Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
3. Ext part.


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Bu"Nggak.. hentikan suaranya..!!" Rhena berteriak tidak mau mendengar suara Kinan.


"Dimana Rhena Bi???" Bang Rojaz bergegas datang ke rumah Rhena di lapak loundry karena Bibi menghubunginya.


"Di kamar Pak.. itu sedang berteriak."


Tak banyak pikir Bang Rojaz segera masuk ke dalam kamar. Karena Rhena hanya bisa tenang saat menghirup aroma tubuh almarhum Arma, maka dirinya kini setiap harinya juga memakai aroma parfum yang sama.


"Rhena, ada apa?" Bang Rojaz langsung memeluk Rhena untuk menenangkannya.


"Rhena nggak mau dengar suara tangis itu..!!!! Rhena mau Bang Arma kembali..!!!!!" Pekik Rhena.


Dengan penuh kesabaran Bang Rojaz membelai Pipi Rhena. "Rhena, belajarlah menerima kenyataan, Arma sudah tiada. Kita yang masih hidup di dunia harus bisa, harus kuat melanjutkan hidup..!! Abang sudah katakan.. kalau kamu tidak kuat, tidak sanggup menghadapi semuanya, katakan sama Abang.. Abang rela menanggungnya..!!"


Rhena terisak, menangis di pelukan Bang Rojaz. "Rhena benar-benar nggak kuat Bang. Kenapa Rhena harus merasakan semua ini??"


Bang Rojaz terdiam sejenak, dulu almarhum Arma juga sangat hancur saat tau Rhena pergi meninggalkannya. Kini Rhena merasakan hal yang sama tapi bedanya kali ini Rhena tidak lagi bisa bertemu dengan Arma untuk selamanya.


"Jika kamu menyayangi Arma, do'akan dia..!! Kirim do'a, hanya do'a mu yang bisa membawanya ke surga. Bukankah selama ini dirinya sudah menjadi suami dan ayah yang baik, maka balaslah segala kebaikannya semasa hidup..!!"


Rhena lemas mendengar ucapan Bang Rojaz, itu berarti dirinya harus mulai menerima kenyataan dan ketetapan Tuhan tentang hidupnya kini.

__ADS_1


"Abang harap ini untuk terakhir kalinya. Jangan pernah mencoba untuk bunuh diri lagi..!! Nggak baik dek.. dosa..!!" Kata Bang Rojaz.


Pelukan itu begitu erat melingkar di pinggang Bang Rojaz. Bang Rojaz pun menarik nafas dan akhirnya memberanikan diri.


'Bismillahirohmanirohim.'


"Dek, boleh Abang sedikit bicara?" Tanya Bang Rojaz.


Rhena mengangguk menanggapi.


"Abang tau mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi Abang juga tidak ingin kita terus seperti ini, tanpa kejelasan di antara kita." Kata Bang Rojaz membuka suara di antara mereka. "Tidak ada niat Abang mengambil kesempatan, tapi kita punya rasa sakit yang sama, hati kita sama-sama terluka. Kira-kira, apa kamu merasa keberatan jika kita menikah saja?"


Bukan tanpa alasan Bang Rojaz mengatakannya. Masukan dari atasan, senior dan para rekan membuatnya lebih berani mengatakannya pada Rhena, entah apa hasilnya nanti yang jelas dirinya sudah berani untuk mengatakannya.


"Setiap manusia punya jalan garis hidupnya dek." Bang Rojaz mengangkat dagu Rhena. "Bagaimana kalau kita adalah jodoh yang tertunda?"


"Maksud Abang apa? Rhena nggak ngerti."


"Rhena Ghea putri almarhum bapak Baharuddin, dulu kita pernah main rumah-rumahan dan Abang ini suamimu." Kata Bang Rojaz. "Yaaa.. kira-kira berapa lama ya istri Abang di gondhol Armayudha. Sekarang apa sudah boleh Abang ambil kembali?"


Rhena terus menatap wajah Bang Rojaz dan terus menerka siapa wajah yang ada di hadapannya ini.


Bang Rojaz tersenyum mendengarnya. "Bunda, Ayah sudah pulang.. Hari ini Ayah gajian."

__ADS_1


Rhena tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya. "Mas Cungkring??"


"Ingat juga kamu ya? Dulu kamu masih TK, Abang kelas lima SD. Sekarang kita sudah mau punya anak TK." Bang Rojaz mengalihkan pikiran Rhena agar traumanya bisa segera hilang.


Wajah Rhena jadi tersipu malu, ingin beranjak dari dekapan Bang Rojaz tapi Bang Rojaz tak melepas dekapannya. "Abang sudah tidak Cungkring lagi. Masa sekarang kurang gagah dek??"


Rhena tertunduk tanpa kata. Sejujurnya dirinya tidak lagi mengenal Bang Rojaz karena memang tubuh pria tersebut sudah sangat atletis dan gagah, tidak jauh berbeda dari Bang Arma karena pasti pembinaan fisiknya pun sama.


"Ngomong-ngomong, Abang punya fotomu dari masa ke masa. Sampai akhirnya Abang nggak punya lagi karena kamu pergi."


"Darimana Abang dapat foto Rhena?"


"Dari tukang kebun Ayahmu." Jawab Bang Rojaz. Beliau selalu mengirimkan fotomu hingga terakhir kali saat kamu akan menikah."


"Benarkah Bang?"


"Jelas donk. Lalu Abang menemukanmu lagi melalui sopirmu." Kata Bang Rojaz. "Mas Widiono.. adalah anaknya tukang kebun Ayahmu. Abang baru tau saat baru tiba di sini dan baru tau dunia ini sempit bisa menemukanmu lagi melalui Mas Kacong meskipun Mas Kacong juga lupa sosokmu. Mungkin karena beliaunya juga lebih tua. Jadi tidak begitu mengenalmu"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2