
Beberapa episode nyaris memasuki konflik terberat. Mohon mengindahkan peringatan dan Nara harap ini masih menjadi kebersamaan yang indah. Siapkan mental dan bagi yang tidak tahan harap skip. Tolong kerjasamanya ya. Terutama pembaca baru. Pleaseeee..!!!!!!!'
🌹🌹🌹
Bang Arma menyerahkan uang lima puluh juta rupiah cash di tangan Rhena namun saat Rhena menerimanya, setitik air matanya mengalir, dan istrinya itu segera menghapusnya.
"Kenapa? Jumlahnya kurang?" Tanya Bang Arma.
"Abang ikhlas?" Rhena balik bertanya.
Tangan Bang Arma mencubit pelan hidung mancung Rhena. "Ikhlas donk. Memangnya ada alasan apa sampai Abang nggak ikhlas?"
"Abang nggak takut miskin karena harta Abang di ambil Rhena?????"
Bang Arma tersenyum kemudian mengusap pipi Rhena. "Apa yang menjadi milik Abang juga menjadi milikmu. Apa bedanya harta ini berada di mana. Pernikahan itu berarti dua insan menjadi satu. Apa gunanya kita sudah saling melihat aurat jika masih ada privasi."
Rhena langsung memeluk Bang Arma dengan eratnya. "Rhena hanya bercanda Bang, ambilah lagi uang Abang..!!"
"Abang nggak bercanda, pakai saja uang itu untuk membeli apa yang kamu mau. Abang berikan semua untuk uang jajanmu..!!"
"Abaaang.. terima kasih ya Bang." Rhena semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Bang Arma.
"Tapi ingat, Abang menagih biaya service..!!" Ucap Bang Arma mengingatkan Rhena pada ucapnya tadi.
Merasa masih berhutang, Rhena pun menarik jilbabnya untuk memenuhi tagihan dari Bang Arma namun Bang Arma menahannya.
"Nanti, Abang ingin waktu yang private dan lama. Abang ingin menghabiskan waktu berdua sama kamu."
Rhena mengangguk, ia terus menatap sorot mata tajam itu. Tatapan mata yang indah dari seorang Letnan Armayudha. Gagah dan penuh wibawa.
"Maass..!!" Sapa Rhena mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Bang Arma.
"Dalem cintaa..!!" Jawab Bang Arma dengan hati yang tiba-tiba berdesir mendengar sapaan yang berbeda dari biasanya. Sapaan pertama Rhena saat pertama kali bertemu dengan dirinya dulu. "Mau apa? Sekarang saja??" Tanyanya mulai tak tahan dengan gairahnya sendiri.
__ADS_1
"Sapinya di potong saja Mas, di belah jadi banyak terus di bagikan ke anggota Batalyon. Sisanya di masak untuk makan bersama." Saran Rhena sambil bergelayut manja.
"Boleh.. tapi Mas Ar mau belah yang ini dulu..!! Gamannya sudah pengen di asah." Bisik Bang Arma.
Rhena sedikit cemas tapi dirinya tidak berani menolak permintaan Bang Arma. Anggukan tanda setuju akhirnya lolos juga.
"Abang request donk..!!"
"Apa Bang?" Tanya Rhena takut tidak bisa memenuhi permintaan suaminya.
Bang Arma kembali memeluk dan membisiki telinga Rhena.
-_-_-_-_-
Bang Arma melepas de*ah panjang mengisyaratkan kelegaan seorang pria. Tubuhnya mengejang, kelopak matanya terpejam, untuk sejenak pikirannya terhenti beroperasi, hanya lenguh menuntaskan segala rasa.
Rhena menggigit bibirnya, ingin beralih tapi Bang Arma masih mendekapnya. Jujur ia mengakui di dasar hatinya memang suaminya sungguh memiliki power dan stamina yang luar biasa, ibarat makan nasi mungkin satu piring tidak akan cukup untuk memenuhi rasa lapar Bang Arma.
"Sudah ya Bang..!!" Bisik Rhena di telinga Bang Arma.
Disisi lain jelas saja bukan cara Bang Arma menggau**nya, Bang Arma juga termasuk pria yang pandai menyenangkan dalam urusan ranjang tapi kali ini yang ada di dalam perutnya lah yang kurang bersahabat. Perlakuan Bang Arma yang penuh kasih sangat berbeda jauh dengan Bang Setyo yang kerap kali berbuat kasar padanya dan hanya membuatnya sebagai budak nafsu belaka.
"Enak, tapi perut Rhena nyeri Bang." Ucap Rhena tapi masih belum sepenuhnya berani jujur pada Bang Arma.
"Abang sudah pelan dek? Apa masih terlalu kasar?" Satu kecupan mendarat di bibir Rhena.
"Ng_gak Bang." Entah kenapa malah kata itu yang keluar dari bibir Rhena.
"Kalau begitu satu kali lagi ya, ini yang terakhir..!!" Kata Bang Arma kemudian kembali menancapkan pasak yang masih standby di wadahnya.
"Tadi katanya juga begitu." Protes Rhena.
Bang Arma seakan tuli tak mendengar protes dari Rhena. Pinggulnya sudah bergerak seirama tumbukan alu dan lesung, ekspresi wajahnya sudah menunjukkan bahwa saat ini dirinya tidak ingin di ganggu gugat dalam hal apapun. Jujur tubuhnya mulai lelah, nafasnya tersengal, lututnya terasa lemas sampai rasanya ingin lepas dari tempurungnya namun rudalnya tidak mau bekerja sama dan terus menagih rasa nikmat yang ada di luar nalarnya.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu dan dirinya mulai frustasi karena tawanan yang ada dalam barisan belum mau untuk di bebaskan.
"Ayo donk Bang..!!" Pinta Rhena semakin merengek. Ia kesal dan akhirnya bergerak mengimbangi Bang Arma.
Bang Arma pun menekan kuat tubuhnya. Rhena semakin kesakitan di buatnya. Ia berusaha mendorong dada Bang Arma tapi yang terjadi adalah Bang Arma semakin kuat menekan tubuhnya hingga akhirnya selesailah tugas patrolinya malam ini.
"Alhamdulillah.. terima kasih banyak sayang..!!" Bang Arma mengecup bibir Rhena yang terpejam namun sesaat kemudian Bang Arma melihat ada yang aneh. "Dek..!!!!" Bang Arma menepuk pipi Rhena dan tidak ada reaksi dari istrinya itu. "Deek.. sayang..!!!" Sekali lagi Bang Arma menepuk pipi Rhena. "Astagfirullah..!!!!!"
...
Bang Arma mondar-mandir cemas di sekitar kamarnya, ia menunggu Bang Muksin memeriksa keadaan Rhena.
"Jelaskan bagaimana awalnya..!!" Pinta Bang Muksin.
"Rhena tiba-tiba saja pingsan..!!" Jawab Bang Arma berusaha tenang.
"Nggak mungkin Ar, aku ini dokter.. jangan bohongi aku..!! Tekanan darah Rhena rendah sekali..!! Kalian baru berhubungan??" Tanya Bang Muksin.
"Nggak."
"Baiklah kalau begitu, untung saja tidak.. karena kalau kamu sampai melakukannya.. anakmu dalam bahaya..!!" Kata Bang Arma.
Kening Bang Arma berkerut. "Maksudmu apa??"
"Rhena tidak bilang kalau dia lemah kandungan??"
Seketika mendengarnya Bang Arma seperti terkena serangan jantung.
.
.
.
__ADS_1
.