
Tidak terasa saat ini usia kehamilanku memasuki trimester kedua. Aku benar - benar bersyukur, janin yang ada di dalam rahimku ini tidak banyak menuntut dariku. Aku tidak merasakan ngidam. Aku tidak pilah pilih makanan. Dan aku bisa beraktivitas seperti biasa. Aku tetap semangat pergi bekerja. Hanya saja aku masih sering merasakan mual dan muntah saat pagi hari ketika aku bangun tidur. Dan juga aku masih merasa senitif jika berurusan dengan suamiku. Walaupun demikian, ia tetap sabar menghadapiku. Dan juga setiap bulan ia selalu menemaniku memeriksakan kehamilanku.
Atau apakah Angga telah jatuh cinta padaku?
Di suatu malam, ketika itu aku sudah tidur sedangkan Angga masih menonton televisi. Ia mendapatkan pesan WA dari Linda, adiknya yang mengabarkan bahwa mama tiba - tiba mengalami sesak nafas. Papa kemudian membawa mama ke rumah sakit.
Angga membangunkanku untuk berpamitan hendak menyusul ke rumah sakit. Angga tidak mengizinkanku untuk ikut, karena hari sudah hampir tengah malam dan aku sedang hamil. Angga takut aku akan kelelahan.
Di rumah pun aku tetap tidak bisa melanjutkan tidurku. Rasa khawatir menyelimutiku. Teringat tiga bulan yang lalu saat kami memberitahukan kehamilanku. Beliau begitu gembira hingga meneteskan air matanya.
"Alhamdulillah.. Ini yang mama nantikan Nak." kata mama sambil memeluk tubuhku.
"Jagalah baik - baik calon anak kalian. Dan terima kasih kamu sudah mau bersama Angga. Mama titip Angga sama kamu ya Nak.. Bersabarlah dalam menghadapinya." Kata mama waktu itu, seperti mengucapkan permintaan terakhirnya.
"Aaahhh... Semoga kondisi mama bisa stabil lagi Ya Allah.."
Sudah dua jam Angga di rumah sakit namun belum ku terima kabar darinya.
"dreeettt... dreettt.. dreeetttt...", Ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari Angga!
"Assalamualaikum.. An.. Mama udah ngga ada...",
"Wa'alaikumsalam.. innalillahi wainnaillaohirojiun.., kamu yang sabar Mas...", jawabku menahan tangis.
__ADS_1
"Aku akan mengurus jenazah mama, An.. Setelah waktu subuh, aku akan menjemputmu". Kata Angga.
"Baiklah..."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Pagi itu rintik hujan membasahi bumi. Seakan langit ikut bersedih mengantar kepergian mama. Anak, cucu dan menantu mencium kening mama untuk yang terakhir kalinya. Yaaa, setidaknya mama tak lagi harus menahan rasa sakit.
Setelah semua proses pemakaman selesai, aku dan Angga pun pulang. Tampak sekali raut sedih di wajahnya. Matanya pun sembab karena menangis. Aku ingin memeluknya, memberikan kekuatan untuknya. Tapi....
"Mama belum sempat melihat cucunya An..", kata Angga memulai percakapan. Ia terduduk di sofa dengan tubuh lemas.
"Mama akan melihat anak kita dari atas sana, Mas. Kita harus mengikhlaskannya. Kita kirim terus doa untuk mama. Agar mama bahagia di sana", kataku sambil menggenggam tangannya.
Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku kaget dan hendak pergi. Namun ia berkata.. "Tetaplah di sini sebentar An.. Aku sedang butuh tempat bersandar."
Akhirnya aku memberikan bahuku untuk ia bersandar selama apapun yang ia butuhkan.
Lima belas menit berlalu, tak sepatah katapun yang terucap dari bibir kami masing - masing. Ternyata ia sudah tertidur di bahuku. Angga memang belum tidur dari tengah malam tadi. Ia pasti lelah mengurus segala urusan rumah sakit hingga proses pemakaman.
Pelan - pelan ku tarik kepalanya lalu aku baringkan ia di atas sofa. Aku akan menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Belum tampak terlihat tanda - tanda Angga akan bangun dari tidurnya. Ku hampiri ia lalu aku berjongkok di depan sofa tempat ia tidur.
Ku belai rambutnya beberapa kali lalu secara spontan aku kecup keningnya. Aku merasa kasihan padanya. Bagaimanapun aku juga pernah merasakan kehilangan orang tua, yaitu ayahku. Meskipun saat ayahku berpulang usiaku masih kecil, namun aku sudah mengerti rasa sakitnya kehilangan.
Aku teringat akan niatku untuk membangunkannya.
"Maaas.. Maass.. Bangunlah.. Sudah jam lima.. Lebih baik kamu mandi..", ucapku dengan lembut sambil menepuk tangannya.
Angga kemudian perlahan membuka matanya. Ia menatapku sejenak lalu bangkit dan duduk di sofa itu. Sejenak ia duduk, mungkin hendak mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu. Lalu ia bangkit dari duduknya, berjalan ke kamar mandi.
Anita tidak tahu bahwa hati Angga sedang berkecamuk. Sebenarnya Angga sudah bangun saat Anita mengecup keningnya tadi. Ia hanya berpura - pura masih tertidur agar Anita tidak mengetahui bahwa ia menjadi grogi akibat perbuatan Anita itu.
...****************...
***Apakah sudah tumbuh benih - benih cinta di hati Angga untuk Anita...??
Tunggu kelanjutannya ya...
tbc
to be continue*
😘😘😘**
__ADS_1