
Tahun 2010.
Malam itu hatiku memang sedang galau. Aku sedih melihat kondisi mamaku. Beliau sudah bertahun - tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Aku sungguh tak tega melihat semakin hari kesehatannya yang semakin menurun. Entah sudah berapa puluh kali beliau harus menjalani opname di rumah sakit ketika tubuhnya nge-drop. Beliaupun sebenarnya sudah pesimis. Ia tak mau merepotkan suami dan anak - anaknya lagi. Namun kami selalu memberikan keyakinan bahwa beliau pasti akan sembuh. Akan kami lakukan apapun untuk beliau, kami ikhlas. Hingga suatu hari dokter yang menangani mama menyarankan untuk operasi. Namun mama tidak menyetujui hal itu.
Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakakku sudah berkeluarga sedangkan adik perempuanku satu - satunya masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Aku yang saat itu sedang iseng bermain game online, tiba - tiba mamaku memanggilku. Mungkin ia butuh teman untuk mengobrol.
"Ada apa, Ma...?" tanyaku saat menghampirinya.
"Tolong pijatin kaki Mama ya, Ngga..", pinta mamaku. Langsung kuturuti permintaannya. Mulai ku pijat kakinya. Sedangkan beliau dalam posisi berbaring di tempat tidur. Aku tahu, mama pasti sedang menahan rasa sakit. Namun ia tutupi.
"Angga.., usiamu sekarang berapa?" Tanya mamaku.
"Dua Enam, Ma... Kenapa Ma...??" ganti aku yang bertanya.
__ADS_1
"Kapan kamu akan menikah? Usiamu sudah cukup untuk menikah. Namun sampai detik ini belum pernah kamu membawa gadis ke rumah ini.. Apa kau belum memiliki kekasih? Kalau tidak salah pernah sekali kau membawa seorang gadis.. Namanya kalau mama nggak salah ingat.. Hhmmm.. Rita ya..??" Tanya mamaku. "Rita itu teman atau kekasihmu, Ngga??"
Lantas aku bingung harus menjawab apa.
"Iya Ma... itu Rita... Dia cuma teman kok, Ma...", jawabku.
Mama tidak tahu, sebenarnya aku memang menaruh hati kepada Rita. Namun kenyataannya, Rita mendekatiku hanya untuk memanfaatkan aku. Ya.. maksudku, ia sering memintaku mengerjakan tugas kuliahnya.. Dia meminta dan merengek manja. Sehingga membuatku gemas dan lama - lama aku jatuh hati padanya. Karena aku cukup pintar, dengan senang hati aku selalu membantunya saat itu. Setelah ia lulus, sekalipun tak pernah ia menghungiku lagi. Malahan kulihat ia sering jalan dengan lelaki lain. Ya sudahlah.. mungkin dia memang bukan jodohku.
"Mama mau melihat kamu menikah, Angga..!! Mama takut tak cukup lagi usia mama sampai hari itu datang...", pinta mama sambil menitikkan air mata.
"Baik, Ma... Angga usahakan ya Ma.. Mama juga bantu doa, mudah - mudahan jodoh Angga segera datang." jawabku menenangkannya.
" Sekarang lebih baik Mama tidur, karena sudah malam. Biar Angga pijitin kaki Mama sampai Mama tidur ya...", kataku dan diikuti anggukan mama.
Setelah mama tidur, ku selimuti badannya. Akupun kembali membuka laptopku, melanjutkan game online-ku. Tiba - tiba masuk sebuah pesan di medsosku.
__ADS_1
"Hah... ini kan salah satu mahasiswi di kampus." batinku.. "Kuladeni sajalah.. Lumayan untuk menghibur hati malam ini".
Tanpa kusadari, bermula dari media sosial, kini aku dekat dengan seorang gadis bernama Anita. Dia salah satu mahasiswi di kampus tempatku bekerja. Ya, aku bekerja di sana bukan sebagai seorang dosen. Aku hanya staff biasa. Namun, selain bekerja di sana, aku juga mempunyai beberapa pekerjaan sampingan. Lumayan, penghasilanku dapat sedikit demi sedikit ku tabung untuk masa depanku. Aku juga seorang yang hemat.
Suatu hari aku mengajak Anita ke rumahku, bertemu dengan kedua orang tuaku dan saudara - saudaraku. Anita tampak terkejut sekaligus kebingungan saat aku memperkenalkannya sebagai kekasihku. Dan malam itu juga akhirnya kami resmi menjalin hubungan yang sering dibilang orang 'pacaran'.
Kemudian ia mengajakku untuk saling mengaitkan jari kelingking kami. Entah apa maksudnya. Kupikir dia begitu polos. Namun kuturuti juga inginnya.
"Maaf , Nit.. Aku melakukan ini demi menyenangkan hati mamaku yang memintaku untuk segera menikah. Aku belum jatuh cinta denganmu. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Cinta toh akan datang di saat yang tepat." Batinku.
Ternyata Anita berbeda dengan Rita. Anita tidak pernah memintaku untuk membantunya segala hal yang berhubungan dengan kuliahnya. Dia mandiri sekali. Yang aku tahu, saat itu dia bertekad untuk segera menyelesaikan study-nya itu, memperbaiki nilainya yang anjlok karena sibuk pacaran dengan mantan kekasihnya. Mantan pacarnya yang overprotective.
Aku jelas berbeda dengan mantan pacarnya itu. Aku tidak pernah melarangnya ini dan itu. Cukup saling percaya dan membangun komunikasi yang baik. Namun begitu, aku belum juga jatuh hati padamu, Anita. Akankah nanti....????
Prov Angga Permana : END.
__ADS_1
...****************...