
Usia kehamilanku yang kini menginjak trimeter ketiga membuat aku mengurangi kesibukanku. Gerakku pun kini terbatas. Namun yang paling membuatku bahagia adalah perubahan sikap Angga. Setiap hari ia selalu menunjukkan perhatiannya padaku.
Suatu hari aku menujukkan perutku yang sedang bergerak - gerak padanya. Dan untuk yang pertama kalinya akhirnya ia mengusap perutku lalu menciumnya. Tak lama ia beranjak menatap wajahku. Mata kami saling berpandangan.
"Maafkan aku.., Aann...", kata Angga.
" Untuk apa.....??" Aku tidak mengerti yang dikatakan Angga.
"Untuk sikapku selama ini... Aku kurang memperhatikanmu. Padahal kamulah yang mengurusku saat aku sakit. Kamu yang ada di sampingku saat aku bukan apa - apa hingga menjadi aku yang sekarang. Kamu juga tidak pernah merepotkan aku. Seharusnya aku berterima kasih padamu sejak dulu. Bahkan kamu bersedia mengandung anakku."
Saat Angga mengatakan itu, aku ingin sekali menangis. Tapi aku tahan.
"Aku bahagia sekali saat mengetahui kamu hamil An.. Bukan hanya sekedar memikirkan permintaan terakhir mamaku. Aku bahagia. Dan akuuu....." Kata - katanya terpotong.
"Aku apaaaa....?" kataku dalam hati.
"Aku......", ia terdiam lagi.
"Aku... Mencintaimu An... Aku mencintai istriku.. Aku mencintai ibu dari calon anakku...", Kata Angga. Dan ia meneteskan air matanya.
Akhirnya air mataku pun tumpah. Aku langsung memeluknya dengan hati - hati karena terganjal oleh perutku.
"Alhamdulillah... Terima kasih Ya Allah.. Akhirnya cintaku berbalas." Aku bersyukur di dalam hati. Inilah yang ku nantikan selama ini. Kisah yang Happy Ending.
Perlahan ia melepaskan pelukannya lalu kembali menatapku. Wajahnya perlahan semakin mendekat ke wajahku. Hingga akhirnya bibirnya menempel di bibirku. Ia mengecupku perlahan. Aku memberanikan diri untuk membalas kecupannya. Akhirnya kami saling berbalas kecupan. Aku menutup mataku menikmati kejadian ini.
__ADS_1
"Kau menginginkannya...??" Tanyaku pada Angga.
Angga tersenyum. "Tenang saja... Aku akan menunggu sampai kamu pulih setelah lahiran nanti. Aku takut kenapa - kenapa dengan anak kita.." jawab Angga.
Lalu kamipun terbahak. Aku sandarkan kepalaku di pundaknya.
"Apakah mas tahu? Sesungguhnya selama ini aku takut kau akan meninggalkanku, Mas.. Aku takut kamu tidak mau menemaniku saat proses lahiran nanti." Kataku berbisik di telinganya.
"Aku tidak akan menginggalkanmu An.. Aku janji..", kata Angga.
Hari demi hari berlalu. Angga menjadi sosok yang romantis seketika setelah kejadian itu. Aku bersyukur sekali. Sekarang sikap Angga terhadapku telah berubah 180 derajat. Ia begitu perhatian.
Hingga saat aku melahirkan seorang putri cantik dan kami beri nama Rahma Anggita Permana. Dan kini usianya memasuki tiga bulan.
"Tidak mas.. Aku akan tetap bekerja", jawabku mantap.
"Tapi.... Rahma gimana? Siapa yang ngurus?"
"Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya tentang hal ini. Aku percaya kamu masih bisa menghidupi kami. Aku sayang sama keluarga ini, sayang sama Rahma. Tapi akan sangat disayangkan juga karir aku jika harus kulepaskan. Aku akan mencari babysitter Mas." jawabku.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku akan menurut saja."
Akhirnya kami pergi ke jasa penyalur babysitter. Kami mendapatkan Bik Yati. Usianya 45 tahun. Bukan hal yang mudah ketika memutuskan untuk mempekerjakan Bik Yati sebagai pengasuh Rahma. Beliau kami berikan masa percobaan selama satu bulan. Bik Yati sudah terbiasa sekali mengurusi anak bayi. Apalagi ia memiliki tiga orang anak, yang paling kecil saat itu duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Namun, kami tidak memperbolehkan Bik Yati membawa anaknya ketika jam kerja karena kami ingin Bik Yati hanya fokus mengasuh Rahma.
Kami merasa sangat bersyukur mempekerjakan Bik Yati. Beliau sangat sabar dan telaten. Jam kerja Bik Yati adalah ketika aku sedang bekerja saja. Namun, tetap saja aku meminta ibuku untuk sementara tinggal di rumahku untuk mengawasi Bik Yati.
__ADS_1
Begitulah hari - hari kami berlalu. Aku sudah mulai bekerja kembali. Namun, walaupun aku bekerja, aku tetap bertekad untuk memberikan ASI eksklusif untuk Rahma dengan cara menyiapkan stock ASI di frezzer.
Hari - hariku mulai dipenuhi dengan urusan kerjaan dan keperluan Rahma. Tidak mudah ternyata. Kadang aku menjadi lebih cepat lelah. Hingga Angga beberapa kali protes karena ia merasa aku abaikan.
Mungkin itulah yang membuat sikapnya sedikit demi sedikit berubah. Kebiasaan lamanya kembali ia ulangi. Ia menjadi sering keluar rumah pada malam hari.
Pernah aku tanyakan, ''Mas.. mengapa kini kamu menjadi sering keluar pada malam hari?"
Lalu jawabannya membuat aku sakit hati, ''Untuk apa aku di rumah? Kau tidak pernah memperdulikan aku."
Rasa terbakar dadaku ketika itu.
"Bagaimana bisa kau berfikir aku tidak memperdulikanmu..!? Selama aku di rumah, aku selalu berusaha mengurusi segala keperluan kamu dan Rahma serta rumah tangga ini. Mencuci dan menyetrika bajumu, sehingga kau bisa berpakaian dengan rapi. Memasak juga buatmu sehingga kau tak perlu jajan di luar. Kau anggap apa segala yang ku lakukan untuk semua itu?!" jawabku.
"Ah sudahlah..!! Aku akan mencari udara segar!!" Kata Angga. Kemudia terdengar deru motornya meninggalkan rumah.
Oohh.. Mengapa sikapnya berubah.. Padahal barulah beberapa bulan yang lalu ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.
...*************...
**Maaf syekali author baru sempat upload episode terbarunya. 🙏
Tapi kira - kira apa yang terjadi dengan Angga ya...??
tbc**...
__ADS_1