Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
5. Ext part.


__ADS_3

"Pil naga nya habis pak." Kata bapak penjual jamu.


"Waduuuhh.. biasanya apa gantinya? Sepertinya yang beli ini lelah sekali, saya hanya di titipi Pak."


Bapak penjual jamu tersebut melirik kantong pesanan Bang Erky yang baru saja membeli jamu pegal linu, itu berarti dengan kata lain si pembeli jamu tersebut membutuhkan waktu untuk istirahat agar tenaganya segera pulih.


"Kalau begitu saya ambilkan pil tilem asrep saja ya..!!"


"Ya sudah Pak, yang penting bisa istirahat." Jawab Prada Erky.


...


Bang Rojaz tersenyum licik menerima kantong plastik dari Prada Erky. "Good job. Thanks Ky..!! Kamu kembali ke barak ya, jangan kembali ke sini selama saya tidak memanggil..!!"


"Siap Danki..!!"


Bang Rojaz melenggang dengan percaya diri bersiul menuju dapur. Sesekali tangannya mengibaskan sarung bak seorang pemain wayang yang gagah perkasa.


Prada Erky menggaruk kepalanya. "Salah beli nggak ya? Danki mau tempur atau mau istirahat?"


:


"Bang, mau minum kopi atau langsung istirahat?" Tanya Rhena yang masih malu-malu tinggal satu rumah di hari pertamanya dengan Bang Rojaz.


"Mau duduk dulu sebentar dek. Kepala Abang rasanya berat, pengen tidur." Jawabnya dengan suara parau. Entah kenapa matanya jadi mengantuk, rasa kantuknya begitu tak tertahankan hingga dirinya merasa terbuai.


"Abang ngantuk ya?" Tanya Rhena lagi.


"Ng_gak." Tapi beberapa detik kemudian Bang Rojaz sudah tertidur pulas dan tak mengingat apapun lagi.


Rhena memainkan jari dengan bingung namun kemudian memilih masuk ke dalam kamar anak-anak dan tidur dengan Shima, Gempar dan Ghema karena Katon dan Kinan ada dalam asuhan para bibi.


***


Pagi buta Bang Rojaz terbangun. Ia mencari sesuatu di dapur, sesuatu yang membuatnya penasaran sekaligus kesal.


"Mana.. manaa.. manaaa..!!!" Matanya mencari wadah pembungkus obat yang di minumnya semalam dan akhirnya ia menemukannya di dalam tempat sampah. "Laaaaahhh.. kurang aseeeeemm..!!!!!" Bang Rojaz langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


:


"Siap.. cap naga."

__ADS_1


"Lalu apa ini????" Tegur Bang Rojaz menunjuk pil yang di pegangnya.


"Siap.. gambar kera tidur."


Bang Rojaz menepak bahu Prada Erky. "Kamu sudah buat saya gagal membelah diri. Bagaimana tanggung jawabmu Ky?"


"Siaap salah Dan." Jawab Prada Erky tak bisa membantah karena merasa dirinya memang salah.


"Lari sepuluh kali putar lapangan..!!" Perintah Bang Rojaz dengan nada kesal.


"Siap Danki."


Tak lama Rhena datang karena mendengar suara murka suaminya. "Ada apa sih Bang? Ramai sekali terdengar sampai kamar."


"Nggak ada apa-apa." Jawab Bang Rojaz yang kesal di pagi buta kemudian masuk ke dalam kamar.


Prada Erky pun segera berlari menjalani hukuman dari Dankinya.


~


"Ada apa sih Bang, kenapa uring-uringan. Masih pagi sekali nih."


"Nggak apa-apa." Seperti tadi, jawab Bang Rojaz pun singkat saja.


"Nggak usah pakai begituan lah Bang, Rhena tau Abang bisa tanpa pakai begitu." Kata Rhena kemudian mengambil bungkus tersebut dan membuangnya di tempat sampah.


"Abang cuma mau nyenengin kamu. Mungkin Arma.........."


Rhena meletakan telunjuknya di depan bibir Bang Rojaz. "Rhena adalah Rhena.. bukan Rika. Begitu juga Abang.. Bang Rojaz bukanlah Bang Arma. Bukankah kita harus menjalani hidup dalam lembaran baru dan menutup lembar lama?"


Bang Rojaz memalingkan wajahnya. Semua tampak penuh dengan beban.


Rhena mengangkat kaos oblong Bang Rojaz dan membukanya.


Degub jantung Bang Rojaz tak beraturan. Ia sampai mengangkat kedua tangannya saat Rhena meraba dadanya. "Astagfirullah hal adzim." Ucapnya kemudian memejamkan mata sejenak.


"Abang nggak mau?" Rhena pun melepas pengait jilbabnya.


"Ya Allah Ar, maaf yo.. tapi Rhena sekarang istriku." Tanpa banyak bicara, Bang Rojaz menarik dan menumbangkan Rhena di atas ranjang.


"Aaaaaaaaaa...!!!!"

__ADS_1


Tak tahan mendengar suara Rhena, Bang Rojaz secepatnya mengunci pintu dengan rapat. Bak singa lapar Bang Rojaz menerjang Rhena yang sudah mundur perlahan menatapnya. "Sini sayaaang, kita uji coba dulu rudalnya. Mudah-mudahan kamu suka." Bang Rojaz mengangkat sarungnya.


Rhena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan tapi ia pun mengintip dari sela jarinya. Ada seulas senyum yang membuatnya berdesir.


"Apa nih? Kenapa di tutup begitu? Suka nggak?" Tanya Bang Rojaz sambil mengarahkan tangan Rhena agar menyentuhnya.


"Suka Bang, suka banget." Jawab Rhena. Hanya dirinya saja yang tau bagaimana bentuk dan tampilan kedua prianya. Tidak ada beda dan serupa, sebab itu dirinya sangat menyukainya. "Lalu.. apa Abang menyukainya?"


"Sangaaatt.. karena Abang tidak perlu lagi berkhayal memelukmu sampai berkeringat bersamamu."


Bang Rojaz yang tidak sabar lagi akhirnya memeluk erat Rhena dan menerjangkan rudalnya.


...


"Ijin Danki, sudah waktunya apel." Prada Erky menghubungi Bang Rojaz yang masih bergelung di tempat tidur sambil memeluk Rhena yang masih sangat manja membalas peluknya.


"Sampaikan sama Letnan Musa untuk mengambil alih apel dan arahan pagi ini. Terserah lah mau di arahkan ke timur atau ke barat. Saya sakit kepala, mau istirahat dulu. Siang nanti baru ke kompi." Jawab Bang Rojaz.


"Siap Danki.. nanti saya sampaikan.."


"Egghh.." terdengar suara rintih Rhena.


Bang Rojaz menekan tombol off dan melanjutkan lagi 'malam pertamanya'. "Mau lagi?" Bisik Bang Rojaz lembut di telinga Rhena dan itu membuat Prada Erky terdiam mematung di seberang sana.


"Mauuu.." jawab Rhena.


Prada Erky tak menyadari bahwa di sebelahnya sudah berdiri Bang Musa yang juga menguping karena melihat ekspresi wajah Prada Erky yang tak beraturan.


Saat tersadar ada Letnan Musa, Prada Erky gugup dan hendak bicara untuk mengakui salahnya namun Bang Musa membekap mulut Prada Erky.


"Diam..!!" Ucapnya lirih nyaris tak terdengar.


Keduanya pun mendengar suara panas dari kamar panas Letnan Rojaz.


"B*****n juga Bang Rojaz. Pakai ilmu pelet apa sampai Rhena langsung tunduk tanpa syarat." Gumam Bang Musa karena ia tau betul Rhena adalah wanita yang sulit di taklukkan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2