
Tak berapa lama, Anita dan Rahma tiba di rumah. Hari ini Bik Yati libur karena hari Minggu. Walau hatinya sedang tidak baik - baik saja, ia tetap harus mengurus anak semata wayangnya.
Namun seberapa kuat ia mencoba untuk baik - baik saja, Rahma seolah mengerti isi hati mamanya. Entah mengapa ia tiba - tiba menjadi suka menangis hari itu. Benar kata orang - orang, anak akan ikut merasakan apa yang dirasakan orangtuanya.
Setelah bersusah payah membuat anaknya tertidur, kini ia menanti sang suami yang belum juga menampakkan dirinya. Anita tampak sekali tak tenang.
Terdengar langkah kaki mulai mendekat. Tanpa menoleh, Anita tahu bahwa suaminya yang datang. Ia duduk bersandar di sofa ruang keluarga sambil melipat kedua tangannya saat Angga mengahampirinya.
Terdengar Angga menghembuskan nafas panjang lalu ikut duduk di sofa tersebut. Bukan di samping istrinya, namun di kursi di hadapan Anita.
''Maaf.......", Angga mulai berucap.
"Untuk...??" tanya Anita. Masih tak bergeming dari posisi awalnya. Matanya tajam menatap suaminya.
"Soal Rita....", jawab Angga lalu tertunduk.
"Kalian ada hubungan apa?" yang ditanya masih saja menunduk.
"Kalian selingkuh?" Angga masih diam.
"Sudah sejauh mana...??" tanya Anita lagi.
Namun yang ditanya masih enggan memberikan penjelasan.
__ADS_1
"***..??!! Jawab, Mas... !!!!" Kali ini Anita sudah tak lagi menahan amarahnya.
"Dia hamil 5 bulan..!!" tegas Angga.
PLAAAKKKK...!!!
Bagai petir disiang bolong, Anita mendengar ucapan suaminya.
"Yaaa.. Kami sudah menikah 5 bulan yang lalu di kampung halaman Rita..!!"
PLAAAAKKKK!!!
Kedua kalinya ia menampar orang di hadapannya itu. Anita bukanlah wanita yang ringan tangan. Namun saat ini ia hanya spontan menampar suaminya itu. Ia merasa suaminya pantas mendapatkan tamparan darinya.
"Kamu sadar atas yang kamu ucapkan itu, Mas..??" tanya Anita masih tak percaya.
Angga mengangguk. "Aku akan bersikap adil.."
"Segampang itukah kamu bicara, Mas..!! Kamu tidak ingat Rahma hhaahh??!!!"
"Rita ada di depan, akan aku panggilkan..", kata Angga.
"Jangan - jangan kamu mau mengajak dia tinggal di sini, Mas...????" tanya Anita
__ADS_1
"Jangan bermimpi ya kalian. Ini rumah aku dan Rahma. Jangan berharap aku akan mengizinkan dia masuk....!!!"
"Tapi, An... Kamu tidak bisa seperti itu.. Ini juga rumah aku, An"... Angga mulai memohon.
"Kamu lupa, Mas..?? Rumah ini atas namaku.. Jadi, rumah ini adalah rumahku.. Aku berhak tidak mengizinkan dia mengingjak rumahku. Sekarang katakan, siapa yang kau pilih, Mas?? Kami atau perempuan itu..", Anita berharap suaminya akan kembali ke pelukannya.
"Oohh, ayolah An... Rita sedang hamil.. Tidak mungkin aku meninggalkannya...," jelas Angga.
"Kalau begitu aku anggap kamu memilih dia.. Baik, sekarang juga lebih baik kamu pergi dari sini, Mas. Pergilah sana bersama istri barumu itu...", Kata Anita namun masih dengan sikap yang tenang, bahkan ia sama sekali tak menangis.
"Tapi, Ann...", Angga memohon.
"Aku kamu waktu seminggu untuk berubah fikiran." Kata Anita.
Akhirnya Angga pergi meninggalkan rumah itu bersama Rita. Anita memandang mereka dari balik jendela. Tubuhnya terkulai lemas, jatuh terduduk di lantai seperti tulang - tulang di tubuhnya tiba - tiba hilang. Air matanya yang sedari tadi ditahannya kini mengali deras tanpa diperintahkan.
"Apa yang kurang dariku, Mas.. Hingga kau masih saja kembali ke cinta lama-mu.. Bahkan kamu sejauh itu memilih untuk berpoligami tanpa izin dariku... Yaaa, kamu anggap apa aku dan anakmu itu..?? Atau kamu tak pernah menganggap kami ada..."
Anita masih terisak hingga kedua kelopak matanya membengkak. Sesakit itukah dikhianati.
...---------------...
mudah - mudahan kita semua dijauhkan dari yang namanya pelakor ya teman - teman...
__ADS_1