Keraguan Mencintaimu

Keraguan Mencintaimu
Kekecewaan


__ADS_3

Pukul 05.00


Aku terbangun karena dahaga melanda kerongkonganku. Aku keluar kamar menuju dapur. Memang hotel ini bukan seperti hotel pada umumnya. Bentuknya seperti villa di pinggir pantai.


Melewati sofa tempat Angga tidur dan tanpa selimut. Ku rasa ia pasti kedinginan semalaman tidur di sini. Lalu aku kembali menuju kamar dan ku ambil selimut tebal. Ku selimuti tubuhnya. Kemudian aku kembali ke dapur meminum segelas air putih.


Setelah minum, aku kembali ke kamar tidurku. Aku mengemasi barang - barangku dan ku masukkan ke dalam koper. Lalu aku bangkit menuju kamar mandi. Niat ku untuk mandi terhenti sejenak ketika aku berdiri di depan wastafell. Ku lihat diriku di depan cermin. Ada begitu banyak tanda kepemilikan terutama di leherku.


"Aku benci ini...!!"


Setelah selesai ritual mandi dan dandan seadanya, aku menyeret koperku ke luar kamar. Angga ternyata sudah bangun dan hanya bengong melihatku.


Tanpa ditanya aku berkata, "Aku akan pulang sekarang." Yaaa... Padahal villa itu sudah kami booking selama 3 hari.


"Tunggu aku.. Aku juga akan ikut pulang denganmu. Aku akan mandi terlebih dahulu dan membereskan barang - barangku. Kita check out setelah sarapan." kata Angga.


Aku tidak menjawab. Aku juga merasa kelaparan. Aku setuju dengan saran Angga. Lagipula jika kami pulang sendiri - sendiri entah apa yang difikirkan ibu nanti.


Untuk sementara kami akan tinggal di rumah ibu.


Dalam perjalanan pulang.


"Baiklah.. Sepertinya kita harus membicarakan ini." Aku memulai pembicaraan.


"Bersikaplah seolah - olah kita pasangan suami istri yang bahagia. Bukankah kamu semalam telah berjanji akan belajar mencintaiku...?? Jadilah suami yang baik untukku. Akupun akan menjadi istri yang baik untukmu dan aku akan melaksanakan semua kewajibanku sebagai seorang istri."

__ADS_1


"Dan satu lagi... aku harap kau menjauhi wanita itu."


Dia hanya terdiam, namun ku lihat sekilas ia mengangguk.


30 menit kemudian kami pun sampai di rumah ibu. Ibu menyambut kedatangan kami.


"Loh kok pengantin baru udah pulang aja..? bukannya honeymoon-nya selama tiga hari ya??" goda ibuku.


Ibuku bernama Siti. Beliau berusia 50 tahun saat itu. Masih terlihat cantik dan sehat di usianya. Kata ibu, semenjak masih muda rajin minum jamu tradisional. Tidak seperti anak zaman sekarang yang sukanya serba instant , junk food, minuman bersoda dan kawan - kawannya lah.


"Iya bu... Mendadak tadi pagi bos nelfon aku, katanya ada klien ngajak meeting mendadak. Jadi aku sebagai arsiteknya harus ikut serta." jawabku dengan alasan yang telah kusiapkan saat di perjalanan tadi.


"Sudah ya, Bu.. Aku siap - siap dulu mau ke kantor sebentar lagi". Akupun terburu - buru masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar. Sedangkan Angga masih sibuk dengan urusan koper kami di dalam mobil.


...----------------...


Prov Angga


"Yaa.. aku begitu berengsek. Entah mengapa aku malah memanggil nama wanita lain saat sedang bersama Anita.. Apakah aku begitu menginginkan Rita. Namun apalah dayaku.. Mama tidak setuju aku membatalkan pernikahanku dengan Anita.. Lebih - lebih karena aku ingin bersama Rita."


"Rita adalah wanita berkarakter manja. Aku senang saat ia meminta bantuan dariku dengan caranya bermanja. Aku merasa dibutuhkan olehnya. Sedangkan Anita.. ia wanita yang mandiri dan tegas. Mungkin ia bisa melakukan segalanya tanpa bantuan dariku."


"Semalam saat Anita keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian sexy-nya itu, entah mengapa seketika aku menjadi bernafsu sekali kemudisn aku teringat mama yang memintaku untuk segera memperoleh keturunan. Padahal aku berniat untuk tidak menyentuhnya. Akhirnya kami melakukan ritual malam pertama kami hingga hal tak terduga itu terjadi dan aku mendapatkan dua kali tamparan darinya."


"Aku menyesal sekali telah menyakiti hatinya.." Dalam perjalanan pulang tak henti - hentinya aku memikirkan hal itu. Namun tiba - tiba Anita menyuruhku agar kami bersikap layaknya suami istri yang bahagia di depan orang. Aku hanya bisa mengangguk."

__ADS_1


Sampai di rumah ibu mertuaku, saat aku sedang disibukkan dengan urusan koper kami di bagasi mobil, ku dengar sayup - sayup Anita menjelaskan kepada ibu bahwa ia ada pekerjaan mendadak bersama atasan dan kliennya sehingga mengharuskan ia segera pergi ke kantor.


Setelah Anita masuk ke dalam rumah, ibu menghampiriku.


"Kalian tidak kenapa - kenapa kan?" ibu mulai khawatir.


"Kenapa - kenapa gimana maksud Ibu..??"


"Lhaa.. katanya mau honeymoon tapi kok sudah pulang??" tanya ibu lagi.


"Enggak ada apa - apa kok bu.. Anita tadi disuruh atasannya untuk ke kantor.. Kalau tidak, kemungkinan perusahaan mereka akan kehilangan klien." jawabku berbohong pada ibu.


"Lagian nanti - nanti juga bisa dilanjutin honeymoonnya, Bu...", lanjutku.


"Oohh gitu.. Baiklah kalau kalian tidak kenapa - kenapa.. Ibu cuma khawatir saja."


Lalu aku langsung masuk ke kamar kami sambil menyeret koper kami. Ternyata Anita telah mengganti pakaiannya dan menyandang tas kantornya. Dia benar - benar hendak pergi ke kantor.


"Ayo aku antar....", aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke kantor.


"Tidak.., Aku bisa pergi sendiri." jawab Anita tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Ia mengambil kunci motor maticnya. Ternyata ia hendak pergi ke kantor menggunakan motor kesayangannya.


Ku baringkan tubuhku di atas kasur dan ku pandangi langit - langit kamar kami. Akupun tertidur.


Prov Angga END

__ADS_1


...****************...


__ADS_2