Keraguan Mencintaimu

Keraguan Mencintaimu
Kehilangan


__ADS_3

Anita membaca sekilas pesan WA dari Angga. Diletakkan ponselnya di atas nakas. Kecewa sudah pasti. Namun mau apa dikata lagi. Lebih baik ia fokus ke Rahma dahulu yang kini sedang berjuang melawan sakitnya.


Tanpa ia sadari, suhu tubuh anaknya kembali naik. Tiba - tiba Rahma kejang. Anita semakin panik. Langsung ia memencet sebuah tombol untuk memanggil perawat jaga. Anita mencoba untuk membangunkan Rahma dengan maksud agar kejangnya berhenti.


Tak berapa lama memang anaknya berhenti kejang. Bukannya sadar, tetapi Rahma seperti dalam keadaan pingsan. Lalu dua orang perawat jaga pun tiba di kamar rawat Rahma.


''Ada apa, Bu..??" tanya perawat satu.


"Tadi anak saya kejang, Sust... Tapi sekarang sudah berhenti..'', jawab Anita.


Sedang perawat dua memeriksa keadaan Rahma. Diperiksanya nafas dari lubang hidungnya, lalu denyut nadi di pergelangan tangan Rahma. Tanpa berkata apapun, tiba - tiba perawat kedua langsung berlari keluar dari kamar. Tak selang berapa lama perawat itu kembali dengan membawa dokter jaga.


Dokter itu memeriksa Rahma dengan seksama.


Terlihat dokter itu menghela nafas.


"Bagaimana, Dok..??'' tanya Anita.


''Maaf Ibu... Tapi anak ibu sudah tidak ada..", kata dokter.


Bagai tersambar petir Anita mendengar perkataan dokter itu.

__ADS_1


''Haahhh..??!! Tidak mungkin..!!" Kata Anita seolah tidak percaya.


Ia mengguncang tubuh tak berdaya anaknya. Tapi nihil.. Tubuh itu tak lagi merespon apapun yang Anita lakukan terhadapnya. Dokter pun berusaha menenangkan Anita.


Sambil menunggu para perawat melepaskan selang infus, Anita mengabari kabar duka itu ke beberapa saudara dan teman dekatnya.


[ Rahma udah nggak ada ] pesan singkat itu dikirimkan kepada Angga suaminya.


Malam itu juga jenazah dibawa pulang dengan ambulans dan akan dikebumikan esok hari. Sesampainya di rumah, orang pertama yang terlihat adalah sosok suaminya. Ia yang menjemput Anita turun dari mobil ambulans lalu memeluk Anita. "Maafkan aku..'', bisik Angga pelan di telinga istrinya.


Anita tak bergeming. Ia sebenarnya ingin marah, namun tak mungkin hal itu dilakukan mengingat saat ini bukanlah moment yang tepat. Kemudian ia berjalan menghampiri lalu memeluk ibunya. Kini hanya ibunyalah sumber kekuatannya.


Kini yang bisa dilakukannya hanyalah melantunkan doa untuk putri kesayangannya. Ia tak beranjak dari samping jenazah putrinya itu hingga keesokan harinya.


Kini semua proses pemakaman sudah dilakukan. Putrinya telah berada di tempat yang kekal. Satu yang diyakini Anita adalah bahwa putrinya tidak lagi merasakan sakit seperti kemarin. Namun satu hal juga yang sangat disesalkan. Bahwa sang putri tidak dapat bertemu dengan ayahnya di sisa - sisa hidupnya.


Para pelayat mulai berpamitan dan mengucapkan rasa belasungkawa. Mereka menyalami Anita dan Angga bergantian. Selly dan Anggi memberikan pelukan agar temannya itu tabah menerima cobaan ini. Yoga dan beberapa karyawan di perusahaan juga turut hadir di pemakaman Rahma.


Anita masih mendiamkan Angga hingga kini mereka berada di dalam kamar tidur mereka.


"Sekali lagi aku minta maaf..", nampak raut sesal di wajah suaminya.

__ADS_1


"Itu takdir dari Allah.. bukan salah kamu..'', jawab datar Anita.


''Aku tahu kamu marah.. Tapi percayalah.. Aku juga menyayangi anak kita.. Aku juga merasa kehilangan..", kata Angga.


Air mata Anita tumpah. Lalu Angga memeluknya, mencoba menenangkannya.


"Mari kita bercerai...'', kata Anita.


Angga melepaskan pelukannya.


''Jangan sembarangan mengucapkan kata cerai... Lagipula ini bukan waktu yang tepat...!!'' Kata Angga.


''Jadi kapan lagi kamu punya waktu untuk menemuiku..!! Waktumu hanya untuk istri mudamu saja..!! Itukah yang kau namakan adil..??!!'' Kali ini Anita berharap penjelasan dari suaminya.


''Untuk alasan apa kamu ingin tetap mempertahankan aku..?? Rahma sudah tidak ada...!!" lanjut Anita.


Angga menghela nafas.. ''Aku tidak mau..!!!"


Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Anita seorang diri di dalam kamar.


Kini ia menangis sejadi - jadinya. Merasa lelah, akhirnya ia berbaring dan memeluk foto Rahma hingga tertidur di pembaringannya

__ADS_1


...****************...


__ADS_2