"Saya bukan pemilik perusahaan ini. Jadi kita adalah sama - sama karyawan di sini." jelas Yoga. Ia sama sekali tidak berbohong. Karena perusahaan ini adalah milik ayahnya, bukan milik dirinya.
Anita terdiam. Tiba - tiba...
Drrrttt.... drrrttt...
Pesan dari Bik Surti.
[ Maaf, Bu.. Rahma demam ]
[ Periksa suhu tubuhnya. Termometer ada di kotak P3K ] balas Anita.
Anita gelisah menunggu balasan pesan dari Bik Surti. Mungkin ia sedang memeriksa suhu tubuh Rahma.
"Mengapa menjadi gelisah seperti itu?", Tanya Yoga ketika melihat Anita nampak gelisah.
"Anak saya demam, Pak."
[ 39,5 bu ] akhirnya Bik Surti membalas pesannya.
__ADS_1
[ saya segera pulang ] balas Anita.
"Maaf, Pak.. Saya izin pulang.. Anak saya deman tinggi." Izin Anita kepada atasannya itu.
''Oke.. Apa perlu saya antar?" kata Yoga ragu.
Anita diam dan ia sedikit bingung dengan tawaran Yoga.
''Yaa.. Maksud saya, saya takutnya kamu berkendara dengan keadaan panik seperti itu..", jelas Yoga takut Anita menjadi salah paham atas tawarannya tadi.
"Tidak, terimakasih Pak.. Saya akan berhati - hati. Permisi..", pamit Anita.
Yoga mengangguk lalu melihat Anita melangkah menjauh darinya. Ia pun mengutuk dirinya sendiri.
"Aduuuhh.. lupa deh kalo dia itu istri orang.." ucap Yoga dalam hati sambil menepuk dahinya. Lalu ia pun melangkah menuju gedung kantor.
...****************...
Tidak berapa lama Anita pun tiba di rumahnya. Ditemuinya Rahma yang sedang di gendong Bik Surti.
Ia meraba dahinya.
"Panas sekali.."
Lalu ia mengambil ponselnya di dalam tas kerja yang masih tergantung di bahunya, hendak menghubungi Angga suaminya.
Namun lima kali ia mencoba, panggilan itu sama sekali tidak dijawab.
"Baik, bu..", jawab si bibi.
Saat tiba di UGD, benar saja dokter jaga menyarankan Rahma untuk dirawat beberapa hari.
Untung saja Rahma sama sekali tidak rewel selama di UGD. Di pasang infus pun ia tidak menangis. Sample darahnya sudah diambil untuk pemeriksaan di laboratorium.
Sambil menunggu dipindahkan ke kamar rawat inap, Rahma tertidur. Panas tubuhnya pun berangsur mulai turun.
Anita kembali mencoba menelpon Angga. Namun tak juga diangkat oleh suaminya itu.
[ Rahma demam tinggi. Sekarang dirawat di RS ]. Anita memutuskan mengirim pesan saja.
Sekarang Rahma sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Suhu tubuhnya masih belum normal membuat anak itu tak berselera makan dan menyusu.
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya terkulai lemas menanggung sakit. Hasil pemeriksaan darah mengatakan bahwa Rahma terkena demam berdarah.
Anita merasa aneh anaknya bisa terkena demam berdarah. Padahal ia selalu menjaga kebersihan rumahnya, apalagi dari nyamuk.
[ Kamu masih sibuk? Rahma butuh papanya..] tulis Anita lagi kepada Angga.
Setengah jam kemudian barulah Angga membalas pesan dari Anita.
[ Maaf, aku baru selesai rapat. Ini aku OTW ke RS ] balas Angga.
__ADS_1
Setengah jam..
Satu jam...
Dua jam...
Empat jam...
Angga belum sampai juga di rumah sakit.
Tiba - tiba terdengar lirih suara Rahma yg sedang tertidur mengigau. Tidak jelas apa yang dikatakan karena Rahma juga belum begitu fasih mengucapkan kata - kata.
"Mungkin kangen papanya..", batin Anita.
Ia meraih ponselnya di atas nakas. Kali ini ia menelpon suaminya.
Seseorang di seberang sana mengangkat panggilan itu. Ia adalah Rita, istri muda suaminya.
"Hallooo... Ada apa ya...?" ucap Rita.
Malas Anita menjelaskan panjang lebar kepada Rita.
"Mas Angga mana..?!" tanya Anita langsung.
"Mas Angga sedang mandi...", jawab Rita, "Ada apa..?"
"Rahma dirawat di rumah sakit. Tolong sampaikan ke Mas Angga agar secepatnya datang ke rumah sakit." jelas Anita.
"Ooh.. oke, nanti aku bilang sama Angga.." jawab Rita.
Belum sempat Anita mengucapkan terima kasih, ternyata panggilan itu sudah diputus oleh Rita.
Sementara di kediaman Rita dan Angga. Setelah Angga selesai mandi ternyata Rita tidak menyampaikan pesan dari Anita. Meski begitu, Angga ingat tadi siang Anita memberitahunya bahwa Rahma sakit dan menyuruhnya datang ke rumah sakit.
Melihat Angga sedang bersiap, ''Kamu Mau kemana?'' tanya Rita.
''Ke rumah sakit.. Rahma dirawat..'' jawab Angga singkat.
Tiba - tiba Rita mengaduh..
''Aduh.. duh..duh...", sambil memegang perut buncitnya.
"Kamu kenapa?'' tanya Angga khawatir.
''Perut aku kram.. Kamu sebaiknya di rumah saja. Aku takut kenapa - kenapa sendirian di rumah." kata Rita memohon agar suaminya tidak pergi.
Angga tidak tahu bahwa istri mudanya itu hanya berpura - pura sakit.
Setelah berfikir sejenak, "Baiklah, aku WA dulu ke Anita'', kata Angga.
[ Aku belum bisa ke sana. Rita perutnya kram. ] tulis Angga.
__ADS_1
...****************...