Keraguan Mencintaimu

Keraguan Mencintaimu
Diluar Dugaan


__ADS_3

Waktu semakin berjalan, tinggal lima bulan lagi kami akan resmi menjadi sepasang suami istri. Segala sesuatunya mulai kami persiapkan sedetail mungkin. Kami memakai jasa Wedding Organizer yang cukup terkenal di kota ini. Aku dan Kak Angga juga masih disibukkan dengan pekerjaan masing - masing. Kak Angga sudah tidak bekerja di kampus lagi. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan tambang tak lama setelah pertunangan kami.


Benar kata orang - orang. Biasanya akan banyak cobaan yang datang ketika sepasang manusia akan menikah. Kamipun mengalami hal itu. Aku seperti mendapatkan teror dari seseorang yang selalu menelfonku dengan nomer telfon yang tidak aku kenal. Namun tak pernah aku dengar suara orang itu. Dia hanya terdiam selama tiga menit, lalu dimatikannya. Ketika aku coba menghubunginya, nomer itu sudah tidak aktif. Awalnya ku kira orang salah sambung. Namun lama - kelamaan semakin sering si misterius itu menelfon dengan berganti - ganti nomer dan aku yakin sekali, dia orang yang sama. Hal itu kuceritakan kepada Kak Angga.


"Jangan dihiraukan, nanti juga dia capek sendiri..", katanya saat itu.


Hingga suatu hari, si misterius itu menelfonku lagi. Selama tiga menit dia diam. Sedangkan aku sudah mulai mencaci makinya. Tiba - tiba dia mengeluarkan suara.


"Datanglah ke Taman Kota nanti malam jam delapan jika kau mau tahu siapa aku." Langsung dimatikannya sambungan telfon itu tanpa menunggu jawabanku dan nomernya sudah tidak aktif ketika aku menelfon balik orang itu.


Akupun memutuskan untuk datang malam itu ke Taman Kota. Suasananya ketika itu memang tidak terlalu sepi jadi aku tidak takut untuk menemuinya.


"Robiiii.....!! Jadi kamu yang meneror aku beberapa bulan ini?!! Apa maumu sebenarnya..?!!"


"Tenanglah Anita.. Jangan marah seperti itu. Aku hanya ingin memintamu untuk kembali padaku..."


"Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak bisa, Rob... Aku sudah memiliki calon suami dan lima bulan lagi kami akan menikah."


"Karena itulah, aku tak rela melihatmu dengan lelaki lain, An... Aku janji.. aku akan mengubah sikapku."


"Aku benar - benar minta maaf, Robi.. Aku tidak bisa.. Aku mencintai calon suamiku.. Aku tak ingin mengecewakan keluarga kami, terutama ibuku..", jawabku yang mulai terisak.


"Baiklah... daripada aku melihatmu dengan lelaki lain, lebih baik aku mati saja..!!!" katanya sambil mengancungkan sebuah pisau kecil yang diambil dari saku celananya. Ketika ia hendak menusuk perutnya sendiri, aku langsung refleks memegang tangannya. Aku mencegah perbuatan bodohnya yang ingin melukai dirinya sendiri. Ketika kami saling menarik pisau itu tidak sengaja pisaunya malah mengenai pergelangan tanganku. Robi seketika panik. Aku lihat ada beberapa orang hendak menghampiri kami. Pastilah mereka mendengar suara gaduh dari kami.

__ADS_1


"Pergilah Robi.... Cepat...!!! Sebelum orang - orang di sini tahu apa yang terjadi..!!" kataku dengan suara pelan.


"Tapi tanganmu terkena pisau dan darahnya banyak sekali.. Aku minta maaf An.. Aku tidak sengaja... Aku tidak bermaksud melukaimu.. Akuuu...", kata Robi panik.


"Sudahlah... Cepat kau pergi..!!"


Dengan cepat Robi berlari menjauh dariku lalu pergi dengan sepeda motornya.


"Ada apa, Mbak...??" Tanya salah satu orang yang menghampiriku.


"Waaahh.. tangan Mbak terluka itu berdarah.. Mbak dilukai sama orang yang kabur tadi kan?!!" kata salah satu orang yang lain.


"Kita bantu kejar orang itu dan lapor polisi ya Mbak, agar cepat ditangkap... Mari kami antar Mbak ke rumah sakit..!!", kata seorang lagi.


Sesampainya di rumah sakit, lukaku langsung ditangani oleh dokter di ruang IGD.


"Ini kenapa tangannya, Mba....", kata dr.Ridwan, aku membaca namanya di kartu tanda pengenal yang ia kenakan.


"Kena pisau, Dok...", jawabku


"Oke.. Kami akan membersihkan lukanya dan sepertinya ini harus dijahit sedikit ya Mbak..", kata dokter itu lagi.


"Siap dok..!! Lakukan saja..Oh iya dok, sementara dokter mengobati saya, apakah saya boleh menelfon keluarga saya?" Tanyaku. Dijawab dengan anggukan saja oleh dr.Ridwan.

__ADS_1


Namun, bukan keluargaku yang aku hubungi, melainkan Kak Angga.


"Hallo... Kak Angga... Kamu bisa ke RS Pelita sekarang? Aku ada di IGD."


"Ngapain kamu malam - malam di IGD Anita??!"


"Panjang ceritanya. Kak Angga ke rumah sakitnya naik taxi aja ya Kak.. Aku kayaknya nggak bisa nyetir sendiri nanti".


"Oke.. Kamu tunggu di sana ya..!"


Tak berapa lama, Anggapun sampai di rumah sakit. Dia melihat tanganku yang dibalut kain perban.


"Ya ampun.. Itu tangan kamu kenapa An..??", tanya Angga cemas.


"Nanti kuceritakan di dalam mobil. Sekarang Kak Angga tolong urus administrasinya."


Selesai mengurus administrasi, kamipun segera pulang. Di perjalanan pulang aku menceritakan kejadian tadi bersama Robi.


"Jadi yang sering meneror kamu nelfon-nelfonin kamu nggak jelas itu Robi mantan pacar kamu ya!! Kamu kenapa nggak bilang Anita?? Seharusnya kamu ajak aku saat kalian bertemu tadi. Kita harus segera lapor polisi, An...!!" kata Angga kesal.


"Please Kak, jangan lapor polisi ya.. Aku kasihan sama dia. Aku yakin dia nggak bakal gangguin aku lagi. Jangan diperpanjang lagi masalah ini." jawabku setengah memohon.


Dan setelah perdebatan panjang lebar, Kak Anggapun menyetujui permintaanku. Sesekali ku lihat wajahnya. Ia yang sedang konsentrasi mengemudi tidak mengetahui aksiku. Batinku, "Kak Angga peduli sekali.. Kelihatannya dia sangat mencemaskan aku.. Semoga kami nanti menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Amin...."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2