
Akhirnya, hari yang dinantipun tiba. Hari dimana aku resmi menyandang status sebagai seorang istri. Aku telah menjadi nyonya Angga Permana kini.
"SAH...."
Menetes air mataku ketika Angga selesai mengucapkan ijab kabul dengan hanya sekali tarikan nafas. Kulihat pula tetesan air mata bahagia dari ibuku dan mama mertuaku.
Aku bahagia Kak Angga ternyata menepati janjinya untuk memberikan resepsi pernikahan yang indah, bertemakan glamour dengan dekorasi didominasi warna ungu, earna kesukaanku. Akupun ingin memberikan kejutan untuk Kak Angga. Ku nyanyikan sebuah lagu yang berjudul Janji Suci ciptaan Yovie Widianto dan ku persembahkan untuk suamiku tercinta. Aku menyanyi sambil menggenggam tangannya di atas pelaminan.
"Oohh.. ini begitu sempurna," batinku.
Namun entah mengapa kulihat Angga nampak menjadi sedikit pendiam.
Para tamu undangan datang silih berganti. Menyalami dan mengucapkan selamat untuk kami. Aku serasa menjadi ratu sehari yang mengenakan pakaian pengantin mewah bermahkota bak ratu yang menggenggam bucket bunga.
Setelah melewati acara resepsi, sorenya kami langsung pergi ke hotel tempat kami akan menghabiskan malam pertama kami. Hotel yang berada di salah satu kawasan pantai dengan view pemandangan depan kamar adalah pantai dengan pasir yang putih. Indah banget.
Kami melewati sore itu dengan berjalan - jalan di pinggir pantai. Menikmati pemandangan matahari tenggelam. Duduk mengobrol santai sambil menikmati air kelapa muda. Kami layaknya pasangan yang serasi kala itu.
Dan tiba saatnya waktu makan malam. Ternyata pihak hotel telah menyiapkan special dinner untuk pengantin baru. Mereka mengantarkan menu makan malam itu ke kamar kami.
Setelah selesai makan malam, ini saat yang dinanti dan sangat mendebarkan untukku. Aku mempersiapkan diri di kamar mandi. Aku ganti bajuku dengan lingarie merah yang kusiapkan di dalam koperku. Sejenak aku ragu untuk memakainya. Aku merasa malu. Terdengar suara Angga memanggil.
__ADS_1
"Anitaaa... ngapain kamu berlama - lama di kamar mandi? Kemarilah...."
"I.. Iyaaa... Sebentaaaarrrr...", jawabku.
Kupegang gagang pintu sambil kupejamkan mataku dan kutarik nafas panjang yang lalu kehembuskan kembali. Kuberanikan diri untuk keluar kamar mandi. Ku lihat Angga sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia melirikku dan tersenyum tipis. Ooh, mungkin saat ini pipiku sudah bersemu merah. Lalu aku duduk di sampingnya.
"Sudah siap..???" tanya Angga.
Aku mengangguk malu - malu. Maksudku, malu tapi mau.
Kini kami sudah saling berhadapan. Saling menatap. Ku bibirnya yang komat - kamit, ia membaca doa sambil memegang kedua bahuku. Setelah membaca doa, dikecupnya ubun - ubunku, lalu keningku, mataku, hidungku, pipiku. Sejenak aksinya terhenti seperti ragu - ragu. Kemudian ditatapnya mataku. Aku yang sedari tadi menikmati setiap kecupannya di area wajahku kini kebingungan.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanyaku yang sedikit menggodanya.
Dan akhirnya kamipun menyatu hingga masing - masing menemukan klimaksnya. Seketika tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Lalu ia berpindah, membaringkan tubuhnya di samping kiriku. Ku lihat matanya mulai terpejam. Aku tarik selimut hingga menutupi bagian tubuh kami yang tanpa sehelai benangpun saat itu.
Di balik selimut itu ku lingkarkan tangan kananku untuk memeluknya. Entah ia sedang mengigau atau apa, sayup - sayup ku dengar suaranya menyebutkan...:
"Terimakasih Ritaaaa...."
Sontak saja aku terkejut.. Jelas sekali Angga mengatakan "Ritaaaa..." bukan "Nitaaaa...." !!!
__ADS_1
Kemudian aku guncang - guncangkan tubuhnya, aku bangunkan dia.
"Mas Angga... Bangunlah.. !!"
Anggapun terbangun sambil mengucek - ngucek matanya.
"Ada apa... Aku lelah.. Ayo tidur...", katanya.
"Tunggu dulu..!! Kamu barusan menyebut nama Rita..!!"
"Ah masa'..?? Mungkin kamu yang salah dengar. Aku menyebut Nita..", kata Angga yang hendak membalikkan tubuhnya menghindariku. Namun ku tahan aksinya itu.
"Tidak..!!! Aku yakin betul kamu menyebutkan nama Rita...!!!"
Dengan ekspresi datar, Angga langsung bangkit dari tidurnya dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya.
Akupun turun dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya. Kini kami berdiri saling berhadapan dan aku masih menunggu penjelasan dari nya.
Ia menghela nafas,
" Iya, memang benar aku menyebutkan nama Rita.. Karena wanita yang aku cintai sebenarnya adalah Rita, bukan kamu Anita.. Maafkan aku...!!!"
__ADS_1
...****************...