Keraguan Mencintaimu

Keraguan Mencintaimu
Tidak Bodoh


__ADS_3

Pukul 03.00 dini hari


Angga yg masih setengah sadar mendengar sayup - sayup suara tangisan. Dengan paksa ia membuka matanya. Begitu terkejut mendapati tubuhnya berada di bawah selimut dan tak mengenakan sehelai pakaianpun.


''Apa yang terjadi? Apa yang kulakukan? Di mana aku..?" banyak pertanyaan yang muncul di otaknya. Seketika ia menoleh ke samping, mendengar suara tangisan seseorang tadi ternyata suara tangisan Rita. Yaah.. Rita pun sekarang berada di bawah selimut yang sama dengannya dan tanpa sehelai pakaian juga. Dengan posisi duduk bersandar di dashboard ranjang serta menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Astaga..!!! Apa yang kita lakukan, Rit..?!!" Angga tersentak.


"Hiks.. hiks.. kamu jahat sekali Angga.. Kamu sudah menodaiku.. Seharusnya kita tak perlu sampai sejauh ini.. hiks hiks..", Rita terisak.


Angga mencoba mengulang memori dalam otaknya. Ia kemudian memukul kepalanya sendiri ketika adegan demi adegan muncul di memorinya.


Lalu ia membuang nafas panjang. "Aku akan bertanggung jawab. Segera mungkin kita akan menikah", bujuk Angga untuk menenangkan Rita.


"Lalu, istri kamu bagaimana?" tanya Rita.


"Anita tak perlu tahu. Sudahlah.., nanti kita pikirkan lagi. Sekarang ayo antarkan aku ke cafe semalam untuk mengambil motorku. Aku harus segera pulang." terang Angga sambil memakai pakaiannya.


Rita pun mengikuti perintah Angga.

__ADS_1


''Yeeesss!! Rencanaku berhasil...!!'' Rita bicara dalam hati.


...----------------...


Hampir pukul 05.00 subuh Angga tiba di rumah. Anita yang telah selesai melaksanakan solat subuh memergoki Angga yang hendak memasuki kamar mereka.


"Baru pulang kamu, Mas..?!" selidik Anita.


Sontak Angga terkejut.


"Eh iya An.. Aku semalam ketiduran di rumahnya Dino.. Emang sialan mereka ngerjain aku.. Pas giliran mereka main PS, aku malah ketiduran eh nggak dibangunin sama mereka.''


''Iya beneran.. Kamu boleh nih tanya Dino, aku kasih nomer hp nya ya..'', jelas Angga begitu mudahnya mencari alasan.


"Nggak perlu.. Lain kali jangan diulangi lagi ya Mas.." jawab Anita. '' Sekarang kamu mandi gih lalu siap - siap ngantor"


"Oke...'' Anggapun berlalu masuk ke dalam kamar.


Anita bukan wanita bodoh yang serta merta begitu mudahnya percaya dengan perkataan suaminya. Namun ia lebih memilih mengalah kali ini dan tak mau mood-nya rusak pagi ini. Ia tidak mudah percaya namun juga tidak berfikiran sejauh dan senegative pikiran readers.

__ADS_1


Haripun berlalu seperti hari - hari biasanya.


Tiba sore hari, Anita dan Angga sudah ada di rumah.


"An.. Ada hal yang ingin ku katakan..'' Angga memulai pembicaraan.


"Ya bilang aja, kayaknya serius banget. Emang mau ngomong apa?" tanya Anita


"Gini.., aku dapet tugas baru dari atasan untuk memantau cabang baru di kota sebelah. Jadi kemungkinan aku akan tinggal di mess perusahaan di kota sebelah selama beberapa hari. Karena nggak mungkin aku bolak balik setiap hari. Rencananya satu minggu di sini, satu minggu di sana." jelas Angga panjang lebar.


"Kenapa kami nggak ikut saja sama kamu, Mas..?? Kita sekeluarga pindah aja ke kota sebelah..'', Anita pun memberi ide.


"Hhmm... Masalahnya kerjaan aku yang di kantor cabang sini juga masih ada, An.. Yah, mau nggak mau aku harus bolak balik gini deh. Lagian kamu juga masih terikat kontrak kan sama kantor kamu". Angga seperti mencari - cari alasan.


Anita menghembuskan nafas panjang. Tak tahu harus berucap apa selain pasrah saja membayangkan ia harus terpisah selama satu minggu dengan suaminya.


''Apa boleh buat, aku harus mendukung suamiku ketika karirnya yang sekarang semakin naik'', batinnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2