
Menyandang status janda bukan hal yang mudah bagi Anita. Walaupun ia memberi dirinya sendiri predikat sebagai 'janda terhormat', namun tetap saja omongan tetangga begitu mengganggu. Ia takut ibunya terlalu mendengarkan omongan - omongan tetangga.
''Bu, Maafin Anita ya..'', kata Anita sambil menggenggam jemari ibunya.
''Maaf untuk apa?'', tanya ibunya.
"Yaa, karena Nita sekarang janda, tetangga - tetangga semua ngomongin yang macam - macam terhadap kita.'', jawab Anita sedih.
"Sudah.. Jangan difikirkan. Bukan mereka yang menjalani..'', ibunya memang selalu bisa menenangkan dirinya.
...*************...
Sore itu langit begitu mendung. Dengan cepat ia langkahkan kakinya untuk segera pulang, berharap hujan tidak turun sebelum ia sampai di rumah. Sampai di parkiran ia memeriksa bagasi motor maticnya. Benar saja, ia lupa membawa jas hujan.
Bergegas ia menyalakan motornya lalu melaju menantang jalanan yang lumayan padat. Hal yang biasa terjadi di jam pulang kerja seperti ini.
Setetes dua tetes air langit pun jatuh.
"tuuhh kan hujan, belum sampe rumah... Eh, nggak boleh ngeluh.. Hujan itu rejeki..", batinnya dalam hati.
Hujan makin deras.. Untungnya di depan sana ada sebuah ruko di pinggir jalan yang sedang tutup. Anita menghentikan laju motornya lalu berteduh di teras ruko tersebut.
Ia melihat kemejanya yang menjadi sedikit menerawang akibat basah terkena hujan. Ia memeluk tas kerjanya sehingga bagian dadanya tertutupi oleh tas.
Tak selang beberapa lama ada juga orang yang ikut berteduh di sana. Namun Anita tidak memperhatikan siapa orang itu.
Anita masih memeluk tasnya dan mulai merasakan kedinginan. Sedangkan hujan semakin deras dan gemuruh petir mulai bermunculan.
"jettaaaarrrr...." (suara petir..)
Anita mengeratkan pelukan pada tasnya. Tiba - tiba seseorang tadi memakaikannya jaket dari belakang. Anita terkejut lalu menoleh ke orang itu.
"Tidak usah, Pak.. Terimakasih..", tolak Anita. Tentu saja ia menolak pemberian dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ditambah lagi orang tersebut masih memakai helm full face. Sehingga wajahnya sama sekali tidak terlihat.
Tidak ingin pertolongannya ditolak, orang tersebut tetap meletakkan jaketnya di pundak Anita. Lalu dibukanya helmnya.
__ADS_1
"Ini saya...", kata orang itu.
"Oalaaah.. Pak Yoga...?!! Saya kira siapa...", Kata Anita.
Yoga tersenyum.
"Ini jaketnya, Pak..", lanjut Anita sambil menyerahkan jaket berwarna hitam itu. Jaket yang lumayan tebal dan bahanya anti air.
Yoga mengambil jaket itu dari tangan Anita, namun langsung ia pakaikan kembali ke pundak Anita.
"Pakailah.. Tuh kamu udah kedinginan... Dan juga dalaman kamu biar tidak kelihatan sama orang..", perintah Yoga.
"Oh iya, Pak.. Terimakasih..", walaupun tak enak hati, akhirnya Anita mau memakai jaket itu. Kini mereka duduk di sebuah bangku kayu panjang kepunyaan pemilik ruko.
"Pak Yoga tumben pake motor..?", tanya Anita.
"Kenapa memangnya..?? Saya sering ngantor pakai motor. Jadi lebih gesit aja.. Tapi kalau pas hujan gini ya basah deh..", jawab Yoga sambil tersenyum.
Anita tidak pernah memperhatikan kendaraan apa yang digunakan Pak Yoga ataupun karyawan lain. Karena ia bukan tipe orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain. Dia hanya ingin fokus kepada dirinya sendiri dan pekerjaan saja. Ia melihat
"Ya tidak apa - apa sih, Pak..", balas Anita.
Anita tersenyum.. "Iya.. iya.. Yogaa...."
"Nah.. Kan gitu bagus kedengarannya. Kalau dipanggil 'Pak' kok sepertinya tua banget ya saya.. Hahahaha...!!!" Canda Yoga.
Satu jam mereka mengobrol berbagai topik. Mulai dari pekerjaan, hobi, Yoga yang menceritakan tentang Naufal, anaknya..
"Yoga, hujannya sudah lumayan reda ni.. Sepertinya kita sudah bisa pulang." kata Anita.
"Iya.. Yuk.. Sudah hampir waktu magrib juga..", jawab Yoga.
Anita melepaskan jaketnya dan menyerahkann ke Yoga. Namun Yoga menolaknya dan memakaikannya kembali ke tubuh Anita.
"Kamu pakai saja.. Baju kamu kan masih basah.. Nanti di jalan kena angin bisa kedinginan loh kamu..", kata Yoga.
__ADS_1
"Kamu sendiri gimana? Kamu juga bisa kedinginan nanti..", tanya Anita.
"Aku ini laki - laki yang kuat.. Dan lagipula bajuku kan tidak basah. Jadi tidak akan terlalu dingin.." jelas Yoga menyombongkan diri.
"Baiklah.., Aku pinjam dulu jaketmu..", kata Anita.
Yoga mengangguk dan tersenyum.
Anita sudah duduk di atas motornya dan menyalakan motornya. Tiba - tiba..
"Anita, tunggu..", kata Yoga menepuk pundak Anita.
Anita mematikan kembali motornya. Belum sempat bertanya, kini Yoga sudah berdiri dihadapannya.
Tanpa diduga Yoga langsung mengancingkan jaket Anita.
"Ini jaketnya jangan lupa di kancingin ya.. Biar tubuh kamu tidak kena angin..", jelas Yoga.
Anita hanya mengangguk, menahan malu.
"Aku akan mengantar kamu sampai depan rumah ya.. Bahaya kalau kamu pulang sendiri malam - malam begini.. Jalan sana gih..!! Aku ikuti dari belakang... ", kata Yoga.
Lagi - lagi Anita hanya mengangguk. Wajahnya sudah bersemu merah.
Di perjalanan Anita sering melirik ke spion memastikan apakah Yoga masih menggiring di belakangnya. Ia berusaha untuk tidak salah tingkah.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu pagar halaman rumah ibu Anita.
"Mau mampir..?" tanya Anita.
"Lain kali saja.. Sudah malam..", jawab Yoga.
"Oke.. Makasih ya...", Anita mengucapkan terimakasih.
"Sama - sama.. Saya pamit ya.. ", kata Yoga lalu melambaikan tangannya.
__ADS_1
Anita tersenyum.
...****************...